Cerpen, Faisal Oddang, Majas

Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini?

Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini? - Cerpen Faisal Oddang

Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini? ilustrasi Bambang Prasadhi/Majas

4.3
(7)

Cerpen Faisal Oddang (Majas, No 1 Vol 1 / November 2018)

SEMUA INI dimulai ketika tentara gerilya datang ke pesantren kami sore itu dan berakhir saat Ustaz Beddu ditemukan meninggal lima hari kemudian. Ada sebutir peluru di dadanya. Mengenai kematian itu, tidak ada seorang pun yang berani menjawab ketika kami bertanya; peluru siapa yang kami temukan ini?

Ketakutan kami belum reda ketika Ustaz Beddu tiba-tiba menyeru agar semua berkumpul di langgar selepas salat Subuh. Sore tadi, saat kami sibuk menyiapkan lomba tujuh belasan yang tinggal lima hari, tiga orang tentara gerilya mendatangi langgar kami.

Menurut cerita yang beredar dari santri yang satu ke santri lainnya, kedatangan mereka untuk meminta bantuan. Atau yang lebih tepat, mereka datang untuk meminta kami ikut berjuang di dalam hutan. Berjihad, begitu seruan mereka, berjihad untuk Negara Islam Indonesia. Dan jika menolak?

Jawaban dari pertanyaan itulah yang barangkali ingin Ustaz Beddu sampaikan. Jawaban yang sudah bisa kami tebak, dan karena itu, kami merasa seperti tikus yang dimasukkan ke lubang ular.

Ratusan umbul-umbul merah putih yang dikibas angin di hampir semua bagian pesantren membuat ingatanku tidak bisa menghindar dari kenangan tiga tahun silam ketika orang-orang kampung begitu ramai melepasku pergi. Ayah menggelar syukuran, dan jalanan ke rumah kami dipasangi umbul-umbul oleh warga.

“Jika sudah selesai belajar, kamu pulanglah jadi imam, kami jual sawah dan ternak untuk bangunkan kamu masjid.”

“Anak gadis saya sudah siap menikah kira-kira lima tahun lagi. Waktu itu, kamu sudah beres nyantri, kan, Nak?”

“Belajarlah yang baik, untuk berguna bagi orang-orang bodoh seperti Ayah di kampung ini. Selain harapan keluarga, kamu harapan seisi kampung, Nak.”

Pertama, memang benar bahwa di kampung kami tidak ada masjid, bukan karena tidak ada yang ingin menyumbang, melainkan tidak ada yang percaya diri menjadi imam. Kami harus menyeberang sungai dan berjalan setengah jam atau berkuda jika ingin lebih cepat, untuk sampai di masjid kampung tetangga. Persoalan kedua mengenai anak gadis adalah persoalan yang tidak begitu terpikirkan di usia yang baru saja tujuh belas. Dan harapan seisi kampung? Aku tidak tahu. Jika benar, itu adalah beban yang lebih besar dibanding menjadi santri. Aku tidak bisa menjamin untuk tidak mengecewakan diri sendiri dan tentu lebih tidak bisa menjamin hal yang sama untuk orang lain.

Jarak dari rumahku ke ibu kota kabupaten adalah setengah hari berkuda. Kukatakan hal itu sebab memang, ketika Ayah mengantarku dengan kudanya, kami tiba di Sengkang saat Asar sudah lama lewat sedangkan kami berangkat setelah salat Zuhur berjamaah di rumah. Kami berkuda sambil membawa bekal; sebuah kelapa muda, tujuh belas liter beras, dan ayam kampung. Bekal yang kerap diberikan orang tua Bugis kepada anaknya yang merantau menuntut ilmu. Tetapi, ini bukan sekadar bekal, Nak, kata Ibu saat menyerahkannya. Kelapa ini, lanjut Ibu, adalah simbol bahwa kau akan berguna dalam hidup ini. Lihatlah kelapa, mulai ujung sampai pangkalnya memiliki manfaat.

“Ayam dan beras, Bu?”

Aku penasaran dan Ibu lantas mengusap kepalaku sambil menjawab bahwa beras adalah simbol kemakmuran, dan kenapa tujuh belas liter, jawaban Ibu karena disesuaikan dengan umurku.

Baca juga  Viral, Lelaki Tua dan Supra

“Sedangkan ayam,” Ibu melanjutkan, “ayam selalu bangun tepat waktu. Ini isyarat doa agar kau tidak bermalas-malasan selama belajar, Nak.”

Bersama Ayah, aku disambut Ustaz Beddu, pimpinan Pondok Pesantren Lamaddukelleng, satu-satunya pesantren di kabupaten kami—kabupaten yang jaraknya, kata orang, dua ratus lima puluh kilometer dari Makassar.

Umbul-umbul itu masih bergerak-gerak oleh angin. Sebentar lagi kami merayakan kemerdekaan yang ketujuh belas. Lima hari lagi, 17 Agustus 1962. Santri yang sedang membuat kelengkapan lomba tujuh belasan di lapangan, tiba-tiba buyar ke berbagai arah, ada yang ke kamar, ke kelas, dan ada pula yang bersembunyi entah di mana. Ingatanku tentang kampung halaman, mau tidak mau harus kuakhiri ketika tiga orang lelaki berbaju serba hitam dengan rambut setengkuk mendekatiku dan menanyakan Ustaz Beddu.

“Biasanya di langgar, Puang,” jawabanku terbata-bata dan dadaku berdebar bukan main. Mereka tidak bertanya dengan kasar bahkan terlalu lembut untuk penampilan mereka yang menggidikkan.

“Terima kasih, assalamualaikum.”

Aku membalas salam itu sambil mengamati punggung mereka yang diselempangi senjata panjang—ya, senjata panjang, aku tidak tahu namanya. Hampir satu jam mereka berempat bercakap, Ustaz Beddu melepas ketiga tamunya ketika Magrib menjelang dan sejak itulah ketakutan kami menjalar seperti tumpahan minyak yang disulut api.

Di sinilah kami sekarang, di langgar yang letaknya persis samping lapangan—di sisi kiri-depan pesantren. Kami duduk melingkar dengan dada yang sama-sama gemuruhnya. Dengan kepala yang disesaki pertanyaan. Ketika Ustaz Beddu datang, lingkaran yang terbentuk dari simpuhan kurang lebih lima puluh santri, senyap dan tidak ada yang berani mulai berbicara, apalagi ribut.

Ustaz Beddu berdeham dan kami menjawab serempak ketika dia mengucapkan salam. “Saya mengumpulkan kalian dengan maksud yang baik,” Ustaz Beddu memulai. Kami semua masih menunduk meratapi lantai langgar yang tiba-tiba terasa sangat dingin.

“Jika mengingat kembali sejarah Perang Khandaq,” Ustaz Beddu melanjutkan dengan suara teduhnya, ia menyebarkan tatapan yang barangkali berusaha menenangkan kami, “pada Perang Khandaq, bagi kalian, atau menurut kalian, siapa yang sungguh-sungguh berjihad?”

Tidak ada yang menjawab, kami sibuk dengan isi kepala kami yang tengah menerka-nerka lantas memastikan bahwa pada akhirnya Ustaz Beddu akan membahas masalah yang terjadi sore tadi. Sebagaimana pun caranya memutar-mutar cerita.

“Apakah yang berjihad hanya mereka yang mengangkat pedang menghadapi kaum kafir Quraisy dengan Bani Nadir? Bagaimana dengan mereka yang menggali parit sepanjang Madinah bagian utara? Atau bagaimana dengan Salman al-Farisi yang hanya menyumbangkan pikiran untuk strategi parit tersebut? Apakah itu bukan jihad?”

Pertanyaan Ustaz Beddu sebenarnya tidak butuh jawaban, ia bertanya untuk kemudian melanjutkan ceritanya.

“Jihad tidak boleh dilihat dari satu mata saja. Kalian rata-rata sudah dua puluh tahun, umur yang sangat matang untuk membedakan yang hak dan yang batil.”

Kami masih diam.

“Saya sudah membicarakannya dengan ustaz yang lain, kami menyerahkan keputusannya kepada kalian secara pribadi. Pesantren tidak bisa menjamin keselamatan jika menyangkut hal ini, meskipun tentu kami menolak mengutus kalian masuk ke hutan atas nama pesantren. Sementara itu, TNI belum juga membangun pos di Sengkang, mereka terpusat ke Palopo karena di sanalah pusat pemberontakan dan di sanalah Tentara Islam banyak berulah.”

Baca juga  Īn Nīz Bogzarad

Aku merasa ingin meninggalkan pesantren selekasnya. Aku tiba-tiba mengingat Ayah dan Ibu, aku tiba-tiba merasa sangat ingin memeluk mereka, aku ingin pulang ke rumah. Aku khawatir atas mereka. Tetapi kemudian, bayangan orang-orang kampung yang mengantarku dan harapan-harapan yang mereka sampirkan di pundakku, membuat semua keinginan cengeng itu buyar. Tentara gerilya konon sering muncul di kampung kami untuk mengambil padi, ternak dan sayuran. Sementara TNI dengan tidak berperasaan membakar sawah dan kebun juga ternak kami, semata-mata untuk membuat tentara gerilya kehabisan persediaan makanan. Itu cerita Ayah bulan lalu, ketika menjengukku.

“Sejak pimpinan gerilya Sulawesi-Selatan menyatakan diri bergabung dengan Darul Islam Tentara Islam Indonesia, dan memproklamasikan Sulawesi sebagai bagian Negara Islam Indonesia, kekuatan mereka sebenarnya sudah melemah, banyak pasukan yang kembali dari hutan. Mereka bergabung karena tidak punya pilihan lain. Mereka butuh bantuan dana dan pasukan. Dan dua bulan lalu, Kartosoewirjo ditangkap di Jawa Barat….”

“Karena itu, mereka meminta bantuan pesantren dengan membawa nama Negara Islam, Ustaz?” aku tidak sengaja dan tiba-tiba saja menanyakan hal itu. “Maaf, Ustaz, maaf.”

“Bukan masalah, kamu ada benarnya. Cita-cita Negara Islam, itu yang ditawarkan DI/TII. Itu pula yang membawa mereka ke sini sore tadi.”

Teman-teman yang lain menatapku. Tatapan itu seolah tatapan yang mengatakan ayo bicara lagi, ayo tanyakan. Tetapi pertanyaan apa? Semuanya jelas, kami harus mendadak jadi tentara, atau keselamatan kami terancam. Dan pilihan terakhir, kami bisa menjadi pengecut dengan kembali ke rumah.

“Tapi tenang,” lanjut Ustaz Beddu, “kami akan mengirim surat kepada TNI untuk meminta perlindungan.”

Santri yang hadir bersamaan mengangkat pandangan lega, aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Kami khawatir tetapi telah berkurang, apalagi setelah Ustaz Beddu mengatakan bahwa kami tidak perlu takut. Di usia kami sekarang, kemampuan berkelahi tentu kami miliki tetapi sama saja mengadu kambing dengan kerbau jika kami harus melawan tentara gerilya.

“Kaseng,” Ustaz Beddu menyeru namaku, “ini persoalan yang cukup rumit, kepentingan politik ada di mana-mana. Saya tidak ingin memasukkan kalian dalam pertaruhan yang tidak jelas pemenangnya. Bisa saja ini bukan persoalan agama tapi soal gerilyawan yang ditolak menjadi tentara resmi dan karena di Sulawesi-Selatan ini, jabatan penting mulai TNI hingga polisi dan pemerintahan, justru tidak dipegang anak daerah. Ini alasan saya menyuruh kalian beberapa minggu terakhir untuk belajar sejarah, politik dan mendengarkan radio, bukan hanya belajar kitab.”

Pertemuan di langgar Subuh itu berakhir dengan keputusan bahwa pesantren akan menyurati TNI dan santri tidak boleh ke luar lingkungan pesantren sampai perayaan kemerdekaan—kecuali yang ingin benar-benar pulang kampung untuk berlindung.

“Bagi mereka, kemerdekaan itu tujuh Agustus, bukan tujuh belas. Mereka akan melakukan segala cara untuk menghalangi upacara tujuh belasan, tetapi apa pun yang terjadi, bendera harus tetap kita kibarkan hari itu, paham?”

Serentak kami mengatakan paham. Alasan Ustaz Beddu melarang kami sangat masuk akal. Tidak ada yang membantah meskipun beberapa di antara kami tetap siap melawan jika sewaktu-waktu tentara gerilya menyerang. Ada yang mengumpulkan senjata tajam seadanya dan beberapa orang menebang bambu di belakang pesantren untuk diruncingkan. Dua hari sebelum upacara kemerdekaan, ada TNI yang datang—mereka bersepuluh kalau aku tidak salah. Betapa kami sangat lega karena hal itu. Kali ini Ustaz Beddu cukup lama bercakap-cakap dengan tamunya. Mereka meninggalkan langgar menuju truk yang membawa pulang, beberapa saat sebelum salat Subuh. Kukatakan cukup lama sebab mereka datang saat Isya baru saja selesai.

Baca juga  Suara Toa di Bukit-Bukit

“Mereka akan membangun pos di pusat kota Sengkang,” Ustaz Beddu menjelaskan selepas salat, “dan mereka memaksa pesantren menyumbang untuk pembangunan. Mereka minta seratus ribu. Tentu pesantren tidak punya dana sebanyak itu.”

“Jadi…, Ustaz?” aku tidak dapat menahan rasa penasaranku.

“Mereka bilang terserah. Mereka marah dan langsung pulang, ditambah mereka menuduh pesantren ini membantu pemberontakan dan mendukung Negara Islam. Mereka tidak terima hal itu, dan tidak lagi ingin membahas surat yang kita kirimkan dengan alasan bahwa surat itu hanya kedok agar kita tidak dicurigai berada di balik Negara Islam Indonesia.”

Kami tidak punya harapan lagi kepada TNI.

“Kita tidak akan apa-apa, Allah maha melindungi,” kata Ustaz Beddu menenangkan kami. Kami berusaha tenang tetapi dada kami justru semakin berdebar menunggu upacara kemerdekaan, dua hari lagi.

***

Kiriman seragam kasa putih yang dibuatkan Ibu, telah tiba dari kampung sejak siang. Setelah salat Subuh, aku mematut-matutnya berkali-kali, songkok hitam juga sudah aku bersihkan. Tiga jam lagi, bersama Halil dan Remmang, aku akan mengibarkan bendera, kami bertiga ditunjuk karena badan kami terbilang cukup tinggi. Aku mengulang lagu “Indonesia Raya” berkali-kali di dalam hati, takut jika besok bendera terlalu cepat sampai di puncak atau justru terlambat—itu akan menjadi salahku sebagai penarik tali.

Hiduplah …, Indone …, nyanyian itu terhenti ketika kudengar bunyi tembakan dari arah pemondokan Ustaz. Santri berhamburan ke sumber suara dengan membawa parang dan bambu runcing, hanya aku yang berlari menenteng seragam buatan Ibu. Dengan napas yang megap-megap, aku tiba dan menemukan Ustaz Beddu berlumur darah di kasurnya. Kamar itu berantakan, buku-buku bertebaran di lantai, semua laci dan pintu lemari telah dicungkil.

“Beliau sudah pergi.” Ustaz Aco masih memegang pergelangan tangan Ustaz Beddu ketika mengatakan itu dengan lelehan air mata yang tak bisa ditahannya.

“Semua uang iuran hilang.” Ustaz Juma yang memeriksa sekeliling ruangan melaporkan dengan nada putus asa, matanya berkaca-kaca.

“Peluru siapa yang kami temukan ini, Ustaz?”

Remmang tiba-tiba muncul menyibak ke depan membawa selongsong peluru yang masih hangat. Tidak ada yang menjawab, semua menukar pandangan, semua tidak bisa menahan air mata. Sekali lagi Remmang bertanya dan sekali lagi semua hanya diam sambil bertukar pandangan lewat mata yang telah lembap. ***

.

.

Makassar

.
Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini? Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini?

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!