Cerpen, Fransiska Eka, Koran Tempo

Lazarus

Lazarus - Cerpen Fransiska Eka

Lazarus ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

3.3
(3)

Cerpen Fransiska Eka (Koran Tempo, 12 November 2023)

SEMASA kanak-kanak, nenek, ibu dari ibuku, selalu bercerita tentang seorang lelaki yang bangkit dari kematian. Namanya Lazarus. Usia si lelaki, saat ia mati kemudian bangkit lagi, empat puluh lima tahun. Usia nenek, saat ia menjadi salah satu saksi mata dalam peristiwa yang—menurut ujarannya—menghebohkan bukan saja warga sekampungnya, tapi juga warga sekabupaten, bahkan hingga tingkat provinsi, dan ibu kota negara; pada tahun yang sama, Soekarno mengunjungi Ende sebagai presiden untuk berjumpa lagi dengan teman-temannya semasa ia diasingkan, dan semua orang di kampung ibuku mengait-ngaitkan kunjungan itu dengan peristiwa kebangkitan Lazarus, ah… kembali lagi ke usia nenekku… usianya lima belas tahun.

Belakangan, pikiranku sering sekali melantur. Aku ingin menulis tentang A secara runut, tetapi seperti ada kutu nakal di dalam tempurung kepala yang memutus sirkuit pemikiranku di jalur A, menyambungkannya ke jalur abrakadabra yang pada paragraf pertama di atas menjelma “kunjungan Soekarno”, meski memang kunjungannya benar-benar terjadi dan orang-orang di kampung nenekku benar-benar yakin, pada suatu malam, Om Lazarus dikawal untuk menjumpai Soekarno di ibu kota kabupaten, menceritakan kebangkitannya dari kematian…

Dunia nenek, saat ia berusia lima belas tahun, diisi kegiatan yang menurutnya lebih penting dari mencari lelaki untuk dikawini: mandi di sungai, menangkap udang, dan memanggangnya di tungku hingga nyaris gosong untuk disantapnya sendiri. Peristiwa kematian, apalagi kematian seseorang yang belum berusia tujuh puluh tahun, yang belum menjadi embu, kakek-nenek, atau opa-oma, adalah selingan mengerikan dalam hidupnya yang datar-datar saja. Seseorang hanya bisa mati, mungkin mati, saat kaki dan tangannya telah sangat kisut-layu dimakan tahun-tahun kehidupan yang tak kenal ampun; itulah kematian yang terhormat. Kematian seseorang yang masih terlalu muda dianggap bencana, musibah, karena ada kesalahan yang diperbuat.

“Om Aro yang biasanya naik kuda?”

Nenek bertanya kepada temannya yang menyampaikan kabar kematian. Ada dua Lazarus di kampung. Yang seorang gemar naik kuda. Yang seorang lagi tak punya kuda. Menurut cerita, menjelang hari baptis sekaligus pemilihan nama, ibu dari dua calon Lazarus bertengkar di teras rumah pastoran soal anak siapa yang harus mengganti nama. Tak boleh ada dua Lazarus. Nasib mereka rentan tertukar.

Sebelumnya, telah beredar cerita di kampung tentang seseorang bernama Maria yang meninggal tiba-tiba pada usia lima puluh tahun. Lewat mimpi, si Maria menyampaikan seharusnya Maria yang jompo, yang telah berusia delapan puluh tahun-lah yang meninggal. Namun, seseorang dari seberang sana telanjur memanggil “Maria!” dan ia terlalu lekas menjawab “Ya” tanpa mendengar nama belakangnya. Akibatnya, dirinyalah yang berpindah dunia. Sisa waktu hidupnya, yaitu dua puluh delapan tahun, ditambahkan untuk Maria yang jompo.

Nenek tak percaya kisah itu. Namun, Maria yang jompo baru meninggal saat usianya seratus sepuluh tahun. Orang-orang percaya ia mendapat tambahan usia dari Maria yang keliru menjawab panggilan maut.

***

Lazarus pertama, yang pada masa dewasanya gemar menunggang kuda, disuruh kerabat Lazarus kedua mengganti nama karena bapaknya pemabuk, penjudi, dan suka main perempuan. Agustinus lebih cocok. Mana tahu bapaknya bertobat seperti Santo Agustinus. Lazarus kedua, yang tak punya kuda, disuruh kerabat Lazarus pertama mengganti namanya karena ia lahir tiga jam lebih kemudian dari Lazarus pertama. Pater Back, pastor asal Belanda yang tak terlalu mengerti mengapa harus ada yang mengalah jika keduanya boleh saja bernama sama—ada jutaan orang bernama Lazarus di dunia ini—mengusulkan tambahan nama orang kudus lain sebagai pembeda. Yosef dan Yohanes. Namun, meskipun sudah diberi tahu berulang-ulang bahwa semua orang kudus istimewa dalam caranya masing-masing, para ibu bertanya: santo mana yang lebih hebat? Dan mulai meributkan nama Yosef. Status Santo Yosef sebagai ayah angkat Yesus derajatnya lebih tinggi ketimbang Yohanes yang cuma murid-Nya. Ibu dari Lazarus yang tak memiliki kuda mengalah setelah Pater Back mengatakan Yohanes adalah murid yang dipercaya untuk menjaga Ibu Yesus. Maka, Yosef dan Yohanes pada akhirnya sama-sama menjadi penjaga Bunda Maria; statusnya sama-sama terhormat, bahkan bisa dibilang sejajar jika dinilai dari sudut pandang tersebut.

Baca juga  Rumah Arwah

Ibu dari Lazarus yang tak memiliki kuda kemudian mengajukan syarat tambahan. Anaknya dipanggil Leja. Nama itu, Leja, diambil dari dua suku kata pertama La-za-rus, disesuaikan lagi dengan kecenderungan lidahnya yang mengganti ‘z’ jadi ‘s’. ‘Lasa’ tak berarti apa-apa. Ia merasa ‘Laja’ terdengar lebih indah. Saat itulah, ketika ia memikir-mikirkan nama Laja, muncul kata lain di kupingnya: Leja dengan huruf ‘e’ dibunyikan seperti menyebut ‘elang’. Leja yang berarti siang, saat matahari bersinar. Ibu Lazarus yang tak memiliki kuda merasa harus bicara tentang nama panggilan anaknya di hadapan Pater Back agar ada yang tahu bahwa ia yang lebih dulu menemukan nama ‘Leja’, bukan ibu Lazarus yang gemar berkuda, yang menurutnya adalah pengekor tolol yang menyedihkan, angkuh, dan tak bisa mengalah.

Ibu Lazarus yang gemar berkuda tak berkeberatan. Anaknya bisa dipanggil Arus, dan karena orang-orang di kampungnya biasa menghilangkan konsonan pada akhir nama seseorang, anaknya akan dipanggil Aru. Tak ada kata berkonotasi buruk yang dekat dengan Aru. Ia tak menduga, setelah empat dekade, bayinya dipanggil Aro. Ia bahkan tak tahu siapa yang memulainya. Barangkali salah satu teman sepermainan putranya yang memulai, dan karena bunyinya yang lebih menyenangkan ketimbang Aru, nama ‘Aro’ menjadi lebih populer.

***

Di dalam kamar tempat Om Aro meninggal, hanya ada dua istrinya, anak perempuannya yang bernama Ine, serta dua anak lelakinya bernama Jata dan Bara. Di ruang tamu, terlihat Ustad Karim dan tiga kerabat lelaki Om Aro yang kebingungan dengan cara apa jenazah yang sedang diratapi dua perempuan itu akan diurusi: Katolik atau Islam. Om Aro dibaptis sebagai orang Katolik, namun ia menikahi istrinya yang kedua berdasarkan tata cara penganut Islam. Di hari Minggu, ia tak ke gereja. Di hari Jumat, ia tak ke masjid. Orang-orang kampung, atas dasar sopan santun dan tenggang rasa, tak bertanya banyak soal agama. Tidak juga memancing-mancing agar Om Aro bersoal-jawab mengenai apa pun yang menyiratkan tentang agama yang ia anut. Saat hajatan, orang-orang mengamati, apakah ia makan daging babi atau makan masakan halal, daging ayam. Om Aro memilih makan daging babi dan daging ayam, selalu sambil terkekeh-kekeh, karena tak seorang pun berani berlaku tak sopan dengan menegurnya.

Baca juga  Menghapus Lara

Di tengah kebingungan kerabat, warga kampung mulai berdatangan dari seluruh penjuru, memenuhi teras dan ruang tamu. Seseorang rupanya telah memanggil pastor, Pater Jansen. Pastor muda dari Jerman itu datang dengan terburu-buru. Stola yang dipakainya miring.

Tiba-tiba saja, Om Aro menggerakkan alisnya. Mulanya cukup untuk membuat istri mudanya meraung-raung.

“Aro, badan kau masih hangat, alis juga masih bergerak. Pasti kau mau bilang sesuatu…”

Lalu tangannya bergerak-gerak, meraba-raba siapa pun yang bisa ia jangkau, dan gerakannya itu membuat istri tuanya berteriak kencang, “Tangan kau juga masih bergerak-gerak begini, masih kau cari-cari tangan saya… Bahkan setelah maut memisahkan, kau tetap cinta….”

Orang-orang tak curiga. Orang-orang tak berniat memeriksa tanda-tanda kehidupan pada tubuh Om Aro. Perempuan yang sedang meratap sering tak menggunakan akal sehatnya. Mereka mengatakan apa saja, apa pun, asal dapat menghibur diri dan mengurangi lara hati.

Om Aro batuk-batuk sebelum berteriak sekeras ia bisa.

“Saya masih ada.”

Semua orang lari terbirit-birit, kecuali Pater Jansen. Ia tak bergerak untuk menjaga wibawanya sebagai wakil Kristus. Sang pastor keluar, menarik mantri desa, memaksa si mantri melakukan apa saja agar Lazarus bisa hidup. Setelah diberi napas buatan, disuapi bubur dan air hangat sesendok demi sesendok seperti seseorang memberi makan anak burung yang sekarat, Om Aro pelan-pelan kembali menjadi tubuh yang hidup.

***

Dunia arwah sesungguhnya tak jauh berbeda dengan dunia manusia. Saat Om Aro meninggal, ia disambut beberapa kerabatnya di gerbang dunia arwah. Ibunya, yang baru meninggal setahun sebelumnya, tergesa-gesa menghampirinya.

“Jangan marah, saya terlambat. Ayo ke rumah! Saya sudah masak makanan kesukaan kau, ikan kuah asam!”

Langit kemerah-merahan. Senja nyaris turun. Om Aro ingat, saat ia tertidur, ia baru saja selesai makan ubi ungu. Artinya, baru menjelang pukul sembilan. Belum lima menit ia tiba di gerbang dunia arwah. Mengapa matahari telah nyaris tenggelam? Diamatinya wajah-wajah kerabatnya, semuanya orang mati. Tiba-tiba, ia teringat Ine, putri semata wayangnya.

Ine baru akan berumur tiga belas tahun. Sudah mens, bisik istri pertamanya. Bisa jadi, dalam tiga sampai empat bulan, akan ada lelaki muda yang datang ke rumah untuk mengajak pacaran. Diingatnya hari ketika Ine dilahirkan. Kelopak mata Ine mengerjap-ngerjap lucu seolah sedang memindai apakah dunia ini akan jadi tempat yang ramah untuk ditinggali, atau akan jadi sebuah arena tarung yang mengharuskan ia menjadi bangsat agar ia menang. Om Aro, waktu itu, berjanji akan selalu menjaga anak perempuannya apa pun yang terjadi. Di gerbang arwah, Om Aro tahu, ia tak boleh berada bersama-sama orang mati.

“Kenapa matahari sudah mau terbenam?” ujar Lazarus dengan nada persis seseorang yang hendak bertanya ‘Sekarang jam berapa?’ cuma untuk memulai obrolan. Hatinya cemas.

“Kalau di sana pagi, di sini menjelang malam.” Seorang lelaki menjawabnya. Lazarus tak bisa mengingat orang itu sepupunya yang mana.

“Kalau saya mau pulang ke sana, bagaimana?”

Semua orang memandangnya seperti ia orang gila. Beberapa menggumam, “Di sini lebih enak.” Ibunya terang-terangan mengatakan, “Di sini hidup kau tidak menderita, tidak banyak beban pikiran.” Ucapan-ucapan itu seketika menjelma rasa gembira yang menyusup masuk ke hatinya, memikat sekaligus mengikat agar ia tak mau pergi. Namun, didengarnya juga isakan lirih di telinga.

Baca juga  Pulang tanpa Kampung Halaman

“Bapak, pulang…”

Suara Ine. Ia berbalik lekas dan berlari sekencang-kencangnya, melewati gerbang dan meloncati sebuah parit lebar dengan risiko terjatuh. Ia memang terjatuh. Namun, ia terjatuh ke dalam tubuhnya sendiri. Ia akan selalu melindungi Ine, itu janjinya sebagai seorang ayah.

Janji itu membuatnya tetap hidup.

***

Setelah peristiwa tersebut, Om Aro menjadi cenayang. Orang-orang bertanya-tanya tentang kabar kerabat mereka yang telah meninggal.

Bagian yang paling disukai nenek dan ibuku dari banyaknya kisah Om Aro adalah informasi, yang menurutku tak penting-penting amat, tentang waktu. Jika di dunia ini sedang pagi, di dunia arwah telah senja. Keduanya menyimpulkan, soal waktu, dunia ini dan dunia arwah saling berkebalikan. Bertahun-tahun kemudian, saat aku telah cerdas oleh pelajaran geografi, kukatakan, ada tempat-tempat di mana ‘kalau di sini pagi, di sana malam’ karena bumi itu bundar.

“Amerika, Eropa, Afrika….”

Ibuku tertawa geli, ia selalu menyahut cerdik….

***

Nah, sepertinya aku akan melantur lagi. Aku menulis kisah ini setelah mengunjungi makam ayah. Sesaat setelah ia meninggal, aku juga berbisik di telinganya, meminta ia pulang. Belakangan, kupikir, ia seharusnya berbalik untuk meloncati parit lebar seperti yang dilakukan Om Aro untuk Ine. Bapak menjadi Lazarus seperti Om Aro. Aku seperti Ine.

Namun, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan padanya, bahkan setelah aku mencubit lengannya berkali-kali. Perawat malah menyuntikkan formalin. Kuremas-remas telapak tangannya yang masih hangat. Kini, jika kupikir-pikirkan lagi, seandainya ayahku bangun, seperti Om Aro dalam kisah nenek, ia tak perlu jadi cenayang. Ia bisa jadi pesulap yang mengeluarkan kelinci dan merpati dari topinya karena ia suka memakai topi. Ayahku pasti akan memamerkan keahliannya kepada teman-temannya yang saban tanggal satu antre untuk menerima uang pensiunan di kantor pos.

Sayangnya, tak semua orang bisa jadi Lazarus meski bernama Lazarus. Saat tiba di gerbang dunia arwah, ayahku mungkin tak ingat lagi tentang hari kelahiranku. Usianya sudah tujuh puluh dua tahun. Jarak antara hari kelahiranku dan hari kematiannya adalah tiga puluh enam tahun. Apa mungkin ia ingat? Jika ingat, mengapa ia tak berbalik?

Pagi ini, saat mengucapkan kredo “aku percaya akan kebangkitan badan…” aku merasa masa itu masih jauh. Sangat jauh. Karenanya, aku selalu berziarah ke makam ayah saat senja. Ayahku mencintai ritual minum teh pagi sebelum pukul tujuh. Aku ingin berada bersama dengannya saat ia bersiap minum teh. Menurut nenek dan ibuku, jika ada seseorang berziarah ke makam, di dunia arwah, orang yang makamnya dikunjungi tersebut akan menerima bingkisan makanan. Ayahku menyukai kue onde berisi kacang hijau. ***

.

.

Fransiska Eka adalah seorang penulis dan penerjemah. Saat ini ia berdomisili di Ende, Nusa Tenggara Timur.

.

.

Loading

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Anonymous

    keren kaka…
    Bangga punya penulis dari Ende.
    salam, saya juga dari Ende

Leave a Reply

error: Content is protected !!