Adi Zamzam, Cerpen, Solopos

Suara-Suara

Suara-Suara - Cerpen Adi Zamzam

Suara-Suara ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

3.5
(4)

Cerpen Adi Zamzam (Solopos, 18 November 2023)

SINTA melenguh. Tubuhku gemetar hebat ketika deru suara kereta melintas tepat di atas kami. Kami menyatu dalam kegaduhan itu saat tiba-tiba terdengar ketukan keras dari pintu ruang tamu, kami pun kaget bukan main.

Setelah kulihat dia tenang di bawah selimut, di samping keranjang pakaian kotor, akhirnya kusambut ketukan yang semakin keras itu.

“Hari Jumat nanti. Pokoknya kamu harus hadir. Sudah kumasukkan data,” ujar Pak Kadir—yang sering kami sebut sebagai Pak RT sembari menyerahkan selembar pamflet hitam putih. Ada foto lelaki ganteng, rapi, dan berpeci di sana.

“Memangnya dapat apa, Pak?” tanyaku setelah menamatkan pamflet itu. Juga demi menahan matanya yang diam-diam jelalatan masuk ke dalam petak rumah.

Lelaki paruh baya itu malah berniat buka sandal. “Lo, kok tanya dapat apa. Memangnya listrik bisa nyala di sini itu atas bantuan siapa? Berkat orang-orang macam beliaulah kita bisa nyaman tinggal di sini.”

“Tapi jangan pernah lupa, berkat orang macam beliau juga kita jadi tergusur ke sini Pak.”

Dulu, di depan rumah biasa ada mobil berjajar—pelanggan. Usaha kami beragam, dari tukang ojek, pemulung, pedagang, sampai para penghibur kesepian. Tetapi sekarang apa? Mobil-mobil itu berseliweran di depan, belakang, bahkan di atas kami setiap hari. Tetapi, mereka hanya meninggalkan suara-suara bising tanpa peduli dengan kami.

“Begini, Dek. Biar aku ceritakan dulu tentang siapa Bapak kita yang satu ini….”

“E-eh, ya udah, Pak. Aku usahakan hadir ya. Semoga saja tidak ada hal-hal lain yang lebih penting.” Usahaku gagal. Orang ini jika sudah mengobrol, matahari pun akan kalah bosan. Apalagi toko kelontongnya hanya berjarak tiga petak dan dipisahkan dua tiang penyangga jalan tol yang menjadi langit-langit rumah kami.

“Hal penting apa sih? Yang ini jelas lebih penting. Beliau janji akan memasukkan kita ke dalam daftar penerima bansos, jika kita mendukungnya.”

“Mmm, iya deh,” aku iyakan saja agar ia lekas kembali ke sarangnya.

Sinta sudah kembali rapi saat aku kembali masuk ke dalam. Meski wajahnya masih tampak kumal—kelelahan. Aku mencium pipinya sebelum dia bilang, “Besok aku masih bisa kembali ke sini kan?”

“Doakan uangku selalu banyak ya,” kutowel janggutnya yang memesona.

Setelah melirik kanan-kiri, sosok Sinta berjalan pasti melewati beberapa pintu di sisi sebelah kiri. Kulihat ia melempar senyum dan membalas sapa saat beberapa orang menemukannya.

***

Malam seperti arena untuk mempersiapkan diri menuju dunia lain. Aku bisa menjadi siapa saja, asal pikiranku menjadi tenang dan senang. Suara-suara kendaraan di kanan-kiri bahkan atas atap sering membantuku.

Baca juga  Sepatu itu Ada dalam Hatiku

Dulu, sebelum terbiasa dengan kondisi begini, aku sempat mengalami insomnia tiga hari tiga malam. Sebelum kemudian aku menemukan cara untuk mengatasi rasa kesepian.

Sebenarnya rasa kesepian itu bukan akibat jumlah kami yang sedikit. Hampir seratusan jiwa yang tinggal di kolong tol ini bukan korban dari penggusuran lokasi yang sama. Beberapa bahkan mengaku baru datang dari desa dan bingung mau cari kerja apa.

Di kota yang segala sesuatunya harus pakai uang, mendapatkan tempat berteduh yang gratis dari segala macam tagihan adalah sebuah keberuntungan besar.

“Bayangkan saja bahwa kita sedang meluncur ke ruang angkasa dan di ruang angkasa tidak ada yang bisa mengganggu kita,” ujarku kepada Sinta yang datang untuk kali keduanya. Betapa pun suara-suara itu terdengar berisik dan seperti tak pernah mati, tapi mereka sebenarnya tak pernah peduli kepada kami. Mereka terpenjara dalam kesibukannya dan kami khusyuk dalam kehidupan sendiri.

Kalaupun sesekali ada yang penasaran dengan kesibukan kami, paling hanya wartawan atau macam orang di pamflet yang dibawa Pak RT kemarin. Biasanya orang itu akan bilang butuh suara kami dan akan mengusahakan ini-itu untuk menyamankan hidup kami. Sebelas dua belas dengan wartawan yang konon menjual cerita-cerita sedih kami padahal sebenarnya kami tak susah-susah amat. Buktinya, aku masih sanggup memanggil Sinta ke sini untuk kali keduanya.

“Apa akan ada yang berani mengganggu kita?”

Aku bilang kepadanya bahwa akan lebih aman jika ia datang di saat terik membakar ubun-ubun. Itu adalah waktunya banyak orang menghilang, baik cari makan entah ke mana atau sekadar menyembunyikan tubuh ke dalam petak masing-masing.

Di sini memang tak pernah ada yang benar-benar menjadi polisi moral. Meski jika punya rezeki berlebih, bahkan banyak yang senang berbagi dengan penghuni petak lainnya. Tetapi, kedatangan orang macam Sinta akan lain ceritanya jika tertangkap mata penghuni planet lain.

“Kalau ada yang usil, gampang. Aku akan mengaku jadi pacarmu.”

“Pacar kontrak, haha,” aku tertawa sembari semakin erat memeluknya.

“Eh, apa kau tak ingin benar-benar serius denganku?”

“Apa dengan begini kau masih kurang bahagia?”

“Oh, pantas kau selalu pakai sarung ya, hm?”

Memangnya apa lagi yang hendak dicari dalam hidup selain soal bahagia? Bahagia dalam arti yang sebenar-benarnya, tanpa perlu memikirkan pajak dan tetek bengek lainnya yang mengaburkan bahwa hidup sebenarnya adalah perkara sederhana.

Sesederhana ketika Sinta menolak saat kupanggil untuk yang kali ketiganya. Dipamerkannya foto lelaki yang kini bersamanya dan konon bilang mau serius dengannya.

Baca juga  Pedagang Kenangan Lama

Tak apa. Toh semua urusan kami sudah selesai dengan uang. Sesederhana itu untuk bahagia. Tanpa perlu mengurusi apalagi ingin merebut kebahagiaan orang lain.

***

Sore itu Pak RT mendatangiku dengan marah-marah. Katanya….

“Dari lima puluh undangan, masak yang datang hanya tujuh orang! Apa itu enggak kebangetan?!”

“Ya, jangan dikira kami ini tidak punya kesibukan lah, Pak. Kesibukan kami juga punya harga, Pak.”

“Justru karena itu kemarin beliau ke sini, mau janjikan ini-itu untuk kenyamanan kita.”

“Memangnya kurang nyaman bagaimana lagi hidup kita sih, Pak?” Kulihat lelaki ambisius itu langsung terdiam dan meninggalkanku menuju petak lainnya.

Mat Kucing yang melihat—dan mungkin juga mendengar percakapan kami, mendekatiku. Tetapi aku tak mau menjawab semua pertanyaannya. Hari beranjak menuju kegelapan. Dan itu adalah waktuku untuk melawan suara-suara istri dan anak laki-lakiku yang masih saja memanggil-manggil dari kejauhan sampai sekarang.

Aku sadar mereka sudah tiada akibat musibah kebakaran di perkampungan kami dahulu. Tidak seperti Pak RT yang berusaha segiat-giatnya mengumpulkan uang entah demi apa lagi, aku lebih memilih menggunakan semua sisa waktuku untuk menikmati kehidupan yang fana dan penuh tipuan. Aku kira Pak RT juga sudah dengar perihal sebuah gosip bahwa musibah kebakaran itu konon sudah direncanakan agar kami bersedia digiring ke rumah susun yang sudah disiapkan. Siapa pun pasti setuju, hidup bebas tanpa menanggung biaya apa pun tentunya lebih menyenangkan. Apalagi jika biaya itu terlalu berat bagi punggung kami.

Kami datang ke kota ini dengan tujuan ingin hidup bahagia. Kalau toh akhirnya nasib berkata lain, tentu itu di luar kemauan kami. Tapi, aku masih meyakini bahwa hidup itu adil.

Di kota inilah aku dipertemukan dengan mendiang istri yang begitu tulus mencintaiku. Betapa pun kedatanganku ke kota ini memang hanya bermodal kemauan ingin mengubah nasib. Kebanyakan teman-temanku di sini memiliki nasib sama.

Kami bukanlah kumpulan binatang menyedihkan yang harus dibersihkan lantaran dianggap mengganggu keindahan dan kenyamanan kota. Lebih merugikan yang mana, kami ataukah para koruptor? Lebih mengganggu yang mana, kami ataukah para penipu dan penilap uang rakyat?

“Ini sudah perintah dari Pak Gub. Peringatan kedua berupa teguran tertulis,” ujar pemimpin rombongan Satpol PP saat menyerahkan selembar surat beramplop cokelat kepada Pak RT. Seragam warna khakinya sudah menjadi momok bagi kami yang sudah hafal.

Apakah mereka pernah berpikir bahwa dalam hal hidup, kami juga punya keinginan sama yang seperti mereka angankan? Apa kami harus pulang begitu saja ke kampung halaman setelah sesumbar akan jadi orang di sini? Apalagi bagi orang-orang semacam Kanapi yang sudah tak punya apa-apa di tanah kelahiran.

Baca juga  Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu?

Pak RT mewakili menerima surat itu dengan muka masam. Lelaki berperut buncit ini langsung menepis tanganku yang penasaran. Alangkah tegangnya dia dalam memikirkan hidupnya. Kami tak diberinya kesempatan untuk mengeluarkan pendapat atau sekadar saran untuk melawan. Atau mungkin dia terlalu sibuk memikirkan akan ke mana lagi memindahkan semua barang dagangan yang sudah hampir serupa isi toserba itu?

Pak RT pun semakin rajin membujuk kami untuk menghadiri rencana kedatangan lelaki dalam pamflet untuk yang kali kedua. Alangkah bersemangatnya pula lelaki perlente yang kata Pak RT akan sedia membantu semua permasalahan kami. Bantuan-bantuan kecilnya sudah mulai beradatangan, dari mulai kaus (bergambar wajahnya), sembako, sarung, hingga janji tempat tinggal yang layak untuk kami.

“Memangnya kita akan dipindah ke mana lagi, Pak RT?” tanya Mak Ijah yang sudah teracuni dengan iming-iming itu. “Apa ke rusun lagi? Apa akan disuruh bayar ini-itu lagi?”

“Pokoknya nanti Mak Ijah hadir saja. Jadi bisa lebih jelas tanya ini-itu.”

“Apa enggak sama saja dengan tanya ke Pak RT? Aku kalau pergi cari rombengan, sehari bisa dapat minimal lima puluh ribuan, kan rugi kalau….”

“Itu tadi ‘kan sudah dapat sembako? Kalau enggak mau hadir ya sembakonya aku minta balik, buat yang lain saja. Ini tanggung jawabku,” gaya Pak RT sudah seperti makelar.

Mak Ijah terdiam. Saat menoleh ke arahku, aku bisa membaca keraguan di wajahnya. Aku tahu dia tak membutuhkan orang itu. Dia hanya butuh sembakonya. Tanpa diberi tahu, aku bisa menebaknya.

Itulah mengapa malamnya kemudian aku berpikir keras bagaimana caranya mengusir orang yang keberisikannya mengalahkan keberisikan suara-suara di sekeliling kami itu. Jika bukan karena dia, wartawan dan Satpol PP tentu takkan mencium ketenangan kami di sini.

Saat mataku menemukan sekilo telur ayam yang dua minggu lebih tak jadi aku goreng, aku rasa sebuah rencana sudah kutemukan. Kami bukan benda mati, kami punya nyawa! ***

.

.

Adi Zamzam, cerpennya sudah tersebar di berbagai media massa.

.
Suara-Suara. Suara-Suara. Suara-Suara.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!