Cerpen, Kompas, Zaenal Radar T

Elliza Mengaku Kawin dengan Telepon Selulernya

Elliza Mengaku Kawin dengan Telepon Selulernya - Cerpen Zaenal Radar T

Elliza Mengaku Kawin dengan Telepon Selulernya ilustrasi Erica Hestu Wahyuni/Kompas

3.8
(13)

Cerpen Zaenal Radar T (Kompas, 21 Mei 2023)

“SAH…?”

“SAAAAH!!!”

Pertanyaan Pak Penghulu itu dijawab dengan sigap dan serempak oleh para saksi. Lalu saksi dan hadirin mengucap syukur. Setelah itu penghulu kampung membaca doa. Semua yang hadir mendengarkan dengan khusuk dan mengaminkan, termasuk segelintir tamu undangan lain yang hadir baik secara off-line maupun virtual, karena acara ini digelar live melalui medsos mempelai perempuan. Elliza, perempuan cantik itu, telah resmi dan sah bersuamikan telepon selulernya.

Para tamu undangan yang hadir langsung memberikan selamat kepada kedua mempelai, terutama kepada mempelai perempuan. Adapun mempelai lelaki, si telepon seluler itu, banyak mendapatkan ucapan dari para netizen. Baik ucapan suka cita maupun pujian dan bahkan makian. Tidak sedikit netizen mencemooh dan menghujat. Tapi kata si mempelai perempuan, “Apa peduliku sama kaum netizen? Mereka enggak berhak ngatur hidupku. Cuekin aja!

Demikianlah cerita Elliza kepada saya. Saya sendiri belum begitu percaya. Sebab saya masih belum menemukan jawaban, apakah telepon seluler memiliki jenis kelamin? Kalau ada telepon seluler laki-laki, tentu ada pula perempuan, atau mungkin banci? Saya kemudian kembali mendengarkan cerita Elliza, yang tak lain sahabat saya ini.

Setelah itu, lanjut Elliza, dia yang sudah resmi menjadi sepasang pengantin baru berpredikat suami-istri menempati sebuah rumah baru di kompleks perumahan elite. Sengaja rumah lama di dalam gang dia tinggalkan, berikut sejumlah tetangga yang dianggap selalu nyinyir terhadapnya, bikin Elliza overthinking.

Di tempatnya yang sekarang, dia katakan, berharap mendapat suasana baru, jauh dari ibu-ibu tetangganya dulu yang selalu hectic dengan urusan orang lain. Elliza merasa tentram setentram-tentramnya, walau baru beberapa hari tinggal di sana, bersama pasangan hidupnya, si telepon seluler.

Makhluk yang dia katakan tidak pernah neko-neko, tidak pernah protes, tidak pernah ngambek, dan selalu setia bersama menemani hari-harinya, yeah si telepon selulernya itu. Kalau soal netizen yang kerap memberi komentar negatif kepada pasangan baru ini, Elliza cukup menonaktifkan kolom komentar telepon selulernya, eh suaminya. Beres!

***

Dua tahun lalu, sebelum dia memutuskan mengaku kawin dengan telepon selulernya, Elliza pernah dekat dengan seorang lelaki. Bahkan kedekatannya dengan kekasihnya itu sudah sangat serius, sepakat akan melangkah ke jenjang pernikahan. Tetapi entah kenapa, si lelaki membatalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Sampai saat ini Elliza tidak pernah tahu alasan si lelaki membatalkan perkawinan mereka, meskipun undangan sudah disebar, hotel tempat melangsungkan resepsi sudah di-booking, dan katering sudah lunas dibayar.

Baca juga  Cinta Anak Pertama

Saya masih ingat, selepas kejadian itu, sepanjang siang dan malam selama hampir seminggu Elliza mengurung diri di kamar. Elliza tidak mau menemui siapa pun, termasuk saya yang kerap mondar-mandir di depan rumahnya, khawatir dia bunuh diri. Setelah masa cuti kantor berakhir, Elliza kembali bekerja seperti biasa. Hanya saja, kepribadiannya menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah tidak lagi seceria sebelumnya. Elliza berubah menjadi sosok pendiam dan tertutup. Bahkan hilang dari pergaulan dengan karyawan lain.

Hanya kepada saya Elliza bersedia mencurahkan perasaanya. Boleh dibilang, sayalah lelaki satu-satunya sahabat perempuan itu. Banyak orang menduga, saya kekasihnya. Padahal saya hanya berteman biasa. Saya dan Elliza sudah bersahabat sejak kecil. Satu kelas sejak sekolah dasar, bahkan satu sekolah di jenjang berikutnya. Setelah lulus perguruan tinggi, takdir mempertemukan kami di tempat kerja yang sama.

Jujur saja, saya mencintainya sejak baru mengenal arti jatuh cinta. Perasaan itu tidak pernah saya utarakan sampai detik ini. Sebab Elliza sudah lebih dulu berucap, dia sudah menganggap saya sebagai saudaranya. Sudah beberapa kali lelaki menjadi kekasihnya, putus-nyambung, nyambung putus lagi, bahkan yang terakhir ingin serius menikah dengannya. Di sela-sela setiap hubungan asmaranya, saya berada di tengah-tengahnya. Saya menjadi sapu tangan di saat dia menangis, menjadi ember saat air matanya tumpah, menjadi sandaran saat dia terluka.

Elliza sudah tidak lagi punya keluarga sejak kecil, ayah dan ibunya tewas dalam sebuah kecelakaan kereta api. Dia hidup dan dibesarkan di sebuah panti asuhan, sampai akhirnya berhasil keluar setelah mendapat pekerjaan. Elliza pun telah menganggap keluarga besar saya sebagai keluarganya.

Ada perasaan sakit bercampur senang saat mendengar Elliza mengutarakan kepada saya dia akan melepas masa lajang. Namun kala itu saya berharap semua berjalan dengan baik. Elliza hidup bersama lelaki lain yang dia cintai, saya cukup menjadi sahabat selama-lamanya. Dia katakan, dia tidak akan bisa jauh dari saya meskipun telah menjadi milik orang lain. Waktu itu saya menyetujuinya, memakluminya, asalkan dia bahagia.

Yang membuat saya heran waktu itu, Elliza melarang saya mengundang keluarga saya di resepsi perkawinannya. Hanya saya yang boleh hadir. Dia bilang tidak mau mengundang banyak orang. Tempat resepsi sengaja digelar di pelosok. Bukan di vila atau motel. Tidak apa-apa di dusun terpencil, yang penting masih ada sinyal.

Elliza mengaku membayar penghulu kampung. Penghulu yang dia katakan biasa menikahkan kawin kontrak, menikahkan pasangan sejenis, bahkan sekarang si penghulu menikahkan dirinya dengan telepon seluler. Saya shock saat tahu, pasangan hidup perempuan yang sangat saya cintai ternyata telepon selulernya! Sayangnya, saya sendiri tidak bisa hadir karena waktu itu sedang diare berat.

Baca juga  Jelaga di Langit Jingga

Saya penasaran dengan kehidupan Elliza sekarang. Apa yang dilakukan sepasang pengantin baru di rumah baru mereka, seorang perempuan yang kawin dengan telepon selulernya. Dan saat liburan kantor, pagi-pagi sekali saya tiba di kediaman Elliza. Perempuan itu menyambut saya, memeluk saya dengan hangat, lalu menarik lengan saya masuk ke halaman rumahnya yang luas. Dia bilang sudah menyiapkan hidangan untuk saya. Elliza akan mengambil sendiri minuman lebih dulu, karena dia memilih tidak punya pembantu.

Sebuah telepon seluler, yang dia katakan sebagai pasangan hidupnya, teronggok di ujung meja taman. Saya duduk menunggu Elliza mengambil minuman. Saya meraih telepon seluler itu, menggenggamnya sesaat, lalu tiba-tiba saya ingin membukanya. Tapi saya ragu. Saya takut perempuan itu tahu dan bakalan marah.

Selama ini saya belum pernah meminjam atau memegang telepon selulernya. Baru kali ini, setelah si telepon selulernya ini dia katakan resmi menjadi pasangan hidupnya, saya memberanikan diri memegangnya. Saya benar-benar penasaran ingin melihat isinya.

Sayang, saya gagal membukanya, karena tidak tahu kata sandinya. Saya letakkan kembali telepon seluler itu, sambil menunggu kedatangan Elliza membawa minuman. Elliza datang membawa dua cangkir kopi dan menyodorkan satu untuk saya. Dia tak perlu bertanya lagi soal selera saya pada kopi hitam dengan sedikit gula.

Sebelum kami minum, terdengar notifikasi telepon selulernya. Lalu dia pamit sebentar dan berjalan menjauh, duduk di sudut dekat kolam renang. Elliza tidak bicara di telepon selulernya, melainkan menekan-nekan tuts telepon selulernya sambil tertawa-tawa, entah sedang mengetik apa. Dia terus menatap layarnya, memandanginya beberapa saat, setelah itu dia tertawa lagi. Elliza tampak bahagia sekali. Saya belum pernah melihat perempuan itu sebahagia seperti sekarang. Tawanya begitu lepas.

Saya terus menunggu dan memperhatikannya. Apa yang sedang dia lakukan terhadap pasangan hidupnya… telepon selulernya?

***

Sampai sore saya berada di sampingnya, ngobrol ngalor ngidul soal banyak hal, ditemani telepon selulernya. Saat saya pamit pulang, Elliza meminta saya untuk menginap. Elliza bilang saya bisa tidur di kamar tamu, sedangkan dia di dalam, sekamar dengan telepon selulernya.

Apa yang dilakukan sepasang pengantin baru, seorang perempuan dan pasangannya; telepon selulernya? Apa mungkin Elliza masih belum puas asyik masyuk dengan telepon selulernya itu. Seharian ini, di sela-sela percakapan kami, selalu saja diselingi dengan permintaan maafnya karena harus menjauh dari saya demi bercakap-cakap dengan telepon selulernya. Atau kadang dia tertawa terpingkal-pingkal sambil tangannya terus memegang erat telepon selulernya, sorot matanya tidak pernah lepas menatap layarnya, seolah-olah tiada peduli dengan siapapun di dekatnya. Berkali-kali dia meminta maaf karena sudah cuekin saya.

Baca juga  Janji Kaci

Saya terhenyak saat Elliza menceritakan kenapa dia harus kawin dengan telepon selulernya. Elliza sempat mengatakan bahwa sebenarnya dia mencintai saya, dan pernah berharap menjadi istri saya. Tapi semua itu harus dia buang jauh-jauh. Elliza tidak ingin pertemanan yang sudah lama terjalin harus berakhir jika saya dan dia harus hidup bersama.

Elliza sudah seringkali mendengar ada pertemanan yang harus bubar gara-gara perceraian. Padahal, sebelum menikah hubungan mereka baik-baik saja. Itulah yang membuat Elliza berharap hubungan saya dengannya cukup sebatas sahabat. Elliza hanya ingin hidup seperti sekarang ini, terus menjalin persahabatan dengan saya, merawat pertemanan yang sudah sekian lama terjalin, lalu memutuskan kawin dengan telepon selulernya.

Mendengar jawabannya, entah kenapa saya seolah terhipnotis kata-katanya. Saya jadi berpikir untuk menjadi seperti dirinya, kawin dengan telepon seluler saya. Tapi ini tentu sulit terjadi. Saya harus menghadapi keluarga besar saya, yang tentu akan menentang keinginan itu. Saya berbeda dengan Elliza, yang hidup sebatang kara, tidak seorang pun mampu menghalang-halangi keinginannya memutuskan hidup sesuai pilihannya.

“Kenapa perempuan itu menikah dengan telepon selulernya?” tanya atasan saya, perempuan lajang yang sudah berumur, saat saya ceritakan tentang Elliza.

Saya tidak mau menjawabnya langsung. Saya minta dia membuka e-mail-nya besok pagi, semua alasan Elliza memilih menikah dengan telepon selulernya akan saya tuangkan semua di situ malam ini. ***

.

.

Tangerang Selatan, 2021-2023

Zaenal Radar T. Menulis cerpen, novel dan sejumlah acara televisi. Buku kumpulan cerpennya, Si Markum (Penerbit Alvabet, 2017). Menetap di Tangerang Selatan.

Erica Hestu Wahyuni, lahir di Yogyakarta 1 Januari 1971. Melukis sejak umur 7 tahun. Pendidikan, ISI Yogyakarta dan Surikov Art Institut, Moscow.

.
Elliza Mengaku Kawin dengan Telepon Selulernya. Elliza Mengaku Kawin dengan Telepon Selulernya.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 13

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!