Cerpen, Ilham Wahyudi, Solopos

Kedai Kopi Mahli

Kedai Kopi Mahli - Cerpen Ilham Wahyudi

Kedai Kopi Mahli ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

4.3
(9)

Cerpen Ilham Wahyudi (Solopos, 07 Oktober 2023)

MAHLI Rumi memiliki sebuah kedai kopi kecil yang terletak di kompleks Apartemen Kalibata City. Tepatnya di Tower Akasia.

Mahli berumur tiga puluh lima tahun, unitnya di lantai ke-11 yang dia beli sekitar 5 tahun lalu setelah resign dari posisi manajer penggalangan dana di salah satu lembaga nonprofit. Mahli juga memiliki sebuah mobil sedan produksi Jepang keluaran tahun ‘90-an dan sebuah motor matic.

Belum ada seorang wanita pun yang memilihnya menjadi suami lantaran pemalunya Mahli pada lawan jenis. Sebulan belakangan—nyaris setiap malam—seorang wanita yang kalau ditebak selintas lalu, usianya mungkin sebaya dengan Mahli, sering memesan kopi sambil membuka laptop di kedainya. Wanita itu berpenampilan sopan: memakai rok panjang-lebar, kaus lengan panjang, dan memakai sepatu boot. Dia juga mengenakan kaca mata.

Wanita itu menyukai (teramat suka) racikan V60 (alat seduh kopi manual). Hanya dua atau tiga kali dia memesan selain V60. Mungkin itu upayanya melatih lidah agar tidak melulu bergantung pada V60.

Pernah suatu malam saat wanita itu datang menjelang kedai tutup, kertas filter untuk V60 milik Mahli habis. Merasa sudah tanggung duduk dan membuka laptopnya, dia pun menerima usul Mahli untuk mencoba cappucino buatan Mahli. Tampaknya dia menyukai cappucino buatan Mahli.

“Cappucinonya boleh juga,” kata wanita itu.

“Sudah dicoba? Enggak lihat kamu mencicipinya,” balas Mahli semringah.

“Apa harus aku ulang di hadapan kamu?”

“Mmm… tidak perlu!”

Sering sekali ketika kedai kopi Mahli sepi pelanggan dan wanita itu belum datang, Mahli membayang-bayangkan mengobrol lama dengannya. Mungkin Mahli sudah tertarik.

Maka untuk mewujudkan khayalannya, Mahli berniat menawarkan espresso buatannya sebagai alasan membuka pembicaraan. Agar tidak terkesan memaksa memesan espresso, Mahli akan mengarang cerita kalau kertas filter-nya habis dan susu untuk campuran cappucino juga habis. Sesekali sedikit berbohong untuk sebuah niat baik, apa salahnya? Toh, Mahli bukan ingin meracuninya.

Espresso buatan Mahli sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang dijual di kedai kopi lain. Tetapi sejauh Mahli pernah mencoba, espresso di kedai kopi lain tingkat ketebalan flavor-nya memang tak setebal buatan Mahli.

Dua puluh menit lagi kedai akan tutup. Mahli mulai putus asa dengan rencananya. Akan tetapi ketika Mahli sudah mulai memberesi kedainya, wanita itu muncul.

“V60, tapi lebih panas, ya!” pinta wanita itu setelah sempurna duduk.

Mahli terkejut, tak menyangka wanita itu akhirnya datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 WIB. Biasanya Mahli memang selalu tutup pukul dua belas malam. Namun, karena Mahli adalah pemilik kedai kopi, ditambah lagi kedai kopi dan unitnya terletak di tower yang sama, sepertinya tak soal kalau malam itu Mahli tutup lebih larut.

Baca juga  Sepi Pun Menari di Tepi Hari

“Maaf, kertas filter-nya habis. Bagaimana kalau kamu coba espresso buatanku?” tanya Mahli setelah yakin si pemesan kopi adalah wanita yang dia tunggu.

“Kenapa tidak cappucino? Biasanya kamu menawarkan cappucino kalau kertas filter kamu habis,” tanya wanita itu penasaran.

“Ee, karena…maaf susunya juga sudah habis. Hari ini banyak pelanggan yang memesan kopi dengan campuran susu,” balas Mahli agak gugup. Kayaknya Mahli sadar kalau dia bukan hanya berbohong soal kertas filter dan susu, tapi juga soal pelanggan. Padahal hari itu pelanggan Mahli tidak banyak.

“O, baiklah, espresso pun tak soal,” kata wanita itu sambil tersenyum.

Betapa manis dan indah senyum wanita itu! Bibirnya tipis dipoles lipstik berjenis nude. Pastilah dia tipikal wanita yang menyukai kesederhanaan, bukan yang berbau glamor. Mahli memang suka pada kesederhanaan.

Sambil menyiapkan pesanan wanita itu mata Mahli sesekali melirik. Serius sekali dia jika sudah duduk di hadapan laptopnya. Seperti sedang mengerjakan sesuatu yang penting dan harus sesegera mungkin diselesaikan.

“Sedang mengerjakan apa, tampaknya penting sekali?” tanya Mahli membuka obrolan sembari meletakkan segelas espresso.

“Memang penting yang aku kerjakan ini,” jawab wanita itu sambil terus mengetik.

Sesungguhnya Mahli sudah menyiapkan pertanyaan lanjutan. Tapi Mahli coba memainkan tempo. Seraya pura-pura menghitung hasil jual-beli hari itu, pertanyaan Mahli pun meluncur.

“Kamu penulis?”

Wanita itu berhenti mengetik.

“Semacam itulah,” jawabnya sambil melihat ke arah Mahli beberapa saat.

Mahli gugup mendapatkan wanita itu melihat ke arahnya. Kebingungan mengerubungi pikiran Mahli. Beberapa pertanyaan yang sudah dia susun mendadak hilang.

“Kamu mau tutup, ya? Sebentar ya, sedikit lagi selesai kok ini,” kata wanita itu seperti tahu kegugupan Mahli.

“Santai, aku tidak buru-buru. Kadang masih ada satu dua orang yang datang memesan kopi. Anggap saja aku sedang menunggu mereka,” jawab Mahli tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dan jawaban Mahli, seperti obat mujarab penyembuh kegugupannya.

“Boleh aku tahu kamu sedang menulis apa? Maksudku, menulis novelkah, cerpen, atau laporan jurnalistik barangkali?”

“Cerpen.”

“O, ya? Aku suka baca cerpen. Kamu menulis cerpen tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri.”

“Jadi ini kisah nyata?”

“Begitulah. Mmm… tapi aku bingung ending-nya mau aku buat seperti apa. Kamu suka ending cerpen yang seperti apa?”

Baca juga  Tali Darah Ibu

“Apa saja.”

“Kalau begitu tak masalah aku buat sad ending?”

“Lo kok nanya begitu? Itu kan karya kamu, aku mana boleh ikut campur,” jawab Mahli heran.

“Tapi kisah yang aku tulis ini tentang kita,” timpal wanita itu.

Mahli semakin heran. Tetapi diam-diam Mahli senang mendengar pengakuannya. Ketimbang heran Mahli pun bertanya kembali.

“Kisahnya seperti apa?”

“Tentang seorang penulis yang diam-diam jatuh hati dengan pemilik kedai kopi.”

“Kamu bisa saja. Tapi dari mana kamu tahu kedai kopi ini aku pemiliknya?”

“Pentingkah itu?”

“Tidak sih. Tapi heran saja kamu kok bisa tahu. Padahal baru kali ini kita mengobrol.”

“Mengobrol dengan kata-kata memang iya. Tetapi dengan pandangan, kan sering.”

Mahli terkejut. Benar-benar terkejut. Dia merasa kecolongan kalau selama ini sering memerhatikan wanita itu. Bahkan bukan hanya memerhatikan, Mahli sudah pula mulai mengkhayalkannya. Mahli kikuk. Penyakit gugupnya kambuh lagi. Untung wanita itu tidak gugup.

“Jadi bagaimana ini? Aku buat sad ending apa happy ending?”

“Ee… kalau aku ditanya sih inginnya happy ending. Tapi aku pernah mendengar orang berkata sad ending lebih punya kesan yang mendalam dalam ingatan pembaca ketimbang happy ending,” jawab Mahli sok mengerti.

“Benar, aku setuju itu! Aku buat sad ending saja agar kamu ingat selalu denganku ya?”

“Terserah kamu! Tapi seperti apa sad ending-nya, kalau boleh aku tahu?”

“Yakin kamu mau tahu?”

“Boleh kan?”

“Tentu saja,” wanita itu berhenti mengetik lalu lanjut menjelaskan, “Jadi ending-nya si penulis mati ditabrak motor saat pulang ke rumah. Sialnya dia belum sempat menyatakan perasaannya,” jawab wanita itu serempak menatap wajah Mahli.

Tentu saja Mahli jadi salah tingkah dan semakin gugup. Untuk menyingkirkan kegugupannya, Mahli sengaja tertawa kencang. Wanita itu sepertinya tidak suka.

“Kenapa kamu tertawa. Apakah itu terdengar lucu?”

Spontan Mahli terdiam.

“Bukan, maksudku, ee…, aku tertawa karena kamu terdengar bercanda. Tapi bukan maksudku juga tidak memercayai ucapan kamu. Ee….”

“Ok, berapa espressonya?”

Wanita itu tiba-tiba menutup laptopnya dan bergegas ingin buru-buru pergi.

Merasa tidak enak hati, Mahli mencoba membalas kesalahannya dengan niat ingin menggratiskan pesanan wanita itu. Tetapi, belum sempat Mahli mengutarakan niatnya, wanita itu sudah pergi dan meninggalkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah.

Mahli terdiam tak tahu harus berbuat apa.

***

Sudah seminggu sejak Mahli mengobrol cukup panjang dengan wanita itu, tapi wanita itu tak kunjung muncul.

Baca juga  Bukan Sekadar Air Mata

Mahli mulai serius memikirkan ending cerita yang dikatakan wanita itu. Jangan-jangan dia benar-benar ditabrak saat pulang dari kedai kopinya malam itu. Tapi bagaimana caranya Mahli membuktikan dugaannya. Selain tidak tahu alamat wanita itu, namanya pun belum sempat Mahli tanya.

Pukul dua puluh tiga lewat empat puluh menit, apakah wanita itu tidak datang juga malam ini? Mahli semakin dikurung gelisah. Beberapa saat Mahli terlihat melamun.

“V60 satu,” seseorang mengagetkan Mahli. Cepat Mahli arahkan pandangan ke muara suara. Ah, seorang lelaki ternyata. Sesaat Mahli sempat berharap itu suara wanita yang Mahli tunggu.

“Masih buka, Bang?”

“Masih. Masnya mau minum di sini?” tanya Mahli mengalihkan kegelisahan dan harapannya akan wanita itu.

“Kalau belum tutup, boleh, di sini saja,” jawab lelaki itu.

Mahli gegas menyiapkan pesanan lelaki itu.

“Biasanya tutup jam berapa, Bang?”

“Jam 12, Mas,” jawab Mahli sambil meletakkan V60.

“Mau tutup dong kalau begitu?”

“Ya, tapi tidak tentu juga sih. Suka-suka saya saja,” balas Mahli tertawa.

“Pantas, kapan waktu saya lihat sampai jam dua, Abangnya masih buka.”

“O, ya?”

“Ya, tapi saya….” lelaki itu berhenti sejenak; seperti berat menyampaikan sesuatu, namun dia sampaikan juga akhirnya, “Maaf, Bang, saat itu saya melihat Abangnya duduk sendiri, tetapi seperti sedang berbicara dengan seseorang. Sebenarnya saya ingin memesan kopi, cuma tidak enak mengganggu Abangnya yang kelihatan serius berbicara….”

“Maksudnya, tidak jadi pesan karena melihat saya seperti bicara sendiri? Kapan itu, Mas?” potong Mahli penasaran.

“Benar, Bang. Kalau tidak silap saya, sekitar seminggu yang lalu. Hari itu saya baru selesai beres-beres pindah ke tower ini,” jawab lelaki itu yakin.

“Seminggu yang lalu? Jam berapa itu, Mas, kira-kira?” Mahli semakin penasaran.

“Ya itu, sekitar jam 2 dini hari?”

Sekonyong-koyong Mahli pucat. Keringatnya mendadak rimbun padahal malam itu hujan turun lebat. ***

.

.

Akasia 11 CT

Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatra Utara. Ia seorang juru antarmakanan di Dapur IBU Mata Angin, seorang profesional Fundraiser Face To Face, dan seorang Fuqara di Amirat Sumatra Timur. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya Kalimance Ingin Jadi Penyair akan segera terbit.

.

.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 9

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!