Cerpen, Kompas, Yudhi Herwibowo

Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies

Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies - Cerpen Yudhi Herwibowo

Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies ilustrasi Amelia Budiman/Kompas

4.3
(4)

Cerpen Yudhi Herwibowo (Kompas, 17 September 2023)

DARI lubang kunci itu, kau mungkin dapat melihat malaikat yang turun dari langit. Gerakannya pelan, mengambang seperti saat Superman turun ke bumi. Saat ia mendekat, pemuda yang masih terbaring di lantai dapat melihat dengan jelas sepasang sayap di belakang punggungnya. “Sekarang waktumu,” suara malaikat itu terdengar sedikit bergema.

Seperti tak ingin mendengar ucapan itu, pemuda itu malah memaksa menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Ia merasakan perih di lambung kirinya, darah ternyata tak henti mengucur dari situ. Ia sempat melihat sebilah belati tergeletak tak jauh darinya, dengan darah menggenang di sekelilingnya. Ia yakin itu adalah belati yang merobek lambungnya!

Malaikat itu kembali mendekatkan wajahnya pada pemuda itu. “Hei, kau sudah menjalani hidup dengan baik. Tak perlu takut menghadapi ini!”

Pemuda itu tetap tak menggubris. Ia mencoba mengangkat tubuh untuk duduk. Kepalanya terasa berputar, dan membuatnya seperti akan terjerembah kembali.

Saat itulah, pemuda itu dikejutkan dengan suara teriakan seorang perempuan dari ruangan sebelah. Itu suara yang sangat dikenalnya, suara Tante Ernies. Maka, sambil memegang lambungnya, ia memaksakan diri untuk bangkit dan mendekat pintu.

Hampir saja pemuda itu langsung membuka pintu, tapi perasaannya menahan. Ia melihat pintu rumah ini masih menggunakan kunci model lama, jadi ia kemudian membungkuk untuk mengintip saja lebih dulu. Dari situ dilihatnya Tante Ernies duduk di lantai dengan wajah ketakutan, sementara seorang laki-laki berperut buncit berdiri di depannya sambil memegang sebilah belati!

***

Tante Ernies duduk di lantai dengan wajah ketakutan, sementara seorang laki-laki berperut buncit berdiri di depannya sambil memegang sebilah belati!

Tante Ernies menunduk. “Kau tak seharusnya semarah ini!” desisnya.

Laki-laki yang masih memegang belati, hanya bisa meremas rambutnya. “Berapa tahun kau menyembunyikan hubungan itu? Benar-benar tak kusangka!”

Mata Tante Ernies menatap tajam. “Jangan kau menyalahkanku saja, seakan-akan kau batu busuk yang tak bisa berpikir! Sejak dulu, aku selalu memberi tanda. Sering kubilang padamu, jangan terlalu menyintaiku!”

“Kau ini, bagaimana bisa kalimat seperti itu menjadi tanda?” Laki-laki itu menggeretakkan giginya.

“Aku belum selesai! Kalau kau terlalu sulit memahaminya, biarlah kuberitahu tanda-tanda yang jelas buatmu! Kau tentu ingat kan, aku kerap menolak kehadiranmu di hari-hari tertentu? Aku kerap menghilang darimu untuk beberapa hari? Aku juga tak selalu menuruti keinginan bercinta bila kau datang? Harusnya kau paham kalau itu artinya aku tak hanya bersamamu! Tapi kau memang bebal! Karena setiap bersamaku yang kau pikirkan hanya istri dan anakmu yang menunggu di rumah! Keparat kau memang!”

Laki-laki buncit itu masih mencoba membantah, tapi ia tak menemukan kata-kata yang pas.

“Jadi sekarang… semua sudah berakhir! Harusnya kita memang tak perlu pergi ke mana pun selain di rumah ini. Tempat yang tak mungkin didatangi istri dan kawan-kawanmu, tetap saja mungkin didatangi oleh orang yang kita kenal. Tapi… sudahlah, yang sudah terjadi tak bisa disesali.” Tante Ernies mulai bangkit dari lantai. “Yang pasti kau harus segera pergi dari kota ini.”

Baca juga  Hening di Ujung Senja

“Sialan! Kenapa aku yang harus pergi? Bukankah harusnya dia?” Laki-laki itu masih berteriak. “Dengar, kau sudah bersamaku sejak sebelum bersamanya.”

“Kau tak mengenalnya. Tapi percayalah, ia… sangat berbahaya!”

Laki-laki itu malah mendengus kesal. “Kau pikir aku sepengecut itu?” Seringainya muncul di wajahnya.

Tante Ernies membalas dengan senyum sinisnya, “Jangan berlagak! Kau itu hanya laki-laki pengecut! Sekian tahun bersama, kau tak pernah berani meninggalkan istrimu dan memilihku!”

“Bukankah kau yang tak ingin terikat? Kau sendiri kan yang bilang berkali-kali, kau puas dengan hubungan kita yang seperti ini dan tak menginginkan apa-apa lagi?”

“Dasar bebal!”

Saat itulah keduanya mendengar suara-suara di balik pintu. Seperti suara-suara langkah yang begitu halus.

Wajah Tante Ernies memucat. Sejak foto mesra dirinya dan laki-laki buncit ini menyebar, ketakutan memang merayap dalam hatinya. Selama ini ia memang terlalu berani bermain api. Toh ia sama sekali tak menyangka laki-laki yang selalu nampak baik hati itu, adalah sosok yang sangat berbahaya. Jadi dengan perasaan tak menentu, ia mendekat ke pintu dan mulai membungkuk untuk mengintip apa yang ada di baliknya.

Di situ Tante Ernies melihat laki-laki yang selalu tersenyum ramah itu, kini mengatup bibirnya rapat-rapat. Sejenak ia menoleh pada keempat laki-laki yang berdiri di seberang mejanya. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat alisnya, dan keempat laki-laki itu langsung mengangguk dan berlalu dari hadapannya.

***

Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu mengangkat alisnya, dan keempat laki-laki itu langsung mengangguk dan berlalu dari hadapannya

Sejenak ia terdiam. Ia tahu sudah mengambil keputusan yang kejam. Tapi rasa sakit hatinya tak bisa diredam. Setidaknya lepas dari keputusan itu, ia tetaplah seorang yang baik hati. Bertahun-tahun ia terlibat di berbagai kegiatan sosial, terutama untuk masyarakat miskin. Jadi cita-citanya menjadi laki-laki baik hati sebenarnya mudah saja terwujud. Hanya saja, setelah menikah dengan gadis yang dikenalnya saat kuliah, hidupnya berubah.

Awalnya yang ia tahu Ayah istrinya adalah pengusaha yang memiliki banyak bisnis. Kelak sebagai salah satu menantunya, ia diberikan tugas untuk mengurus salah satu bisnisnya yaitu sebuah kasino rahasia.

Laki-laki itu tentu tak pernah menikmati pekerjaan seperti itu. Tapi dari situlah ia mendapat banyak uang, yang bisa membuatnya terus membantu lembaga-lembaga sosial yang dulu mempekerjakannya. Itulah kenapa ia bisa bertahan bertahun-tahun mengurus kasino itu.

Tapi pekerjaan itu yang membuatnya diam-diam membenci istrinya. Bagaimana pun dialah yang menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa ini. Tapi tentu ia tak berani mengatakan itu secara langsung. Ia tetap tersenyum sambil berkata, “Hari ini kau cantik sekali, Sayang.”

Baca juga  Kotak Saran

Lalu, ia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sangat mempesona. Perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian, sangat mandiri dan merasa bisa menghadapi hidup seorang diri saja. Ia menyukai perempuan itu, dan merasa telah jatuh cinta di pertemuan pertama.

Tak heran di pertemuan kedua, laki-laki itu sudah memberikan sebuah rumah besar pada perempuan itu, sambil berkata, “Aku ingin kau selalu menunggu kedatanganku di rumah ini.”

Itu tentu sebuah kalimat ikatan, dan perempuan itu menyanggupinya. Dari situlah hubungan panasnya dengan perempuan itu dimulai. Hubungan yang tak pernah didapat dari istrinya selama ini.

Laki-laki itu berpikir semua akan baik-baik saja, sampai ia melihat foto mesra perempuan itu di sebuah club secara tak sengaja. Perempuannya itu nampak sedang dipeluk seorang laki-laki berperut buncit, dan berciuman.

Kemarahannya memuncak. Ia ingat, di masa awal hubungannya dulu, ia pernah menanyakan perihal laki-laki lain di hidup perempuan itu, tapi perempuan itu menggeleng. Ia malah bercerita, kalau selama tinggal di rumah besar pemberiannya, ia selalu merasa ada seseorang yang mengamatinya diam-diam. Ia menduga itu seorang tetangganya. Sering ia mendapati pemuda itu menatapnya diam-diam dari jauh. Lalu di malam-malam hening, ia sering merasa seorang mengintipnya dari balik jendela, bahkan saat ia mandi.

Laki-laki itu kemudian memasang CCTV di beberapa titik strategis. Tapi sampai beberapa bulan lewat, tak ada seorang pun yang mencurigakan muncul di layarnya.

Laki-laki itu mendengar sebuah suara di balik ruangannya. Ini membuatnya terdiam. Bagaimana pun ia selalu takut ayah mertuanya mengetahui apa yang terjadi padanya. Sebagian besar orang-orang yang bekerja padanya tetaplah orang-orang yang direkrut ayah mertuanya. Jadi ia tetap harus bersiaga. Maka ia melangkah ke arah pintu dan mengintip lubang kunci untuk meyakinkan apa yang ada di sana.

Saat itulah ia melihat seorang pemuda berpenampilan aneh sedang beringsut masuk ke dalam rumah kekasihnya, melalui pintu belakang.

***

Pemuda berpenampilan aneh itu beringsut masuk ke dalam rumah tetangganya, melalui pintu belakang.

Sebenarnya yang disebut pemuda berpenampilan aneh itu hanyalah pemuda tanggung 19 tahun yang sedang jatuh cinta. Ia pemuda kompleks yang kaget ketika rumah besar yang sekian lama kosong ternyata telah diisi oleh seorang perempuan cantik.

Pemuda itu seketika jatuh cinta. Tapi ia tak pernah punya keberanian untuk mendekatinya. Ia cukup tahu diri. Jadi ia memutuskan menjadi pengagum rahasianya saja. Kelak ia tahu nama perempuan itu. Orang-orang memanggilnya Tante Ernies, dan ia memiliki akun instagram yang menyenangkan untuk diikuti.

Karena rumah Tante Ernies ada di ujung gang, pemuda itu sering pergi ke warung untuk sekadar melewati rumah itu. Hanya sebulan berselang, ia tahu, kalau Tante Ernies ternyata membina hubungan dengan dua laki-laki sekaligus.

Baca juga  Ayah Menjadi Pohon

Ia sempat merasa gusar, apalagi setelah tahu kalau kedua laki-laki itu sebenarnya telah beristri. Tapi kemudian bisa memahami keputusan itu. Toh, bagaimana pun tak murah membiayai hidup glamor di zaman sekarang!

Pemuda itu menyadari hubungan itu sangat berbahaya. Kelak bila salah satu dari kedua laki-laki itu tahu, akan terjadi bencana pada yang lainnya!

Dugaan itu tak perlu waktu lama untuk dibuktikan. Satu kali tanpa sengaja pemuda itu melihat empat laki-laki berbadan besar memasuki rumah Tante Ernies secara diam-diam. Ia merasa itu bukan sesuatu yang baik. Maka ia pun segera berlari ke rumah Tante Ernies dan melompati pagar pintu belakang.

Ia masuk melalui pintu samping yang selama ini diam-diam sering dimasukinya. Setidaknya ia harus segera memberi tahu Tante Ernies tentang keempat orang mencurigakan itu. Tapi belum sempat ia ke ruangan berikutnya, ia mendengar suara barang-barang pecah di lantai. Seperti ada yang barusan dibanting. Lalu ia mendengar suara orang berteriak, disusul erangan yang terputus.

Pemuda itu hanya bisa mematung. Ia sadar telah terlambat, dan harus keluar dari rumah ini segera. Tapi saat ia melihat lubang kunci, ia malah beringsut dan mengintipnya. Setidaknya ia harus tahu apa yang terjadi di ruangan sebelah.

Tapi ia tak melihat apa-apa.

***

Setelah memimpin tiga kawannya menghabisi dua orang yang kini tergeletak di lantai, laki-laki berbadan besar itu berkata, “Ambil dompet dan barang berharganya! Bikin seolah-olah kita merampok mereka!”

Saat ketiga kawannya menjalani perintahnya, laki-laki berbadan besar itu seperti mendengar suara orang melangkah di balik pintu. Ia segera beranjak ke sana dan membuka pintunya. Dilihatnya seorang pemuda yang sedang membungkuk mengintip lubang kunci.

“Siapa kau!?” bentaknya membuat pemuda itu terjengkang. “Apa kau… melihat apa yang kami lakukan?” tanyanya ragu. Dan sebelum pemuda itu menjawab, ia segera mengambil keputusan mencengkram kerah baju pemuda itu, dan menusukkan belati ke lambungnya. ***

.

.

Yudhi Herwibowo menulis cerpen dan novel. Buku terbarunya kumcer Umbira dan Keajaiban-keajaiban di Kotak Ajaibnya (bukuKatta) dan kumcer Tunas Ibu (Indonesia Tera).

Amelia Budiman, pelukis wanita otodidak dan seniman tato. Berkarya melalui berbagai medium: kanvas, kayu, tembok, maupun pada kulit manusia. Portofolionya dapat dinikmati di akun Instagram @paintedsister dan @ameliakeepdrawing.

.
Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies. Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies. Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies.. Jangan Mengintip di Rumah Tante Ernies.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!