Cerpen, Kompas, Risda Nur Widia

Cumbu Ular

Cumbu Ular - Cerpen Risda Nur Widia

Cumbu Ular ilustrasi Nugrahardi Ramadhani/Kompas

3.2
(12)

Cerpen Risda Nur Widia (Kompas, 12 November 2023)

KAWA berlari seperti babi betina yang panik dikejar harimau. Rimbun semak berduri hutan Soe ia terjang dengan badan bergetar. Gadis berambut ikal itu tidak memedulikan luka-luka kecil yang menerpa kulit sawo matangnya—hingga darah merekah menghiasi kedua tangan-kakinya. Dan di bawah cahaya bulan yang perak, tubuhnya seolah menjelma menjadi angin yang tidak dapat dihentikan oleh apa pun. Malam itu Kawa berusaha lari sejauh mungkin dari kejaran anak buah ahelet untuk menjadikannya sifon.

Dalam situasi ketakutan, sepasang sungai kesedihan tanpa sadar mengalir deras di ujung pelupuk matanya. Sepasang sungai kesedihan itu tiada henti menghanyutkan perasaan kecewa pada papanya yang menjualnya sebagai sifon. Tangisan gadis berkaki mungil itu bercampur dengan deru bara kemarahan di dadanya pada seorang ana’tobe bernama Balene. Pria jangkung itulah sumber petaka yang dijalaninya. Barangkali bila tidak ada pria itu hidupnya akan baik-baik saja.

Kaki Kawa berlari lincah seperti seekor rusa hutan. Satu-satunya yang dapat menghentikan ayunan langkah gesitnya adalah ceruk bekas jebakan ayam hutan. Tubuh kecil Kawa tersungkur seperti seekor rusa yang terpanah. Debu mengepul di sekitarnya. Gadis mungil berparas cantik itu sempat ingin melanjutkan pelariannya. Cuma ketika sadar kalau kakinya terkilir, ia memutuskan bersembunyi dan berdoa kepada Uis Neno dan Be’i-Na’i arwah leluhur.

Para pengejar ahelet tampak mendekat. Kawa samar-samar dapat melihat mereka. Gadis dengan bola mata coklat itu kemudian berusaha untuk tidak menciptakan suara apa pun di tempatnya.

“Wanita tu lari mirip babi,” tandas mereka. “Trada mudah ditangkap!”

Tubuh Kawa mengeras seperti batu pada semak rimbun yang melingkupinya. Kawa berpikir bahwa satu patahan ranting yang dibuatnya malam itu akan mengantarkannya kembali ke umebubu.

***

Balene sudah mengincar Kawa sejak rapat pertemuan di umebubu milik maveva. Mereka tanpa sengaja bertemu pada upacara tafeka nono hau ana, yaitu seremoni pembukaan lahan yang dilakukan dua kali setahun di desa dengan perantara batu suci bernama faut leu. Saat itu Balene diundang sebagai wakil kecamatan setempat oleh maveva untuk menjadi saksi adat. Kawa sendiri ditugaskan oleh nene untuk mengantarkan hidangan kepada tamu laki-laki setelah upacara selesai.

“Ko tau gadis tu?” Balene bertanya pada rekannya. “Gadis cantik!”

“Kawa, perawan desa ni,” jawab rekannya. “Ko mo jadi istri kedua?”

Gadis berusia 19 tahun itu—yang sadar ditatap dengan nakal oleh Balene—berusaha meninggalkan umebubu secepat mungkin. Dan setelah selesai membereskan kerjaannya, Kawa bergegas pergi. Apesnya tatapan itu bukan tatapan kotor terakhir Balene. Beberapa hari berikutnya saat acara tait nuta ma nopo dilakukan para pria di hutan Soe, Kawa berjumpa lagi dengan Balene.

Baca juga  Rashida Chairani

Hari itu Kawa tidak menyangka harus bertemu Balene di ladang. Bila tahu di sana ada Balene, ia akan menolak mengantarkan sabit untuk papanya. Namun karena Kawa tak dapat membaca nasib sial yang akan dihadapinya, petaka itu tak dapat dihindarinya. Demikianlah seperti kejadian di pondok maveva, Kawa membereskan tugasnya secepat mungkin. Namun seolah ditantang, Balene malah mengejarnya.

“Ko trada istirahat?” Balene meraih tangan Kawa. “Ko trada perlu lari.”

Kawa menampik tangan Balene. Pria dengan bau menyerupai babi itu semakin merasa tertantang. Ia segera mencengkeram dan menyumpal mulut Kawa. Di tengah jalan setapak hutan yang lengang, Balene berupaya membuka paksa pakaian Kawa. Niat kotor itu mungkin akan tuntas terjadi bila tidak dihalangi oleh seorang penduduk. Tanpa disadari oleh Balene, seorang pria desa menendang punggungnya.

“Anjing!” pekik pria itu. “Busuk ko pu burung!”

Balene yang panik melihat kehadiran pria itu lekas mengambil langkah seribu. Kawa pun di sana hanya menangis histeris, dan tidak dapat melakukan apa pun selain memeluk pria yang tak lain adalah kekasihnya.

***

Setelah peristiwa itu, Balene bagai ditelan bumi. Batang hidungnya yang bengkok seperti moncong burung gagak tak terlihat lagi nyaris selama lima bulan. Balene baru kembali muncul di permukaan ketika acara seke pena atau panen besar digelar di desa. Pria itu kembali diundang oleh maveva untuk makan-makan selepas panen, mengisap sirih-pinang, hingga menegak sopi dalam ritus kaibu pena yang dilakukan di pele.

Para penduduk tak ada yang menyadari ketakutan Kawa. Mereka terlihat sibuk dengan pesta dari panen besar itu.

“Semoga Liurai Sonabi beri makmur torang,” sambut maveva.

Penduduk desa dan Balene terlihat serempak menyanyikan lagu oebainit merayakan panen besar. Kawa memilih pergi ke dapur. Namun belum ada satu menit beristirahat, seorang nene menyuruhnya mengantar sopi ke pele.

“Kenapa ko suruh sa teros?” Kawa mengeluh.

Dengan malas, Kawa kembali ke pele. Di sana Kawa tidak lagi melihat Balene. Padahal ia sebelumnya tampak di antara penduduk. Menyadari itu, Kawa menjadi sedikit bebas. Ia menghidangkan makanan dengan leluasa di pele. Ketika kembali ke dapur, Kawa sempat menyanyikan oebainit secara lirih. Namun ia mendadak tertegun ketika mendengar tembakan dari arah hutan Soe.

“Semoga cuma babi kena tembak orang,” pekik Kawa.

Kawa merasa masygul. Lengking tembakan itu terdengar begitu nyaring dan penuh dendam. Desing tembakan itu berbeda dengan tembakan para pemburu babi hutan pada umumnya. Kawa terus menatap hutan, hingga samar-samar melihat siluet tubuh jangkung dan hidung bengkok di kejauhan. Syahdan, lima belas menit setelahnya seorang bocah datang tergopoh-gopoh menemui maveva.

“Ada mayat!” lapor bocah itu.

Baca juga  Estafet Melon

Maveva terperanjat dan segera mengikuti para bocah menuju hutan Soe. Setelah itu maveva memberitahukan bahwa ada seorang pemuda desa mati tertembak. Kawa yang mengetahui mayat itu adalah kekasihnya segera menangis histeris.

***

Usai pembunuhan misterius seorang pemuda di hutan, penduduk desa lebih sibuk mengurusi sarang para tikus di pelepele penyimpanan panen dan bibit. Tikus-tikus itu bagai hantu yang menyerang tanpa disadari oleh penduduk. Walaupun mereka sudah menjaga pelepele di desa, tikus-tikus itu tetap saja berhasil mencuri bulir-bulir jagung warga desa. Hal itu membuat warga mengalami kerugian besar sehingga upacara tsimo suan—atau pemilihan bibit musim tanam berikutnya—gagal dilakukan.

Selain serang hama tikus yang sulit diatasi oleh penduduk, musim kemarau juga tidak lekas pergi. Hampir lima bulan hujan tidak turun. Panasnya udara membuat ladang-ladang menjadi kering. Bila ditanami pada musim panen berikutnya pun sangat mustahil. Tumbuhan-tumbuhan itu akan mati karena tidak mendapatkan asupan air yang memadai. Warga dan maveva akhirnya berembuk untuk mengadakan upacara toit ulan agar hujan datang. Beberapa ekor ayam dan babi dipersembahkan.

Beberapa minggu setelah upacara toit ulan, hujan tidak segera turun. Bahkan hingga tiga bulan berlalu, musim kemarau masih betah bernaung di desa.

“Desa nie butuh tumbal sifon,” tandas Maveva saat rapat besar desa. “Tapi tu sulit dilakukan karena trada orang mau.”

Semua warga Tunbaba tampak diam. Mereka tahu bahwa mencari sifon sangatlah sulit di desa. Apalagi syarat seorang sifon haruslah seorang wanita perawan yang belum pernah tidur dengan seorang pria. Karena hal itu, tidak ada wanita muda yang bersedia dijadikan sifon. Mereka tak ingin merelakan keperawanan dan kehidupan masa mudanya pada laki-laki yang tidak dicintainya. Bahkan mereka tak mau harus hidup sebagai pelacur setelah menunaikan hajat membuang tulah desa.

Kabar bahwa desa membutuhkan sifon membuat Balene senang. Ia memiliki kesempatan untuk menunaikan hajatnya. Ia mendatangi papa Kawa.

“Sa mo beli ko pu anak,” tandas Balene. “Sa kasi ko harga mahal.”

Papa Kawa sempat marah karena tawaran Balene ini. Namun Balene tidak kehabisan akal. Selain menawarkan uang yang jumlahnya banyak, Balene menjelaskan bahwa papa Kawa akan menyelamatkan penduduk desa bila mau menjual anaknya sebagai sifon. Ditambah lagi papa Kawa kini tidak memiliki pemasukan apa pun karena musim tanam gagal dilakukan. Papa Kawa akhirnya menyetujui Balene.

“Bila tu terbaik,” jawab Papa Kawa, “aku mau serah Kawa!”

Kawa sangat marah saat mengetahui keputusan papanya. Ia tidak ingin menjadi sundal dengan hidup di lembah nista. Apalagi di desanya dahulu ada wanita muda yang dijual menjadi sifon, wanita itu hingga tua terus melayani hasrat hidung belang pria. Wanita itu akhirnya mati terkena penyakit aneh tanpa ada orang yang mengurusnya.

Baca juga  Perempuan Surga

“Ko pu banyak kata!” Papanya memukul Kawa hingga pingsan.

Hari itu juga Kawa diseret ke sungai untuk melakukan ritual nain fatu. Ritual itu untuk mengetahui kejujuran hati Balene dengan disaksikan istri, keluarga wanita, dan warga. Setelah mengambil dua batu mengenai kehidupan ranjangnya, Balene berdoa kepada Uis Neno dan Be’i-Na’i. Kawa yang ikut menyaksikan upacara itu terus memberontak. Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar dapat melarikan diri. Namun penjagaan anak buah ahelet sangatlah ketat. Ia baru memiliki kesempatan saat salah satu penjaga pergi buang air kecil. Kawa yang tidak lagi dijaga mengambil kesempatan itu untuk menggigit lengan anak buah ahelet dan lari ke hutan Soe.

***

Malam itu Kawa merasa sudah tidak memiliki harapan lagi. Bila ia pulang, warga akan menyerahkannya kepada ahelet dan Balene. Ia merasa harus pergi jauh dari desanya. Dan di tengah rasa frustrasinya, Kawa melihat seekor ular kobra menjorokkan kepalanya.

“Ko hancur sa pu hidup!” teriak Kawa histeris.

Suara Kawa terdengar oleh orang suruhan ahelet. Mereka pun segera tahu persembunyian Kawa. Sayangnya, sebelum mereka berhasil menangkapnya, Kawa sudah lebih dahulu mencium ular itu berulang kali hingga racun menyebar ke seluruh tubuhnya. ***

.

.

Catatan:

Ahelet, dukun sunat tradisional suku Atoni Pah Meto

Sifon, budak seks yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan dan penolak bala

Ana’tobe, orang yang memiliki kedudukan setingkat lurah

Maveva, kepala adat

Nene, nenek

Tait Nuta Ma Nopo, ritual pembukaan ladang

Kaibu Pena, ritual mengikat jagung

Oebainit adalah nyanyian meminta berkah pada hasil panen yang didapat untuk musim tanam berikutnya.

.

.

Risda Nur Widia, sedang menempuh pendidikan doktor di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY. Buku tunggalnya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya tersiar di berbagai media.

Nugrahardi Ramadhani alias Dhani Soenyoto lahir di Lawang tahun 1981. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini kini tengah kuliah doktoral dan mengajar di Institut Sepuluh Nopember, Surabaya. Aktif menulis, berkesenian, dan menjadi juri di sejumlah kompetisi. Penghargaan yang dia terima antara lain juara Kompetisi Komik Indonesia Kemenparekraf tahun 2012 dan juara Lomba Logo Halal is My Way oleh Halal Corner.

.
Cumbu Ular. Cumbu Ular. Cumbu Ular. Cumbu Ular. Cumbu Ular. Cumbu Ular.

Loading

Average rating 3.2 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. David John Rawson

    Sebelum adanya musim kemarau yang berkepanjangan melanda suatu desa (di NTT) ada konflik antara seorang yang kaya bernama Balene dengan rakyat biasa, seorang gadis bernama Kawa dan kekasihnya. Si kaya mau meniduri gadis itu sampai dia coba memperkosa Kawa tetapi gagal karena ada si kekasih yang mampu melindungi Kawa. Tersurat si kekasih kemudian dibunuh oleh si Kaya sebagai balas dendam. Di musim kemarau yang berkepanjangan ada aktor baru yang muncul, bisa disebut ketidakseimbangan alam yaitu perubahan iklim yang berdampak pada penghuni kampung Kawa. Di genggaman perubahan iklim orang desa mengalami kekurangan air sehingga tidak bisa menanam tanaman baru. Daripada menggadang-gadang panen lagi yang berlimpah-limpah mereka terpaksa untuk bergantung pada panen yang lama yang lagi diserang oleh wabah tikus suatu tanda lagi ketidakseimbangan alam. Tradisi dan ritual kampung lama yang berkaitan dengan siklus produksi pangan itu tidak dilakukan lagi justru yang muncul ialah tradisi yang mati suri yang sangat merugikan perempuan, yaitu pemilihan perempuan untuk dijadikan budak seks demi menyelamatkan desa. Perubahan iklim justru membiarkan si kaya menghidupkan kembali tradisi lama itu agar memaksa Kawa kawin dengannya. Dalam keadaan ketidakberdayaan dan penderitaan Kawa melarikan diri ke hutan dan secara metaforis dengan kematiannya dibebaskan oleh alam. (Berdasarkan diskusi Ellis Artyana dan David Rawson pada tanggal 17 Nov 23).

  2. Anonymous

    Sering dialek NTT justru dianggap sama dengan dialek Papua, sejauh pengetahuan saya di NTT tidak menggunakan kosa kata seperti “ko” atau “trada”. Mungkin karena sama-sama bagian timur, jadi disesuaikan saja, ya….hehehe

Leave a Reply

error: Content is protected !!