Ahmad Tohari, Cerpen

Jasa-jasa buat Sanwirya

Jasa-jasa buat Sanwirya - Cerpen Ahmad Tohari
5
(2)

Cerpen Ahmad Tohari (1975)

RANTI dan aku patuh saja mengikuti perintah-perintah Sampir. Membukakan ikat pinggang Sanwirya dan membersihkan mukanya dari kotoran muntahan. Waras melekatkan telinganya ke dada Sanwirya untuk meyakinkan bahwa penderes itu tidak mati. Dua buah pongkor [1] pecah di samping Sanwirya dan niranya tertumpah habis. Ini berarti bantingan dari ketinggian pohon kelapa itu cukup keras. Berarti pula Tuhan telah menyuruh dahan-dahan manggis menahan kecepatan tubuh Sanwirya sebelum ia mencapai tanah. Demikian cara Sampir mengaitkan nama Tuhan ke dalam urusan Sanwirya ini.

Sampir mundur ketika dukun datang. Ia pasti masih akan menggerak-gcrakkan tangan Sanwirya bila dukun tidak mencegahnya. Sampir menoleh ke kiri ke kanan dan jadi mengerti bahwa perannya kini kurang dihargai. Maka ia memimpin kami duduk di atas lincak [2] di emper samping rumah. Aku mengintip ke dalam bilik. Dukun sedang menguruti tubuh Sanwirya dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Kadang-kadang ia memijit dengan tumitnya. Rintihan Sanwirya dikembari oleh gumam dari mulut dukun. Ajian sangkal putung sedang dibacakan.

“Jadi kawan-kawan,” kata Sampir, “kita sudah sepakat sama-sama merasa kasihan pada Sanwirya. Begitu?”

Waras menoleh padaku, lalu Ranti.

“Paling tidak itu lebih lumayan daripada bertengkar,” kataku.

“Syukur! Marilah. Ada banyak cara untuk merasa kasihan kepada penderes [3] itu. Menyobek kaus yang sedang kupakai untuk membalut luka Sanwirya adalah sejenis rasa kasihan yang telah kulakukan. Oh, jangan tergesa, kita akan menentukan lebih dulu demi apa rasa kasihan itu kita adakan.”

“Apa kataku! Yang seorang ini akan mulai dengan yang sulit-sulit. Kalau kau masih berbicara tentang aku akan lebih tertarik pada serabi,” tukas Waras.

Sanwirya mengerang. Aku mengintip. Nyai Sanwirya sedang memegangi tengkuk suaminya. Air mata perempuan itu menetes dari hidungnya. Sampir meluruskan punggungnya lalu mengatur duduknya dengan mantap.

“Baik kalau itu menyulitkan kita singkirkan saja. Yang pertama-tama harus kita selenggarakan adalah makanan untuk keluarga Sanwirya. Siapa yang mengetahui ada peladang sedang mencabuti ubi kayu?”

Waras melirik ke samping menatap Sampir dengan benci.

“Kau menyuruh kami meminta ubi kayu? Tak mungkin! Musim ini semua orang hanya menanam ubi estepe sebab celeng dan monyet tak mau menyukainya. Kita takkan memberi makan Sanwirya dengan ubi beracun itu.”

Baca juga  Pelajaran Tampar-menampar

“Dengar!” ujar Ranti. “Yang berminat memberi makanan buat Sanwirya boleh datang ke lumbung desa. Atas nama penderes itu kita mengajukan pinjaman padi secukupnya.”

“Tapi hanya penggarap-penggarap sawah saja yang boleh mendapat pinjaman. Sanwirya tidak menggarap apa-apa kecuali pongkor dan arit,” kataku.

“Jelaskah Sanwirya tak mungkin mendapat pinjaman?” Tanya Sampir.

“Pasti.”

“Itulah. Maka harus ada demi. Jadi, kita dapat berkata demi anu Sanwirya harus mendapat pinjaman padi. Meski ia tak menggarap sawah. Apa katamu Waras?”

Ketika semua terdiam, rintihan Sanwirya terdengar kembali. Sekarang suaranya datang dari pangkal tenggorokannya. Dukun melumuri tubuh si sakit dengan air kunyit. Nyai Sanwirya duduk di kaki suaminya. Menangis dan hidungnya merah.

“Pokoknya aku setuju kalau Sanwirya diberi pinjaman. Kelihatannya lumbung desa itu bukan tempat yang memalukan buat minta kasihan.”

“Itu berarti Waras telah sepakat. Catat Ranti! Satu rencana jasa telah kita setujui. Selanjutnya saya bermaksud menjual jaketku sebagai upah dukun. Siapa yang akan menutup kekurangannya?”

“Tunggu Sampir. Biarkan jaketmu tetap di situ. Bila kau bertelanjang dada siapa yang akan mengurusi bengekmu?” kata Ranti.

“Kita akan menemui tengkulak yang biasa menerima gula Sanwirya. Kukira takkan sulit meminjam sembilan puluh rupiah darinya.”

“Maksudmu agar Sanwirya nanti mengangsurnya? Pikiran yang bagus. Kalau semua sudah tidak keberatan kuminta Ranti menambah catatan! Satu lagi rencana jasa. Mudah-mudahan penderes itu takkan kesulitan mencari cara berterima kasih pada kita,” ujar Sampir puas.

Suara batuk dan muntah dari balik dinding membuat Sampir mengurungkan gelaknya. Aku mengintip lagi. Dukun sedang menyilangkan tangan di dadanya. Nyai Sanwirya menggigil dan muntah itu berdarah. Tak ada yang bersuara. Baru ketika napas Sanwirya kembali wajar Sampir mengendur. Ia menyalakan rokok, tapi direbut oleh Waras. Sampir tampak tenang saja, menepuk dahinya scndiri, lalu:

“Satu perkara yang lebih besar ialah bagaimana melindungi Sanwirya. Maksudku agar ia tidak ditipu dua ons tiap kali menimbang gulanya. Agar dia dapat bertahan bila tengkulak menentukan harga gula terlalu rendah. Pokoknya agar harga gula tidak lagi menjadi pertanyaan yang mengerikan!”

“Berhenti,” sela Waras. “Bung mau berbicara soal koperasi! Tunggu Sampir, aku mau menanyakan selain kepadamu apakah kesepakatan kita masih perlu berkepanjangan?”

Baca juga  Lorong Udara Langit Kota

“Tidak heran,” teriak Sampir. “Semacam Waras pasti akan mengatakan selamat bangun tidur padaku. Kau pasti akan mengatakan semua ini among kosong. Iya apa tidak?”

Waras menatapi mata Sampir sebentar, lalu menoleh padaku. Ranti tertawa pelan. Terdengar lagi keluhan panjang dari bilik Sanwirya.

“Akan kita buktikan siapa di antara kita yang tidak kehilangan separo akal sehat,” sambung Sampir. “Dan kau Waras bisa meninggalkan lincak ini bila mau!”

“Bukan begitu. Sebaiknya di antara kita ada penyabar-penyabar. Maksudku agar kita memberi kesempatan kepada siapa yang akan membuktikan dirinya tidak kehilangan akal sehat,” kata Ranti.

“Aku mengerti itu,” ujar Waras pula.

“Nah, begitu! Kita akan menunjukkan diri kita sebagai si putus asa sesudah bergelandang selama tujuh tahun. Setuju?”

“Ya, Sampir! Kata-kataku saya ganti. Aku tidak lagi mengatakan omong kosong. Kukatakan sekarang pikiranmu mirip ide adikku yang baru dipelonco. Tidak marah?”

“Hm. Sebuah koperasi berarti bagi Sanwirya adalah kesempatan berganti kain sarung. Dan itu telah kita sepakati. Satu lagi jasa buat Sanwirya. Catat Ranti!”

Lima anak kecil memandang Sampir yang terbahak. Mereka tidak menutupi kemaluannya masing-masing. Di atas pundak mereka ada seikat ranting bambu untuk memasak nira. Di antara mereka pasti sudah belasan tahun terlihat dari pundak mereka yang menebal dan punggung melengkung. Waras mengusir mereka.

“Dengar, Sampir,” kata Waras. “Kau harus menyetujui kata-kataku ini. Bahwa jasa-jasa buat Sanwirya seharusnya bukan merupakan hal yang tanggung. Semuanya baru memadai bila Sanwirya sudah memegang polis asuransi jiwa. Sebab semua penderes semestinya mati bila jatuh dari pohon kelapa. Sehingga akan terdengar suara semacam ini. Seorang penderes semacam Sanwirya telah menanggungkan nyawanya hingga bila ia jatuh dan mati, istrinya takkan kesukaran mencari kain kafan. Merdu mana dengan gamelan degung kedengarannya?”

“Hore hore!” teriak Sampir. “Sekarang percuma memberi gelar pemuda onani pada Waras. Ia hebat. Hore hore!”

Kami bertiga memaksa Sampir berhenti berteriak. Ranti berbisik: “Sampir kau tak boleh membunuh Sanwirya dengan cara melolong seperti itu.”

“Oh maaf. Tapi pikiran Waras itu sangat patut. Asuransi adalah tepat untuk perlindungan Sanwirya.”

Baca juga  Memakan Wajah Ibu

“Tapi kita tentukan dulu berapa harga yang pantas untuk nyawa penderes itu.”

“Bahkan itu terlalu tergesa-gesa. Kita buktikan dulu apakah tubuh Sanwirya juga digerakkan oleh nyawa. Kalau benar, nyawa kelas berapakah miliknya itu. Baru kita tentukan premi asuransinya.”

Semua terdiam. Sampir menahan kagetnya lalu menatap Waras. Yang habis berbicara itu hanya mengangguk-angguk.

Nyai Sanwirya kedengaran mengisak dan akhirnya meratap dengan panjang. Ranti memegangi lenganku erat-erat. Dan menggigil ketika tiba-tiba Nyai Sanwirya menjatuhkan diri di depan kami.

“Oalah pangeran… oalah gusti….”

“Tenanglah, Nyai, tenang. Kami belum pergi dari sini karena kami sudah sepakat akan mengasihani suamimu. Kami sedang merencanakan banyak jasa untuk menolong kalian,” ujar Sampir.

“Menolong? Oalah gusti… menolong?”

“Iya. Kalian tak suka kelaparan bukan?”

“Itukah sebabnya kalian mencarikan pinjaman ke lumbung desa dan ke tengkulak? Oalah pangeran… jangan lakukan itu. Wanti-wanti jangan. Kami takkan lebih senang dengan pinjaman-pinjaman itu. Kami tak pernah punya persoalan yang namanya lapar! Dan gusti pangeran…, kalian tadi ramai-ramai mau menentukan harga nyawa Kang Sanwirya? Mengharapkan dia cepat mati? Oalah… oalah….”

“Bukan begitu maksud kami, Nyai.”

“Tak perduli yang mana maksudmu. Tapi kalau benar kalian mau menolong kami?”

“Itu benar,” jawab Sampir cepat.

“Oalah gusti… panggilkan modin…. Kang Sanwirya hampir ajal….” Kami berempat mengintip ke dalam. Dukun sedang menyilangkan tangan Sanwirya lalu mengusap kelopak matanya agar tertutup. Sampir menjadi sangat pucat. Ia hendak lari dan kupegangi lehernya.

“Kau, Sampir! Ada jasa yang masih dapat kau lakukan. Turuti permintaan Nyai Sanwirya memanggil modin!”

Dan Sampir lari ke sana. Di bawah pohon manggis, aku lihat dia jatuh tersandung pongkor, bangun dan lari. ***

.

.

Catatan:

[1] pongkor = seruas bambu penadah nira kelapa

[2] lincak = bangku panjang terbuat dari bambu

[3] penderes = penyadap nira kelapa

.

.

Cerpen Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep tahun 1975.

.
Jasa-jasa buat Sanwirya. Jasa-jasa buat Sanwirya.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!