Alrie Komiku, Cerma, Radar Madura

Rasya dan Reina

5
(2)

ANDAI kau tahu, Bunda, perjuanganku melawan keegoisanku sendiri tidaklah mudah, dan andai saja kau tahu, tubuhku kembali hilang arah saat senyum tak aku suguhkan walau secercah. Aku hilang ditelan rindu, hanya selembar fotomu yang telah lusuh kudekap erat-erat. Mengharap kasih yang amat sangat. Walau tak pernah ada kepastian kapan rindu akan berpulang. Kubiarkan aku, kau abaikan dan hanya dirinya yang kau perhatikan, tersebab aku mengerti bahwa di matamu aku hanya sebatas debu yang hanya ’kan mengganggu bila diperhatikan. Jadi, ada baiknya aku kau tak pedulikan.

***

Baru saja hujan reda menyisakan bau tanah yang masih begitu segar. Daun-daun yang masih menitikkan air tak luput dari pandanganku. Ruang belajar dengan jendela yang terbuka langsung menghadapkan aku dengan taman bebucing menjadi tempat persinggahanku kali ini. Kupandangi kupu-kupu yang masih setia dengan satu bunganya, tak membiarkan kupu-kupu lain untuk mendekat. Perlahan, tanpa kuperintah, air yang dari tadi setengah mati kutahan di pelupuk mata, kini tumpah ruah mengaburkan bayangan semesta dari pandangan. Terdengar gelak tawa di ruang tamu. Tanpa aku, mereka bisa bahagia. Hari ini semua keluarga berkumpul terkecuali aku.

“Saya katakan pada mereka bahwa kau menjadi juara pertama di lomba itu,” itu adalah suara ayah yang terdengar bangga kala mengucapkan Rasya sebagai juara pertama. Ya! Semua keluarga sedang merayakan kemenangan Rasya dalam lomba olimpiade sains di Amerika.

“Pasti dong, Yah. Anak ibu kapan tidak juara?” Suara bunda yang begitu renyah, kemudian disusul gelak tawa semua orang di sana. Di ruang tamu ada ayah dan bunda, kakakku yang baru pulang dari Belgia, juga kakek nenek yang datang dari Jogja hanya karena ingin mendengar Rasya menjadi juara.

“Di mana Reina? Ayah tidak melihatnya sejak ayah datang.” Kuusap air mataku, mendengar pertanyaan kakek barusan. Aku memiliki secercah harapan untuk bergabung bersama, tapi suara bunda berhasil menghentikan langkahku yang hendak keluar dari ruangan.

“Ah, ya Ayah. Tadi pagi Reina bilang bahwa ia tidak enak badan dan tak mau diganggu.”

Aku mematung di hadapan pintu. Tubuhku merosot begitu saja, tepat di saat tanganku hendak memutar kenop pintu. Air mataku tumpah lagi. Kali ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Aku benci, aku benci semua ini, benci akan keadaanku, benci kenapa aku harus menjadi salah satu dari keluarga ini.

“Nenek, kakek, Rasya ingin berjalan-jalan bersama kalian,” Rasya mengucapkannya dengan begitu riang. Mendengar itu, aku menjambak rambutku. Aku frustasi dengan kelakuan adikku karena selalu dia yang dibanggakan oleh orang tuaku. Padahal aku yang berjuang, tapi kenapa hanya adikku yang disayang. Bahkan, kakak laki-lakiku satu-satunya tahu, lalu datang menghampiriku sedetikpun dari sejak ia datang pagi tadi. Harusnya kuakui pada mereka bahwa sebenarnya akulah yang menjadi juara.

Baca juga  Menuai Luka

“Ayo, kita jalan-jalan,” itu suara kakak Tama, kakakku itu terasa senang sekali, disambut kata hore Rasya. Lima menit kemudian, kudengar suara gemuruh mobil mulai pergi menjauh dari halaman. Kuyakin semua keluarga sudah pergi jalan-jalan dan lagi-lagi tak memedulikan aku ada atau tidak. Kuhapus air mataku kasar. Lalu, bangkit berdiri hendak keluar menuju kamarku.

Baru saja pintu terbuka separo, kudengar suara ayah yang terdengar membentak bunda.

“Kau terlalu, Aliya. Apa kamu tidak tahu betapa Reina sangat merindukan kakek dan neneknya?”

“Aku tahu,” jawab bunda santai.

“Lantas kalau kau tahu kenapa kau bilang ia sakit dan tak ingin diganggu?” suara ayah semakin meninggi. Lalu ayah membanting vas bunga. Suasana menjadi hening dan tak ada jawaban dari bunda. Lagi-lagi aku merasa bersalah. Tak ada satu hari pun tanpa pertengkaran di rumah ini. Aku tahu semuanya karena aku. Karena ayah selalu membelaku. Sementara bunda, sekadar mengakuiku sebagai buah hatinya saja tak pernah.

Lamunanku buyar mendengar suara tamparan dan pecahan beling yang begitu keras. Dari celah-celah pintu kulihat bunda sedang tergugu di atas sofa.

“Dia anakmu, kau harus ingat akan hal itu.”

Bunda yang semula menunduk, mendongak menatap ayah dengan sorot kebencian.

“Kau tahu, Mas, aku tak pernah sudi mengakuinya sebagai anakku,” suara bunda tak kalah keras dari suara ayah sebelumnya.

“Plaaakkkk,” lagi-lagi tamparan ayah berhasil mendarat di pipi kanan bunda yang lembut dan kenyal bila dicubit itu.

“Dia anak pelacur, bukan anakku,” suara bunda pelan tapi terdengar jelas di telingaku. Ayah yang sedang memijat pelipisnya pelan menoleh kala mendengar ucapan bunda barusan.

“Plaakkkk…”

“Plaakkkk…”

Kali ini berlipat ganda tamparan yang didaratkan oleh ayah. Aku tak tahan melihat bunda diperlakukan seperti itu oleh ayah. Aku berlari mendekat lalu menghalangi ayah yang hendak menampar bunda kembali dengan cara berdiri di hadapan bunda, kakiku menginjak pecahan vas bunga.

“Cukup! Plaaakkk…”

Tamparan itu kembali mendarat bukan di pipi bunda, tapi di pipiku. Tamparan ayah barusan begitu keras hingga membuatku membentur ujung meja kaca, seketika kurasakan darah segar mengalir dari sana. Kepalaku berdenyut pusing.

Baca juga  Kuburan yang Basah

“Reinaaa…..,” teriak ayah histeris, lalu memeluk bahuku erat.

“Kau lihat? Ini anak yang selalu kau remehkan,” bentak ayah kepada bunda. Bunda yang semula duduk langsung berdiri dan menarik lenganku kasar.

“Anak ini pintar sekali berdrama,” bunda tetap menarikku menuju keluar rumah. Teriakan marah ayah tak membuat gentar bunda untuk terus menyeretku.

“Seharusnya kau mati saja anak jalang,” maki bunda. Rintihanku yang menahan sakit membiarkan hati sedihku berceceran mengotori lantai, rasanya kepalaku makin berdenyut pusing sampai di teras depan. Lenganku dihempas begitu saja dengan keras hingga membentur lantai. Tak cukup hanya itu, setelahnya bunda menarik rambutku dan kembali menampar pipiku.

“Bu…bun…da,” hanya itu yang bisa kurapalkan dari tadi, memanggil dengan suara yang sudah sangat lemah dan aku yakin tak satu kata pun yang keluar dari bibirku mampu untuk dicerna dengan baik oleh bunda.

“Plaak….,’’

Kurasakan rasa anyir masuk ke dalam indra pengecapanku yang aku yakini rasa darah dari sudut bibirku yang pecah.

Kembali tanganku ditarik kasar menuju ke dalam rumah lagi. Rambutku yang panjang tergerai acak-acakan tak menentu, seretan bunda tak hanya berhenti di ruang tamu. Tepat di depan kamar mandi yang telah lama tak terpakai. Bunda berhenti dan diam sejenak. Perih di telapak kakiku tidak sebanding dengan perih yang aku rasakan saat bunda memperlakukanku seperti ini. Sedangkan ayah yang ada di ruang tamu memilih diam dan melihat dengan nanar, karena bunda mengancam akan melakukan hal yang lebih mengerikan kepadaku bila ayah ikut campur. Bunda mendorong pintu kamar mandi yang rusak karena sudah dimakan waktu, cukup lama dan akhirnya pintu terbuka sempurna, aku ditarik ke dalam dan dihempaskan begitu saja.

“Kamu diam di sini sebelum aku yang membukakan pintu,” nada bunda terdengar begitu marah. Bunda keluar dengan diiringi suara pintu yang dibanting keras. Tak ada yang bisa dibanggakan dari kamar mandi tak terpakai ini, selain pengap dan bau yang aku rasakan. Aku duduk meringkuk bersandar pada pintu. Air mataku kembali jatuh.

Sebenarnya aku tidak tahu akar masalah ini, entah apa yang membuat bunda begitu benci kepadaku seperti ini. Aku menangis sendiri di sini, namun tidak ada yang mendengar selain cicak yang menempel di dinding dan laba-laba yang menempati sudut-sudut kamar mandi. Sampai kapan, Tuhan? Aku kau berikan ujian sedemikian menyakitkan, aku dijauhi keluarga, kau pasti tahu itu kan? Tak cukup puaskah kau atas perjuanganku. Aku mohon hentikan lakon ini, kalaupun kau tak mau hentikan, tunjukkan apa masalah yang membuatku dibenci keluargaku. Aku mohon, tak cukupkah kau melihat tubuhku yang ringkih semakin ringkih.

Baca juga  Senyum Ibu

Berjalan tertatih dan menahan rintih. Bunda, sebenarnya aku ini siapa di matamu? Tak pernah kau tunjukkan aku di depan umum. Kalaupun kau tunjukkan, kau perlakukan aku selayaknya babu. Aku mendengar suara gemuruh mobil dari halaman rumah, aku yakin betul itu adalah suara mobil Kak Tama.

“Yeah… makasih, Kakak, Kakek, Nenek,” itu suara manja Rasya. Lalu hening cukup lama.

“Ada apa ini, Aliya?” tanya kakek. Apa yang terjadi, kenapa banyak darah berceceran di lantai dan kenapa vas bunga itu bisa pecah? Aku tercengang mengingat sesuatu, sesuatu yang baru terjadi, darah itu pastilah darah yang mengalir dari kakiku sebab terkena pecahan beling tadi. Perih di telapak kakiku masih tetap terasa.

“Seperti inikah kelakuanmu terhadap Reina, cucuku?” hardik kakek pada bunda. Apa yang terjadi? Kenapa kakek bilang seperti itu?

“Ayah, asal kau tahu. Sebab dia bukan anak kandungku, dan dia hanyalah benalu di dalam keluargaku,” kata bunda pada kakek.

“Apa maksudmu? Dia bukan anakmu?” nada tak mengerti dari bibir kakek.

“Iya! Dia bukan anakku. Temanku juga melahirkan Reina tepat di saat aku melahirkan Rasya. Tapi, ia malah meninggalkan bayinya di sampingku sehingga semua orang beranggapan bahwa aku memiliki anak kembar, padahal anakku hanya Rasya.”

Deg…. Kini aku tahu sudah siapa diriku ini.

Seketika aku benar-benar runtuh, tubuhku merosot jatuh. Itukah alasan bunda membenciku. Air mataku kembali tumpah dan aku tahu aku harus sadar diri bahwa di sini akulah yang harus pergi. Kuambil sesuatu di sampingku, sesuatu yang sempat menyakitiku tadi. Tapi kini, dialah perantara aku pergi dan aku telah berhasil pergi bersama dengan leher yang penuh darah di jalan nadi. ***

Guluk-Guluk, 12/2/2021

*) Siswa MTs 1 Putri Annuqayah kelas IX Blessing. Aktif di Komunitas Baca Tulis Sastra (KBTS) Perpustakaan PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara Putri.

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: