Arie Fajar Rofian, Cerpen, Koran Tempo

Getar Ponsel di Kabukicho

Getar Ponsel di Kabukicho - Cerpen Arie Fajar Rofian

Getar Ponsel di Kabukicho ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.9
(14)

Cerpen Arie Fajar Rofian (Koran Tempo, 03 September 2023)

PADA suatu malam di bulan Desember, salju yang dingin tak lantas menyurutkan orang-orang untuk tetap beraktivitas di luar ruangan. Orang-orang mungkin tampak seperti sedang berhamburan, bukan menghindari tetes salju yang turun dari langit yang dipenuhi pendar lampu neon dari gedung-gedung kota, melainkan sibuk dengan urusan masing-masing: sibuk dengan tujuan masing-masing.

Tokyo memang selalu menghadirkan kesibukan bagi siapa saja yang singgah atau menetap di kota ini. Dan, di persimpangan Shibuya yang tak pernah mengenal kata lelah, ribuan orang berjalan secara tergesa-gesa, tak terkecuali Oda, seorang pria yang baru saja memasuki masa pensiunnya. Begitu cepat dan tergesa, hingga tak ada yang sempat menghentikan langkah atau bertegur sapa, serupa kumpulan orang asing yang hidup dalam keterasingan.

Oda telah bekerja untuk perusahaannya selama puluhan tahun, menghabiskan hidupnya di depan layar komputer yang menampilkan angka dan grafik. Namun, terhitung hari ini, Oda terbebas dari segala kumpulan angka dan grafik yang memaksanya mengenakan kacamata minus dengan lensa yang tebal. Oda mengesah, mulutnya mengeluarkan asap akibat udara dingin, menyadari bahwa putaran waktu berlalu begitu cepat.

Dari kejauhan, samar-samar, Oda menyaksikan patung Hachiko yang dikelilingi turis yang hendak berfoto. Hachiko, anjing ras Akita yang setia menunggui majikannya di depan stasiun selama bertahun-tahun, bahkan setelah sang majikan meninggal dunia. Patung berbahan perunggu itu merupakan simbol sekaligus bentuk penghargaan atas kesetiaan Hachiko terhadap sang majikan. Patung yang memancing seringai Oda lantaran nyaris membandingkan dirinya dengan Hachiko mengingat kesetiaannya terhadap perusahaan yang baru saja dia tinggalkan; satu-satunya perusahaan tempat dia pernah bekerja.

Di tengah kerumunan beserta ketergesaan khas persimpangan Shibuya, ponsel di saku celana Oda tiba-tiba bergetar, membuyarkan lamunannya atas sosok Hachiko yang fenomenal—dan potensi membandingkan kesetiaannya dengan kesetiaan Hachiko. Oda yang sedang membawa kotak karton berisi barang-barang pribadinya dari kantor, tak mau repot-repot menjawab panggilan yang kemungkinan besar berasal dari teman akrabnya di kampung halaman, Tuan Akeno.

Oda tahu, Tuan Akeno pasti akan menanyakan keberadaan anak semata wayangnya yang mengambil kuliah Kedokteran di Universitas Tokyo, yang setelah lulus tak kunjung kembali ke kampung halaman. Tak ada kabar berarti, kecuali sepucuk surat dengan tulisan tangan yang mengatakan bahwa sang anak dalam keadaan baik-baik saja, dan keberadaannya tidak perlu dicari untuk alasan apa pun. Lebih dari itu, anak Tuan Akeno kemudian memutus semua jalur komunikasi dengan keluarganya.

Baca juga  Misteri Seorang Tukang Cukur

Tuan Akeno mencoba segala cara demi menemukan anak semata wayangnya, termasuk melapor ke polisi, dan menelepon Oda yang bekerja di Tokyo setiap hari demi mengajukan pertanyaan yang sama—juga mendapati jawaban yang sama dari Oda. Namun, setahun berlalu, tak kunjung ada kabar baik yang dapat membuat Tuan Akeno merasa tenang dalam menjalani hidup.

Beberapa menit berselang, Oda sudah berada di stasiun Shibuya. Oda segera menyelipkan kartu Suica-nya ke mesin tiket, lalu berjalan menuju peron, berbaur dengan kerumunan para calon penumpang lainnya. Tak perlu menunggu lama, kereta yang hendak ditumpangi Oda akhirnya tiba disertai suara berderakannya yang khas.

Pintu kereta terbuka, Oda melangkah masuk usai membiarkan sekumpulan penumpang keluar lebih dulu. Oda berusaha tidak terburu-buru, beranjak dengan tenang dan perlahan. Dengan usianya yang semakin uzur, melakukan pergerakan secara tiba-tiba dapat membuat persendiannya terasa tidak nyaman. Pria itu berdiri di dekat pintu, Stasiun Shinjuku yang menjadi tujuannya hanya berjarak tujuh menit.

Pintu kereta tertutup, Oda menegakkan tubuhnya seiring kereta yang mulai melaju, menjaga keseimbangan. Selama beberapa saat, tubuh Oda yang renta terus terdorong oleh para penumpang yang saling berdesakan, semakin menyudutkannya dengan pintu kereta, tetapi tertahan kotak karton yang sedang dibawanya. Alih-alih panik atau merasa terganggu, Oda hanya tersenyum menanggapi kondisi tersebut. Besok dan seterusnya, sebagai seseorang yang telah pensiun, hari-hari sibuk seperti ini mungkin tak akan terulang lagi.

Beberapa penumpang di sekitar Oda berbicara sangat pelan, beberapa lainnya hanya menatap kosong ke sembarang arah, seolah kehampaan mendominasi perasaan mereka. Raut wajah lelah dan tanpa gairah menciptakan suasana yang terlampau muram. Namun, tidak demikian halnya dengan Oda, dia berupaya menikmati perjalanan singkat ini beserta segala keruwetan yang ada di dalam gerbong kereta.

Ponsel di saku celana Oda kembali bergetar. Oda yang terhimpit oleh kerumunan penumpang kereta tak mau repot-repot menjawab panggilan yang kemungkinan besar—lagi-lagi—berasal dari Tuan Akeno. Tak ada ruang yang cukup untuk meraih ponsel di saku celananya. Di luar itu, Oda merasa sungkan jika harus berbicara di gerbong kereta yang padat, khawatir dapat mengganggu kepentingan umum.

Oda tahu, Tuan Akeno pasti akan menanyakan keberadaan anak semata wayangnya yang kelak dinikahkan dengan seorang pewaris rumah sakit kenamaan di kampung halamannya. Sebuah pernikahan impian yang menciptakan keluarga mapan, yang membuat Tuan Akeno tak perlu lagi mengkhawatirkan perihal masa depan.

Sepeninggal sang istri, Tuan Akeno merasa menjadi satu-satunya sosok yang memiliki tanggung jawab secara mutlak untuk menentukan masa depan anaknya. Maka, dia merancang perjodohan ini sejak jauh-jauh hari, sesaat sebelum anaknya berpindah ke Tokyo demi melanjutkan pendidikan. Pertemuan sakral pun diadakan di sebuah kuil, membicarakan kemungkinan terjadinya pernikahan.

Baca juga  Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya

Pertemuan dihadiri oleh kedua keluarga, dan Tuan Akeno sengaja membawa serta seorang perantara untuk menjembatani perbincangan itu mengingat dia tak terlalu pandai bicara di muka umum. Senja yang jingga, mereka duduk bersila beralaskan tatami, menikmati suguhan teh hijau.

“Kami sangat menghormati pertemuan sakral ini, tapi kami juga ingin memahami apa yang menjadi keinginan kedua muda-mudi ini.”

“Tentu saja, kami merupakan keluarga yang terbuka,” ucap si perantara, tak kalah tenang dan berwibawa. “Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipaksakan begitu saja. Adalah sesuatu yang sangat penting untuk mendengar pendapat mereka yang akan menjalani komitmen ini kelak.”

Singkat cerita, pertemuan itu membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginan Tuan Akeno. Calon pasangan mencapai kata sepakat dengan satu syarat, pernikahan bisa terlaksana ketika keduanya sama-sama telah menyelesaikan kuliah. Kedua keluarga tersenyum, lalu saling menyelamati.

***

Oda keluar dari gerbang timur Stasiun Shinjuku, lalu berjalan kaki menuju ke salah satu kawasan hiburan malam termegah di dunia: Kabukicho. Klub malam, pub, diskotik, bar, bioskop, prostitusi, bahkan kyabakura yang menjadi favorit orang Jepang yang sebagian besar merasa kesepian; sebut saja apa pun jenis hiburan malam yang ada di seluruh belahan dunia, Kabukicho senantiasa akan menyajikannya.

Perjalanan Oda disambut dengan lampu-lampu berwarna-warni dan papan iklan yang memenuhi langit malam, menciptakan suasana kontras yang begitu memukau pandangan mata. Meski bukan untuk kali pertama mengunjungi Kabukicho, Oda merasa bersemangat sekaligus gugup. Terlebih, orang-orang yang berkeliaran di tempat itu nyaris tak ada yang seumuran dengannya.

Di sisi jalan, Oda menyaksikan seorang gaijin dengan ekspresi wajah yang kebingungan—dan tampak enggan percaya—sedang melakukan percakapan bersama perempuan berpakaian gemerlap. Percakapan yang diiringi bujuk rayu menggoda dan sentuhan kecil jemari si perempuan. Dari gaun yang dikenakan dan riasan wajah yang begitu mencolok, Oda menyimpulkan bahwa perempuan itu merupakan hostes salah satu klub malam yang hendak memikat pelanggan.

Oda menelisik lebih jauh, klub malam yang menjadi latar belakang percakapan di antara keduanya ternyata dimiliki oleh kelompok Yakuza. Klub malam yang kerap menjual produk dan layanannya dengan tarif tak wajar serta terselubung. Memanfaatkan kepolosan serta ketidaktahuan para gaijin, banyak dari mereka yang jatuh miskin dalam satu malam hanya karena terbuai bujuk rayu si hostes untuk memasuki klub tersebut.

Baca juga  Dua Hati yang Retak

Oda menggeleng, memilih untuk tidak peduli atas nasib yang mungkin menimpa si gaijin. Kelompok Yakuza bukanlah sesuatu yang bisa ditangani oleh orang sepertinya. Lagi pula, seseorang sudah menunggu kedatangan Oda di depan sana, terpisah jarak dua puluh meter. Seorang gadis yang mengenakan rok mini dan kaus ketat melambaikan tangan ke arahnya, tersenyum pada Oda.

“Oda-san!” seru gadis itu, antusias.

“Sakura-chan!” Oda sedikit mempercepat langkahnya, menghampiri gadis itu dengan wajah semringah. “Sudah lama menunggu?”

“Baru lima menit, tidak terlalu lama.”

Gadis itu melingkarkan lengannya pada lengan Oda, menyandarkan kepalanya pada bahu Oda dengan manja. Kemudian, sambil tersenyum, mereka berjalan menuju hotel cinta, merayakan pertemuan.

***

Suara getar ponsel di permukaan meja memaksa Oda terjaga dari tidur lelapnya. Oda segera menyingkap selimut yang menyelimuti tubuhnya, sekaligus membetulkan letak selimut yang menyelimuti tubuh Sakura agar gadis itu tidak merasa kedinginan. Kemudian, secara perlahan, Oda turun dari kasurnya, berjalan dengan langkah jinjit agar tidak menimbulkan suara gaduh. Oda tahu, getar ponsel itu berasal dari panggilan Tuan Akeno yang akan menanyakan keberadaan anak semata wayangnya yang ….

“Ah, sial,” desis Oda.

Sekarang, tak ada alasan bagi Oda untuk tidak menjawab panggilan itu. Oda hanya perlu menyembunyikan informasi bahwa anak Tuan Akeno lebih memilih menjadi seorang kyaba-jo, alih-alih menjalani profesi sebagai dokter usai lulus kuliah. Dia juga hanya perlu menyembunyikan informasi bahwa anak Tuan Akeno, Sakura, yang selama kuliah di Universitas Tokyo ternyata diam-diam menyimpan perasaan cinta pada sosok yang pernah menjadi perantara dalam proses perjodohannya dengan seorang pemuda pewaris rumah sakit di sebuah kuil beberapa tahun lalu: Oda.

Dan, Sakura hanya ingin menjalani hidup sesuai keinginannya sendiri.

“Moshi-moshi!” ***

.

.

Keterangan:

kyabakura: fitur umum dalam industri hiburan malam di negara-negara Asia Timur. Tempat tersebut biasanya mempekerjakan karyawan perempuan dan dijadikan tempat untuk minum-minum dan bincang-bincang.

gaijin: orang asing atau orang non-Jepang

kyaba-jo: perempuan yang bekerja di kyabakura

.

.

Arie Fajar Rofian, pegiat literasi yang berdomisili di Karawang, Jawa Barat. Menulis cerpen dan disiarkan di berbagai media.

.
Getar Ponsel di Kabukicho. Getar Ponsel di Kabukicho. Getar Ponsel di Kabukicho. Getar Ponsel di Kabukicho.

Loading

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 14

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!