Cerpen, Dody Widianto, Solopos

Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu

Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu - Cerpen Dody Widianto

Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

3.8
(4)

Cerpen Dody Widianto (Solopos, 14 Oktober 2023)

LANGIT di luar serupa jidat kakek renta. Ia melihat dari jendela kaca dapur di sebelahnya, warna abu-abu keperakan tanpa warna biru dalam lipatan-lipatan tak beraturan, seolah malaikat senja sedang malas menyetrika.

Mungkin akan hujan mungkin tidak. Ia melihat jam di tembok kiri arah pintu belakang, lebih dari 24 detik hingga Pras datang di waktu yang telah dijanjikan. Ia mendeham pelan. Semua laki-laki memang tak bisa tepat waktu. Dasar! Lagi dan lagi.

Rhien akhirnya mengisi teflon di kompor dengan minyak goreng tiga sendok makan. Ia masukkan irisan bawang merah, bawang putih, daun loncang seledri, cabai rawit, dan irisan daging sapi kecil-kecil. Ia masukkan juga cacahan bumbu ke mangkuk.

Dua detik kemudian Rhien memecahkan tiga telur dan memasukkan isinya ke mangkuk tadi. Sambil mengaduk-aduk campuran telur dan bumbu-bumbu dengan sendok, kepulan asap di atas teflon serupa kepulan asap kemenyan dari dukun yang sedang merapal mantra. Kabut tipis keputihan menimbulkan aroma khas saat campuran bumbu dan telur telah ia tuang ke teflon dalam api kompor sedang.

Rambut Rhien sedikit terurai ke depan. Ia gegas menyelipkan dengan jemari kirinya menuju cuping telinganya. Lima detik kemudian, spatula di tangannya telah bergerak perlahan, merapikan bulatan telur yang tadinya bening telah memutih kekuningan.

Mengikuti bulatan pinggiran teflon, Rhien rapikan sedemikian rupa agar telur itu matang sempurna. Gerakan tangannya gesit dan lincah, membuat lembaran telur tadi jadi gulungan. Serupa guling berisi cacahan bumbu dan daging. Dalam hitungan sembilan menit, bulatan guling tadi telah berubah warna. Matang. Rhien mengangkat gulungan telur tadi ke saringan.

Tangannya kemudian mengaduk kopi di meja. Setengah sendok gula. Dua sendok penuh kopi. Rhien tak pernah tahu seperti apa rasanya, lambungnya tak akan kuat jika ia sedikit saja menyesapnya. Takaran itu sudah ia hafal sejak Pras terjatuh dalam pelukannya. Namun, dari aroma yang dihirupnya, ia merasakan Pras seolah telah hadir di sana. Dengan sepatu kets putih, celana jins biru, dan kaus polo berkerah warna abu-abu.

Ia memelankan adukan kopi itu. Jika Pras tidak terlambat, tentu kopi itu bisa ia nikmati langsung panas-panas. Putaran sendoknya terus ia nikmati. Enam belas putaran. Sesekali ia memandang ke luar jendela. Bunga wijaya kusuma yang ia gantung di samping jendela sudah layu. Tentu saja, bunga itu mekar sembunyi-sembunyi pada malam hari. Mirip perasaannya pada Pras ketika itu. Hingga ia beranikan diri menyatakan cinta lebih dulu. Dan sekarang, ketika di luar angin dan gerimis bertemu dalam dekap erat, ia lihat wajah Pras tenggelam dalam secangkir kopi pekat di meja. Di luar, langit tiba-tiba muram.

Baca juga  Bibir

Dulu, Rhien merasakan jika tubuhnya pernah tenggelam pada kubangan mata Pras yang begitu teduh dan bening. Mirip danau. Rhien tahu ketika itu mereka sama-sama masih lugu. Hati mereka masih hijau dan belum masak. Segalanya kadang hanya berlandaskan ambisi dan ego. Kata orang, umur belasan adalah pencarian jati diri.

Ia masih sangat ingat, dari lantai kedua di kantin sekolah, di bangku paling pojok, tubuhnya merapat ke pagar pembatas. Melihat ke bawah dalam keleluasaan ketika lembut angin turut menyapu wajah.

Empat mata tertuju dalam satu arah. Melihat ke bawah di jalanan depan sekolah, betapa manusia-manusia kota adalah jelmaan hasrat yang terus merayap di jalanan. Kaki itu, mobil itu, sepeda motor itu, wanita itu, anak-anak itu, ia tak tahu apakah mereka semua dalam menjalani hidup selalu begitu. Berjalan dan bolak-balik melakukan hal sama setiap hari, diulang-ulang tanpa henti. Apa mereka tak bosan?

“Kalau manusia bosan, bumi ini pasti juga berhenti berputar karena bosan. Manusia-manusia itu terus begitu demi satu tujuan apa yang mereka harapkan. Begitu juga bumi yang berputar, langit yang menurunkan hujan, laut yang asin, angin yang menggugurkan putik dan bunga-bunga. Pasti mereka semua begitu dalam kendali satu tujuan yang sama demi kepatuhan pada pemilik semesta.”

Rhien tahu manusia di depannya tidak sedang berkhotbah. Isi kepalanya memang penuh analogi aneh. Namun, hal itu malah membuatnya sering menang lomba cerpen di sekolahnya. Pras, bahkan pernah mewakili sekolahnya ikut lomba sastra cerpen tingkat provinsi, walau hanya juara dua. Tetapi kemampuannya meracik kata dalam balutan metafora dan diksi indah, Rhien tak pernah meragukannya.

“Apa ini?”

Rhien meletakkan sebuah lembaran di meja, menyodorkannya ke Pras.

“Bacalah. Aku kira kau harus belajar membuat puisi. Lingkup sastra banyak bukan? Ada cerpen, ada puisi, ada novel, ada resensi, ada opini, dan masih banyak lagi. Kau harus bisa semuanya. Tentu berat, tetapi bukankah pisau yang makin diasah makin tajam? Bisa digunakan untuk memotong benda apa pun?”

.

jika bulir-bulir waktu telah

mematuki tepi jendela kelas

menelusup mencari

sajak yang sembunyi

di antara percakapan rayap dan kupu-kupu

yang hinggap bertanya pada

rindu dan gagang pintu

hingga embara berakhir

tubuhmu dan tubuhku

tak lagi satu

 .

“Puisi ini untukku?”

“Aku tahu cerpenmu di media bagus-bagus. Namun, sekali lagi aku harus bilang padamu untuk belajar apa pun di dunia ini, kau tak akan pernah menyesal setelahnya. Terkadang puisi terbentuk dari pemadatan cerpen. Mirip cerita yang dipersingkat. Lalu kau tinggal meracik bumbu metafora dan analogi ke dalam tubuhnya. Puisi penuh kiasan. Ya, aku tahu semua butuh proses. Aku tunggu balasan puisiku ini.”

Baca juga  Musnahnya Hutan Larangan

Pras masih memegang kertas dari Rhien. Ia mencoba memahami setiap deret huruf yang bergandengan di sana. Duduknya mulai tak nyaman.

“Kau masih saja suka kopi.”

“Di dalamnya aku banyak menemukan deskripsi kehidupan. Pahit di awal, nikmat di akhir. Itu luar biasa. Jika hidup selalu menerima guratan takdir yang ada, kita tak akan pernah merasa jadi manusia paling sengsara di dunia bukan? Kepahitan dalam kopi ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan nikmat. Cobalah.”

Rhien tegas menolak. Lambung. Rhien bermasalah di sana.

“Es jeruk memang lebih pas untukmu.”

Di bagian kopi dan es jeruk, Rhien paham, ia dan Pras terlahir dari rahim yang berbeda, keluarga berbeda, lingkungan berbeda, pendidikan berbeda, juga pasti angan dan cita-cita yang berbeda. Mana mungkin dua kepala bisa disatukan dalam satu ide yang selalu sejalan. Namun, kesalahan Rhien yang lalu sebagai seorang perempuan adalah tak sepatutnya selalu memaksakan kehendak. Entah itu benar atau salah, ia benar-benar orang yang antikritik. Padahal jika bisa dipelajari, keputusan-keputusan yang telah ia buat bisa menguntungkan dua pihak. Tetap saja waktu tak bisa diulang. Saat itu ia benar-benar mirip bocah.

“Gaun pernikahan aku maunya putih, bukan abu-abu muda yang selaras dengan jasmu. Kenapa tak jasmu saja yang ikut warna putih.”

“Kita akan menikah dan kita masih saja berdebat. Aku manut saja. Kurang seminggu lagi waktunya.”

“Kamu memang tak punya pendirian!”

Suara naluri dalam hati. Pras mendengarnya jika perempuan memang tak pernah mau disalahkan.

Di meja makan ketika detik terus berlalu dalam ribuan deret angka setelah melewati batas yang dijanjikan, Rhien jengkel. Hanya karena hal sepele lelakinya tak kunjung datang. Bisa jadi Pras sudah punya calon lain dan selama ini ia bermain cinta dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya. Sialan! Semua laki-laki memang sama saja.

Rhien memotong-memotong tomat dengan pisau dalam iris tak beraturan dengan gerak cepat. Awalnya ia akan memotongnya dalam bulatan-bulatan presisi, menyandingkannya dengan daun selada keriting segar. Mereka berdua cocok untuk teman egg-roll yang sudah ia iris di piring ceper putih di meja.

Pras suka sekali dengan bulatan gurih dan empuk itu. Mayones di lemari atas kompor juga sudah ia ambil. Ia tuang isinya, sedikit menepi, mengikuti alur pinggir piring. Lalu saus cabai pedas telah berbaris tak rapi di sebelahnya. Mirip lumpur merah yang tercecer. Namun, tomat itu seakan merasakan kegelisahan dan kemarahan Rhien. Potongannya sungguh tak presisi, tak bulat sempurna.

Baca juga  Bingkai Kehilangan

Rhien masih terus memotong bebas tomat itu di talenan dengan marah dan gemas ketika sebuah alunan jaz klasik dari kamar terdengar pelan. Menyayat. Kenny G. Forever in Love. Itu lagu kesukaan Pras. Yang pernah membawa jiwanya dalam kubangan kenangan, selamanya dalam cinta.

Hidupnya ketika itu mirip lagu. Lalu sebuah hal terjadi hari ini. Rhien, tak habis pikir, laki-laki memang tak pernah puas dengan pilihannya. Biaya perawatan wajah dan lulur yang saban tujuh hari sekali ia lakukan seolah tak ada guna. Rumput kita memang tak sehijau rumput tetangga. Begitu kata orang. Sialan! Ia mengumpat lagi.

Ia menggeprek cacahan tomat di atas talenan dengan telapak tangan. Sekali. Sekali. Sekali. Ia remas-remas irisan tomat tadi. Telapak tangannya kini seolah terlumuri bubur merah. Rhien membatin. Mengira apa bedanya meninggalkan dan ditinggalkan? Sama saja. Dua-duanya mengacu pada definisi yang sama. Kehilangan.

Rhien melirik. Melihat layar ponsel di sebelah talenan. Tanggal 15. Pras ulang tahun. Rhien menikah. Ia lalu melipat koran di sebelah ponsel. Pinggirannya telah memerah terkena cipratan tomat tadi. Di sana, dalam kolom pojok kanan, berita kecelakaan bus dan motor tiga tahun lalu. Kata saksi di warung pinggir jalan, pemuda yang tewas terlindas bus itu terlihat buru-buru karena ditelepon pacarnya.

Namun, Rhien pastikan malam ini Pras akan datang di waktu yang telah dijanjikan. Seperti janjinya semalam di telepon. Ia akan membawa buket bunga mawar dan krisan asli yang harum, segar, dan wangi. Hanya untuknya.

Rhien merapikan lagi semua yang berantakan di meja. Ia menghela napas panjang. Membuang semua makanan tadi ke dalam ember sampah di bawah kompor. Ia nyalakan lagi api. Ia racik daun bawang. Ia pecahkan tiga telur. Ia tuang minyak goreng di atas teflon perlahan-lahan. Malam ini, Rhien akan belajar sabar. Ia akan menyajikan egg-roll terbaik untuk Pras. ***

.

.

Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional. Akun IG: @pa_lurah.

.
Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu. Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu. Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!