Cerpen, Hasan Aspahani, Kompas

Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir

Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir - Cerpen Hasan Aspahani

Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir ilustrasi Bambang Pramudiyanto/Kompas

3.6
(15)

Cerpen Hasan Aspahani (Kompas, 10 Desember 2023)

SAYA baru saja menurunkan penumpang di depan sebuah rumah di daerah Ulujami. Ketika memutar motor ke arah jalan besar, seorang perempuan memanggilku dari depan rumahnya. Dia bertanya apakah saya mau mengantarnya ke Bogor, pulang-pergi. Saya sarankan dia agar mengecek berapa ongkosnya di aplikasi. Dia menunjukkan padaku angka yang tertera di ponselnya.

“Itu dikali dua. Mbak mau kalau ongkosnya segitu?” Bagiku itu angka yang besar. Biasanya jarang ada penumpang yang mau. Bukankah ada banyak pilihan yang lebih murah? Naik KRL, misalnya. Dari stasiun Bogor tinggal naik ojek sebentar. Setelah menimbang-nimbang dia mengiyakan. Lalu dia masuk ke rumah dan meminta saya menunggu.

Dia keluar dengan celana dan baju kaus lengan panjang yang tampak nyaman untuk membonceng di motor dan satu tas tenteng yang ringan. “Kenapa tak naik KRL aja, Mbak?” tanyaku.

“Saya cuma sebentar. Cuma mau antar uang arisan. Repot kalau harus turun naik KRL dan motor… lagi pula, ya… saya cuma sebentar. Ini setoran arisan terakhir, sekalian saya mau pamitan,” katanya.

Saya mencium bau-bau cerita yang menarik. Sudah empat tahun saya menjadi driver ojol. Dengan rata-rata lima belas orderan sehari, jarak jauh dan jarak dekat, saya bisa menjadi pendengar lima belas cerita. Seandainya saya pengarang, saya pasti sudah jadi pengarang yang produktif. Saya ingin benar bisa mengarang agar bisa menyimpan cerita-cerita penumpang saya. Seperti kali ini. Penumpang saya kali ini namanya Rasti. Wajahnya manis. Usianya kukira belum 40 tahun. Kalaupun usianya telah sampai pada bilangan itu, wajahnya dengan baik menyamarkannya.

“Jauh banget, Mbak, arisannya?” kataku. Bertanya dengan nada bersimpati, dan sedapat mungkin berusaha agak tak terdengar kepo. Penumpang tak suka driver yang kepo. Enam tahun menggeluti pekerjaan ini, sudah empat kali ganti motor, saya tahu bagaimana cara terbaik memulai pembicaraan dengan penumpang.

“Arisan keluarga, Mas,” katanya. Saya hanya membalas dengan “oh”. Dia belum mau bercerita. Atau memang tak mau. Saya membayangkan perjalanan pulang pergi Jakarta-Bogor yang membosankan. Tetapi tak apa, ongkosnya lumayan besar. Apalagi ini tak ada potongan aplikasi. Saya sudah matikan aplikasi sejak berangkat tadi. Jalanan sedang padat sekali. Banyak truk lori tapi tak sebanyak dan sebesar tronton di Jakarta Utara. Saya paling malas ambil penumpang ke utara.

Ponselku berdering. Aku mengambil lajur tepi dan melambatkan motor, merogoh saku dan melihat layar. Saya membawa dua ponsel. Satu untuk aplikasi dan satu untuk bertelepon. Saya lihat tak ada panggilan di ponselku. Malah penumpang saya yang bicara. “Iya, Teh. Saya datang. Saya antar uangnya. Ini saya sedang dalam perjalanan ke Bogor. Iya, Teh, saya tidak lupa,” katanya. Nada dering ponsel saya dan penumpang saya rupanya sama.

Saya lalu merasakan penumpang saya gelisah. Saya tahu dari caranya duduk dan tangannya yang tak tenang, kadang menyentuh punggung saya, kadang ia bebaskan. Saya menahan diri untuk tidak bertanya. Saya tahu ini bukan waktu yang baik memulai percakapan tapi dia pasti akan bicara. Perjalanan belum lagi mencapai sepertiga dari jarak yang harus ditempuh. Beberapa kali teleponnya berbunyi lagi tapi dia tidak jawab. Dia tampak makin kesal.

Baca juga  Seorang Tua yang Mengakhiri Cerita

“Mas, di kafe depan itu nanti berhenti dulu ya,” katanya menunjuk sebuah kafe yang saya lihat gerainya ada di mana-mana. Bukan kafe yang murah. Jelas itu bukan tempat yang akan saya singgahi kalau saya ingin minum kopi. Kalau ada uang pun rasanya sayang membeli kopi dengan harga kopi di kafe itu. Saya lihat ada kios rokok dan warung kopi di depan ruko di sebelah kafe itu. Saya menurunkannya di depan kafe. “Saya tunggu di kios sebelah itu ya, Mbak,” kataku.

“Ikut saya aja, Mas. Kita ngopi di dalam.”

Saya menolak.

“Ikut aja, Mas. Sebenarnya saya mau minta tolong.”

“Minta tolong apa, Mbak?”

“Makanya kita bicarakan sambil ngopi.”

Kafe itu belum terlalu ramai. Hanya ada sepasang anak muda yang tampak sedang bekerja, masing-masing menghadapi laptop. Aku tak tahu dia memesan apa dan aku memesan minuman yang sama dengannya. Rasanya tak jelas buat saya, ini kopi apa es krim. Saya hanya menikmati dinginnya. Cocok dengan udara di ruangan kafe yang juga sejuk.

Dia mengeluarkan pakaian dari tas yang dia bawa. Lalu meletakkannya di meja di hadapan saya. “Mas?”

“Saya, Arwin, Mbak.”

“Mas Arwin, saya minta tolong. Begini.” Dia lalu mulai bercerita. Seperti yang dia katakan, dia hendak mengantar arisan terakhir ke Bogor. Ini arisan keluarga. Tepatnya arisan keluarga suaminya. Jumlahnya lumayan besar. Dia sudah dapat arisan itu pada putaran pertama. Setiap bulan dia pasti ke Bogor. Arisan ini wajib diikuti anak-anak dan menantu keluarga mertuanya. Wajib. Kata si ibu mertua, dia tak minta apa-apa pada anak-anak dan mantunya, hanya kumpul sebulan sekali pada saat arisan itu.

“Saya sangat menghormati dan menyayangi ibu mertua saya itu. Lima bulan lalu, dia meninggal. Dan tiga bulan sebelumnya, ya sekitar itulah, tiga bulanan gitulah… suami saya menceraikan saya. Sebenarnya saya yang minta cerai. Dia diam-diam telah menikah lagi dan mengakuinya. Ibu mertua saya meninggal karena terkejut atas pengakuan anaknya. Selama menikah, saya dan suami saya tak pernah ada masalah. Rumah tangga kami rukun-rukun saja. Ibunya melarang mantan suami saya itu membawa istrinya dan tetap meminta saya yang ikut arisan keluarga itu, lalu ibu sakit, semakin parah dan akhirnya meninggal. Bulan lalu mantan suami saya membawa istri mudanya itu di arisan keluarga,” kata Rasti, penumpang saya itu. Saya lihat matanya basah. Dia mengusapnya dengan ujung selendang tebal yang melingkari lehernya.

Nah, kalian percaya kan bahwa cerita penumpang saya itu memang semenarik itu? Saya bertanya, “Terus, apa yang bisa saya bantu, Mbak? Baju ini harus saya apakan?”

Baca juga  Tubuh Ayah Berwarna Tanah

Rasti minta saya mengganti baju dengan baju itu. Baju yang saya pakai memang lusuh. Selusuh jaket aplikasi yang sudah lama tak saya ganti. “Nanti, Mas ikut saya dan akan saya perkenalkan sebagai calon suami saya. Saya tak tahan melihat tatapan suami saya, istri barunya,” kata Rasti.

“Tapi, Mbak. Apa tidak bikin Mbak tambah sakit hati dengan berbohong begini….”

“Saya minta tolong, Mas. Saya hanya ingin sekadar membalas, menunjukkan bahwa saya juga bisa mendapatkan lelaki lain. Kalau perlu biaya untuk itu saya akan tambah. Berpura-pura saja, Mas. Apa susahnya? Hanya untuk sepuluh menitan. Saya hanya akan mengantar uang arisan ini. Lalu kita pergi.”

“Mbak kan bisa mentransfer saja uangnya, kalau tak mau bertemu mereka?”

“Saya justru ingin bertemu mereka dan ingin menunjukkan bahwa tak susah bagi saya kalau mau mendapatkan pengganti bekas suami saya itu. Meskipun harus berbohong. Dulu, pernikahan kami tak direstui saudara-saudara suami saya dan ibu mertua saya. Katanya saya merampas suami saya dari perempuan lain, calon yang lebih mereka sukai.”

“Merampas bagaimana, Mbak?”

“Nanti saya ceritakan kalau Mas Arwin benar-benar ingin tahu. Yang penting sekarang, Mas Arwin mau bantu saya?”

Aku berganti baju. Jaket dinas driver saya masukkan tas tenteng. Dengan bayaran yang sudah disepakati dan tambahan uang yang akan saya terima dengan berpura-pura jadi calon suami rasanya tak ada ruginya memainkan sandiwara ini.

Kami parkir di depan minimarket. Lalu berjalan kaki tak jauh dari situ ke rumah yang ditunjuk Mbak Rasti. Suasana arisan yang hangat. Saya tak melihat Rasti tak disukai bekas saudara-saudara iparnya itu. Ketika Mbak Rasti memperkenalkan aku sebagai calon suami dan dia katakan kami akan segera menikah, mereka tampak sangat gembira dan memberi selamat. “Undang kami ya, Mbak Rasti…. Awas kalau tak diundang.”

Saya tak melihat ada bekas suami Rasti. Saya tak tahu siapa dia tapi rasanya kalau dia hadir di situ pasti saya akan tahu. Juga istrinya. Setelah berbasa-basi sebentar, Rasti menyerahkan uang arisan. Sejak semula ia menunjukkan sikap tak akan lama berada di situ. “Ada urusan lain dengan Mas Arwin,” katanya.

Seseorang yang dipanggil Teh Ita oleh Mbak Rasti menahannya. Lalu menarik tangan Rasti agar mengikutinya ke sebuah kamar. “Ikut saya sebentar, Rasti. Teteh mau bicara….”

Rasanya hari itu saya berlakon dengan baik. Mereka bertanya macam-macam pada saya, tentang kapan pertemuanku pertama kali dengan Rasti, kerja di mana, apakah saya kenal dengan mantan suaminya, dan lain-lain. Saya menjawab sesedikit mungkin, tapi tetap berusaha mengarang cerita yang meyakinkan.

Saya tak tahan tak bertanya dalam perjalanan kembali ke Jakarta. “Tadi mantan suami Mbak tak ada ya? Ke mana dia, Mbak? Kalau boleh tahu.”

Baca juga  Guna-Guna Sijundai

“Mas. Mas Arwin apa sudah berkeluarga?”

Nah, pada bagian ini rasanya apa yang saya sampaikan ini seperti cerita karangan dengan kebetulan yang terasa mengada-ada, walaupun ini saya ceritakan apa adanya, sesuai kejadian yang benar-benar saya alami. Saya telah berkali-kali gagal menikah. Seperti saya berkali-kali gagal meniti karier di pekerjaan kantoran. Tak pernah betah. Seperti mentok rasanya. Kerja apa yang tak pernah saya lakoni? Jadi kurir, kerja di ekspedisi, driver di stasiun televisi, mandor proyek, jadi pemasok lele di pasar induk, macam-macam. Rasanya menjadi driver ojol adalah pekerjaan terbaikku sejauh ini. Saya bisa bertemu orang yang pasti berbeda setiap hari. Sehari saya bisa dapat Rp 450.000 bersih, dari menerima sampai 15 orderan. Lalu saya sadar, buat apa saya ceritakan itu pada Mbak Rasti dan buat apa juga dia bertanya apakah saya sudah berkeluarga?

“Begini, Mas Arwin. Tadi Teh Ita, yang memanggil saya itu, menyampaikan pesan terakhir almarhum mertua saya. Dia meninggalkan sesuatu untuk saya. Kalung emas yang ia simpan sejak gadis. Pesannya, kalau saya masih mau datang sampai arisan terakhir, warisan itu baru boleh diserahkan kepada saya. Dan kalau saya datang bersama suami atau calon suami, dia minta agar saya terus ikut arisan keluarga.”

“Suami Mbak Rasti tadi tak ada?”

“Istri barunya tak cocok dengan ipar-iparnya. Kata Teh Ita, sepertinya dia terlalu modern. Dia tak suka ikut arisan keluarga.”

Saya menceritakan kisah ini kepada seorang penumpang yang naik dari depan Gedung Ali Sadikin, Cikini, ke sebuah perumahan di Jalan Swadharma, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Tampangnya seperti penulis, dengan kacamata dan topi baret. Kalau Anda membaca cerita ini di surat kabar atau majalah, percayalah bahwa cerita itu benar. Benar bahwa itu ceritaku. Saya dan Mbak Rasti menikah, dan tiap bulan saya mengantarnya ke Bogor, mengantar uang arisan keluarga. Tentu saja tanpa harus berpura-pura jadi calon suami dan tak perlu berganti baju di perjalanan. ***

.

.

Jakarta, 19 Oktober 2023.

Hasan Aspahani, penulis, penyair, jurnalis. Lahir 1971 di Handil Baru, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menulis beberapa buku puisi, fiksi, dan nonfiksi. Kini menetap di Jakarta.

Bambang Pramudiyanto. Lahir di Klaten 1965. Mulai masuk STSRI “ASRI” tahun 1984. Perfomance Art “Destructive Image” di Malioboro Yogyakarta, Pameran “Citra Realistik” di Galeri Nasional Jakarta, Pameran Biennale “Jogja Janmming”, Pameran Biennale X Jakarta, Pameran ARTJOG I di Taman Budaya Yogyakarta.

.
Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir. Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir. Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir. Penumpang ke Bogor dan Arisan Terakhir.

Loading

Average rating 3.6 / 5. Vote count: 15

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Alex

    Keren banget

Leave a Reply

error: Content is protected !!