Aliurridha, Cerpen, Solopos

Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan

Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan - Cerpen Aliurridha

Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

5
(1)

Cerpen Aliurridha (Solopos, 09 Desember 2023)

DALAM keadaan setengah sadar, saya paksa diri saya bangun dari ranjang. Suara ribut di ruang tamu benar-benar mengganggu. Padahal saya masih ingin melanjutkan tidur. Semalam saya begadang mengerjakan sebuah proyek.

Mata saya masih berat untuk dibuka. Namun, begitu saya tahu siapa yang datang, kamu tahu, kantuk saya langsung hilang.

“Mana dia. Jam segini masih tidur. Memang tidak bisa diharapkan anak itu.” Suara marah-marah dari ruang tengah itu menggedor-gedor telinga saya. Itu suara Janu.

Kakak saya yang satu ini memang tidak pernah tahu cara bicara lembut. Padahal di rumahnya dia berbicara dengan begitu lemah lembut. Tidak pernah sepatah kata keras, apalagi kasar, meluncur dari bibirnya. Tidak pernah dia perdengarkan apa yang kerap dia perdengarkan di rumah ini kepada anak istrinya. Bicaranya selalu manis.

Di sini, kata-katanya lebih pahit daripada kopi kental tanpa gula. Padahal telinga saya bukan indra pengecap, tetapi telinga saya bisa mengecap pahit kata-katanya.

“Ini karena ibu selalu memanjakannya,” lanjut Janu. “Harusnya ibu menendangnya keluar dari rumah. Masak laki-laki seusia dia masih tinggal sama ibunya.”

Saya berjalan menyeret kaki saya melewati tempat di mana Janu sedang duduk bersama ibu. Saya pura-pura tidak melihat mereka. Saya berusaha menutup mata dan telinga saya. Dari dulu saya muak kepada Janu yang selalu membangga-banggakan dirinya, membanggakan pekerjaannya, membanggakan istrinya yang cantik jelita, dan anak-anaknya yang tak pernah kurang prestasinya. Segala bualan tentang betapa hebat hidupnya tidak pernah habis dia perdengarkan untuk saya dan ibu. Saya jadi iri dengan ayah yang sekarang tidak perlu lagi mendengarkan bualan Janu.

“Jam segini baru bangun, bagaimana kamu bisa dapat kerja? Kalau terus seperti ini selamanya kamu akan jadi beban orang tua.”

Seperti biasa, ibu diam saja mendengar Janu memarahi saya. Saya tidak menanggapi kata-kata Janu dan terus melangkah menuju dapur.

“Mau ke mana kamu?” tanya Janu separuh membentak. “Begini sudah hasilnya tidak mau mendengar nasihat orang.”

“Mau bikin kopi dulu,” balas saya acuh.

“Kamu tahu tidak sekarang jam berapa?” Janu membentak. “Kamu pikir saya ini seperti kamu yang bisa santai-santai saja. Saya harus kerja.”

Halah kerja, katanya. Padahal tidak ada juga yang dia kerjakan di sana. Dia memang punya bisnis, tapi bisnis itu tanpa dia harus berada di sana pun akan terus berjalan. Bahkan ketika dia tidur, uang tetap datang.

Nah, saya—saya ini baru benar-benar bekerja. Semalam saya nyaris tidak tidur menyelesaikan pekerjaan saya. Begini-begini saya seorang web developer. Terdengar keren bukan? Harusnya begitu.

Baca juga  Ramadan: Memeluk Kesunyian

Tapi, sebenarnya pekerjaan saya sama sekali tidak keren. Pekerjaan saya hanya menulis artikel-artikel sampah dengan pelbagai teknik SEO untuk membuat sebuah web menjadi nomor satu di mesin pencari. Biar saya beritahu kamu sesuatu, jangan pernah percaya pada apa yang tertulis di Internet.

Orang-orang yang mengerjakannya bahkan tidak mengerti apa yang ditulisnya, seperti juga saya yang tidak benar-benar tahu apa yang saya tulis. Tapi, itu memang tidak penting, yang terpenting saya bisa membuatnya muncul di halaman pertama mesin pencari.

“Saya juga kerja,” kata saya membalas Janu. “Semalaman saya bekerja.”

“Kayak begitu kamu bilang kerja. Itu hobi namanya. Kerja itu ngehasilin duit. Kamu bisa beli rumah, beli mobil, atau setidaknya bisa beli motor. Ini kamu masih numpang sama Ibu. Motor saja kamu tidak mampu beli kalau tidak Ibu yang kasih uang mukanya.”

Saya merasa ditampar. Ingin sekali saya membalas kata-kata Janu, tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan karena apa yang dikatakan Janu memang benar.

Dulu penghasilan saya sebagai blogger dan web developer cukup untuk sekadar menyambung hidup. Bahkan lebih dari sekadar menyambung hidup.

Dulu saya bisa menikmati geliat anak muda ngopi di kedai kopi untuk menggebet cewek-cewek sok indie. Tapi, semakin ke sini pekerjaan ini semakin tidak ada uangnya. Jika kamu tidak punya produk untuk dijual, nge-blog bukanlah pilihan tepat. Orang-orang yang menggunakan jasa saya untuk web-nya rata-rata punya produk untuk dijual.

“Bagaimana, kita jalan ini?” tanya Janu.

“Sebentar saya mau bikin kopi dulu. Belum sarapan juga.”

“Sudah bangunnya telat. Geraknya lambat pula. Kamu ini…,” Janu geleng-geleng. “Suram, benar-benar suram!”

Saya menatap murka pada Janu. Pipi saya terasa panas.

“Ibu sudah siapkan sarapan dan kopimu,” kata ibu lembut. Kata-kata ibu menghapus amarah di dada saya.

***

Hari itu, kami menemani ibu berobat ke rumah sakit. Disebut kami juga rasanya kurang tepat karena Janu hanya mengantar. Tiba di rumah sakit, saya dan ibu ditinggalkannya. Selalu begitu, selalu hanya mengantar. Lagaknya sok sibuk.

Janu merasa bebas semaunya karena dia adalah anak ibu yang paling sukses dan paling banyak memberi ibu uang. Namun, tak sekali pun dia pernah menemani ibu, seolah tugasnya memang hanya mengantar.

Sudah beberapa tahun ini ibu rutin mengunjungi rumah sakit. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua untuk ibu. Sejak didiagnosis menderita jantung koroner dan diabetes melitus, ibu tidak pernah jauh dari rumah sakit dan obat-obatan.

Baca juga  Cerita Menyentuh dari Nenekku

Karenanya, saya harus siaga menemani ibu ke rumah sakit. Bukan Janu si anak kesayangan. Bukan pula Jani yang tinggal jauh di pulau seberang dan disibuki mengurus anak dan suaminya, melainkan saya. Yang tersisa memang hanya saya, anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami. Ya, kamu tidak salah dengar. Memang cuma saya laki-laki yang tersisa di keluarga ini setelah ayah meninggal.

Janu, sejak menikah, kehilangan kelaki-lakiannya. Sekarang, Janu tidak lebih dari sekadar properti istrinya. Jika istrinya tidak memberi izin, bahkan sekadar untuk mengantar ibunya, Janu tidak berani.

Saya sering membayangkan saat bercinta Janu pasti berada di bawah, ditunggangi istrinya yang terus menampar-nampar wajahnya. Mungkin itu pula alasan Janu selalu melampiaskan emosinya ke saya. Sebagai orang yang selalu berada dalam poisisi terendah dalam hierarki sosialnya, dia butuh orang lain yang bisa dia jadikan pelampiasan emosinya. Sialnya, orang itu adalah saya.

“Kamu harus sabar-sabar sama kakakmu.”

“Tidak apa, Bu. Sudah biasa,” jawab saya terkekeh.

Ibu terdiam sejenak. “Kakakmu itu orang baik. Hanya saja hidupnya keras.”

Saya mengangguk-angguk memandangi layar telepon pintar milik saya. “Tidak masalah kok, Bu.”

“Kamu tahu, kakakmu itu sebenarnya sayang sama kamu. Cuma dia memang begitu orangnya. Dia tidak tahu cara menunjukkan rasa sayangnya.”

Saya tertawa sinis. “Ya, saya tahu.”

Ibu kembali terdiam. “Sebenarnya ibu tidak enak terus-terusan minta kamu menemani ibu ke rumah sakit. Kamu jadi tidak bisa cari kerja.”

“Saya punya kerja kok, Bu.”

“Maksud Ibu kerja seperti orang-orang pada umumnya. Pekerjaan yang pantas.”

“Pekerjaan saya pantas, kok.” Saya bisa mendengar suara saya meninggi.

“Maafkan ibu.”

Saya heran kenapa ibu tiba-tiba memikirkan perasaan saya. Itu membuat saya khawatir. Ibu biasanya diam saja setiap Janu menghina saya. Tidak sekali pun dia terlihat peduli terhadap perasaan saya. Bukan hanya tidak peduli, dia bahkan memberikan Janu kesempatan sebesar-besarnya untuk menjelek-jelekkan saya, seolah itu adalah hak prerogatif Janu.

Dan Janu benar-benar memanfaatkan haknya itu untuk menghina saya sepuas hatinya. Lalu ketika dia selesai, dia akan memberikan ibu uang dan ketika dia pulang, ibu akan memberikan sebagian uang dari Janu untuk saya. Kadang-kadang saya merasa mendengarkan hinaan Janu sudah seperti pekerjaan sampingan.

***

Sudah lama sejak kali terakhir saya menemani ibu ke rumah sakit. Ibu kini tidak mau lagi pergi ke rumah sakit. Saya merasa bersalah karenanya. Mungkin ibu benar-benar memikirkan perasaan saya. Dia tidak lagi meminta Janu sering berkunjung ke rumah. Mungkin juga dia ingin saya punya pekerjaan seperti orang-orang pada umumnya dan tidak harus direpotkan mengantar atau menebus obat ke rumah sakit.

Baca juga  Upacara Ona

“Apa Ibu benar-benar tidak mau ke rumah sakit lagi?”

“Tidak. Obat yang dikasih begitu-begitu saja. Dari dulu Ibu tidak pernah sembuh.”

“Tapi memang begitu kalau sakit jantung dan diabetes. Itu kan penyakit seumur hidup.”

“Tidak. Ibu sudah tahu obat yang permanen. Obat herbal, bukan kimia. Tidak ada efek sampingnya.”

Ibu lalu menjelaskan tentang obat-obatan herbal yang kini dikomsumsinya. Saya terkejut karena ibu begitu pandai menjelaskan. Sejak kapan ibu punya pemahaman tentang obat-obatan. Ibu bahkan bisa menjelaskan kekurangan-kekurangan obat kimia yang terus dia konsumsi beberapa tahun belakangan.

Ibu berkata ingin membersihkan tubuhnya dari yang kimia dan fokus pada yang alami. Dia yakin dengan mengubah pola hidup dan mengganti yang kimia dengan yang herbal, dia akan bisa mengembalikan kesehatannya seperti waktu muda dulu.

Kemudian, paket berisi obat-obatan itu pun datang satu per satu. Saya dibuat heran, siapa yang memesannya? Ternyata ibu sendiri yang memesannya. Rupanya Janu yang mengajarkan ibu menggunakan mobile banking. Mungkin agar dia tidak perlu lagi repot-repot mengantar ibu ke rumah sakit. Memang sejak itu Janu jadi jarang datang dan herannya saya malah merindukannya.

Saya merindukan pekerjaan sampingan saya. Apalagi ibu sudah jarang memberi saya uang. Mungkin karena saya tidak lagi menjadi bulan-bulanan Janu.

Ternyata saya salah. Bukan itu alasannya. Ibu tidak lagi punya uang seperti dulu. Sejak ibu tahu cara menggunakan mobile banking, dia bisa memesan sendiri barang yang dia mau. Dan sejak itu paket demi paket obat-obatan datang ke rumah. Ibu menghabiskan dana pensiun ayah dan uang kiriman Janu untuk membeli paket obat-obatan herbal yang dijual oleh web-web yang saya kembangkan. ***

.

.

Blencong, 2022-2023

Aliurridha. Pengajar di Universitas Terbuka. Penulis fiksi dan nonfiksi. Dia diundang sebagai Emerging Writers dalam Makassar International Writers Festival 2023. Dia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

.
Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan. Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan. Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan. Rasanya Sudah Seperti Pekerjaan Sampingan.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!