Cerpen, Rosi Ochiemuh, Solopos

Hujan Batu di Kepala

Hujan Batu di Kepala - Cerpen Rosi Ochiemuh

Hujan Batu di Kepala ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

4.7
(3)

Cerpen Rosi Ochiemuh (Solopos, 26 Agustus 2023)

KEPALAMU sedang dihujani batu. Sakitnya sampai tidak bisa berkata-kata. Semula kamu tidak percaya bahwa batu itu sedang berjatuhan di kepalamu. Setiap malam kamu merasa batu-batu itu menghujani kepala sampai kamu ambruk. Kamu lalu merasakan lagi pelukan hangat ibu yang setia menjaga. Batu-batu itu menghilang sebentar, tapi hujan batu itu datang lagi.

***

Malam purnama hari itu tidak terlupakan. Tuhan semakin sayang padamu. Penyakit datang tanpa pandang bulu. Malam pekat itu membuatmu merasakan sesak napas. Batuk memecah sunyi berkali-kali. Tenggorokan seakan dicekik aura malam, sesak yang tidak bisa dijelaskan.

Berkali-kali mengelus kandungan, berharap apa yang kamu rasakan tidak mengganggu bayi dalam rahim. Lia terlihat resah, lalu dia mengambil segelas air hangat untukmu. Begitu saja sudah membuatmu bahagia meski dalam keadaan sakit.

Lia laksana malaikat kecil yang dikirim untukmu. Meski ayahnya bajingan, tapi Lia anakku baik hati, batinmu menggumam.

“Mama sakit? Besok ke dokter ya,” pinta Lia, matanya selalu menatap resah padamu saat terbatuk-batuk.

Rumahmu di malam hari kini terlihat terang dari balik jendela. Kamu tidak bisa tidur karena batuk durjana menghajar tenggorokan hingga dada menjadi sesak.

Keesokannya, pagi disambut lesu dalam rumah. Di bawah kedua mata membentuk hitam sabit. Wajah muram, bibir merah menebal. Mengikuti saran Lia, kamu memeriksakan diri ke klinik dokter terdekat dari rumah.

“Ibu terkena batuk rejan. Ibu harus istirahat total dan tidak boleh melakukan rutinitas penuh. Apalagi ibu sedang hamil delapan bulan. Ini berisiko pada kehamilan ibu,” ujar dokter itu. Kamu diam saja mendengarkan sambil mengangguk. Meski hati berkata butuh uang untuk biaya persalinan nanti.

“Saya berikan resep obat khusus ibu hamil, minum dua kali sehari bersama vitaminnya. Udara perkotaan juga kurang bagus untuk ibu hamil, sebaiknya istirahat total,” lanjut dokter mengingatkanmu lagi.

Selepas pulang dari klinik kamu memikirkan ucapan dokter tadi. Apakah memang harus istirahat total sedangkan kamu masih ingin bekerja? Bukan saja untuk memenuhi kebutuhanmu dan Lia, tapi juga biaya persalinan. Raga berada di ranjang sedang pikiran ke awang-awang.

Tiba-tiba laki-laki itu masuk rumah bersama kegilaan di wajahnya. Mulutnya berbau alkohol dan berbagai umpatan keji yang siap keluar untuk menularkan virus kegalauan serta keresahan padamu.

“Aku mau pinjam tabunganmu. Ada uangnya tidak?!”

Kamu bangkit mendengar itu. Rasanya seperti bom nuklir yang meluncur tepat di depan tubuhmu. Kehancuran baru saja datang menemui. Segala biang kesialan dan kesulitan hidup itu adalah suamimu.

Baca juga  Sima

Dengan langkah gontai, kamu hampiri dia tanpa berpikir lagi. “Untuk apa, Bang? Tabungan itu untuk biaya melahirkan, sekarang aku lagi sakit,” ucapmu lesu.

“Halah kamu. Pura-pura sakit biar aku pergi!” gertak lelaki durjana itu.

“Tidak, aku sungguh sedang sakit, Bang. Kau lihat ini obat-obatnya, baru saja aku dari klinik dokter,” jawabmu memelas.

Memang, saat ini kamu sedang tidak berdaya untuk menghadapinya. Serasa kekuatan itu sedang disedotnya. Laki-laki itu tanpa berkata lagi membuka paksa semua isi lemari pakaian. Mengobrak-abrik apa pun yang bisa didapat, namun ia belum menemukan buku tabungan yang sebenarnya sudah kamu sembunyikan di rumah ibumu.

“Akhirnya dapat juga! Ini kuambil dulu, nanti aku ganti!” teriaknya dengan mata merah menyalak ketika mendapati kotak kecil berisi kalung emas seberat dua gram. Keadaan yang persis seperti begal di berita televisi.

Kamu terbelalak melihat itu. Dia sudah mengambil perhiasanmu satu-satunya. Meskipun katanya akan diganti, belum pernah satu pun janjinya yang ditepati.

“Jangan, Bang! Itu pemberian ibuku. Kumohon jangan!” teriakmu memegangi kakinya. Saat itu tubuhmu lemas tanpa disadari. Sementara dengan kasar dia pergi melepaskan tanganmu dari kakinya. Melenggang penuh tawa tanpa menoleh lagi padamu yang menangis dan hampir pingsan. Rumahmu halai-balai laksana hatimu saat itu.

Sejak kejadian itu, sakitmu bertambah buruk. Batuk menjadi monster yang menyerang. Sampai-sampai kau tidak bisa menahan buang air kecil barang sebentar. Kemudian, datang hujan batu di kepalamu. Lia memandang sedih dan meminta sang nenek menjagamu. Lia khawatir. Anak itu merasa pilu dan sering menangis dalam salatnya.

***

Kemarin sore, langit di atas Sungai Musi jingga keemasan. Memantul pada riak kecil air sungai yang tenang. Kamu tidak pernah absen menyaksikan itu selepas pulang kerja dari toko kain di Pasar 16 Ilir. Tempat di mana hiruk-pikuk perniagaan selalu ramai. Walau beberapa toko terbakar berkali-kali, tapi mereka selalu punya banyak nyawa untuk kembali menjadi pasar kebanggaan Kota Pempek itu.

Matamu terpaku di Sungai Musi seakan semua diletakkan di sana. Keresahan itu lalu berkumpul menjadi air mata yang menetes di pipi. Ada gelombang di kepala dan tubuhmu yang berbadan dua nampak gusar, berkali-kali mengusap perut yang membuncit tiap bulannya. Kehamilan kedua yang menyedihkan setelah pertengkaran yang berulang dengan suamimu.

“Kita ini sudah menikah delapan tahun, tapi sikapmu masih tidak berubah. Selalu membuat orang susah, termasuk aku!”

Baca juga  Gelap

“Diamlah! Jangan mengaturku, tugasmu cuma menurut saja!”

“Aku cuma mau kau jadi suami dan ayah yang baik, Bang. Berubahlah demi anak kita.”

“Halah! Aku tidak butuh ceramah, aku sedang pusing. Aku perlu uang, mana uangnya?”

Dentuman keras daun pintu rumah seakan hampir lepas dari tempatnya. Kemarahan tertumpah dari suamimu yang pergi. Kamu remas jemari dengan kencang. Mungkin di dalam sana, janinmu ikut bergejolak. Emosi ibunya dia rasakan pula. Satu per satu lelehan air mata jatuh ke lantai kala kepalamu tertunduk ke bawah sana. Hanya di sana kamu bisa sembunyikan kemuraman. Rumah tangga yang kian keropos.

Batinmu teriris. Sekadar memohon hak dirimu dan Lia, laki-laki itu lantas marah. Sebenarnya dia tidak pantas untuk menjadi suami dan cintamu. Laki-laki itu hanya pantas mendapatkan perempuan yang sama brengsek dengan dirinya.

Sejak kamu menikah dengannya, sejak itu pula tidak terlihat lagi tawa riang di wajahmu. Entah apakah serius menjalani pernikahan itu atau memang kamu sedang menahan sesal atas pilihanmu sendiri.

Lelakimu itu bahkan tidak tahu bagaimana cara menafkahi lahir batin. Semuanya timpang. Belum lagi ibunya hanya membicarakan aib rumah tangga anaknya daripada memperbaiki. Dia bilang kamu adalah menantu yang tidak baik. Hanya bisa bekerja mencari uang tanpa bisa menjadi istri dan ibu yang benar. Omongan yang tidak logis dan tidak berperasaan.

Harusnya anak laki-lakinya mencari nafkah dan menafkahimu sejak menikah. Bukan menjadikanmu tulang punggung rumah tangga. Lamunan mendera. Manakala kamu sakit hati pada suamimu, semua terungkit sempurna tanpa jeda sedikit pun.

Selepas pulang kerja kamu menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke kolong Jembatan Ampera. Memandangi Sungai Musi yang berkilauan menjelang senja.

Kami pandangi beberapa pasang kekasih yang duduk mesra bercengkrama di BKB, Benteng Kuto Besak. Mereka sedang menikmati suasana sore yang ramai dan indahnya langit senja. Batinmu tiba-tiba mengumpat mereka. Dulu pun kamu pernah berkasih mesra seperti mereka bersama lelakimu bukan? Dari sanalah datangnya cinta dan kau tak bisa menolak apa pun yang dulu diminta lelaki itu.

Para pasangan kekasih yang hanya menikmati sajian semu bodoh, batinmu. Mereka itu akan merasakan kenyataan setelah menikah. Ya, setelah menikah, semua kejelekan sifat dan karakter yang tak terduga akan ditemukan.

Kamu cuma memainkan batang rokok karena ragu untuk dinyalakan. Sejak dilanda resah dan frustasi, kamu akan menghirupnya. Mengisap saripatinya dan dikeluarkan kembali dari lubang hidung serta mulut. Ada sesuatu yang melegakan saat merokok, begitu pikirmu dulu.

Baca juga  Ayah dalam Tubuh Ikan Cupang

Hampir saja rokok itu dinyalakan kalau kau tidak mengingat sedang berbadan dua dan memasuki bulan kedelapan. Mengingat perkataan ibumu yang kamu sayangi, kau batal menyalakannya. “Jaga kandunganmu, Vina. Kehamilan kedua ini sangat ibu dan Lia dambakan meski suamimu masih belum berubah. Kami menyayangimu.”

Sebatang rokok itu kamu buang ke sungai, terbawa arus. Kamu tersenyum kecil melihat beberapa perempuan sepertimu bersama anak balita mereka. Bayi-bayi mereka yang lucu berjalan-jalan pada sore hari di sekitar BKB. Bayangan Lia melintas di kepala, anakmu itu menunggu di rumah. Kamu lantas meninggalkan tempat tersebut setelah pikiranmu tenang.

***

Ketika hujan batu di kepala mereda, kamu berjalan sendirian ke sebuah tempat yang di sana banyak manusia berbaju putih memakai perhiasan emas permata. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan seolah mengajakmu untuk ikut.

Kamu hampiri mereka lalu menaiki perahu besar, bersama melintasi Sungai Musi. Mereka berbondong datang dari sebuah rumah ibadah yang terang dan indah. Itu Masjid Agung. Mereka lalu mengajak berbincang, mengelus lembut perutmu yang besar sambil meletakkan sehelai rumput fatimah di tangan. Kamu terima itu tanpa penolakan.

“Jangan takut, sebentar lagi kau akan bebas dari semua penderitaan. Kau nyaman bersama kami,” ucap perempuan yang semua tubuhnya tertutup kain dan jubah putih kecuali wajahnya.

Dirimu memang merasa nyaman. Sesuatu yang tidak kamu sadari, jauh di tempat lain, ibumu, Lia, kerabat, dan teman-temanmu bertangisan di dekat ranjang pesakitan. Kamu mengalami koma setelah peristiwa perampasan kalung emas itu. Peristiwa yang membuatmu beberapa malam merasakan hujan batu di kepala. Akhirnya, dalam keadaan koma, bayimu dilahirkan melalui operasi. Tangis bayi pun terdengar saat detak jantungmu berhenti. ***

.

.

Cikarang Barat, 20 April 2022

Rosi Ochiemuh lahir di Palembang. Berdomisili di Cikarang Barat-Bekasi. Menulis cerpen dan novel. Cerpennya dimuat di berbagai media massa. Sejumlah bukunya adalah Sesuatu di Kota Kemustahilan (LovRinz Publishing, 2018); Rumah Amora (LovRinz Publishing, September 2019); Bulan Madu Pengantin (LovRinz Publishing, Desember 2019); DARA, Kutukan atau Anugerah (JWriting Soul Publishing, 2021).

.
Hujan Batu di Kepala. Hujan Batu di Kepala.

Loading

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!