Azwim Zulliandri, Cerpen, Singgalang

Hari Kemenangan

Hari Kemenangan - Cerpen Azwim Zulliandri

Hari Kemenangan ilustrasi Singgalang

3
(2)

Cerpen Azwim Zulliandri (Singgalang, 23 Juli 2023)

“MATI kau! Meresahkan saja hidupmu. Sudah banyak korban akibat ulahmu.” Sebuah peluru panas menembus betis kiriku. Darah mengucur deras. Aku tak bisa lagi jalan sempurna. Kakiku pincang dibuatnya. Aku meringis kesakitan.

Tapi yang lebih membuatku teriris adalah ucapannya. Ucapannya itu membuatku menggigil ketakutan. Ini puncak dari ketakutan-ketakutan yang selama ini kurasakan.

Aku mesti menyelamatkan diri. Tak bisa tidak, nyawaku sekarang lebih utama. Mereka belum puas rasanya, sebelum mendapatkan tubuhku menjadi bangkai. Suara berondongan pistol masih saja terdengar di sela-sela ranting pohon. Di balik rerimbun daun, aku bersembunyi ketakutan. Ke mana lagi aku harus bersembunyi? Mereka yang bersenjata api itu terus mengamati pergerakanku.

“Dasar monyet! Ke mana pula sembunyinya,” mereka terus saja menggerutu.

“Ya, Tuhan … sebegitu bencinya mereka denganku,” batinku menahan ketakutan. Perih dan ngilu semakin terasa dari betisku. Air mata tak kalah hebat keluar membanjiri wajahku yang memelas.

Mungkin, hari ini menjadi hari terakhir bagiku untuk melihat indahnya cahaya mentari. Mungkin beberapa saat lagi, menjadi yang terakhir kalinya aku merasakan sejuk angin dan rerimbun pepohonan. Hufft … Aku menghela napas panjang. Tak ada yang bisa menolongku saat ini, selain hanya diriku sendiri.

***

Namaku Sarimin. Tapi nama itu bukan pemberian orang tuaku. Kusampaikan padamu, betapa getir hidup yang kujalani. Sampai sekarang, aku tak tahu di mana keberadaan orang tuaku. Apakah mereka masih hidup? Entahlah. Terakhir kali aku merasakan hangatnya pelukan ibu saat masih kecil sekali. Aku terpisah dengan orang tua pun, tidak kutahu hal-ikhwalnya.

Saat itu aku bingung, ujug-ujug sudah berada di tempat asing. Aku berada di tempat yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Suatu tempat di mana aku merasakan kedinginan. Aku melihat sekeliling, semua terasa baru dan aneh saat itu. Manusia begitu banyak lalu-lalang. Aku hanya pelanga-pelongo. Sementara, di leherku terikat sebuah kala yang ditambatkan pada sebuah tiang. Aku teriak-teriak memanggil ibu. Tapi ibu entah di mana.

“Hei, jangan berisik!” kata seseorang yang belum pernah kulihat. Ia berpenampilan aneh sekali. Tidak sama seperti diriku. Badannya tinggi besar. Jika dibandingkan dengan tubuhku, tidak ada apa-apanya. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya.

Baca juga  Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya

Ia berjalan menuju arahku. Lalu, dia mengusap kepalaku. “Aku di mana ini?” tanyaku padanya. Dia tak menjawab pertanyaanku, tetapi malah menokok kepalaku. Sialan, sakit! Aku menciut diam. Lalu, ia menyodorkan sebuah pisang ke mulutku. Karena lapar, instingku langsung menyambar pisang yang ia berikan.

“Mulai sekarang, kau tinggal bersamaku. Apa pun yang kuperintahkan, kau turuti, ya! Jangan rewel. Hari ini dan untuk selamanya, kau tinggal bersamaku dan bersama orang-orang yang ada di sini. Mereka ini adalah keluargaku. Itu artinya, ini juga keluargamu. Mulailah hidup baru bersama kami.”

“Tapi, ibuku mana?” teriakku dengan tatapan marah. Dia kaget melihatku marah. Lagi, potongan kayu mendarat di kepalaku.

Sejak saat itu, hidupku benar-benar berubah 180 derajat. Aku tak lagi bebas. Semua pergerakanku telah terbatas. Jika aku melawan atau pun marah padanya, mereka akan menyakitiku. Tak jarang kakiku ditebas. Katanya biar tangkas. Sering kali aku dicambuk. Katanya biar menjadi patuh dan penurut.

Aku tak berdaya. Aku kecil dan lemah. Maka, tak ada yang bisa kulakukan selain menuruti semua keinginannya. Kujalani hidup ini dengan penuh keterpaksaan. Sementara, aku sendiri sebenarnya adalah makhluk merdeka. Mereka menginginkanku berpakaian, maka aku dipakaikan baju seperti mereka. Mereka ingin aku berpenampilan layaknya seperti orang kaya; maka diberikan aku kacamata; diberikan jas dan dasi; dibuatkan aku kalung, anting, serta asesoris lainnya. Mereka ingin aku berpenampilan anak sekolah, diberikan aku tas, buku, pena, pensil, dan alat tulis lainnya. Tak hanya itu, diajarinya juga aku cara berkendara layaknya pembalap Moto-GP. Diajari juga aku cara bermain egrang. Diajarinya juga aku berjalan dan berdandan layaknya sosialita atau istri pejabat yang berbelanja intan permata.

Mereka mengajariku seperti apa yang dikehendakinya. Tak bisa tidak, pokoknya apa yang mereka ajarkan padaku, harus bisa aku laksanakan. Salah sedikit, hardik, hinaan, pecut, dan siksaan lainnya dilayangkan untukku. Aku pun lantas menjadi tangkas dan cerdas. Cerdas yang dilatari oleh perasaan cemas. Makhluk mana yang tak akan cemas jika sudah mengancam keselematan jiwanya? Biarlah! Aku memang makhluk yang hina. Sementara mereka makhluk mulia dan sempurna.

“Bagus, Sarimin! Perkembangan dan gerakan kau semakin lincah. Tak sia-sia kami melatihmu enam bulan terakhir ini. Besok kau ikut dengan kami, ya. Besok kita menjemput rezeki. Kita tunjukkan kecerdasan dan ketangkasanmu pada dunia.” Dia tersenyum sementara aku membisu.

Baca juga  Macan

Aku menurut karena takut. Aku memang pintar dalam pandangannya, tetapi dia tak tahu bahwa aku tersiksa. Atau barangkali dia tahu aku menderita, tetapi ia tak peduli karena tiada bernurani. Entahlah. Aku hanya pasrah atas takdir yang kujalani.

Aku diarak ke tempat-tempat keramaian, seperti di pasar, pertokoan, dan perumahan. Di sana, aku diminta untuk menunjukkan kepada khalayak ketangkasan dan kecerdasan yang telah dilatihkan padaku. Diiringi alunan musik gendang, dia menyuruhku untuk memperagakan gerakan-gerakan yang telah kupelajari.

“Sarimin pergi ke pasar.” Orang-orang tertawa dan tersenyum bahagia melihat tingkahku.

“Sarimin mengalahkan Valentino Rosi.” Dia terus menarik ulurku dengan seutas tali.

“Sarimin belajar membaca.” Mereka kagum akan tingkahku. Lalu, orang-orang memberi lembaran uang kertas. Logam juga ada.

Begitulah hari-hari kujalani. Tahun pun terus berganti. Aku yang dulu kecil belia, sekarang sudah menuju usia dewasa. Di mana di usia dewasa ini, begitu banyak gejolak yang membara di dada. Sudah puluhan purnama kujalani takdir dengan tersiksa. Sementara, mereka-mereka itu terus saja memperkaya diri di atas dukaku yang nestapa. Sudah saatnya aku melakukan perlawanan!

Kapan ini akan berakhir? Aku tak tahu pasti. Bagaimana akhir perjalanan hidup ini? Kuserahkan semuanya pada Sang Pemberi. Namun yang jelas, aku tak akan ikhlas bila terus begini. Aku bertekad bebas. Suatu saat nanti, hari kemenangan itu akan datang padaku. Biarlah kini aku bersusah hati dulu.

***

Mungkin, hari ini menjadi hari terakhir bagiku untuk melihat indahnya cahaya mentari. Mungkin beberapa saat lagi, menjadi yang terakhir kalinya aku merasakan sejuk angin dan rerimbun pepohonan. Hufft … Aku menghela napas panjang. Tak ada yang bisa menolongku saat ini, selain hanya diriku sendiri.

Kuakui, selama kebebasanku, aku telah banyak melakukan kesalahan. Dendam kesumat dalam tubuhku tak dapat kukendalikan. Mestinya, orang-orang yang tak bersalah itu tidaklah menjadi korban atas perilakuku. Harusnya, mereka-mereka yang menyiksa aku dahulu yang mendapatkan ganjarannya. Ini tidak, anak-anak kecil dan lemah yang masih balita yang menjadi korban keberingasanku. Aku gigit dengan sadis hingga terserang rabies dan berujung kematian. Orang tua mana yang tidak berduka atas kehilangan anaknya? Ya, mungkin sama rasanya sebagaimana orang tuaku dulu kehilangan aku dari pelukannya.

Baca juga  Upeti Putri

Tapi, begitulah kawan. Aku tak punya akal sehat seperti kalian. Yang kupunya hanya insting mempertahankan diri. Kalau dulu, aku masih kecil dan belum bisa mempertahankan diri. Sekarang, tentu aku sudah jauh beringas. Dan pandanganku melihat kalian itu sama saja. Ya, seperti yang kalian katakan juga dalam sebuah peribahasa, “Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.”

Cuma ya, itu, aku pun menyesal telah menoreh luka pada kalian. Tak kuasa aku melihat orang tua menangisi kepergian anaknya. Tak sanggup aku melihat orang tua berderai air mata melihat anaknya tak bernyawa. Dari tangisnya itu, aku sangat paham bahwa betapa sayangnya orang tua pada anaknya. Kalian juga begitu, bukan?

Ingatanku pun langsung tertuju pada ibuku. Ya, ibuku! Lagi apa sekarang ibu, ya? Pasti dia rindu menantikan kehadiranku.

Dooor! Door!

Lagi, suara berondongan pistol terus memburu. Siapa lagi kalau bukan aku targetnya. Jantungku semakin berdegup kencang. Rasa cemas semakin memuncak. Keringat dingin terus mengalir deras. Sama derasnya dengan aliran darah di betisku. Kemana lagi aku mesti sembunyi? Apakah aku harus menyerah saja? Tidak! Aku ini makhluk merdeka. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup menderita kebebasan dijarah.

Di sisa-sisa tenaga, kuyakinkan diri untuk melompat ke dahan yang lebih tinggi. Hap, aku berhasil pindah ke dahan yang lebih kokoh. Sial, mereka melihat pergerakanku. Tuhan, tolong aku … Aku ini hamba-Mu juga ‘kan?

Door! Door!

Terdengar dua kali tembakan. Satunya tepat mengenai dada sebelah kiriku. Aku tumbang, tetapi belum mati, Kawan. Masih ada beberapa saat lagi bagiku untuk mengirim pesan kepada Tuhan.

“Tuhan, mereka telah kalah dan aku pemenangnya. Ini adalah hari kemenanganku, Tuhan. Maka dari itu, izinkan aku pulang menuju rumah-Mu.”

Buuub! Tubuhku benar-benar jatuh ke tanah. Semua gelap dan selesai sudah. ***

.

.

Batam, Juli 2023

.
Hari Kemenangan. Hari Kemenangan. Hari Kemenangan. Hari Kemenangan.

Loading

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!