Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Teni Puji A

Siapa Parkir di Situ?

Siapa Parkir di Situ? - Cerpen Teni Puji A

Siapa Parkir di Situ? ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(2)

Cerpen Teni Puji A (Kedaulatan Rakyat, 04 Agustus 2023)

“KURANG ajar!”

Rustam mengumpat kasar. Mukanya merah padam melihat mobil yang untuk ke sekian kali terparkir di depan pagar rumahnya.

“Bu! Ibu!” Rustam berteriak-teriak memanggil istrinya.

Masih mengenakan mukena, istrinya tergopoh keluar dari kamar menuju teras depan. “Ada apa, Pak?”

Tak ada jawaban. Rustam hanya mendelik tajam, menunjuk ke arah luar pagar.

Istrinya menoleh ke arah yang ditunjuk Rustam. Seketika ia menghela napas panjang, melihat ada mobil Toyota All New Rush hitam tengah nongkrong cantik di depan rumahnya.

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Rustam membuka pagar. Langkahnya lebar-lebar. Tempo hari, Rustam dan istrinya diam saja ketika mobil itu parkir di sana. Mereka pikir, paling sebentar. Besok-besok juga pasti sudah tidak ada. Tapi ternyata, didiamkan eh, malah keterusan. Setiap malam, barangkali sepulang kerja, pemiliknya memarkir mobil itu di depan rumah Rustam.

Rustam berdecak kesal. Dongkol benar tampaknya pensiunan guru itu. Ia lalu berjalan menuju arah gang sempit yang berada persis di samping rumahnya. Dari info yang ia dengar kemarin, pemilik mobil itu adalah penghuni baru di kontrakan yang berada di belakang rumahnya.

Tibalah Rustam di petak-petak kontrakan itu. Namun, tentu ia tak tahu orang yang dimaksud diam di kamar mana. Semesta mendukung. Secara kebetulan Haji Subur, pemilik kontrakan, yang baru pulang salat Subuh di masjid, datang dan menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Haji Subur dengan dahi mengernyit. Barangkali ia heran dengan apa yang dilakukan tetangganya subuh-subuh begitu.

Rustam pun menjelaskan maksudnya dengan nada berapi-api, mirip mahasiswa yang sedang berorasi.

Baca juga  Aini dan Sandiwara Kami

Haji Subur hanya manggut-manggut. Percuma juga menanggapi orang yang sedang emosi, pikirnya. Ia lalu mengantar Rustam ke kamar pemilik mobil hitam itu.

Diketuknya pintu kamar tiga kali. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab seorang lelaki dari dalam.

Saat daun pintu terbuka, tampaklah seorang lelaki berperawakan jangkung, berkulit bersih, dan berwajah penuh wibawa. “Ada apa?” tanyanya dengan nada arogan.

Sebelum Rustam keburu merepet dengan amarahnya, Haji Subur sudah mendahului bicara. “Nak Rendi, ini Pak Rustam,” ucap Haji Subur ramah, berusaha mencairkan suasana. “Beliau ini pemilik rumah di depan jalan raya sana. Beliau keberatan kalau mobil Nak Rendi diparkir di depan rumahnya.”

“Nanti siang juga saya pergi lagi. Cuma nitip kalau malam saja masa tidak boleh.”

“Tidak boleh!” teriak Rustam. Akhirnya emosinya meledak juga. “Kalau tidak punya garasi, atau enggak sanggup sewa garasi, ya jangan punya mobil.”

“Loh, kok, Bapak jadi ngatur-ngatur saya!” Rendi tak kalah nyolot.

“Sudah, sudah! Tidak enak didengar orang, pagi-pagi begini sudah ribut.” Haji Subur kembali berusaha menengahi. “Nak Rendi, mulai hari ini, tidak boleh lagi parkir di depan rumah Pak Rustam. Beliau punya hak atas itu. Jadi, silakan cari tempat parkir lain!” Kali ini nada bicara Haji Subur lebih tegas dan penuh penekanan.

“Iya, iya. Nanti saya cari tempat parkir lain.” Pria tiga puluh tahun itu membuang muka.

“Ya sudah kalau begitu.” Haji Subur lalu mengajak Rustam beranjak dari tempat itu. Mereka berjalan beriringan sambil mengobrol.

“Harap maklum ya, Pak Rustam. Anak muda memang kadang suka tidak tahu aturan.”

“Ya, tidak apa-apa, Ji! Saya cuma tidak habis pikir sama anak zaman sekarang. Pada bisa beli mobil bagus, tapi tinggal masih di kontrakan. Mobilnya kan jadi diparkir sembarangan.”

Baca juga  Andai Aku Dulu Durhaka

Haji Subur hanya terkekeh mendengar ocehan tetangganya itu tanpa mau memperpanjang obrolan. Lalu mereka berpisah di persimpangan jalan. Rustam segera masuk ke rumah, dan menceritakan semua kepada istrinya.

“Syukurlah kalau begitu, Pak. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran,” kata istrinya dengan wajah puas, penuh kemenangan.

Namun, kemenangan itu nyatanya tidak berlangsung lama. Dua hari berikutnya, ada mobil lain yang diam-diam parkir di depan rumah mereka. Pemiliknya ternyata tinggal jauh di dalam gang sana. Rustam kembali naik pitam. Pun istrinya kembali menghela napas panjang.

“Kurang ajar!” Lagi-lagi Rustam harus mengumpat kasar. ***

.

.

*) Teni Puji A, seorang ibu rumah tangga biasa yang senang membaca dan menulis cerita.

.
Siapa Parkir di Situ? Siapa Parkir di Situ?

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!