Cerpen, Eko Darmoko, Jawa Pos

Genangan Kenangan

Genangan Kenangan - Cerpen Eko Darmoko

Genangan Kenangan ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

3.8
(5)

Cerpen Eko Darmoko (Jawa Pos, 09 September 2023)

SEMBARI menunggu tamu yang ingin menyewanya, Chika menenggelamkan diri dalam genangan busa di bathtub hotel. Ia ingin tampil sempurna di hadapan tamu yang sudah mengisi saldo rekeningnya. Selain wangi dan tampil memesona, ia juga harus bersikap hangat supaya tamu-tamunya tidak mampir cuma sekali. Tujuannya demi menimbun rupiah sebanyak mungkin.

“JC Marion lantai 27,” tulisnya di WhatsApp, tadi, sebelum berendam dalam bathtub.

“Kamar nomor berapa, Sayangku?” balas si tamu.

“Tentunya Om sudah tahu tentang permainanku, bukan? Aku pantang menyebutkan nomor kamar hotel.”

“Baiklah, Manisku. Aku datang pukul delapan malam tepat, atau dua jam dari sekarang.”

“Dari pintu lift lantai 27, Om lurus saja. Kamarku ada di sebelah kanan. Selanjutnya, berharaplah pada dewi fortuna. Tebaklah!”

“Aku ikuti game ini. Sudah puluhan kali aku selalu benar menebak nomor kamarmu.”

Genangan busa menyeret Chika pada sebuah kenangan. Ia tiba-tiba merasa jijik dengan tubuhnya. Namun, meskipun jijik menurutnya, toh tubuh itu masih dicari oleh banyak tamu. Mereka tamu bukan sembarang tamu. Mereka adalah pohon uang baginya. Tak main-main, tamunya berasal dari circle papan atas. Mulai anggota dewan, bos perusahaan pelat merah, pejabat negara, hingga pengusaha dan taipan yang memiliki banyak gerai di plaza elite.

Ketika tangan kirinya mengusap dada dan tangan kanan mengusap kelamin, Chika makin dalam dan jauh tenggelam pada kenangan. Tangan kanannya naik ke atas, tibalah pada bekas operasi Caesar di perutnya. Amarahnya tiba-tiba meledak. Ia hantam permukaan busa, hingga busa itu semburat mencapai atap kamar mandi.

Lima tahun lalu, selepas tamat SMA, Chika diperkosa pacarnya di sebuah penginapan murahan. Mereka berdua habis piknik di daerah pegunungan untuk merayakan kelulusan sekolah. Saking serunya, mereka lupa waktu hingga larut malam. Tiba-tiba, di perjalanan pulang, pacarnya membelokkan motor ke penginapan untuk staycation.

“Ngapain ke sini?” tanya Chika.

“Sudah malam. Jalanan sepi dan berbahaya. Banyak begal. Lagian hujan makin deras. Kita nginep. Besok pagi pulang,” cerocos sang pacar.

“Nggak ah! Pulang sekarang saja!” Chika merengek.

Tapi, apa mau dikata, sang pacar berhasil menggiring Chika ke kamar penginapan dengan dua ranjang. Di kamar terkutuk itulah, masih segar dalam ingatannya, untuk pertama kalinya tubuh laki-laki masuk ke dalam tubuhnya. Peristiwa itu terjadi menjelang subuh. Chika yang tertidur pulas memancing berahi sang pacar yang terbangun di ranjang lainnya. Chika berontak dan memohon, serta menolak persetubuhan. Tapi apa daya, laki-laki selalu punya segunung tenaga ketika dicengkeram berahi, dan Chika tak bisa melawannya.

Baca juga  Bagi Minak Jinggo, Cinta Adalah Pertempuran

Berhari-hari setelah kejadian itu, Chika ditikam kebingungan. Sang pacar tiba-tiba menghilang seperti digondol demit. Chika hanya berhasil menyembunyikan kehamilannya selama lima bulan. Setelah itu, ia diusir dari rumah. Keluarganya tak kuat menahan malu atas aib ini. Selama menunggu kelahiran si jabang bayi, Chika hidup berpindah-pindah dari rumah teman satunya ke rumah teman lainnya. Namun, mana ada manusia yang betah menampung perempuan bunting tanpa suami dalam waktu lama?

Dari rumah terakhir yang ia tumpangi, Chika diberi sejumlah rupiah. Tentu, uang ini dimaksudkan sebagai tanda mata untuk mengusirnya secara halus. Berbekal uang itu, Chika menyewa kamar kos. Di sinilah, di kosan short time, Chika terjerumus dalam lembah esek-esek. Tempat kos yang diharapkannya menjadi suaka aman, setidaknya untuk sementara waktu, ternyata adalah sarang kaum pelacur dari berbagai usia, mulai belasan tahun hingga tiga puluhan tahun. Ia menyadarinya setelah beberapa hari tinggal di sana.

Bila teringat wajah bapak kos itu, kepala Chika langsung mendidih. Bapak kos yang diharapkan bisa menjadi sosok pengayom ternyata tega menusuk Chika dari belakang.

“Sudah berapa bulan perutmu, Nduk?” tanya bapak kos.

“Sebentar lagi sembilan bulan.”

“Kamu jangan khawatir. Nanti aku yang melunasi biaya persalinanmu.”

Tak lama setelah obrolan itu, Chika ditikam petaka. Ia terjatuh dari anak tangga saat mengambil jemuran. Ia cedera parah dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter terpaksa melakukan operasi Caesar. Selain cedera, ternyata posisi bayinya melintang. Namun, takdir tak bisa dilawan. Chika selamat dari maut, tapi bayi perempuannya mati tak lama setelah dikeluarkan dari perutnya. Bapak kos menepati janjinya, seluruh biaya ditanggungnya.

“Kamu tetaplah ngekos di sini. Tak perlu dipikirkan biaya sewanya,” bapak kos membujuk Chika yang sudah melewati masa nifas.

“Tapi aku ingin pergi. Aku ingin mencari pekerjaan di luar sana.”

“Bekerjalah di sini. Belajarlah dari mbak-mbak lainnya.”

“Ogah!” bentak Chika. “Aku sudah salah tinggal di sini. Dan, aku tak ingin salah lebih jauh lagi. Aku tak ingin jadi lonte.”

Bapak kos menampar pipi Chika. “Ingin pergi dari sini kamu? Bayar dulu seluruh biaya rumah sakit dan operasi.”

Bapak kos yang sudah lama menduda itu kemudian mencekik leher Chika. Kata-kata umpatan meledak dari mulutnya. Sementara Chika hanya bisa menahan sakit. Lalu dibanting ke atas ranjang.

“Membungkuk!” bentak bapak kos.

Chika tak punya pilihan dan tak sanggup melawan. Ia hanya bisa menangis dan merintih. Itulah persetubuhan kedua bagi Chika. Lebih jahanam ketimbang yang pertama.

“Tinggallah di sini, Chika!” bujuk bapak kos, setelah tuntas menyalurkan berahi, nadanya terdengar lembut. Chika hanya mematung, dingin, tanpa suara, seperti manekin yang terbujur kaku di ranjang. Sejak malam itulah, tubuh Chika menjadi santapan lezat bapak kos.

Baca juga  Sebuah Taman, Sebuah Pertemuan

Kenangan pahit terus menggempur kepala Chika. Sulit menghindarinya. Ia bangkit dari bathtub, membilas tubuhnya dengan pancuran air, lalu mengeringkannya dengan handuk. Ia berjalan sambil telanjang menuju pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon lantai 27. Langkahnya terhenti. Ia mengamati tubuh telanjangnya dari pantulan kaca itu.

“Sudah siap melayani tamu?” suara bapak kos kembali mengusik telinganya.

“Siap, Pak!”

“Jangan ‘Pak’, panggil ‘Papi’ saja seperti mbak-mbak lainnya.”

Tamu pertama Chika di rumah kos itu adalah bandot tua pemilik showroom mobil di tengah kota. Antara bapak kos dan bandot tua itu sudah saling kenal. Mereka teman lama. Makanya, bapak kos merelakan bandot tua membawa Chika ke hotel untuk layanan long time.

Jelang debutnya sebagai pelacur, Chika grogi. Ia membolak-balik majalah yang ada di kamar hotel. Ia kaget setengah mati ketika melihat wajah pacarnya, laki-laki yang merenggut keperawanan dan menghamilinya, di sebuah halaman koran. Laki-laki itu diwartakan sebagai pengedar sabu-sabu, tewas ditembak polisi karena menghunus celurit saat penyergapan.

“Mampus kau!” rintih Chika.

Si bandot tua mendengarnya samar-samar.

Lamunan Chika buyar saat telepon genggamnya berdering. Buru-buru ia mengangkatnya.

“Halo, Cantik! Om segera meluncur ke JC Marion lantai 27. Kamu sudah mandi?”

“Sudah dong, Om!”

“Hmm, sedap. Harumnya sudah tercium sampai sini.”

Sepersekian detik setelah menaruh telepon genggamnya di meja, Chika kembali terseret, terbawa arus kenangan. Ia jijik dengan tubuhnya.

“Yakin pulang sendiri?” tanya si bandot tua, pagi hari, setelah menyetubuhi Chika semalam suntuk. Chika menjawabnya dengan anggukan kepala. “Uangnya sudah kutransfer ke papimu. Tapi ini buatmu, untuk ongkos naik taksi dan jajan.” Chika kaget melihat segepok uang yang disodorkan bandot tua. Di pikirannya melintas sebuah rencana. Sebelum meninggalkan kamar, kening Chika dikecup hangat oleh bandot tua. “Hati-hati di jalan, sampaikan salam buat papimu.”

Dari situ, Chika nekat kabur, memilih tidak kembali ke tempat bapak kos. Ia muak dengannya. Berjam-jam Chika menyusuri kota dengan taksi, akhirnya ia menemukan rumah kos dalam arti sebenarnya. Di rumah kos baru ini Chika mengaku sebagai karyawati toko roti. Padahal, ia tetap tenggelam dalam dunia prostitusi. Sudah kadung basah, katanya. Memanfaatkan MiChat, Chika berani menjajakan diri. Ia mengganti nomor teleponnya agar bapak kos, bandot tua, penghuni kos lama, kerabat, dan lain-lainnya tidak bisa menghubunginya. Ia ingin hidup dengan suasana dan orang-orang baru.

Baca juga  Lipstik Plastik

Lambat laun, Chika tampil sebagai primadona dalam orbit pelacuran kaum elite. Parasnya yang cantik, kulit putih, dan tubuh ranum menjadi kail untuk membangunkan berahi para hidung belang papan atas. Ia pun membanderol diri dengan harga selangit. Hidung belang kelas kampung silakan minggir! Dari jerih payah menjual tubuh inilah saldo Chika menggelembung. Ia pun pindah ke apartemen middle class di barat kota.

Desir angin menyusup dari pintu kaca yang sedikit terbuka, menggerayangi tubuh telanjangnya. Chika menggigil. Ia mengenakan sweter panjang, lalu berjalan menuju balkon. Dari JC Marion lantai 27 ia melihat Surabaya seperti labirin pembuluh darah yang berpendar.

Pikirannya melayang-layang. Wajah ayah dan ibunya terbayang-bayang. Tapi hanya sebentar. Kemudian wajah cleaning service di apartemennya mendadak mengudeta indranya. Sudah sejak lama, sejak pindah ke apartemen itu, Chika jatuh cinta padanya. Di matanya, cleaning service itu adalah laki-laki sempurna untuk dijadikan suami; rajin ibadah, sopan, dan baik hati. Bahkan, Chika pernah memberanikan diri melamarnya, tapi hanya dibalas dengan senyuman, tanpa kata-kata.

Tepat pukul delapan, telepon genggamnya berdering. Chika meninggalkan balkon dan masuk ke kamar, mengangkat panggilan.

“Aku batal ke sana. Istriku kena serangan jantung.”

“Aku makan gaji buta dong, Om?”

“Ah, santai.” Sambungan telepon putus.

Oleh sebab pikirannya sudah kadung menjurus ke cleaning service pujaan hatinya, Chika memberanikan diri untuk meneleponnya. Pada dering ketiga, panggilan itu diangkat.

“Halo, Mbak Chika. Wastafel di kamar Mbak Chika mampet lagi?”

“Aku di JC Marion, Mas. Bisa ke sini? Aku butuh teman ngobrol.”

“Maaf, Mbak. Nggak Bisa.”

“Kenapa, Mas?”

“Aku menghormati kekasihku. Kemarin aku dan dia resmi bertunangan.”

“Oh….” air mata Chika meleleh.

“Maaf ya, Mbak. Itulah alasanku menolak lamaran Sampean dengan senyuman.”

“Semoga lancar ya, Mas.”

Chika langsung mengakhiri sambungan telepon. Hatinya remuk. Tangisnya meraung-raung di kamar hotel. Ia melepas sweter, lalu menenggelamkan diri dalam bathtub. ***

.

.

*) Eko Darmoko. Prosais kelahiran Surabaya. Masuk dalam daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Novel terbarunya Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022). Menjadi salah satu cerpenis terbaik dalam sayembara menulis cerpen Dewan Kesenian Surabaya 2019. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya.

.
Genangan Kenangan. Genangan Kenangan. Genangan Kenangan. Genangan Kenangan. Genangan Kenangan.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!