Cerpen, Koran Tempo, Yuan Jonta

Surat di Tangan Pater Bartolomeus

Surat di Tangan Pater Bartolomeus - Cerpen Yuan Jonta

Surat di Tangan Pater Bartolomeus ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

5
(3)

Cerpen Yuan Jonta (Koran Tempo, 09 April 2023)

ANDA mungkin sulit mempercayai ini, saya pun demikian. Sebuah pesawat kertas terbang dari langit, saya sejujurnya tidak dapat mengklaim sepihak, tetapi orang lain pun melihat sendiri keajaiban ini.

Pertama, pesawat kertas itu terbang di atas tiga deret pohon akasia—maksud saya sangat kecil kemungkinan sebuah pesawat kertas terbang melewati tiga pohon akasia.

Kedua, pesawat kertas ini mendarat di tangan jenazah Pater Bartolomeus. Ketiga, pesawat kertas ini adalah sebuah surat yang sepertinya benar ditujukan untuk mendiang.

Keempat, hal yang lebih sulit dipercaya, surat ini ditulis dalam bahasa Indonesia, sementara kami di Zimbabwe; apakah ada orang Indonesia lain selain saya (tentu bersama mendiang) yang iseng membuatnya?—yang begitu beruntung membuatnya terbang melewati tiga pohon akasia dan mendarat di tangan mendiang.

Surat ini seolah-olah ditulis oleh seorang penderita gangguan jiwa, ia dibumbui cerita ajaib seperti ia terbang dan mendarat dengan ajaib. Benar bahwa almarhum pernah mengabdi mengurusi orang dengan gangguan jiwa. Saya salin dan bagikan isi surat ini, barangkali ada pembaca yang merasa ceritanya mirip dengan peristiwa yang dialami kerabat/keluarganya.

Pembaca lain pun boleh menilai apakah ini surat ajaib atau sekadar ulah orang-Indonesia-iseng-yang-sedang-beruntung; Anda juga diizinkan untuk mencaci bila mengira cerita ini adalah bualan saya semata:

Untuk Misionaris yang Baik Hati, “Tidak hanya dirimu, beberapa orang yang kurawat juga diperdaya khayal. Dengan tekun berobat, mereka sembuh. Demikian pula dirimu.” Aku mengingat dengan jernih kata-katamu itu, Tuan Misionaris yang baik hati. Dan saat ini tak dapat kupalingkan ingatanku atas kedatanganmu. Aku sungguh-sungguh menyesal tidak mengetahui siapa namamu. Terus terang, selain dirimu, tak ada lagi seorang pun yang sudi bicara atau setidaknya mendengar penjelasanku. Sayang sekali, pertemuan-pertemuan kita telah mencapai batas. Aku menuliskan ini dengan sebaik-baiknya dan kiranya dapat kau baca di mana pun tempatmu berada.

Aku memecahkan jendela agar leluasa kuhirup udara sebagaimana aku melakukannya di halaman kampung dulu, tetapi kadal-kadal memasang tirai sehingga aku tidak terluka oleh tatapan orang-orang. Di hari kedatanganmu, aku lelaki yang dibilang sakit-sakitan ini tidak terganggu oleh badai walau jendela kamarku menganga tanpa kaca sebab siput-siput telanjang menghangatkanku. Mereka adalah sahabat yang setia walau sedikit pemalu.

Kau menerobos jalanan yang dikuasai amuk badai, ia adalah jarak antara pasungku dengan kepedulianmu. Sepeda motormu melaju bagai perahu di atas aspal yang basah, sebab Tuhan-mu selalu menyertaimu dan niat baikmu. Di balik selimutnya, seorang tukang tambal ban pasti menggerutu saat pintu rumahnya kau ketuk gigih. Sungguh kau telah melepaskan kesopananmu demi tujuan mulia, Tuan Misionaris yang baik hati. Dan aku harus menghormatimu seperti orang Samaria yang kau ceritakan.

Dalam obrolan kita yang begitu sejuk itu, kau mengajakku menetap di panti rehabilitasi jiwa yang didirikan serikatmu. Namun aku menolak, Tuan, karena aku waras. Aku hanya mau membuktikan nubuat yang telah dititipkan kepadaku.

Lima belas tahun sebelum aku meringkuk di kamar ini, seorang pedagang uzur berkata kepadaku bahwa ia melihat roh pendekar pada otot tubuhku yang kekar alami. Pesannya, aku harus memusatkan seluruh tenaga dan pikiranku sehingga akan kutuai kebaikan atas talenta tersembunyiku. Hujan turun ketika itu, ia tidur di atas lapak dan tidak pernah terbangun kembali.

Suatu malam kebaikan besar menghampiriku sebagaimana bendungan ketekunan menerobos batas-batas ragawi. Aku dihadiahi mimpi ajaib.

Ia datang dengan tubuh yang diselubungi cahaya. Langkah kakinya perkasa, kiri dan kanan, mendentam luhur seperti gendang paling nyaring di seluruh jagat raya. Tangan kanannya memegang tombak yang lebih tinggi dari tubuh gagahnya. Dan dibawa-nya-ku terbang ke hutan beringin. Ada seribu beringin dan satu juta akar gantung di sana. Di antara jajaran beringin, berdiri sebuah pohon yang sepuluh kali lipat besarnya dari beringin lain. Aku takjub, walau di sisi lain tak dapat kusembunyikan gugup karena digenggamnya. Ia berkata bahwa dirinya-lah yang menanam seluruh pohon itu, dan yang paling tengah itu sangat subur sebab jasadnya sendirilah yang dijadikan bibit.

“Kau tak perlu lagi lelah-lelah bekerja, yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi penyambung lidah, mengajari orang-orang ilmu terbang,” nubuat itu menggema ke dalam gendang telingaku. Namun, sebagaimana kebaikan-kebaikan besar dapat berlaku, ia membisikan kepadaku sebuah syarat: “Tetapi kau harus dipanggil Amé  Runggé.”

Lalu diajaknya aku ke dasar laut, di mana terdapat jangkar besar yang dihuni puluhan peri laut. Peri-peri itu adalah penjaga perairan, dan mereka tak sungkan-sungkan membuat tenggelam orang-orang mengencingi laut. Jangkar itu mereka dapatkan dari sekelompok orang jahat yang mengencingi laut utara yang tenang. Mereka membuat kapal besar itu terseok-seok dan membisikan kepada laut agar mengaramkan mereka lewat gelombang raksasa.

Dari sebuah sabana ia menunjukkan kepadaku siluet yang mulanya kupikir hanyalah jajaran bukit. Namun rupanya adalah kadal-kadal raksasa yang punggungnya ditunggangi siput telanjang. Mereka mendekatiku dengan kecepatan tinggi, debu terbang setinggi gunung-gemunung, langit seumpama mendung abu. Namun saat mereka semakin dekat, tubuh mereka berangsur mengecil. Mereka menjadi sebesar kutu saat memanjati tubuhku.

“Terimalah mereka sebagai sahabat-sahabatmu, anggaplah mereka sebagai bayaran di muka sebelum kesaktian besar mendatangimu.”

Dan kau tahu, Tuan Misionaris yang baik hati, tidur adalah perangkap yang menakjubkan, ia menitipkan manusia pada dunia yang gelap lalu pelan-pelan membuka tabir dunia yang ada 1001, membiarkan kita bermain seperti anak-anak penasaran, lalu ia menutup tabir itu agar kita kembali kepada dunia yang bersambung ini. Aku tidak bisa menghitung waktu karena keindahan pada dunia sibakan tidur itu begitu memesona. Aku terbangun setelah tiga hari.

Bagaimana aku bisa hidup walau tidak makan dan minum selama tiga hari? Tidak ada yang tahu. Tapi aku yakin kalau kamar yang kutempati ini juga ikut-ikutan menjadi ajaib, sebagaimana aku dihinggapi keajaiban. Mungkin para kadal menyuapkan ekor-ekornya kepadaku, dan para siput telanjang memasukkan lendirnya di batang tenggorokanku. Oh … bumi yang datar memeliharaku seperti ribuan beringinnya.

Perihal memar sekujur tubuhku setelah melompat dari bubungan adalah karena hati keluargaku yang berkhianat sehingga syarat pengakuan yang disampaikan sosok cahaya teringkari. Mereka justru mengurungku di dalam kamar, memasung diriku yang tidak berdaya. Beruntung siput telanjang dan kadal-kadal menghibur diriku. Sayangnya dirimu belum dapat melihat mereka. Mereka sungguh-sungguh pemalu.

Tidak seperti yang kau katakan bahwa kesadaranku bekerja dengan tidak memadai. Tidak. Buktinya aku dapat menghitung dengan tepat jumlah pohon beringin beserta akar-akarnya itu. Aku dapat mengingat nama dan rupa tiap-tiap peri: Néra Wulang yang kulitnya paling putih, Lérém Téé yang bermata sayu, Naka Lino yang berlari gembira memutari jangkar, Luju Taé yang menyapa kami pertama kali, Bombong yang menceritakan kisah hidup para peri, Narinai yang pandai menari, Dimardi’a yang mengenakan baju warna-warni, Cikéng Limé si pemain harpa, serta Régés Léké yang murah tawa. Ini adalah bukti bahwa kesadaranku seutuhnya hadir dalam mimpi itu.

Mimpi itu adalah realita lain, yang membukakan dirinya bagi orang yang serius memusatkan pikiran dan tenaganya bertahun-tahun. Kuharap kau mengerti bahwa realita yang kualami tidaklah terbatas pada alam yang manusia-manusia ini hidupi, telah kucapai gerbang spiritualitas, sebuah pencerahan baru, dan kali ini, ia menguji kesungguhanku dengan syarat yang sulit. Aku butuh pengakuan bahwa nama baruku Amé Runggé.

Namun kau telah menantangku dengan sebuah pertanyaan menarik, Tuan. Kau bilang, andaikan kau mau mengakui nama baruku sebagai Amé Runggé, aku masih akan menghadapi kendala lain: “Bagaimana dengan kartu tanda pendudukmu?” begitu katamu.

Dan di luar kuasa mimpi ajaib serta pertanda-pertanda yang sudah terjadi, sebuah kerepotan lain menjejali kepalaku: Kesaktianku masih terkendala administrasi. Namun aku tidak boleh lagi berdiam diri saja di ranjangku. Semoga segala urusan itu dapat aku selesaikan sehingga ilmu yang dititipkan oleh sosok cahaya itu dapat teraktivasi.

Kutulis ini, dengan syarat-syarat tulisan yang dengan sepenuh hati kupatuhi, untuk membuktikan bahwa aku waras dan dapat berpikiran jernih. Yang aku idam-idamkan hanyalah pengakuan bahwa nama baruku Amé Runggé.

Aku sesungguhnya tidak begitu yakin apakah surat ini dapat dibaca dari tempat barumu. Surat ini akan kusimpan selalu dalam genggaman tanganku, dan berharap dengan memikirkanmu terus-menerus aku akan bertemu denganmu di satu dari 1001 dunia tidur. Kiranya kau tinggal di dunia yang berisi orang Samaria yang baik hati serta orang-orang terhormat lainnya. ***

Baca juga  Pohon Kurma

.

.

Ruteng, 8 Juli 2022

Yuan Jonta tinggal di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Pemkab Manggarai. Alumnus Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

.
Surat di Tangan Pater Bartolomeus. Surat di Tangan Pater Bartolomeus. Surat di Tangan Pater Bartolomeus.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!