Budi Darma, Cerpen

Laki-Laki Tua Tanpa Nama

Laki-Laki Tua Tanpa Nama - Cerpen Budi Darma

Laki-Laki Tua Tanpa Nama ilustrasi Suthanto/Sinar Harapan

5
(3)

Cerpen Budi Darma

FESS bukanlah jalan yang panjang. Hanya ada tiga rumah di sana, masing-masing mempunyai loteng dan pekarangan yang agak luas. Karena tertarik sebuah iklan, saya menyewa loteng rumah tengah, milik Ny. MacMillan. Ny. MacMillan sendiri tinggal di bawah. Dengan demikian saya dapat melihat baik rumah Ny. Nolan maupun rumah Ny. Casper.

Seperti Ny. MacMillan, kedua tetangga ini sudah lama menjanda. Karena tidak menceritakan hal-ikhwalnya sendiri, saya tidak tahu mengapa Ny. MacMillan tidak mempunyai suami. Menurut dia, Ny. Nolan menjanda karena tabiatnya sendiri yang kasar. Ketika Ny. Nolan masih muda dan baru saja kawin, suaminya sering digempur. Akhirnya, dengan jalan semena-mena Ny. Nolan menitahkan suaminya untuk minggat, dan diancam akan digempur lagi kalau menunjukkan niat untuk kembali. Semenjak pengusiran itu Ny. Nolan tidak menunjukkan gejala ingin tinggal dengan siapa pun.

Ny. Casper mempunyai riwayat lain. Dia tidak begitu perduli pada suaminya, seorang pedagang keliling yang agak jarang tinggal di rumah. Apakah suaminya sedang di rumah atau sedang di tempat lain dia tidak menunjukkan gejala yang berbeda. Begitu juga ketika suaminya meninggal karena kecelakaan mobil di Cincinati, dia tidak menunjukkan pertanda susah maupun gembira.

Hanya itulah yang saya ketahui, karena hanya itulah yang diceritakan Ny. MacMillan. Janganlah mengurusi kepentingan orang lain, dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain, inilah pesan Ny. MacMillan setelah menutup ceritanya mengenai kedua tetangganya. Hanya dengan jalan demikian, katanya, kita dapat tenang.

Bahkan dia selanjutnya memesan, supaya hubungan baik antara dia dengan saya tetap baik, saya hanya boleh bercakap dengan dia bilamana perIu, itu pun harus melalui telepon. Karena itu, katanya, saya harus segera memesan telepon. Sebelum perusahaan telepon memasang telepon saya, dia melarang saya untuk mempergunakan teleponnya, karena, katanya, tokh tiga blok dari Fess ada sebuah telepon umum. Selanjutnya dia mengatakan, bahwa kunci yang dipinjamkan kepada saya hanya bisa dipergunakan untuk pintu samping, sedangkan kuncinya sendiri untuk pintu depan. Dengan jalan keluar-masuk yang berbeda, masing-masing tidak akan terganggu. Dan setiap bulan, katanya kemudian, saya harus memasukkan check ongkos sewa loteng ke dalam kotak posnya, sementara saya sendiri dapat mempergunakan kotak pos lain yang terletak di pinggir rumah. Mula-mula syarat ini memang sangat menyenangkan, karena saya sendiri tidak suka diganggu.

Selama musim panas saya tidak mengalami kesulitan. Waktu dapat saya gunakan untuk kuliah, ke perpustakaan, jalan-jalan, masak, dan sekali tempo melamun di Dunn Meadow, sebuah lapangan rumput yang tidak pernah sepi. Beberapa kali saya berpapasan dengan Ny. Nolan dan Ny. Casper. Karena masing-masing tidak menunjukkan gejala ingin mengenal saya setelah saya berusaha untuk mendekatinya, saya pun menjadi enggan untuk berbicara dengan mereka.

Setelah musim panas siap untuk digantikan oleh musim gugur, keadaan saya berubah. Berbeda dengan musim panas, menjelang musim gugur kota Bloomington dibanjiri oleh kedatangan lebih kurang tiga puluh lima ribu mahasiswa, baik yang baru maupun yang selama musim panas meninggalkan kota. Tapi, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun yang tinggal di Fess dan sekitarnya. Bloomington menjadi ramai, tapi Fess tetap sepi. Kecuali itu makin lama hari makin pendek—matahari makin terlambat terbit dan makin cepat terbenam. Dan kemudian, daun-daun menguning, lalu berdikit-dikit rontok. Bukan hanya itu—hujan juga sering datang, kadang-kadang diantar oleh kilat dan halilintar. Kesempatan untuk keluar makin tipis. Baru dalam keadaan seperti ini saya banyak memperhatikan Fess. Baik Ny. MacMillan, Ny. Nolan, maupun Ny. Casper sering menggusuri daun-daun yang gugur di pekarangannya, lalu menempatkan daun-daun itu di kantong plastik besar, memasukkannya ke dalam mobil, lalu mengantarkannya ke tong sampah umum lebih kurang tujuh blok dari Fess.

Ny. Nolan mempunyai kebiasaan yang menarik. Kalau dia sedang berada di pekarangan dan ada binatang berkelebat di sana, tidak segan-segan dia melempar Binatang-binatang itu dengan batu yang rupanya sudah disiapkan. Tanpa membidik, lemparannya pasti mengenai sasarannya. Beberapa kelelawar yang bergelantungan di ranting-ranting rendah sempat dihabisi nyawanya, demikian juga pelbagai macam burung yang secara kebetulan mampir di pekarangannya dan hinggap di tempat-tempat yang dapat dicapai oleh lemparan batu Ny. Nolan. Pernah saya melihat beberapa anjing berteriak-teriak kesakitan dan menjadi pincang setelah memasuki pekarangan Ny. Nolan. Bukan hanya kepandaian Ny. Nolan melempar yang mengagumkan, tapi juga tenaganya yang luar biasa yang sanggup mencabut nyawa dan melukai sekian banyak binatang. Perbuatannya ini tentu saja dapat dihukum, tapi saya heran mengapa dia tidak pernah sembunyi-sembunyi pada waktu melempar. Hanya saja saya tidak tahu ke mana dia membuang mayat-mayat binatang celaka itu. Saya yakin baik Ny. MacMillan maupun Ny. Casper tahu perbuatan Ny. Nolan ini, tapi saya tidak heran mengapa mereka membiarkannya tanpa berusaha untuk menegur atau melaporkannya kepada polisi. Rupanya dengan jalan saling membiarkan inilah mereka dapat menjaga hubungan baik. Meskipun tidak mempunyai keistimewaan seperti Ny. Nolan, Ny. Casper tidak dapat saya lewatkan begitu saja.

Dia sudah tua, kadang-kadang nampak sakit, dan jalannya agak oleng kalau sedang kelihatan sakit. Kalau sedang nampak sehat, dia dapat berjalan cepat. Saya sering membayangkan, andaikata dia lari pun dia dapat lari kencang.

Ketiga janda ini kadang-kadang berbelanja di Marsh, sebuah toko kecil yang menjual makanan mentah dan makanan jadi, tidak jauh letaknya dari telepon umum. Di daerah sesunyi ini tentu saja toko ini tidak mempunyai banyak langganan. Mungkin pemilik toko sendiri tidak mengharap banyak langganan. Pokoknya tokonya bisa jalan, rupanya dia sudah puas. Seperti suasana di sekitarnya, pemilik toko ini tidak ramah, dan hanya berbicara seperlunya. Saya sendiri berbelanja di sana kalau terpaksa, kalau secara kebetulan saya berhalangan pergi ke College Mall, tempat toko-toko murah yang tempatnya jauh dari Fess.

Untuk memerangi kesepian, kadang-kadang saya membuka-buka buku telepon. Dari situ saya mengetahui nomor-nomor Ny. Nolan, Ny. Casper, dan toko Marsh. Lama-kelamaan, setelah musim gugur berjalan tambah jauh, hari-hari makin pendek, angin kencang makin banyak berdatangan, demikian juga hujan disertai kilat dan halilintar, saya bunuh kesepian ini dengan main-main telepon. Mula-mula saya suka menelepon rekaman yang menjelaskan waktu, temperatur, dan ramalan cuaca. Mula-mula cukup, lama-kelamaan kurang memberi manfaat. Saya mulai menelepon beberapa teman kuliah. Seperti halnya di kampus, di telepon mereka juga berbicara seperlunya, hingga akhirnya saya kehabisan akal untuk mencari bahan pembicaraan. Akhirnya saya menelepon Marsh, menanyakan apakah dia menjual pisang, atau apel, atau spageti, atau apa saja, yang akhirnya menjengkelkan pemiliknya. Ny. MacMillan pun rupanya tidak senang kalau saya menelepon dengan alasan yang saya ada-adakan. Seperti pemilik toko, rupanya dia juga tahu bahwa sebetulnya saya tidak mempunyai alasan untuk berbicara.

Akhirnya pada suatu malam hujan saya menelepon Ny. Nolan, menanyakan apakah saya dapat membantu membersihkan pekarangannya. Ternyata dia bukan hanya heran, tapi juga berang. Dia menanyakan apakah pekarangannya kotor dan menjijikan. Ketika saya menjawab “tidak”, dia menanyakan apakah saya mempunyai maksud tersembunyi di belakang tawaran saya. Setelah saya katakan mungkin dia memerlukan bantuan saya, dia bertanya apakah dia nampak sakit atau loyo kok saya menawarkan jasa untuk membantunya. Tentu saja saya menjawab bahwa dia nampak sehat-sehat. Dan dia pun menjawab: “Kalau saya memerlukan bantuan seseorang, tentu saya akan memasang iklan.” Dengan adanya pembicaraan ini saya tidak berani menelepon Ny. Casper.

Pada suatu malam gerimis, terjadi perubahan di loteng Ny. Casper. Ada sebuah lampu menyala di sana. Setiap malam lampu itu menyala. Kemudian saya tahu, bahwa di loteng itu tinggal seorang laki-laki tua sekitar enam puluh lima tahun. Setiap siang dia menongolkan kepalanya melalui jendela, dan membidik-bidikkan sebuah pestol ke tanah, seperti seorang anak kecil yang sedang main-main. Saya yakin yang dipegangnya itu bukan pestol mainan. Kalau saya benar, laki-laki ini bisa mendatangkan bencana. Maka saya pun menelepon Ny. MacMillan. Dia mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan saya, tapi dia berusaha menutup pembicaraan dengan ucapan demikian: “Kalau memang benar di loteng Ny. Casper ada penghuni baru, itu urusan Ny. Casper sendiri. Anda tinggal di sini pun itu urusan saya sendiri. Kalau memang benar laki-laki itu memiliki pestol, tentu dia memilikinya dengan izin polisi. Kalau dia tidak mempunyai izin, tentu pada suatu hari dia akan ditahan.”

Saya cepat mengajukan protes sebelum dia sempat menutup telepon: “Kalau terjadi apa-apa, bukankah kita yang kena celaka?”

Ny. MacMillan pun menjawab: “Kalau kita tidak mengganggu dia, mana mungkin akan terjadi apa-apa?” Dan pembicaraan terhenti di sini.

Dengan alasan akan membeli susu, esok paginya saya berjalan ke Marsh. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan untuk menengok kalau-kalau saya bisa membaca sebuah nama di kotak surat Ny. Casper. Tapi tidak ada nama baru di sana. Pada waktu membayar susu, saya berkata kepada pemilik toko: “Rupanya ada seorang penghuni baru di rumah Ny. Casper.”

Baca juga  Alya

“Ya, sudah beberapa kali dia membeli donat di sini.”

“Siapa namanya?” tanya saya.

“Mana saya tahu?” Jawabnya sambil mengangkat bahu.

Secara kebetulan, pada waktu pulang dari Marsh saya berpapasan dengan Ny. Nolan. “Tahukah, Ny. Nolan, ada seorang penghuni baru di rumah Ny. Casper?” tanya saya.

“Ya, saya tahu,” kata Ny. Nolan, tanpa menunjukkan nafsu untuk berbicara lebih lanjut. Sayang, keinginan saya untuk berpapasan dengan Ny. Casper tidak terkabul.

Setelah agak lama ragu-ragu, malam itu saya menelepon Ny. Casper. “Ny. Casper, saya lihat ada penghuni baru di loteng Anda.”

“Ya, saya menyewakan loteng saya. Mengapa kau bertanya, anak muda?”

“Kalau dia memerlukan teman, saya bersedia berkenalan dengan dia,” kata saya.

“Baiklah, akan saya beritahu dia. Berapa nomor teleponmu, anak muda? Kalau memang dia berminat, saya anjurkan dia menelepon kau.”

Setelah memberikan nomor telepon saya, saya menanyakan nomor telepon laki-laki tua itu. Ny. Casper menjawab, bahwa laki-laki tua itu tidak mempunyai telepon, dan tidak tahu apakah dia mempunyai rencana akan memasang telepon.

Ketika saya menanyakan nama laki-laki tua itu, Ny. Casper mengatakan tidak tahu. “Andaikata dia membayar sewa loteng dengan check, tentu saya tahu namanya. Tapi dia membayar saya dengan uang kontan. Dia hanya mengatakan bahwa dia dulu ikut Perang Dunia Kedua.” Maka terhentilah percakapan dengan Ny. Casper di sini.

Selanjutnya keadaan berjalan seperti biasa, kecuali cuaca yang makin buruk dan temperatur yang makin dingin. Setiap hari laki-laki tua itu tetap membidik-bidikkan pestolnya, dengan sasaran sebuah batu besar di bawah pohon tulip, dan tanpa memuntahkan peluru. Dan setiap malam lampu loteng Ny. Casper tetap menyala. Sementara itu saya tidak pernah menerima telepon dari laki-laki tua itu. Dan saya tidak pernah secara kebetulan berpapasan dengan dia. Sepanjang pengetahuan saya dia tidak pernah keluar rumah, dengan demikian saya tidak mempunyai alasan untuk mengejar dan pura-pura bertemu secara kebetulan.

Pada suatu siang ketika udara sedang sangat buruk, saya menelepon ke kantor telepon, menanyakan apakah di Fess ada seseorang yang baru memasang telepon.

“Siapa nama orang itu?” tanya pegawai telepon.

“Saya tidak tahu. Pokoknya dia tinggal di Fess.”

“Wah, sulit untuk mengetahuinya,” jawab pegawai telepon, “kecuali kalau Tuan tahu siapa namaya. Ketahuilah, Tuan, semenjak datangnya sekian banyak mahasiswa baru permulaan semester musim gugur ini, ribuan orang, minta telepon baru.” Keinginan saya untuk bertanya lebih lanjut menjadi mati.

Keesokan harinya saya ke Marsh untuk membeli donat. “Apakah laki-laki tua yang tinggal di loteng Ny. Casper tadi ke sini?” tanya saya.

“Ya, apakah kau tadi tidak berjumpa dengan dia, anak muda? Baru saja dia meninggalkan toko ini.”

“Oh, begitu?” kata saya agak bingung. Lalu saya bertanya apakah laki-laki tua itu pernah menelepon dia. Pemilik toko menggeleng. Dan usaha saya untuk berpapasan dengan laki-laki tua itu, segera setelah saya keluar dari Marsh, tidak membawa hasil. Berkali-kali saya mengitari Jalan Sepuluh Selatan, Grant, Dunn, Horsetaple dan Sussex, saya tidak melihat berkelebatnya laki-laki tua itu. Ternyata, ketika saya kembali, laki-laki tua itu sudah berada di kamarnya kembali, dan sedang membidik-bidikkan pestolnya ke arah yang sama, seolah-olah menembak berkali-kali, tanpa memuntahkan peluru barang sebutir pun. Saya berharap supaya sekali tempo dia menengok ke arah saya, tapi pengharapan saya tidak pernah terkabul.

Malam itu juga saya memutuskan untuk menulis surat kepada laki-laki tua itu. Karena semua orang tidak tahu namanya, kalau saya tulis nama sembarangan tentu Ny. Casper akan menyampaikannya. Maka di atas amplop saya menulis: ‘Kepada John Dunlap, dengan Alamat Ny. Casper, Jalan Fess 205.’ Surat saya berbunyi demikian: ‘John, bagaimana kalau jam setengah dua belas pagi Rabu yang akan datang, kita bertemu di Marsh? Saya tahu kau suka donat. Perkenankanlah kali ini saya mentraktir kau beberapa donat termasuk kopinya. Wassalam.’ Saya cantumkan nama dan alamat saya.

Malam itu juga saya masukkan surat itu ke kotak pos dekat Marsh. Pada waktu mendekati kotak pos, ada seorang laki-laki tua keluar dari Marsh. Setelah memasukkan surat saya bergegas menuju laki-laki tua itu, tapi dia sudah amblas menikung gang kecil yang menghubungkan Jalan Sepuluh Selatan dengan Jalan Sebelas Selatan. Saya tidak yakin siapa laki-laki tua itu, tapi ada kemungkinan dialah penghuni loteng Ny. Casper. Untuk sementara saya ragu-ragu. Haruskah saya mengejar laki-laki tua itu, ataukah masuk dulu ke Marsh, pura-pura memerlukan roti atau kue, kemudian menanyakan apakah betul dia yang tinggal di loteng Ny. Casper. Mungkin karena ragu-ragu, ketika akhirnya saya putuskan untuk masuk saja ke gang, saya sudah kehilangan jejaknya. Barulah setelah saya kembali ke Marsh, saya mendapat kepastian bahwa laki-laki itu memang yang tadi saya cari. “Kali ini dia makan sandwich ikan tuna,” kata pemilik toko.

Tidak seperti biasanya, malam itu lampu di loteng Ny. Casper tidak menyala. Saya tunggu sampai lama, lampu tetap tidak menyala. Tangan saya menjadi gatal. Akhirnya keinginan untuk menelepon Ny. Casper tidak bisa saya bendung. “Ny. Casper,” kata saya setelah minta maaf karena meneleponnya malam-malam, “tentunya kau sudah memberi tahu perihal saya kepada laki-laki yang tinggal di loteng, bukan?”

Atas pertanyaan ini Ny. Casper menjawab tegas: “Tentu saja, anak muda, tapi rupanya dia kurang berminat untuk berbicara dengan siapa pun.”

“Eh, mengapa lampu di kamarnya tidak menyala, Ny. Casper?”

“Wah, wah, anak muda, mengapa saya harus mengurusi soal itu segala? Kan dia sudah menyewa loteng saya. Mau berbuat apa pun dia tidak akan saya larang, selama dia tidak merusak dan menimbulkan huru-hara.”

Karena belum puas, saya terus mendesak, “Ny. Casper, maaf atas pertanyaan saya ini. Kalau tidak salah dia memiliki pestol, benarkah ini?”

“Wah, wah, kau ini ada-ada saja, anak muda. Mau apa kau kalau dia punya, dan mau apa kau kalau dia tidak punya? Nah, selamat malam, anak muda. Saya harap kau tidak menanyakan soal dia lagi, kalau tidak perlu sekali.” Dan pembicaraan terhenti.

Keadaan hari-hari berikut berjalan seperti biasa. Pada hari Rabu, semenjak pagi saya berusaha mengawasi rumah Ny. Casper tanpa henti. Seperti tidak terjadi apa-apa, sekitar jam setengah sebelas laki-Iaki itu membuka jendela, kemudian main-main dengan pestolnya. Kemudian dia menutup jendela. Sementara itu saya siap untuk meninggalkan rumah kapan saja saya melihat dia meninggalkan pekarangan Ny. Casper. Tapi dia tidak pernah nampak. Sampai menjelang pukul setengah satu laki-laki tua itu belum juga nampak. Barulah saya mulai putus asa. Saya meninggalkan rumah, berjalan perlahan-lahan ke arah Marsh.

Saat itu jalan masih basah mengandung sisa-sisa hujan sepanjang malam dan pagi tadi. Dekat Marsh saya heran melihat surat saya tergeletak di pinggir jalan dekat got, kuyup oleh basahnya sisa hujan, tapi tidak tergelincir ke dalam got karena terhalang oleh sepotong ranting kayu yang jatuh dari pohon besar di atasnya. Ternyata surat itu sudah terbuka. Saya tidak tahu apakah laki-laki tua itu sengaja membuang surat saya, ataukah surat itu terjatuh.

“Apakah si laki-laki tua tadi ke sini?” tanya saya kepada pemilik toko setelah saya mengambil susu. Pemilik toko mengangguk. “Pukul berapa kira-kira?”

“Yah, kira-kira satu jam yang lalu begitulah,” jawab pemilik toko. Oh, kalau begitu dia meninggalkan rumah ketika saya masuk kamar mandi.

“Apakah kau sekarang lebih banyak mengenal dia?” tanya saya lagi.

Pemilik toko menjawab: “Tidak. Oh, ya, tadi dia berkata, bahwa ingin sekali dia bergaul dengan anak-anak muda sekitar dua puluh tahunan, sehat jiwa dan raganya, untuk dilatih memanggul senjata kalau perlu. Lalu dia mengoceh, katanya dia dulu pernah menjatuhkan bom di atas kapal Jepang. Entahlah, saya tidak tahu macam apa orang itu.” Kemudian pemilik toko sibuk menempeli harga-harga di atas kaleng-kaleng makanan yang rupanya baru saja tiba. Usaha saya untuk memancing mengenai laki-laki tua itu lebih lanjut kandas.

Siang itu laki-laki tua di loteng Ny. Casper tidak membuka jendela. Hanya saja, menjelang malam, saya melihat keadaan samar-samar yang agak aneh. Ny. Casper meninggalkan rumah, berjalan ke arah mobilnya dalam keadaan tidak tegap. Karena hari sudah gelap, saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hanya saja, saya mempunyai kesan seolah-olah dia dalam keadaan tidak sehat. Saya segera turun, tapi begitu saya mencapai jalan, mobil Ny. Casper sudah menderu. Di tikungan jalan, mobil itu berlari terlalu ke kanan. Kemudian, ketika membelok, mobil itu hampir saja mencium pojok jalan sebelah sana. Sampai malam saya tidak melihat tanda-tanda bahwa dia sudah pulang. Seluruh rumahnya, termasuk loteng, nampak gelap.

Sebetulnya saya ingin menelepon Ny. MacMillan, tapi kemudian saya pikir kurang ada gunanya. Tapi, ketika tiba-tiba saya mendengar suara tembakan, saya segera menelepon dia. Telepon berdering agak lama. Rupanya dia sudah tidur atau tertidur. Dan memang dia menunjukkan nada suara agak jengkel. Ketika dia bertanya suara tembakan apa, saya sendiri menjadi ragu-ragu. Suara tembakan pestol tentunya tidak seberat itu. Tapi tokh saya menjawab: “Pestol.”

Baca juga  Mata yang Menyiksa

Ketika Ny. MacMillan menanyakan dari mana asalnya, saya juga menjadi ragu-ragu. Jelas saya mendengar tembakan, tapi tidak jelas dari mana asalnya. Tapi tokh saya menjawab: “Dari loteng Ny. Casper.”

Ny. MacMillan berkata, siapa pun tidak perlu mencampuri urusan Ny. Casper, kalau Ny. Casper sendiri tidak minta tolong. Lalu saya menceritakan pengalaman saya melihat Ny. Casper tadi.

Atas penjelasan ini Ny. MacMillan mengucapkan terima kasih. “Kalau begitu dia terserang penyakit kecapaian lagi. Apakah saya belum menceritakan kepadamu, anak muda, bahwa dia mengidap penyakit itu?”

Setelah saya mengatakan “belum”, Ny. MacMillan menjelaskan bahwa sudah lama Ny. Casper menderita penyakit jahanam itu, dan dokternya sudah memberinya nasihat untuk langsung ke dokter atau ke rumah sakit setiap kali ada gejala serangan. “Seharusnya dia memberi tahu kita tadi, supaya kita dapat menolongnya,” sambungnya.

Ketika saya menanyakan soal tembakan lagi, Ny. MacMillan menjawab: “Kalau kamu menganggap ada baiknya untuk melapor pada polisi, silakan, anak muda, tapi kamu harus siap ditanyai macam-macam yang mungkin akan membuat kamu pusing.”

Tanpa meminta nasihat Ny. MacMillan, saya menelepon Ny. Nolan. Sampai lama sekali telepon berdering. Dan seperti Ny. MacMillan, Ny. Nolan juga menyemburkan nada marah. Setelah menegaskan bahwa dia tidak mendengar suara apa-apa, dia mendesak apakah betul saya tadi mendengar sebuah tembakan. Ketika saya mengatakan “betul”, dia mendesak dari manakah asal tembakan itu.

Seolah tanpa ragu-ragu saya berkata: “Loteng Ny. Casper.”

Dengan nada minta persetujuan, dia bertanya: “Kalau begitu, tentu si laki-laki tua itu menembakkan pestolnya, bukan?”

Seolah tanpa ragu-ragu saya menjawab: “Ya”. Karena saya tidak tahu harus berkata apa lagi, terpaksa saya bertanya: “Eh, Ny. Nolan, bagaimana andaikata kita melapor soal tembakan ini kepada polisi?”

“Oh, silakan, silakan, anak muda, asal kau berani dikecam sebagai orang gila kalau kau tidak bisa membuktikan bahwa laki-laki tua itu benar-benar melepaskan tembakan.” Keinginan saya untuk membicarakan soal tembakan menjadi kendur. Dan ketika saya bercerita mengenai pengalaman saya melihat Ny. Casper tadi, nada dan jawaban Ny. Nolan mirip dengan tanggapan Ny. MacMillan.

Untuk diam lebih lama saya tidak betah. Maka saya meninggalkan rumah, berjalan perlahan-lahan ke arah Marsh, dengan harapan melihat sesuatu di rumah Ny. Casper, atau paling tidak Marsh masih buka. Seluruh rumah Ny. Casper gelap. Lampu kecil dekat beranda juga tidak menyala. Tapi saya dapat mendengar suara lamat-lamat seseorang menangis di beranda. Tentu saja saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan untuk memasuki pekarangan Ny. Casper saya tidak mempunyai alasan apa-apa kecuali ingin tahu. Kalau tokh saya masuk dan nanti terjadi apa-apa, mungkin alasan hanya ingin tahu ini akan mempersulit saya sendiri.

Ternyata Marsh sudah tutup. Maka saya membelok, menuju ke blok lain. Seperti Fess, daerah ini juga sepi dan gelap. Dalam keadaan seperti ini penyesalan mengapa dulu saya menyewa tempat di Fess, timbul kembali. Hampir semua orang yang tinggal di kawasan ini sudah tua, hidup sendirian, tanpa teman, dan memang tidak suka berteman. Menurut sejarah kota, memang kawasan ini dulu ramai, tapi sudah lama kegairahan kota menggeser ke College Hall. Di pojok Park Avenue saja ada dua bekas gedung bioskop yang tidak pernah diurus lagi. Tapi saya sudah terlanjur berjanji untuk tinggal di loteng Ny. MacMillan sampai akhir Desember, masa berakhirnya semester musim gugur ini. Ketika saya kembali dan melewati rumah Ny. Casper lagi, saya tidak mendengar suara apa-apa. Rumah tetap gelap.

Karena sibuk, esok paginya seolah saya sudah lupa peristiwa malam itu. Pagi saya harus ke perpustakaan, dari sana langsung ke kuliah. Dan karena masih banyak yang harus saya baca, dan nanti saya harus kuliah lagi, saya tidak pulang, tapi makan siang di Commons. Commons adalah sebuah cafetaria di Gedung Union, tempat berpusatnya sebagian besar kegiatan mahasiswa. Ketika saya masuk Commons, hampir semua kursi di ruang makan sudah penuh. Di pintu masuk sebelah sana juga banyak orang antri berderet untuk mengambil makanan. Setelah mengambil makanan dan minuman, saya antri panjang lagi, sebelum diizinkan membawa makanan itu ke ruang makan. Sementara itu kotak musik di ruang makan meraungkan lagu-lagu countrymusic.

Entah mengapa, saya merasa agak limbung. Kemudian saya sadari bahwa saya agak pusing. Nah, pada saat saya menengok ke pintu berputar yang menghubungkan ruang makan dengan pekarangan luar Gedung Union, saya melihat laki-laki tua yang tinggal di loteng Ny. Casper berjalan menuju ke pintu. Di depan saya masih ada lebih kurang lima orang yang antri akan membayar makanan, dan di belakang saya masih ada lebih kurang sepuluh orang. Tidak mungkin saya meletakkan baki makanan lalu keluar mengejar laki-laki itu. Tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanyalah menunggu dengan sabar giliran untuk membayar. Setelah membayar, ada lagi kesulitan menyusul. Semua kursi yang tadi kosong sudah ditempati orang. Dengan demikian tidak mungkin saya meletakkan baki makanan di meja seseorang lalu keluar sebentar untuk menengok kalau-kalau laki-laki itu masih di pekarangan. Akhirnya saya terpaksa masuk ke ruangan Kiva di lantai bawah. Dan pada waktu saya berjalan menuruni tangga, beberapa kali saya merasa oleng lagi.

Semenjak peristiwa ini, ada beberapa hal yang dapat saya catat: Laki-Iaki tua di loteng Ny. Casper tidak pernah bermain-main pestol lagi di jendela, kalau malam lampu di kamarnya tetap menyala, Ny. Casper belum menunjukkan gejala kembali, dan saya sering berkeliaran di Gedung Union, sebuah Gedung yang besar, mempunyai banyak tingkat, mempunyai banyak ruangan, mempunyai banyak meja kursi untuk belajar, mempunyai toko-toko, kantor pos, dan kantor-kantor lain milik universitas. Dan ternyata saya tidak pernah melihat berkelebatnya laki-laki tua itu.

Pernah sekali saya ke Marsh, dan kata pemilik toko, laki-laki tua itu masih berlangganan donat di sana. Jam berapa dia datang, kata pemilik toko, tidak dapat dipastikan. Dan ada satu hal lagi yang perlu saya catat: setiap kali saya bangkit dari tiduran, kepala saya menjadi pusing, dan pandangan mata saya berkunang-kunang beberapa saat. Kadang-kadang pada waktu bangkit dari duduk pun saya mengalami perasaan sama. Sementara itu, pada waktu berjalan kadang-kadang saya merasa oleng.

Pada suatu hari, saya berjalan dari arah toko buku dalam Gedung Union menuju ke Commons, untuk terus keluar melalui pintu dekat Ruang Piagam menuju ke Gedung Ballantine. Sebentar lagi saya harus mengikuti ujian di gedung itu. Nah, pada saat inilah saya melihat laki-laki tua itu berkelebat dari arah Commons ke ruang kamar kecil. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan ini. Dalam waktu singkat saya mencapai ruang kamar kecil. Ruangan ini mempunyai banyak kaca rias, banyak tempat untuk mencuci tangan, banyak alat listrik untuk mengeringkan tangan, banyak tempat untuk kencing, dan banyak kakus. Tepat pada waktu saya mencapai ruangan untuk kencing, laki-laki tua itu menutup salah sebuah kakus. Meskipun tidak ingin kencing, saya terpaksa kencing. Sekali lagi saya merasa oleng. Dan setelah selesai kencing saya masih pura-pura kencing. Lalu saya mencuci tangan, dan saya sengaja berlambat-lambat.

Nah, pada waktu saya mencuci tangan, laki-laki tua itu berkata “dor! dor! dor!”, seperti seorang anak kecil yang sedang menembak dengan pestol mainannya. Saya menunggu, dan di dalam kakus dia masih terus mengucapkan “dor! dor! dor!” Beberapa orang nampak tertarik, tapi hanya sebentar, dan kemudian mereka tidak perduli. Untuk membuang waktu, saya memasang alat listrik pengering tangan. Meskipun alat ini mengumandangkan dengung tajam, suara “dor! dor! dor!” masih kedengaran. Beberapa orang yang baru saja masuk ke ruangan itu nampak tertarik. Apa yang terjadi kemudian saya tidak tahu, karena saya harus cepat-cepat berjalan ke Gedung Ballantine.

Selesai ujian kepala saya sakit seperti kena godam, dan tubuh saya panas seolah terjilat api. Dan saya terpaksa pulang naik taksi. Pada waktu taksi melewati Dunn Meadow saya melihat segerombolan anak muda sedang asyik bermain-main. Ternyata laki-laki tua itu menjadi tontonan. Dia bergaya seolah-olah menembaki mereka dengan pestol di tangannya, dan mereka bergerak mundur sambil mengangkat tangan seolah takut kena tembak. “Oh, sang veteran sedang bergaya,” kata sopir taksi.

Ketika saya menanyakan apa maksudnya, sopir taksi menjelaskan bahwa sudah beberapa kali ini dia melihat laki-laki tua itu berbuat demikian di Dunn Meadow. “Dia mengaku pilot bomber Perang Dunia II,” kata sopir taksi. “Pesawatnya tertembak Jepang di Pacific, tiga orang anak pesawat termasuk dia sendiri berhasil menyelamatkan diri dengan pelampung. Lalu mereka ditangkap Jepang, disiksa, dibiarkan kelaparan, dan dibiarkan sakit. Dua temannya tewas, dan dia sendiri hampir mati karena beri-beri. Setelah Jepang keok dia dirawat di rumah sakit tentara, akhirnya kawin dengan juru-rawat rumah sakit itu, dan diberi makan paling sedikit lima kali sehari untuk memberantas sisa-sisa kelaparan. Dia punya dua anak laki-laki, satu tewas di Vietnam, yang lain terbenam di sungai Ohio ketika sedang main-main di sana. Dan katanya, belum lama ini istrinya juga meninggal karena kanker di ususnya.”

Baca juga  Gempa di Ujung Tahajud

Malam itu saya tidak tahan lagi. Saya sakit, memerlukan perawatan. Setelah menelepon Rumah Sakit Mahasiswa dan dipersilakan segera datang, saya menelepon taksi. Saya terpaksa menggerutu ketika taksi datang agak terlambat. “Maaf saja, Bung,” kata sopir taksi, “tadi saya dicegat orang ketika memasuki Jalan Sepuluh Selatan, terpaksa saya balik, dan memasuki Fess melalui Park Avenue. Ugal-ugalan benar orang itu, masakan ada mobil jalan kok dia menodongkan pestol di tengah jalan.”

Saya ingin tahu lebih banyak, tapi karena kepala saya sakit seperti kena godam, saya diam. Maka taksi pun melayap ke Woodlawn Avenue. Sial benar, ketika taksi akan memasuki Jalan Sepuluh Selatan, laki-laki tua yang tinggal di loteng Ny. Casper itu berlari ke tengah jalan, menudingkan pestolnya ke arah sopir taksi. “Eh, orang ini lagi!” teriak si sopir, sambil menggeblaskan taksinya ke arah Stadion Tua.

Apa yang terjadi selanjutnya malam itu tidak jelas bagi saya. Mungkin saya setengah pingsan beberapa saat setelah saya tiba di rumah sakit. Apa yang terjadi hari berikutnya pun saya kurang tahu, kecuali tubuh saya panas bagaikan terbakar, dan beberapa kali saya dikenakan pemeriksaan laboratorium. Dan pada hari ketiga saya merasa agak sehat. Keadaan saya dinyatakan tidak begitu berbahaya, dan saya akan diizinkan meninggalkan rumah sakit dalam beberapa hari ini.

Sementara itu Ny. MacMillan sudah menelepon menanyakan keadaan saya. Dia juga menceritakan bahwa Ny. Casper sudah beberapa hari ini kembali dari Rumah Sakit Pusat Bloomington. Ketika saya menanyakan perihal laki-laki tua di loteng Ny. Casper, Ny. MacMillan mengatakan bahwa Ny. Nolan pernah mengancam laki-laki itu untuk melaporkannya ke kantor polisi atas tindakannya menakut-nakuti Ny. Nolan dengan pestolnya. Ny. Casper sendiri juga menyatakan kurang senang dengan laki-laki ini, karena, katanya, laki-laki ini kadang-kadang berangasan.

Hari itu juga koran kampus yang beroplah lima puluh ribu lembar memuat sebuah surat pembaca mengenai laki-laki itu. Penulis surat yang bernama Sue Harris ini mengatakan, sudah beberapa hari ini di sekitar Gedung Union dan Dunn Meadow ada seorang laki-laki tua berkeliaran sambil mengacung-acungkan pestolnya kepada siapa saja yang berjalan di dekatnya. Harris sendiri tidak yakin apakah pestol itu sungguhan atau mainan. Kalau tokh laki-laki tua ini tidak mengganggu keamanan, kata Harris, paling tidak dia mengganggu pemandangan.

Esok harinya koran ini menurunkan tiga surat pembaca mengenai laki-Iaki ini. Yang satu, ditulis oleh Susan Tuck, mempunyai nada yang sama dengan surat Harris. Yang dua, masing-masing ditulis oleh Cindy Cornell dan Paul Burnore, melawan surat Harris. Katanya, siapa pun mempunyai hak untuk main-main. Barang siapa tidak suka ditodong, jangan mendekati laki-laki tua ini, dan barang siapa merasa pandangan matanya terganggu, jangan melihat dia. Baik Cornell maupun Burnore kemudian memberi kesaksian, bahwa kenyataannya laki-laki ini mempunyai jasa juga pada beberapa orang yang suka main-main, karena, katanya, dengan adanya laki-laki ini beberapa orang yang sedang iseng menjadi terhibur oleh polah tingkahnya.

Pada hari ketiga, koran yang sama membuat gambar si laki-laki yang memakan tempat dua kolom. “Laki-Laki Tua Tanpa Nama”, komentar gambar itu. Setelah menyatakan banyak menerima surat dan telepon mengenai laki-laki tua ini, redaksi menulis: “Laki-laki tua yang menolak untuk menyebutkan namanya ini mempunyai rencana untuk menyewa menara Gedung Union di tingkat dua puluh tiga, dan melengkapinya dengan sebuah mitraliyur dan beberapa kotak peluru, untuk mempertahankan diri kalau ada orang yang berusaha menyakitinya.”

Hari itu juga saya diberi surat izin untuk meninggalkan rumah sakit. Dan setelah perawat menyatakan bahwa taksi untuk saya sudah datang, saya pun meninggalkan rumah sakit. Perasaan saya muram, terpengaruh oleh cuaca buruk. Rasanya enggan untuk kembali ke rumah Ny. MacMillan. Ketika taksi meninggalkan rumah sakit, gumpal-gumpal salju yang pertama pada akhir musim gugur ini mulai turun.

Selesai menurunkan saya di depan rumah Ny. MacMillan, taksi terus menggeblas. Baru saja taksi membelok di tikungan dekat rumah Ny. Nolan, saya mendengar Ny. Casper berteriak ketakutan: “Tolong! Tolong! Tolong!” Sementara itu saya juga mendengar laki-laki yang menyewa lotengnya itu berteriak-teriak: “Awas, akan saya tembak kamu! Awas, akan saya tembak kamu!” Dan memang, Ny. Casper lari kencang menuju saya, diikuti oleh laki-laki tua itu yang mengacung-acungkan pestolnya ke arah Ny. Casper. Melihat wajah Ny. Casper yang begitu ketakutan, dan wajah laki-laki tua yang bersungguh-sungguh, timbul niat saya untuk menubruk laki-laki tua itu dan memberi kesempatan Ny. Casper untuk lari terus. Dan ketika saya menubruk, bukannya dia yang terpental, tapi saya. Maka kumatlah pening di kepala saya. Pandangan mata pun menjadi berkunang-kunang. Pada saat akan berdiri, saya mendengar sebuah letupan senjata api. Disusul sebuah letupan lagi. Dan disusul oleh sebuah letupan lagi. Suara semacam itulah yang saya dengar pada suatu malam setelah Ny. Casper meninggalkan rumahnya. Di antara yang saya lihat samar-samar di luar dugaan adalah dua sosok tubuh tergeletak di pinggir jalan, masing-masing laki-laki tua itu dan Ny. Casper. Sementara itu salju turun makin lebat.

Tubuh laki-laki tua itu berlumuran darah, dan darah itu mengalir perlahan-lahan di atas trotoar, disentuh oleh gumpal-gumpal salju. Entah mengapa, saya berlutut dekat laki-laki ini. Matanya membuka sebentar, seolah-olah ingin memberi tahu saya sesuatu, kemudian menutup kembali. Dan setelah itu terdengarlah lenguh panjang dan kuat dari mulutnya. Dan entah mengapa, saya mengelus-elus kepalanya. Dan ketika saya berusaha mengatupkan mulutnya, ternyata mulut itu kaku bagaikan baja. Dan entah mengapa, saya menangis. Ternyata dekat saya ada seorang perempuan tua berdiri.

Setelah perempuan itu berbicara, barulah saya sadar bahwa dia Ny. Nolan. “Sayalah yang membunuh laki-laki jahanam ini,” kata Ny. Nolan dengan nada tidak ingin disalahkan. “Kau tahu dia akan membunuh Ny. Casper, anak muda, maka saya datang memberi pertolongan pada perempuan malang ini. Ketahuilah, anak muda, sudah berkali-kali laki-laki ini mengancam akan menghabisi nyawa saya.”

Ketika saya berdiri, barulah saya tahu bahwa Ny. Nolan membawa sebuah senapan pendek bermoncong dua. Dan saya menjadi yakin, malam itu, setelah Ny. Casper meninggalkan rumahnya, senjata inilah yang meledak, bukannya pestol laki-laki tua yang malang ini. Dan saya menjadi benci kepada Ny. Nolan. Saya teringat tupai-tupai dan burung-burung yang mati dibinasakan oleh tangannya. Perempuan ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah seorang pembunuh.

Ketika beberapa polisi dan ambulans datang, saya bersikeras untuk menolak dibawa ke kantor polisi. Akhirnya mereka menuruti permintaan saya untuk dibawa kembali ke rumah sakit. Dan dengan diantar oleh dua polisi universitas, saya dikembalikan ke Rumah Sakit Mahasiswa.

Malam itu saya tidak dapat tidur. Meskipun dokter jaga malam akhirnya mengizinkan saya untuk menelan pil tidur, mata saya tetap terbuka. Saya terus dikejar oleh pandangan laki-laki tua itu sebelum mengatupkan matanya. Dan saya tidak bisa menghilangkan bayangan mulutnya yang menganga dan kaku bagaikan baja. Apakah kiranya yang akan diucapkan? Dan alangkah kejamnya Ny. Nolan.

Dari polisi saya mendapat penjelasan, bahwa pestol di tangan laki-laki tua itu bukannya pestol mainan, tapi kosong. Sedang Ny. Casper menggeletak di trotoar bukannya kena tembakan, tapi terjatuh karena ketakutan, dan akhirnya pingsan setelah mendengar tembakan. Dan seperti yang diakui oleh Ny. Nolan sendiri, begitu dia melihat dari lotengnya laki-laki tua itu membawa pestol mengejar Ny. Casper sambil mengancam akan membunuhnya, dan Ny. Casper sendiri berteriak-teriak minta tolong, dia langsung mengambil senapannya dengan maksud menghajar laki-laki tua itu. Kepada polisi dia juga mengatakan bahwa laki-laki tua ini sudah sering mengancam akan menembaknya.

Baik Ny. Nolan maupun Ny. MacMillan juga memberi tahu polisi, bahwa saya sudah sering melihat laki-laki tua itu memain-mainkan pestolnya, bahkan, demikian kata mereka, saya sudah pernah mendengar laki-laki itu meletupkan pestolnya pada suatu malam. “Jadi tidak mungkin bahwa dia tidak memiliki peluru,” kata Ny. Nolan kepada polisi. ***

.

.

(untuk Juwono Sudarsono)

 (London, 1976)

.
Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama. Laki-Laki Tua Tanpa Nama.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!