Cerpen, Kompas, Yuan Jonta

Dua Orang Pendoa

Dua Orang Pendoa - Cerpen Yuan Jonta

Dua Orang Pendoa ilustrasi Anton Susanto/Kompas

4.3
(10)

Cerpen Yuan Jonta (Kompas, 13 Agustus 2023)

SAAT menandaskan doanya, dia memberikan tiupan kecil ke mulut botol air mineral. Bibirnya merah hitam karena biasa mengunyah sirih pinang. Bingkai mulutnya kecil dan ia tidak banyak bicara. Aku memercayai kekuatan doanya sehingga selalu menyarankan namanya kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan spiritual.

Tidak sedikit orang yang mengakui kemujaraban doa Ende Ndeheng sehingga ketika ada yang mengatakan bahwa air dari Ende Ndeheng juga dapat mengubah hati yang muram menjadi berwarna, saya tidak membantah. Karena itu, mengenalnya, apalagi menjadi dekat dengannya, merupakan berkah tak terperi.

Sekitar tiga belas tahun yang lalu, aku didiagnosis mengidap batu ginjal. Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit luar pulau. Oleh karena pertimbangan biaya, aku menuruti saran seorang kerabat untuk mendatangi Ende Ndeheng. Lewat air yang sudah didoakannya, seminggu kemudian, biji-biji sebesar pasir keluar dari saluran kencing. Terus terang saja, saya terkejut menyaksikan keajaiban praktik nonmedis ini. Sejak saat itu, kalau ada apa-apa, saya selalu memohon doanya.

Bila ada yang menanyakan apakah rapalannya menyimpang dari ajaran Tuhan, kujawab tidak. Sebab, setiap Minggu Ende ke gereja.

Keriput yang tersebar di bentang wajahnya adalah garis-garis panjang masa hidupnya. Dari cerita bahwa ia sudah memasuki masa gadis ketika Nippon masuk di kampungnya, kami mengira-ngira bahwa ia sudah berkepala sembilan. Perkiraan ini sebenarnya agak goyah, sebab ia masih tampak perkasa, telaten beternak, dan gesit berkebun.

“Istirahat dulu, Ende, awas sakit,” seruku tiga minggu yang lalu. Hawa panas kasatmata di udara, matahari menyinari dan memantul dari permukaan rambutnya yang abu-abu. Ia memicingkan matanya berusaha mengenaliku. Aku tahu mata renta itu tak mampu melihat jauh. Pupil matanya banyak mengandung putih, kuyakini bahwa itu adalah pancaran cahaya batinnya.

“Aku mau maju pemilihan legislatif, Nde,” kataku di dalam rumah.

Ema Kulis, suaminya, mengantarkan kopi untuk kami bertiga. Dia menyampaikan bahwa Ende akan menjalankan ritual toto-kopi. Setelah meniris habis ampas kopi, Ende Ndeheng menunjukkan jejak-jejak ampas yang tersisa di dalam gelas kaca.

“Nak Marungge, di sini ada tiga garis yang beriringan. Sebuah pertarungan yang sengit. Namun, ada gumpal yang membeku angkuh di ujung tiga garis ini. Itu adalah tebing yang tidak dapat kau panjati,” kata Ema Kulis seperti juru bicara. Ende seperti penyambung lidah ke dunia lain, dan Kulis mengurusi syarat dan ketentuan.

“Lalu sebaiknya aku bagaimana, Ema, Ende?”

Ende Ndeheng berbisik kecil kepada Kulis.

“Kalau Nak Marungge bersungguh-sungguh ingin mengabdikan diri untuk orang-orang kecil, datanglah kembali di hari bulan sabit. Kira-kira tujuh belas hari dari sekarang,” ucap Kulis.

Baca juga  Lelaki Tua dan Sebuah Seragam

Demikianlah, satu minggu yang lalu aku datang dengan kantong plastik berisi sirih, pinang, kapur, tembakau susur, serta setengah karung beras. Ende melemparkan senyum dari gigi hitam-merahnya; matanya memang rabun, tetapi aku yakin ia mengenaliku sebab ia selalu mengingat dan berhitung hari perjanjian. Ia melepaskan tikar pandan yang sedang dianyam—itu salah satu caranya mengisi waktu—lalu menyambutku di teras rumah dengan pelukan, dielus-elusnya daguku dan diberikannya padaku sebuah kecupan hangat di pipi layaknya anaknya sendiri. Ia selalu merindukan itu, mungkin dari sekian karunia yang dimiliki, buah hati bukanlah sesuatu yang diberikan kepadanya.

Ema Kulis keluar dari dapur saat tahu bahwa aku datang. Ia mengangkat beras, tidak berhasil kucegah. Otot-otot itu masih kekar, dan itu berhasil membuatku malu dan mengalah.

Siang itu, kami santap siang bersama, sudah disembelih satu ekor ayam kampung yang mereka pelihara di belakang rumah. Aku meminta maaf karena hanya membawa setengah karung beras dari kota, dan aku mendapat omelan dari Ema Kulis, “Melayani tamu tidaklah perlu berhitung.”

Aku beristirahat setelah makan siang, tubuhku rasanya remuk setelah melewati jalan berbatu dan berkelok-kelok.

Aku terbangun di sore hari, rumah itu terasa sepi; Ema Kulis baru saja selesai merebus air untuk kopi sore. Ia menyampaikan kepadaku bahwa Ende Ndeheng sedang ke sungai untuk mandi sekaligus mengambil beberapa perlengkapan upacara kami di malam hari. Dia bercerita kepadaku tentang apa-apa saja syarat yang harus kutaati saat upacara malam nanti.

Malam hari Ende Ndeheng mengenakan kebaya kuning dan kain songke. Bulan sabit menerangi kampung ini, pelita-pelita terlihat menyala-meredup dari luar bilik bambu rumah-rumah. Kami dalam perjalanan menuju Tiwu [2] Tebes, tempat upacara akan dilangsungkan.

Pohon-pohon tua berdiri tinggi di sekeliling kami, Ema Kulis tiga langkah di depanku, sulur obor diselimuti lidah api yang meliuk, sekejap kulihat setitik cahaya kecil dari arah kiri. Kunang-kunang. Kelap… kelip… ia terbang ke arah kami datang. Aku tak memperhatikannya lagi sebab kakiku masuk ke dalam lumpur, aku hampir mengumpat bila sekelebat pesan dari Ema Kulis tidak terlintas kembali dalam benak. Jangan berkata kasar di hutan ini.

Suatu waktu ada seorang pengunjung yang tidak sopan, ia mengejek-ejek takhayul dan menguji hutan ini lewat serapah; pohon-pohon berjalan dan menutupi tanah-tanah bekas pijak, mengerjainya dalam permainan labirin, ia tidak dapat menemui jalan pulang. Hutan tidak suka kelancangan; ia mudah marah dengan anak nakal, tetapi mudah memaafkan hati yang tulus memohon ampun. Ndeheng menemukannya sedang menjerit menyesal di tengah hutan lalu menuntunnya ke jalan pulang. Demikian aku diceritakan Ema Kulis saat sore hari.

Baca juga  Kasandra

Kami duduk bersimpuh di sisi tiwu. Ende Ndeheng mengambil sebutir telur ayam kampung, memecahkan bagian atasnya, lalu mendirikannya di atas tiga buah batu kecil yang disusun rapat. Kudengar suaranya pertama kali: “neka babang agu bentang”, meminta izin agar roh-roh tidak marah karena ada satu orang asing yang datang bersamanya. Kemudian dituturkannya sebuah doa, memanggil roh-roh yang ada di sana, angin berembus menusuk tengkukku, kepala terasa membesar, sebuah tanda akan zat lain yang mendatangi kami.

Ia menyusun sesaji di atas sebuah batu ceper yang menyerupai piring: lima lembar daun sirih yang sudah diolesi kapur, lima keping biji pinang kering, dan segumpal tembakau. Kepadaku disodorkan sebatang rokok linting untuk dinyalakan sebagai sesaji untuk roh pecandu. Dia memandangiku dan memberikan sebuah anggukan kecil, isyarat bahwa doanya akan segera dimulai. Aku mengangguk, dia pun menunduk.

Temaram sinar bulan sabit menyirami tengkuk dan rambutnya, segaris kerut di dahinya tampak lebih tegas dan dalam; dua belah kelopaknya yang menutup terlihat teduh di balik bayangan, seketika gambaran wajahnya yang sebagaimana siang tadi berubah menjadi begitu dingin, aura lain memancar dari sekujur tubuhnya.

Bunyi komat-kamit dan pola napas yang teratur berganti-ganti dengan aliran air dan binatang malam. Ema Kulis masih jauh di belakang dan aku tidak berani menoleh. Sekalipun ada manusia lain, aku merasa seperti anak yang terdampar di sisi tiwu.

Ndeheng kemudian mendongak dan membuang napas dari belah mulutnya, uap yang bersembunyi di balik bentang parunya membubung dan melesap di udara yang gelap. Yang kusaksikan itu seakan-akan adalah roh yang menyelinap keluar dari tiwu doa kami; aku bergidik, dan dalam sunyi terpukau kepalaku membesar beberapa kali lipat dari semula.

“Kemari, Nak Marungge,” Ende Ndeheng melafaz hampir senyap dan aku geser lebih dekat dengan sumber suara. Ia meraba sesuatu yang tersembunyi di balik gulungan songkenya: sekantong cabe yang terasa gepeng dan kempis kering. Sebelum tiba di tanganku, ia menyampaikan seutas doa yang harus kuingat dengan saksama.

Aku menerima kantong itu dengan hati-hati seperti menjaga anak tikus yang masih merah.

Ende Ndeheng lalu memberitahu kami untuk pulang. Aku berbalik, dan Ema Kulis kulihat sudah berdiri memunggungi tiwu.

“Jangan menengok ke belakang,” katanya mengingatkan kembali pesannya di sore hari.

Pertanyaan meliputi isi kepalaku, bagaimana Ende Ndeheng tahu jalan pulang, padahal matanya telah renta dan kegelapan menaungi isi hutan.

Keesokan harinya aku pamit, aku hendak memasukkan beberapa lembar uang ke dalam roto [3] yang digantung di muka rumah. Di sana biasanya orang memasukkan bayaran seikhlasnya. Sebelum sempat kumasukkan, Ema Kulis menahanku. Aku bersikeras ingin memberikannya. Ema Kulis lebih keras lagi menolak.

Baca juga  Dongeng Cinta Sepasang Monyet

“Berjuang dulu untuk kemenanganmu, datanglah lagi setelah Nak Marungge sudah jadi anggota dewan. Bawa sirih pinang yang lebih banyak. Kami percaya denganmu seperti anak kami sendiri,” ucapnya.

Aku mendengar kabar kematiannya tiga hari yang lalu. Ia meninggal satu hari setelah kunjunganku ke rumahnya. Ia panas tinggi, peluh tidak henti-hentinya keluar dari permukaan kulitnya. Ia mengembuskan napasnya sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.

Tuan Harito adalah senior partai kami. Lima hari yang lalu aku menaburkan sekantong plastik cabe kering di balik cocor bebek hiasan rumahnya. Kubisikkan dengan saksama:

Titis lobo mata, pudus lewo irus; bete wengke wase.” [4]

Di rumah duka, setelah menghapus air mata yang aneh, aku berbincang bersama dua kader lain di muka rumah. Saya mencuri lihat: ulat-ulat kecil menyembul dari sela cocor bebek.

Siang tadi aku baru saja pulang dari kampung Ende Ndeheng. Aku terkesima melihat perubahannya, ia tampak lebih muda, garis-garis kerutannya terlihat lebih samar.

Kuceritakan perasaan takut yang menggerogotiku.

“Kebaikan besar butuh pengorbanan yang besar,” ucap Ende Ndeheng lembut.

Perasaanku campur aduk, tetapi Ema Kulis menyampaikan agar aku tidak risau. “Satu lagi. Nak Marungge tidak boleh marah dengan Ende, supaya rohnya selalu menjagamu,” kata Ema Kulis, yang terlihat semakin perkasa.

Tentu aku tidak marah. Aku percaya rapalannya tidak menyimpang. Dia hanya membuka jalan untuk pertarungan yang adil. ***

.

.

Labuan Bajo, 19 Mei 2023

Catatan:

[1] Toto-kopi: Meramal/menerawang dengan membaca jejak ampas kopi yang sudah ditiriskan.

[2] Tiwu: Telaga

[3] Roto: Tas terbuat dari anyaman tikar berbentuk tabung

[4] Titis lobo mata, pudus lewo irus; bete wengke wase: Menetes di mata, menusuk di hidung; putus tali pilinan.

.

.

Yuan Jonta menetap di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. PNS di Pemkab Manggarai. Anggota Klub Buku Petra Ruteng. Sedang menekuni dunia mengarang cerita pendek.

Anton Susanto lahir di Bandung, 17 Desember 1979. Menempuh pendidikan seni rupa di FSRD ITB. Saat ini bekerja dan berkarya di Bandung. Selain sebagai seniman juga sebagai kurator Griya Seni Popo Iskandar dan Mola Art Gallery.

.

Dua Orang Pendoa. Dua Orang Pendoa. Dua Orang Pendoa. Dua Orang Pendoa. Dua Orang Pendoa.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!