Cerpen, Eko Darmoko, Kompas

Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya

Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya - Cerpen Eko Darmoko

Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya ilustrasi Hajriansyah/Kompas

3.8
(5)

Cerpen Eko Darmoko (Kompas, 26 November 2023)

AKU tahu kamu belum bisa lancar membaca, masih butuh mengeja, tapi aku tetap ingin menuliskan surat ini untukmu. Alasannya sangat sederhana, karena kisah ini berkaitan dengan bangsamu. Tentu kamu masih ingat dengan gadis yang sering kuceritakan kepadamu? Melalui gadis itulah aku perlahan belajar mengenal bangsamu, bangsa kucing. Seperti kamu yang perlahan belajar membaca.

Sudah kamu ketahui, aku bukan laki-laki penyuka kucing. Bukan karena takut, melainkan hanya merasa geli jika ada kucing di sekelilingku. Itulah mengapa dulu aku sering jaga jarak denganmu. Tapi, semenjak dekat dengan gadis itu, aku merasa lebih bisa mengakrabi kucing, tentunya termasuk kamu.

Saat pertama kali datang ke rumah gadis itu, aku langsung disambut oleh gerombolan kucing aneh. Entah mengapa aku menyebutnya aneh. Yang jelas, saat itu, aku masih merasa geli terhadap kucing. Rasanya ingin sekali jauh-jauh dari gerombolan kucing itu. Tapi, apa daya, lama-lama rasa geli itu sirna. Aku merasa berkawan dengan kucing. Ini hal yang paling susah untuk dijelaskan. Demikianlah, pedalaman manusia memang susah ditafsirkan.

“Belajarlah menyukai kucing, Mas!” katanya.

Dan, kamu pasti tahu, ketika ada seseorang yang menyuruhku menyukai kucing, aku hanya bisa mematung. Namun, ketika gadis itu yang menyuruhku, bibirku bergetar, Boy.

“Akan aku coba, Dek. Tapi pelan-pelan,” begitu jawabku.

Dari penjelasannya, dia memelihara lebih dari 20 kucing. Namanya pun terdengar aneh di telinga, setidaknya begitu penilaianku. Namamu juga aneh, menurutku. Entah dari mana kamu mendapat nama Shibuya. Sungguh aneh, bisa-bisanya kucing kampung sepertimu memiliki nama Shibuya. Padahal kamu tidak memiliki darah Jepang.

Di antara kucing-kucing miliknya, aku hanya menghafal beberapa nama. Seingatku, ada Oyen, Snowy, Bleki, Miu, Bolu, Simba, Banana, Anabel, Bubu, dan lain-lain. Bagaimana menurutmu? Aneh, bukan? Setidaknya menurutku sangat aneh, menurut laki-laki yang tak paham dunia kucing.

Sebenarnya aku ingin menceritakan kisah ini secara langsung kepadamu. Secara tatap muka. Jadi, aku tak perlu repot-repot menceritakannya dalam sebuah surat. Apalagi, nanti, selepas kamu menemukan surat ini dalam tong di sebuah taman, tempat yang kamu anggap rumah, pasti kamu memintaku untuk membacakan isi surat ini. Rasa-rasanya, aku ingin terus memaksamu untuk belajar membaca.

“Nanti, aku akan melanjutkan belajar membaca. Sekarang aku berfokus mengejar pujaan hatiku, kucing dari kampung sebelah,” begitu katamu, beberapa hari yang lalu, saat terakhir aku menemuimu di taman. Kamu masih ingat, kan?

Ya! Aku paham betul tentang perjuanganmu demi mendapatkan cinta kucing idamanmu. Tentunya, kamu juga paham bahwa aku juga sedang memperjuangkan cinta gadis yang kita bahas di surat ini. Oh ya, seingatku, kamu tak pernah menyebutkan nama kucing idamanmu. Atau jangan-jangan aku yang lupa. Manusia memang tempatnya lupa.

Baca juga  Ibu yang Menangis Darah

Ngomong-ngomong, selain alasan di atas, aku sengaja bercerita lewat surat. Supaya kamu segera melek aksara, gemar membaca, tidak seperti manusia zaman sekarang yang lebih doyan berselancar dengan telepon pintar sambil menelanjangi aib manusia lain. Satu lagi, aku menulis surat untukmu karena kamu susah ditemui akhir-akhir ini. Kamu sibuk dengan urusan duniawi. Astaga, bukankah surat juga bersifat duniawi?

Sama seperti ceritamu tentang pengalaman pertamamu datang ke rumah kucing idamanmu, aku mengalami hal itu. Saat pertama kali datang ke rumah gadis itu, selain disapa kucing-kucingnya, aku diselimuti gagap dan rikuh. Tapi, berbeda denganmu yang langsung bercumbu dengannya, setelah kamu menyudahi gagap dan rikuh. Aku dan dia sekadar ngobrol sambil mengunyah kudapan yang disuguhkan di atas meja. Sembari bercerita, dia menyambinya dengan menimang-nimang salah satu kucingnya.

“Hujannya deras, Mas? Bajumu terlihat agak basah,” kata gadis itu.

“Sangat deras. Mantel hujan yang kupakai tak sanggup mencegah basah,” balasku.

Begitulah mula-mula obrolanku dengannya ketika pertama kali ke rumahnya. Sedangkan mengenai obrolanmu dengan kucing idamanmu, sampai sekarang aku tak tahu. Kamu tidak pernah menceritakannya kepadaku. Kamu hanya berfokus pada cerita percumbuanmu dengannya. Dasar kucing kampung. Ha-ha-ha!

Sampai di sini, mungkin kamu bertanya-tanya tentang namanya. Kamu pasti penasaran. Iya, kan? Baiklah, kuberi tahu. Gadis itu bernama Mawarni. Ingat, bukan berarti aroma tubuhnya seperti bunga mawar. Tidak! Seperti kasus namamu, bukan berarti kamu lahir di Shibuya atau sudut Tokyo lainnya. Toh, kamu cuma numpang lahir di kampung ini. Semua hanya kebetulan belaka. Ngomong-ngomong soal aroma tubuh gadis itu, harumnya melebihi mawar mana pun. Hidungku serasa dimanjakan semerbak harum itu.

“Mama dan papamu pasti punya jiwa sastrawi?” Aku memberanikan diri membelokkan arah obrolan setelah kami duduk sekitar sejam di ruang tamu.

“Memangnya mengapa, Mas?” Dia menjawab dengan pertanyaan.

“Karena namamu bagus. Ada kesan sastra di dalamnya.”

“Oh, itu nama warisan dari nenekku.”

Aku yakin kamu tak paham makna kata “sastra” dan “sastrawi”. Nanti, lain kali, aku akan menjelaskannya kepadamu secara gamblang. Tidak di surat ini. Sebab, topik utama surat ini adalah gadis itu. Jika ada hal-hal lain yang kuceritakan, itu hanya sebagai pemanis cerita. Sampai sini paham, kan?

Tentunya kamu ingat dengan cerpen Hemingway dan Murakami tentang kucing yang aku bacakan untukmu. Nah, gadis itu ternyata juga menyukainya. Wajar! Dia penyuka kucing, tentunya juga menyukai segala sesuatu tentang kucing, termasuk cerpen yang berkisah tentang kucing. Tapi ingat, sampai detik ini, aku belum menceritakan tentangmu kepadanya, meskipun kamu kucing. Jadi, jangan besar kepala, ya!

“Aku suka kucing-kucing yang diceritakan Hemingway dan Murakami, Mas,” katanya selepas membaca cerpen-cerpen yang aku sodorkan di kedai tengah kota. Persis seperti kalimatmu. Tapi kamu tidak mengakhirinya dengan panggilan “Mas”, melainkan “Boy”.

Baca juga  Laila

Shibuya sahabatku, seperti kubilang tadi, harum tubuh gadis itu sungguh magis. Serasa ada cengkeram magnet surgawi yang menarikku. Bermula dari harum itulah, setelah cukup lama mengenalnya, aku memberanikan diri menempelkan tubuhku ke tubuhnya. Kita berpelukan untuk pertama kalinya di lorong sepi pada sebuah ruko. Semula dia terkesan menghindar. Tapi, lama-lama, dia merasa nyaman dengan pelukan itu. Justru aku yang diserang lindu di sekujur tubuhku.

“Mengapa kamu gemetaran, Mas?” tanyanya saat tubuh kita saling menempel.

“Tak tahulah aku,” jawabku.

“Mengapa kamu memelukku, Mas?”

“Aku tergoda aroma mawar di tubuhmu,” balasku dengan segunung gamang.

“Tapi parfum yang kupakai bukan bau mawar. Sabun mandiku juga bukan bau mawar.”

“Mungkin Tuhan telah menanam mawar di tubuhmu.”

“Dih, itukah alasanmu supaya bisa memelukku? Dasar cowok!” rengeknya manja.

Begitulah. Kamu pasti mengerutkan jidat saat membaca dialog itu. Aku mengerti. Bangsa kucing sepertimu pasti susah memahami gejolak jiwa bangsa manusia. Pun demikian dengan bangsa manusia yang susah memahami gejolak jiwa bangsa kucing. Hanya hal-hal kecil yang dipahami manusia terhadap kucing, yakni tentang makan dan berahi. Bangsamu memang tak punya malu soal berahi; bisa bercinta kapan pun di sembarang tempat. Aku yakin kamu sudah bercinta dengan gadismu di taman atau tempat lain.

Tapi, yang bikin aku bingung, mengapa hanya kamu yang bisa berbicara dengan bahasa manusia? Sedangkan kucing lainnya, aku tak pernah melihat mereka berbicara layaknya manusia. Aku hanya melihat bangsamu saling mengeong. Atau jangan-jangan mereka bisa berbicara bahasa manusia, tapi keahlian itu disembunyikan. Bisa jadi, kecuali denganku, kamu menyembunyikan keahlianmu berbicara kepada manusia lainnya. Dari sini aku mulai curiga, jangan-jangan gadisku juga bisa ngobrol dengan kucing-kucingnya, seperti aku dan kamu.

“Kamu paham bahasa kucing, Dek?” tanyaku, waktu dia kuajak ke rumahku.

“Maksudnya, Mas?” dia kembali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.

“Kamu bisa berbicara dengan kucing?”

Mendengar pertanyaan itu, kulihat matanya menatap kosong. Jidatnya berkerut. Dia berpikir, menerawang jauh entah menuju suaka mana. Tak lama setelah itu, dia menatap mataku. Tatapannya sungguh tajam dan jernih. Lalu bibirnya bergetar. Senyum mungil terbit di wajahnya.

“Oh, itu. Iya, aku paham, Mas. Aku bisa menerjemahkan setiap bunyi kucing yang mengeong. Aku paham bahasa kucing. Maksudmu itu, kan?”

Kini giliranku yang mengerutkan jidat. Aku berpikir keras. Aku mencoba menelaah ucapannya. Apakah itu hanya kiasan atau fakta empiris? Hingga kini aku masih diterjang kebingungan, Boy. Mungkin, suatu kali, kamu bisa menjelaskannya kepadaku secara gamblang.

“Maksudmu itu, kan?” ulangnya. Seketika aku gelagapan.

“Iya. Itu maksudku,” aku merespons ala kadarnya.

“Mengapa kamu bertanya soal itu?”

“Hah, soal apa?”

“Yang tadi itu. Soal berbicara dengan kucing. Soal bahasa kucing.”

Baca juga  Andai Aku Menjadi Kucing

“Cuma ingin tahu.”

“Aneh kamu, Mas.”

“Aneh mengapa?”

“Mengajukan pertanyaan sederhana seperti itu saja keningmu sudah berkerut.”

“Kamu juga.”

“Maksudnya?”

“Tadi kulihat keningmu juga berkerut sebelum menjawab pertanyaanku.”

Coba tebak! Selanjutnya apa yang terjadi, Boy? Dia mendadak tertawa. Terpingkal-pingkal sampai tubuhnya bergoyang. Aku kembali berpikir; adakah yang lucu dari obrolan tadi? Belum kelar pikiranku mengembara, tanpa kuduga sebelumnya, dia mencubit lenganku. Sakit sekali. Tapi, anehnya, aku menikmati cubitan itu. Kemudian, dia menggelitiki pinggangku. Tanpa pikir panjang, aku langsung memegang kepalanya, menariknya, lalu mencium jidatnya.

“Mengapa kamu mencium keningku, Mas?”

“Karena kamu pasti menolak saat kucium bibirmu,” aku menjawabnya asal-asalan.

Sampai di sini kamu pasti penasaran dengan kelanjutannya. Mungkin seperti yang terlintas dalam benakmu, Boy. Aku memberanikan diri menariknya masuk ke kamar. Kupegang pergelangan tangannya, lalu kubimbing memasuki kamarku. Dia tidak menolak.

Di dalam kamar yang sudah kututup, aku remas jari-jari tangannya. Kucium sekali lagi keningnya. Kurebahkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian kita bergulat hebat disaksikan senja yang mengintip dari jendela.

Begitu singkatnya, Boy. Hingga kini, saat aku menulis surat ini di kamarku, harum tubuhnya masih menempel di kasurku. Bahkan, harum itu makin gentayangan meneror seantero kamarku. Akhir kata, kronologi kejadian yang lebih rinci akan aku ceritakan ketika kita bertemu nanti. Sehat selalu ya, Boy! ***

.

.

Surabaya, 2023

Eko Darmoko, prosais kelahiran Surabaya. Rudi adalah nama panggilannya. Masuk dalam daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Buku lainnya, novel Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022) dan kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015). Cerpen-cerpennya dimuat harian Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Basabasi.co, BacaPetra.co, dll. Berpartisipasi dalam acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2019. Menjadi salah satu cerpenis terbaik dalam sayembara menulis cerpen Dewan Kesenian Surabaya 2019. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya.

Hajriansyah, kuliah seni lukis di Modern School of Design Yogyakarta dan ISI Yogyakarta. Tesisnya yang diterbitkan Estetika Sufistik Amang Rahman. Tahun ini ia berpameran dua kali di Yogyakarta, Palangka Raya, Banjarmasin Art Week 2023, serta Solo Exhibition Love, Life, Lite di TAT Art Space Denpasar, Bali, setelah tahun 2022 Pameran Tunggal Intimdi Banjarbaru.

.
Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya. Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya. Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya. Mawarni, Shibuya dan Kucing Lainnya. 

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!