Cerpen, Jawa Pos, Ranang Aji SP

Cong Li di Bulan Mei

Cong Li di Bulan Mei - Cerpen Ranang Aji Sp

Cong Li di Bulan Mei ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

3.5
(6)

Cerpen Ranang Aji Sp (Jawa Pos, 20 Mei 2023)

CONG LI memutuskan berjalan keluar dari tokonya ketika dia mendengar kegaduhan di malam bulan Mei. Malam itu menguar aroma bakaran sampah, semacam aroma tahi kebo, dan udara yang muram.

Sebelumnya, dia selalu bermimpi di mana dirinya seolah terbenam dalam bara merah neraka dan dikurung bau daging yang busuk serta usus terburai yang gosong. Untungnya, saat itu dia terbangun pukul 05.13 dan masih merasakan napasnya mengalir hangat dari hidungnya. Dia tersenyum dan bersyukur begitu menyadari dirinya masih hidup. Lalu, dengan keadaan masih pening, tangannya meraih minyak putih dari meja. Mengolesnya di dada, juga di antara lubang hidungnya agar bisa dihirup secara langsung. Dia menyukai aroma itu. Aroma itu lebih nyata juga menyenangkan ketimbang aroma yang datang di mimpinya. Aroma yang membuatnya hidup dan melupakan kesepian.

Cong Li hidup sendiri dan tak pernah menikah. Meskipun usianya sudah melewati angka lima puluh lima. Tak ada yang tahu alasan sebenarnya. Tapi dia pernah mengatakan dengan serius bahwa dirinya dikutuk oleh Tian Feng. Dewa yang ditolak cintanya oleh Dewi Chang E itu menemuinya dalam mimpi. Dengan raut muka seorang pemabuk yang patah hati, Tian Feng menatapnya lama, lalu tertawa aneh, dan berkata, “Sejak dulu begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir. Dan kau, sebaiknya tidak pernah menikah!” Cong Li terbangun dengan perasaan ganjil, terbebani oleh mimpinya selama berhari-hari, dan membekas untuk selamanya. Ketika itu usianya masih belasan tahun dan hidup menderita di dermaga sebagai seorang porter. Ketika seseorang menyarankannya untuk menikah karena setiap orang harus hidup dalam cinta, dia berkata: “Orang-orang tak pernah tahu artinya cinta,” katanya yakin dan menuduh. “Aku ditakdirkan untuk sendiri,” tambahnya. Suaranya seperti tertelan ketika mengatakan itu.

“Seperti biksu?”

“Semacam itu.”

“Mereka melayani Tuhan.”

“Aku melayani tanganku.”

“Maksudnya?”

“Tangan untuk melayani.”

Cong Li bermaksud mengatakan bahwa hidupnya hanya didedikasikan untuk lingkungannya. “Saya Tionghoa, tapi saya juga pribumi karena lahir di sini. Saya orang Indonesia.” Penjelasannya itu diterima dengan perasaan aneh oleh orang-orang di sekitarnya, meskipun masuk akal dan menyenangkan. Untuk itu, dia membuktikannya dengan selalu mengundang orang-orang kampung untuk merayakan sesuatu bersamanya. Dalam setahun ada beberapa perayaan yang bisa membuatnya bahagia, seolah momen-momen itu adalah waktu berkumpulnya keluarga. Terutama ketika ulang tahunnya sendiri yang datang sebelum datang Imlek dan Cap Go Meh.

Baca juga  Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa

“Dia pria yang baik dan dermawan,” kata salah satu tetangganya.

Ketika sebagian tetangganya merayakan Lebaran, Cong Li bahkan juga ikut datang ke masjid dengan baju koko dan peci hitam. Dia tidak ikut sembahyang, tapi hanya berdiri di halaman masjid, menunggu orang-orang selesai salat Id, dan mendengarkan khotbah dengan tersenyum. Lalu, setelah semua usai, dengan wajah ceria dia menyalami setiap tangan yang bisa dijangkau sambil mengucapkan selamat Idul Fitri. Dia juga menyiapkan jamuan, angpao, dan kembang gula untuk anak-anak di tempatnya. Tokonya tetap dibuka di hari raya dan anak-anak antre dengan bahagia menyalami tangannya.

Di luar waktu itu, sepanjang hari dia hanya duduk di belakang meja kasir menunggu pelanggan. Menghadap deretan rak dan tumpukan kardus di dalam tokonya yang beraroma minyak putih, kertas, dan gula.

Sehari sebelum peristiwa itu, seorang pria berjalan masuk dan berdiri di depan meja kasir, tempat Cong Li duduk dengan mata kecilnya yang mirip garis hitam mengawasi. Tumpukan kardus mi dan barang-barang lain dalam rak yang berjajar menutup sebagian ruang, hingga pantat pria itu menyenggolnya ketika dia bergerak mundur. Mata sipit Cong Li sedikit terbuka yang menghasilkan kerlipan cahaya di antara garis hitam ketika memandang.

“Tak ada bon hari ini,” katanya sebelum pria itu membuka mulutnya.

“Utangmu sudah menumpuk, Mud.” Cong Li mencoba memberikan alasan yang tak diminta.

“Saya tahu,” jawab pria itu pelan dan malu. “Tapi bukan karena itu saya datang,” tambahnya cepat.

Tapi Cong Li tidak percaya. Tubuh Cong Li tegak dan sedikit berputar, lalu matanya mengamati wajah pria itu. Jari-jarinya yang bulat seperti sosis babi bergerak-gerak di atas meja. Dia sudah mengenalnya sejak pria itu masih bocah. Rumahnya hanya beberapa blok ke belakang dari tokonya yang berdiri persis di pinggir jalan. Di tahun-tahun pertama dia membangun tokonya, semua orang membeli kebutuhan mereka dengan membayar kontan, lalu secara perlahan dia harus membuat daftar utang karena hampir setiap orang berutang. Tentu saja itu merepotkan karena dia harus bisa mengatur modalnya secara pintar agar tetap berjalan dan menghasilkan untung. Tapi dia tidak mengeluhkan itu. Dia punya cara sendiri untuk menghentikan tanpa menyakiti.

“Lalu ada apa?”

“Berapa utang saya?”

Baca juga  Enam Tahun Setelah Taman Kota

Sekali lagi Cong Li mengamati wajah pria itu, seolah ingin menembus misterinya. Pria di hadapannya itu, anak muda yang menikah muda dengan beban hidup melampaui usianya. Cong tahu pria itu punya tanggungan keluarga yang harus diberi makan. Sebelumnya, ayahnya juga berutang pada Cong Li. Hidup sepertinya memang selalu seperti itu. Sebagian orang hidup dengan mewarisi kekayaan, tapi sebagian yang lain harus mewarisi kemiskinan dan utang. Kemiskinan yang membuat mereka harus berutang setiap waktu. Dan utang yang membuat mereka semakin miskin dan sulit bangkit. Setiap orang hidup dengan garis takdirnya, pikir Cong Li, dan garis kemiskinan itu tampak nyata di raut muka pria itu. Sesaat kemudian, mata kecil Cong Li berkedip, seolah baru saja kembali dari perjalanan lintas dimensi.

“Jadi kamu mau membayar utang?” Cong Li hampir tak yakin dengan pertanyaannya sendiri. Terutama pada jawaban yang akan didengarnya.

“Saya ingin tahu berapa dulu utangku.”

“Baik,” kata Cong Li mengalah dan menepis rasa penasarannya. Tubuhnya lalu membungkuk dan tangannya meraih buku catatan utang di bawah meja. Setelah membolak-balikkan halaman bukunya, matanya menatap huruf dan angka di dalamnya.

“Kamu ingin membaca sendiri?” tanya Cong Li.

Pria itu menggeleng. Matanya gelisah.

“Mahmud… satu juta tujuh ratus ribu….” Kepala Cong Li mendongak, melihat wajah yang bersinar suram dan pucat.

“Kapan mau bayar?”

Pria itu diam. Tubuhnya gelisah, lalu dengan suara gugup dia berpamitan. Ketika sampai di pintu, Cong Li memanggilnya. “Bawalah beras dua kilo dan ambil lima bungkus mi instan. Beri makan anak-anakmu.” Pria itu tertegun, takjub dengan kedermawanan Cong Li. Kemudian dengan malu-malu mengucapkan kata terima kasihnya. “Akan segera kubayar,” katanya.

“Ini gratis. Tapi, carilah kerja agar bisa membayar,” ujar Cong Li.

Malam harinya, Cong Li tidur dan bermimpi kembali setelah beberapa hari bermimpi sesuatu yang hampir sama. Dia berjalan di rawa-rawa dan hutan, bertemu babi hutan hitam bertaring dan sangat besar. Dia berlari kencang menghindari babi hutan itu, namun kemudian menabrak pohon, terpelanting masuk tebing, dan kemudian hanyut di sungai. Lalu dia melihat hutan terbakar dan dirinya menjadi anak kecil usia delapan tahun yang lari dari panti asuhan di sekitar Tanjung Priok. Setelah itu, dia tiba-tiba terjebak dalam kurungan bara yang dipenuhi bau anyir darah, bau busuk, dan daging yang terbakar dalam bara api neraka.

Baca juga  Ludwig dan Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan

Ketika matanya terbuka, mulutnya terasa lengket dipenuhi oleh cairan pahit di antara rongga mulut dan tenggorokan. Dengan perasaan yang tidak nyaman, dia bangkit dari ranjang menuju toilet. Setelah itu, dia membuat kopi di dapur dan menghidupkan televisi. Berita di televisi dipenuhi kabar demonstrasi mahasiswa di bulan Mei. Cong Li tak suka berita politik, jadi dia mengabaikannya dan mematikan televisinya.

Siang harinya, ketika Cong Li sedang menghitung keuangannya, beberapa orang kampung, termasuk Mahmud, datang. Kata mereka, sebaiknya Cong Li menutup tokonya. “Situasinya memburuk,” kata Mahmud. Cong Li berdiri, mengusap keringat dari dahinya, dan bertanya apa yang terjadi.

“Banyak penjarahan toko-toko milik Tionghoa,” salah satu tetangganya menjelaskan dengan raut muka cemas.

“Tapi saya pribumi,” kata Cong Li.

“Kita tahu,” kata seseorang. “Tapi mereka tidak.”

“Kami akan berjaga. Jangan khawatir,” kata Mahmud serius ketika melihat kebingungan Cong Li yang disemat oleh rasa cemas.

Malam harinya, rasa penasaran menyerangnya ketika tiba-tiba suara gaduh di luar rumah begitu mengusiknya. Cong Li memutuskan keluar dan ingin bergabung dengan orang-orang kampung yang menjaganya. Dia keluar dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka yang sudah dianggapnya seperti keluarga. Tapi sebelum sadar apa yang terjadi, seseorang yang tak dikenalnya berteriak keras, “Itu Tionghoa!” Teriakan itu membuat ususnya seperti disayat setelah jantungnya dipenuhi darah dengan gelombang gumpalan merah. Suara orang yang berteriak bercampur bersama raungan motor. Juga benturan-benturan benda keras terdengar menyatu bersama udara lembap asap dan kebencian yang kalap. Ketika beberapa orang datang untuk mencegah, tubuhnya tiba-tiba seperti membentur sesuatu yang membuatnya terseret dan melayang. Dalam beberapa waktu kemudian, tokonya menjadi membara merah oleh api. Paginya, setiap orang di kampungnya berduka atas kematiannya yang menyedihkan. ***

.

.

Ranang Aji Sp. Menulis fiksi dan nonfiksi. Dua cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Dalang Publishing LLC USA. Nomine dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku kumcer terbarunya “Mitoni Terakhir” (Nyala, 2021).

.
Cong Li di Bulan Mei. Cong Li di Bulan Mei.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!