Cerpen, Kompas, Miranda Seftiana

Dilalap dalam Lelap

Dilalap dalam Lelap - Cerpen Miranda Seftiana

Dilalap dalam Lelap ilustrasi RE Hartanto/Kompas

4.4
(8)

Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 03 Desember 2023)

KETIKA aku bertanya seperti apa rupa Abah, Uma akan lekas-lekas menudingkan telunjuk ke arah sebatang pohon enau yang paling kokoh dan lebat ijuknya. Ijuk-ijuk tua dengan warna hitam pekat. Ijuk yang tak lagi pantas disebut bulu sebab bilahnya terlampau besar, mirip ruas lidi di daun enau itu sendiri.

“Berarti Abah tua dan hitam ya?” celutukku asal sembari mengunyah buah gitaan.

“Bukan begitu maksudnya, Lindung!” sergah Uma tak terima.

Aku suka bila Uma sudah begini, kentara sekali ia mencintai Abah sepenuh hati.

“Lantas bagaimana maksudnya, Uma?” kejarku lagi. “Pokok enau di sini kan tua-tua, tidak pernah ada yang memanen ijuk, nira, bahkan buah kolang-kalingnya.”

“Abahmu itu serupa batang enau. Tubuhnya kokoh dan liat untuk melindungi kita dari serangan apa pun. Ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, segala yang didapat dibagi dengan seadil-adilnya. Persis sebatang enau di depan kita ini. Ijuk, batang, daun, juga buahnya tumbuh lebat semua sebab dialiri nutrisi yang adil dari akar. Seperti itulah hakikat pemimpin yang semestinya, Lindung. Melindungi, adil ….”

“Dan tidak mementingkan diri sendiri!” sambarku mendahului. “Satu lagi, tidak memihak kaum tertentu saja.”

“Itu sudah sifat makhluk di bumi ini, Nak. Selalu ada keinginan memperoleh sesuatu lebih banyak, kecuali mereka telah belajar perihal cukup.”

Uma menyudahi ceritanya tentang Abah ketika matahari senja telah turun ke balik rerimbun daun. Lekas ditariknya tubuhku yang mulai mirip sebatang enau muda untuk segera meniti dahan demi dahan. Sesekali kami melompat hati-hati. Saling jaga agar tak terinjak dahan yang telah lapuk dimakan hujan. Bukan jalur yang baik memang, tetapi lewat jalan tanah juga bukan pilihan yang tepat.

Vegetasi hutan cukup lebat. Tak ada yang berani membabat hutan adat. Tak sering juga warga kampung mau menyusuri tempat ini, kecuali ada rimpang dan akar yang mesti mereka cari. Biasanya untuk bahan tatamba. Karena itu, berjalan di atas tanah pada saat senja menuju malam bukan pilihan kami. Terlalu berbahaya. Ada katikih yang apabila menyengat bisa membuat gatal dan demam berhari-hari. Juga kalajengking atau ular berbisa. Salah-salah kami tinggal tulang-belulang tak dikenali ketika ditemukan nanti.

Aku dan Uma tak mau mengambil risiko itu. Kami hanya hidup berdua setelah Abah mati terpanggang di lahan gambut yang terbakar. Uma juga sama. Tangan kanannya ada bekas melepuh yang meski telah sembuh tetap saja menyisakan nyeri. Kondisi yang membuatnya tak secekatan dulu menjangkau buah-buahan di hutan. Sebab waktu itu Uma masih berupaya menyelamatkan Abah yang terjebak dalam rawa gambut kering dengan bara api di dalamnya.

Baca juga  Kak Ros

Usiaku baru beberapa bulan ketika mereka mengajari mencari pucuk kelakai untuk pertama kali. Tanpa sengaja Abah menginjak tanah gambut yang masih menyisa bara api dari kebakaran lahan. Tubuh Abah terjebak, terpanggang hidup-hidup tanpa bisa melawan.

“Pergi kalian, selamatkan diri!” teriak Abah di sela rasa sakitnya.

Asap pekat mengepul kemudian. Disusul api yang menjalar cepat. Uma berlari sekuat tenaga sembari menggendongku di depan dada. Tangannya terluka. Satu-satunya alasan yang membuat ia kuat, ia tahu kami harus selamat. Aku lebih tepatnya. Satu-satunya peninggalan berharga dari Abah yang tersisa.

Sekali waktu, igau kejadian itu masih mengusik hidupku. Alasan yang membuat Uma senantiasa membangun peristirahatan kami di atas sebatang pohon tinggi dekat sungai. Sebab Uma percaya, air akan menyelamatkan kami dari ganasnya api.

Uma peramu yang hebat. Ia betina yang cerdas dan cermat. Itu pendapatku. Mungkin mendiang Abah juga. Kemampuan yang membuatnya lebih memilih Uma daripada betina lain. Sebut saja putri kepala koloni, anak sanak famili, bahkan anak pamannya sendiri yang kini memimpin kelompok kami. Kelompok mendiang Abah maksudku. Sebab mereka tak pernah benar-benar menerima kehadiranku dan Uma, kecuali sebatas perasaan masa lalu.

Aku sering sedih oleh perasaan tersisih. Kadang kala berandai-andai juga bagaimana nasib kami jika Abah masih ada? Tentu tak semuram saat ini. Abah sang pelindung yang serupa sebatang pohon enau sebagaimana cerita-cerita Uma.

Namun hidup tak terlalu memberi kami banyak pilihan. Kami butuh perlindungan dari koloni. Uma cepat beradaptasi. Ia lekas mengenali hutan yang bukan tanah kelahirannya sendiri. Kami mesti lebih mandiri, sebab sering tak diajak mencari makanan. Hanya sesekali, ketika Sandu, putri kepala koloni sedang berani menentang ayahnya sendiri. Sandu sering mengajak atau membagi makanan yang ia dapat pada kami.

Uma tak menyerah pada keadaan. Ia kemudian menjelajah sejauh ia mampu, meski sering digunjing memisahkan diri. Tetapi Uma tak peduli, selama nutrisiku terpenuhi. Pertama-tama Uma menemukan pohon pisang hutan. Buahnya banyak sekali biji. Rasanya agak kelat. Aku tak suka dan menangis saat memakannya.

Waktu-waktu kemudian Uma telah lihai membaca alam. Ia mulai paham letak-letak pohon dengan buah-buahan yang enak. Dekat rawa gambut biasanya Uma sering menemukan buah karamunting dan bilaran. Karamunting berwarna merah keunguan, daunnya hijau agak berbulu. Rasa buahnya saat masuk mulut mirip mengunyah butiran pasir halus dengan citarasa manis. Kata Uma daun karamunting bisa mengatasi batuk.

Sementara buah bilaran berwarna kuning terang. Dalamnya mirip lender dengan biji-biji kecil. Rasanya manis dengan sedikit asam. Buah yang masih mentah berwarna hijau dan diselubungi bulu.

Baca juga  Wanita yang Menjahit Wajahnya Sendiri

Aku paling suka jika Uma menemukan anai-anai juga ulat dalam batang paya atau sagu. Rasanya ada sensasi yang enak meledak dalam mulut. Sayang aku tidak bisa saban hari memakan ratu anai-anai atau ulat sagu. Uma sering menemukan kedua makanan itu ketika musim hujan. Sementara kini kemarau terasa lebih panjang, ditandai dengan rawa yang kering kerontang.

“Akhirnya!” seru Uma terlihat girang dan lega. Tangannya menggenggam erat sebatang, eh serumpun, tak tahu tepatnya, hanya saja aku melihat Uma memegang erat-erat tanaman berbunga putih. Bunganya wangi. Aku suka aroma bunga ini.

Ia tumbuh di ketiak-ketiak pohon yang hampir mati. Tumbuh menjuntai ke arah tanah bukan matahari. Tumbuhan yang aneh.

“Ini namanya anggrek tawa-tawa,” terang Uma menyerahkan sebatang kepadaku. Batangnya agak gendut di bawah dan kurus pada bagian yang berbunga.

“Apa ini makanan yang enak?” tanyaku sambil mengamati bolak-balik. Setahuku bunga yang wangi rasanya tidak enak, cenderung kelat dan sepat.

“Coba saja.”

“Cuih!” Aku meludah berkali-kali, berusaha memusnahkan rasa getir di lidah.

Uma tergelak menyaksikan tingkahku.

Bongkol gendut tadi menyisakan serabut. Dalamnya berwarna putih kehijauan.

“Bukan makanan kesukaanku.”

Uma makin tertawa. “Ini memang bukan untuk dimakan, Lindung.”

“Lalu mengapa Uma memintaku mencoba?”

“Karena kau perlu tahu cara mengolah bongkol anggrek ini agar bisa menjadi obat.”

Uma dengan telaten melumat bongkol anggrek tawa-tawa hingga halus. Ia meludahkannya, namun bukan ke tanah melainkan telapak tangan. Secara perlahan Uma membalurkan lumatan bongkol anggrek itu ke dadaku. Ada perasaan sejuk yang perlahan menjadi dingin.

“Ini akan membantu mengatasi sesak napas.”

Mata Uma menuding nanar ke tanah bukit di seberang sungai. Asap membubung dari bakaran daun yang ditumpuk dengan batang-batang kayu.

“Tahun ini pembakaran lahan semakin sering,” keluh Uma.

“Bukankah setiap tahun mereka membuka hutan untuk meladang dan huma dengan membakarnya terlebih dahulu?”

“Tetapi tahun ini lebih sering, bertanam padi seperti tak mengenal musim. Bahkan andai yang ditanam kacang dan umbi pun takkan sesering ini.”

“Betul juga. Aku malah sering menemukan buah-buahan merah kecoklatan di sungai. Kulitnya terasa keras sekali, bagian dalamnya juga hanya serabut jingga. Daging buahnya mirip kelapa tapi kecil. Tidak enak dimakan. Kenapa mereka menanam buah aneh itu ya, Uma?”

“Itu buah sawit yang terlepas dari tandan. Buahnya memang tidak untuk dimakan langsung, perlu api untuk mengolahnya menjadi minyak. Perlu api juga untuk membuat tanah-tanah lapang sebelum ia ditanam.”

Beberapa pasang mata menatap kami yang sedang membasuh tangan dari getah anggrek tawa-tawa. Mata mereka memicing tajam. Kami lekas berlari ke dalam hutan sebelum mereka pergi menyeberangi sungai yang meski berarus cukup deras tetapi tak seberapa dalam.

Baca juga  Piagam

Aku dipaksa bangun oleh batuk yang menyesakkan. Mataku perih. Hari masih malam tetapi cahaya matahari terasa demikian terang dan dekat. Aku tergeragap begitu sadar ini bukan matahari tapi api!

Kuraba samping kiri, tempat biasa Uma terbaring. Tubuh Uma masih ada. Kugoyangkan agar ia terbangun juga. Nihil. Uma lunglai tanpa daya. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dadanya. Aku meraung, memeluk Uma dalam asap pekat yang mengepung. Aroma hangus di mana-mana.

“Pembakar jahanam!” umpatku pada siapa pun yang melayapkan api di hutan adat ini.

Belum reda aku mencerna keadaan, seruas tangan menarikku pergi, meninggalkan tubuh kaku Uma dalam bekap asap dan jalar api yang kian mendekat.

“Ayo selamatkan diri!” teriak Sandu parau. “Hanya kita yang tersisa.”

Hari telah tinggi. Aku dan Sandu memandangi hutan adat dari kejauhan. Hanya tersisa aku, Sandu, dan Sigar, adik bungsunya dari sebelas anggota koloni. Ayah Sandu dan Sigar yang merupakan pemimpin kami turut terpanggang dalam kebakaran dini hari tadi. Selain Umaku sendiri.

Sigar berhasil kami selamatkan dengan lumatan bongkol anggrek tawa-tawa. Napasnya sesak akibat terlalu banyak menghirup asap.

Sejatinya kami hanyalah Orang Utan yang tak mengerti cara membuat api. Sebab sepanjang hidup makanan kami dimatangkan oleh alam. Pucuk kelakai, pisang setandan, juga buah-buahan serta dedaunan yang tumbuh sejangkauan tangan. Itulah yang kami makan. Secukup perut kami kenyang lalu mengantar tenaga pada tangan agar kuat berayun di dahan-dahan.

Tak seperti mereka yang rakus sehingga senantiasa kelaparan sebab tidak benar-benar tahu apa yang dimau. Alasan yang membuat pencarian mereka tidak pernah selesai. Termasuk mencari lahan-lahan baru untuk dilalapi api. ***

.

.

Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan. Merampungkan pendidikan di Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran Unlam. Novel Jendela Seribu Sungai (2018) yang digarap bersama produser Avesina Soebli telah diadaptasi menjadi film yang tayang pada 20 Juli 2023. Karya lainnya berjudul Lalu Tenggelam di Ujung Matamu (2019) terpilih dalam sayembara novela. Cerpen Miranda turut terhimpun dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas 2015, 2017, dan 2019. Salah satu cerpennya telah dipinang sebuah rumah produksi untuk diadaptasi ke film.

RE Hartanto adalah perupa, pengajar kursus, dan penulis blog seni rupa. Tinggal dan berkarya di Kota Bandung.

.
Dilalap dalam Lelap. Dilalap dalam Lelap. Dilalap dalam Lelap. Dilalap dalam Lelap. Dilalap dalam Lelap.

Loading

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!