Cerpen, Gde Aryantha Soethama, Kompas

Baliho

Baliho - Cerpen Gde Aryantha Soethama

Baliho ilustrasi Buana Artian/Kompas

3.4
(5)

Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 17 Desember 2023)

TAK pernah lelaki itu semuak kini. Sering kali ia mual jika menatap gambar selebar dua kali tiga meter itu. Ia mencoba bersikap biasa-biasa saja, tapi tetap tak kuasa mengelak dari baliho-baliho yang berdiri pongah di setiap tikungan dan sembarang sudut jalan.

Ribuan baliho caleg mengepung kota kecil itu, dipasang semau gue, berbagai ukuran, saling sodok, beraneka warna. Sesungguhnya laki-laki itu mencoba tak peduli, kecuali satu: baliho seorang caleg Partai Ungu. Sosok di poster itu sangat ia benci.

Partai Ungu pendatang baru dalam pemilu kali ini. Nyaris tak ada tokoh terkenal mencalonkan diri untuk merebut satu saja dari 28 kursi DPRD di kota itu, buat parpol bertanda gambar teratai merah jambu ini. Mereka punya jargon sebagai partai bijak, karena hanya dengan kebijaksanaan, keadilan, pemerataan, dan kesejahteraan bisa terwujud. Bunga padma selalu tegak menuding langit, di kolam berair jernih atau berlumpur sekalipun. Karena itu mereka berkampanye, selain bijak, ini partai unggul, tempat berlabuh segala usia: yang muda, tua, dan lansia.

Di kota kecil itu, baliho Partai Ungu menggunakan dasar ungu terang, seperti bunga lavender. Lambang partai berupa bunga padma itu berada dalam lingkaran ungu tua dengan garis tepi putih. Di latar belakang seorang pendeta berjenggot lebat dan rambut berkerucut sedang melantunkan doa menggoyang genta, dikelilingi sesaji, harum kembang, asap kemenyan, dan wangi dupa.

Hampir semua warga kota mempersoalkan gambar pendeta itu, kecuali Ketut Nongos dan tim suksesnya. Ia yakin akan mendulang banyak suara dukungan sang pendeta, sosok sangat dimuliakan di kota itu, rohaniwan yang paling sering dimohon memimpin upacara adat dan keagamaan. Tempat anak-anak muda mohon doa restu dalam acara pernikahan agar rumah tangga mereka langgeng, banyak rezeki dan bahagia.

Di kota kecil itu tak ada sosok yang lebih berpengaruh dibanding sang pendeta. Wajar kalau semua warga kota bertanya-tanya, seperti apa siasat bujuk rayu Ketut Nongos sampai berhasil menyeret sang pendeta ke kancah politik.

Tapi buat laki-laki itu, persetan politik. Baginya politik itu culas, tak bisa dipegang. Apalagi yang mencampur-adukkan politik dengan agama, memperalat tradisi dan nilai leluhur. Ia tak mau tahu sama baliho-baliho lain, kecuali baliho Ketut Nongos, caleg Partai Ungu. Sebisa-bisanya ia menghindari baliho Nongos. Namun, setiap melintas di jalan, ia pasti bertemu baliho yang sangat ia benci itu.

Mengambil sembako di pedagang besar dengan pick up ia selalu melintasi jalan utama kota. Di setiap tikungan, pertigaan dan perempatan, ia pasti bersua baliho Nongos. Gerahamnya gemeretak menahan geram.

Baca juga  Mi-Ré-Do-Sol … Sol-Mi-Ré-Do!

“Naik motor saja,” saran istrinya. “Kau bisa melalui jalan-jalan kecil, lewat gang.”

“Tak bisa sekali angkut. Tapi, tak apa juga, daripada aku mual di jalan.”

Namun, di pertigaan gang sempit yang cuma bisa dilalui motor, laki-laki itu bersua juga dengan baliho Ketut Nongos.

“Minta mereka mengirim saja barang ke warung,” usul istrinya.

“Berat di ongkos, untung jadi sangat tipis.”

“Kita naikkan harga.”

“Siapa mau belanja? Beras dan gula semakin mahal. Pelanggan akan beralih ke warung lain. Bangkrut kita.”

Lelaki itu mulai memikirkan cara menyingkirkan baliho Partai Ungu dengan caleg Ketut Nongos itu. Ia menghitung setidaknya ada dua puluh baliho yang ia lihat setiap mengambil sembako dengan pick up.

Ia harus bergerak cepat, seperti melakukan serangan kilat dalam sebuah pertempuran dahsyat, mesti dilakukan sekali gebrak. Tapi ia ragu. Ia harus melakukan seorang diri, tak ada yang boleh terlibat. Ini gerakan rahasia. “Setidaknya tiga hari semua akan beres,” kata hatinya.

Kota kecil itu sudah sepi selepas pukul sembilan malam. Mulai pukul empat dini hari orang-orang sibuk ke pasar. Laki-laki itu berniat melakukan gerakan senyap tengah malam, tapi ia bimbang, karena bisa kepergok anak muda yang sering pulang mabuk. Ia pilih waktu paling sunyi, pukul tiga pagi.

Ia mulai dari baliho di ujung jalan dekat rumah, yang di bagian depan ia manfaatkan buat warung sembako. Ia gunakan arit yang diikat di ujung galah, kemudian membacok wajah gambar Nongos, persis di antara dua alis. Lalu ia menarik arit turun, menghasilkan robekan memanjang, merusak leher, dada, perut, dan berhenti pada tulisan “Ketut Nongos Caleg No. 1 Partai Ungu”.

Dini hari itu ia hanya bisa merusak delapan baliho, keburu orang-orang mulai sibuk ke pasar. Ia pulang tanpa pernah berpikir tim sukses Ketut Nongos akan menyelidiki dan memburu perusak baliho-baliho itu.

Laki-laki itu girang melihat-lihat foto-foto selfi perusakan baliho itu di telepon genggamnya, sembari menunggu pembeli sembako di warung. Ia tersenyum-senyum dan manggut-manggut menatap wajah Ketut Nongos robek, dan tubuhnya terbelah. Ia bayangkan tokoh Partai Ungu itu bersimbah darah.

Hari kedua ia tambah semangat, menargetkan sepuluh baliho lagi. “Kalau tak keburu siang, kuselesaikan pagi ini,” tekadnya.

Tapi ia mulai merasa letih ketika sampai di depan baliho kedelapan yang dipasang di seberang penjual ayam geprek paling laris di kota itu. Udara basah membuat pagi dingin bukan main. Kota sepi luar biasa, sunyi tak terkatakan. Seakan helaan napas seseorang dua meter di sekitar bisa ditangkap telinga.

Baca juga  Mungkin Sebuah Alegori

Ia tercenung di depan baliho, menarik napas dalam-dalam, merentangkan tangan, mengangkat galah dengan arit terkait di ujungnya. Ketika arit itu hendak merobek wajah Ketut Nongos, ia menghentikan gerakan. Ia merasakan ada orang mengintai dari bawah pohon waru rindang di sebelah warung ayam geprek, yang karena hujan lebat kemarin sore membuat bunga-bunganya kuning pucat luruh berserakan di trotoar.

Laki-laki itu memandang berkeliling, khawatir sekian orang mengepung, siaga memberangus. Ia merasakan suasana tegang, seram, sebentar lagi riuh dan baku hantam. Bergegas ia naik motor, memacunya kencang pulang. Ia merasa ada yang membuntuti. Kini ia sadar, anak buah Ketut Nongos pasti mengawasi poster-poster itu. Mengapa ia tak memilih jeda tiga-empat malam sebelum meneruskan gerakan? Tapi, ia sudah memutuskan melakukan serangan kilat, gebrakan mengejutkan ke jantung lawan, yang membuat musuh terkesiap pun tak sempat.

Seperti biasa, pukul tujuh pagi laki-laki itu buka warung. Begitu pintu harmonika ia dorong, ia terkesiap. Tiga orang berdiri gagah menantang di depannya. Dua laki-laki kekar berkacak pinggang, seorang lagi lelaki yang nampang di baliho.

Mereka bertiga langsung menerobos masuk warung. Ketut Nongos menyodorkan cetakan kertas folio foto-foto baliho yang dirusak.

“Kita tak saling kenal, ada apa Bapak membenci saya?”

“Saya dongkol, foto di baliho itu sangat mirip saya.”

Laki-laki itu bicara dengan suara bergetar, menahan kesal bercampur muak dan amarah.

“Teman-teman mengejek, terus menyindir, saya yang antipolitik, kok, sekarang jadi caleg Partai Ungu. Mereka tahu setiap pemilu dan pilkada saya golput, tak pernah datang ke TPS. Saya dongkol dengan cemoohan itu. Semua gara-gara foto Bapak di baliho sangat mirip saya.”

Ketut Nongos terenyak. Ia pandang lelaki itu dengan saksama. Mata kiri laki-laki itu yang lebih sipit dibanding mata kanan, dengan alis lebat, memang sama dengan matanya. Kedua cuping hidung besar, ujung yang mancung, sehingga hidung itu tambah gede, persis hidungnya. Nongos memperhatikan, pipi tembem lelaki itu persis pipinya. Dahinya juga sama, sempit ke atas, melebar ke samping.

“Bapak bisa jelaskan itu bukan Bapak.”

“Sudah capek saya menjelaskan, malah mereka makin semangat mengolok-olok, senang melihat saya uring-uringan, bersungut-sungut kesal.”

Tim sukses Ketut Nongos membuat tiga pola baliho. Satu rancangan caleg itu membusungkan dada dengan tangan terkepal ke atas. Yang lain, sikap namaste, tangan tercakup di depan dada. Satu lagi, ia tersenyum semringah mengenakan destar, sepuluh jari-jemari terjalin menempel di atas pusar. Wajah Nongos desain terakhir ini sangat mirip laki-laki itu.

“Ooooo itu sebabnya. Kalau begitu, kita selesaikan masalah ini baik-baik, Pak.”

Baca juga  Cerita Daun, Pohon dan Petrichor

Sekarang laki-laki itu mencoba setenang mungkin. “Baik-baik seperti apa?”

“Saya tak akan lapor polisi, tidak ke siapa-siapa. Yang penting baliho rusak Bapak ganti, dipasang kembali di tempat semula.”

“Tapi, ada syaratnya.”

“Katakan saja.”

“Ganti gambar Bapak di baliho, pakai foto lain yang tidak mirip saya, agar kawan-kawan berhenti meledek saya.”

Ketut Nongos semakin menyelisik fisik laki-laki itu. Ia kian yakin mereka memang sangat mirip, saat Nongos memperhatikan bibir bawah laki-laki itu yang tebal, melebar, dan geraham bawah lebih menonjol ke depan dibanding rahang atas, persis geraham dan bibirnya.

“Jika Bapak menyodorkan syarat, saya juga.”

“Saya tak keberatan.”

“Bapak harus mengganti dua kali jumlah baliho yang Bapak rusak.”

“Saya merusak lima belas.”

“Ganti dengan tiga puluh.”

“Tidak, dua puluh.”

“Kita ambil jalan tengah. Dua puluh lima.”

“Dua puluh dua.”

Ketut Nongos mengangguk. Mereka menemukan kesepakatan dengan cepat.

Istri lelaki itu, yang dari tadi mendengar seluruh perdebatan dan kesepakatan mereka dari teras belakang warung, tercenung lesu. Ia membayangkan betapa banyak uang harus dikeluarkan untuk mengganti baliho-baliho itu.

“Kita cicil saja. Tak ada kesepakatan baliho harus diserahkan sekali. Kita selesaikan satu baliho seminggu,” hibur lelaki itu, tersenyum kecil, manggut-manggut, seperti kebiasaan tingkah orang yang siap memperdayai. “Belum lunas, belum selesai semua baliho, masa kampanye sudah berakhir.”

Namun, si istri tetap termenung lesu membayangkan masalah-masalah berat dan ruwet yang akan mereka hadapi. Mengapa suaminya sampai terjerembab ke urusan politik yang selama ini ia benci dan selalu dihindari, cuma karena jengkel diledek dan disindir teman-teman? Si istri paham, politik tak pernah enteng dan sederhana, selalu bergolak cekcok, riuh dan gaduh.

Perempuan itu begitu murung, sangat cemas akan nasib suaminya. ***

.

.

Denpasar, November 2023

Gde Aryantha Soethama, rajin menulis cerita tentang tanah tumpah darahnya, Bali. Kumpulan cerpennya yang terbaru, Malam Pertama Calon Pendeta (Penerbit Buku Kompas, 2023) memuat belasan cerpennya yang pernah dimuat Kompas.

Buana Artian, lahir di Bandung, 19 Mei 1995. Menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa FPSD UPI Bandung, lulus tahun 2018. Tahun 2019 mendirikan unit kebudayaan di koperasi LKN Manggala Giri, Lembang, Bandung. Meraih Himasra Art Award GSPI Bandung (2016). Turut dalam pameran Paradox, Lawangwangi, Bandung, dan Melancholy by Parahyangan Fair Bumi Sangkuriang Bandung.

.
.

Loading

Average rating 3.4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!