Artie Ahmad, Cerpen, Kompas

Pengumuman Mujabat

Pengumuman Mujabat - Cerpen Artie Ahmad

Pengumuman Mujabat ilustrasi Hanafi Muhammad/Kompas

3.5
(4)

Cerpen Artie Ahmad (Kompas, 21 Januari 2024)

SUARA Mujabat terdengar, semua kegiatan mendadak berhenti. Seperti waktu-waktu lalu setiap kali suara Mujabat terdengar dari corong masjid, itu pertanda ada berita kematian. Entah bagaimana awalnya, hanya Mujabat yang dipercaya membawa kabar duka. Setiap ada lelayu, warga desa akan mencari Mujabat, memintanya untuk membuat pengumuman tentang berita kematian lewat pelantang masjid.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un …,” suara Mujabat terdengar lantang.

Seketika semua telinga warga dipasang betul-betul, mereka ingin tahu siapa kali ini yang pergi menghadap Ilahi. Seperti Rukayah, sesaat mendengar suara Mujabat … buru-buru ditutupnya mulut anaknya. Bocah 7 tahun itu gelagapan dan siap melancarkan protes.

“Diam dulu! Ada orang meninggal.” Bisik Rukayah.

Rukayah sedang memandikan anaknya ketika pengumuman Mujabat terdengar. Dengan gerakan kepala, Rukayah meminta anaknya untuk diam di kamar mandi, sedangkan dirinya keluar dari dapur dan memasang telinga baik-baik di depan pintu. Dia harus menaruh konsentrasi pada suara Mujabat, jangan sampai ada informasi yang terlewat.

“Telah meninggal dunia dengan tenang …,” suara Mujabat masih terdengar dengan baik.

Wajah Rukayah semakin serius, sebentar lagi nama almarhum akan disebut dan tentunya bagian ini adalah info paling vital. Telinga Rukayah dipasang baik-baik, tapi sesaat kemudian bertepatan ketika Mujabat menyebut nama orang yang meninggal, terdengar raungan sepeda motor. Rukayah merutuk perlahan, dia terlewat mendengar nama si almarhum. Sialnya lagi motor itu hilir mudik, sampai Mujabat mengulangi informasi tentang kabar kematian pagi ini, tetap saja Rukayah tak menemukan nama almarhum.

“Sialan betul! Siapa sih itu?!” Rukayah berjalan ke depan. Lewat jendela depan dia melihat ke arah jalan.

Di jalan terlihat Iwan sedang hilir mudik. Anak lurah itu memang degil betul, entah etika siapa yang ditiru. Rukayah dengan wajah masam keluar rumah, dia berjalan ke rumah Yu Gembluk untuk menggali informasi. Kira-kira siapa yang meninggal pagi ini. Sayangnya, Yu Gembluk pun bernasib sama, dia gagal mendengar nama almarhum lantaran suara knalpot brong milik Iwan.

“Aku sudah pasang telinga baik-baik, tapi anak Pak Lurah itu kurang ajar betul! Dia malah wara-wiri begitu!” Rukayah dengan sengit melihat ke arah Iwan yang masih sibuk bolak-balik di jalan desa.

“Iya, aku pun begitu. Duuuh! Apa Iwan itu tidak tahu kalau Mujabat masih halo-halo pengumuman penting,” Yu Gembluk menimpali. Tampangnya tak kalah kesal.

“Dia baru dibelikan motor baru. Padahal, 5 bulan lalu juga baru dibelikan motor, ini beli lagi.” Kali ini wajah Rukayah keheranan.

Baca juga  Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati

“Paling bapaknya ngembat dana desa. Itu lho, warung untuk UMKM desa saja tidak jadi-jadi!” sahut Yu Gembluk, judes.

Iwan tentu saja tidak mendengar gerutuan dua ibu-ibu itu, dia masih asyik hilir-mudik mendengarkan irama knalpot brong miliknya. Pengumuman kematian dari Mujabat pun tak penting juga, bahkan Iwan sama sekali tidak mendengar pengumuman dari masjid. Total telinganya sudah tersumpal suara knalpot miliknya.

Di dalam kamar mandi, wajah anak Rukayah terlihat bingung. Ibunya malahan keluar dan tidak kunjung kembali. Tampang bocah itu bimbang mau keluar atau menunggu sampai ibunya datang. Di samping bak mandi, dia hanya berdiri membawa sebuah gayung mandi, sedangkan badannya bugil sama sekali.

***

Tak ada yang disesalkan orang-orang ketika Mujabat memberikan informasi tentang kematian, suaranya selalu lantang, namun keanehan selalu muncul. Seringkali orang-orang gagal mendapatkan nama siapa yang meninggal. Ada saja alasannya, entah suara ayam berkokok, motor lewat, teriakan anak tetangga, bahkan sampai suara Mujabat seakan menghilang ditelan angin.

Mujabat sendiri tak tahu alasannya mengapa nama-nama mendiang seringkali tak didengar orang-orang. Menurut dia, suara dari pelantang suara masjid sudah sangat jelas. Setelah mendapatkan banyak gerutuan masalah nama yang tak terdengar, Mujabat semakin memperjelas nama almarhum atau almarhumah. Nama orang yang meninggal akan mendapat penekanan, intonasi, dan kelantangan yang berbeda dibanding bagian-bagian lainnya. Nama mendiang menjadi prioritas Mujabat, sedangkan waktu kematian, tempat pemakaman tak pernah ada masalah. Semuanya hanya menyoal nama.

Kaji Ali, kepala takmir masjid, bahkan sempat membahas masalah ini. Bukan sekali atau dua kali Kaji Ali juga mendapat teguran masalah tidak jelasnya nama orang yang meninggal saat Mujabat memberikan pengumuman kematian.

“Apa ada masalah sama toa-nya?” tanya Kaji Ali saat bertemu Mujabat setelah mendapat keluh-kesah warga.

“Tidak ada masalah di toa-nya, Pak Kaji. Saya juga heran, kok nama almarhum atau almarhumah itu sering tak terdengar.”

“Mungkin untuk nama, waktu menyebut namanya harus lebih keras.”

Mujabat mengikuti usulan Pak Kaji. Saat kabar kematian salah satu warga desa itu datang, Mujabat akan menyebut nama mendiang dengan suara lantang. Tapi, seolah tak ada perubahan, warga desa masih saja mengeluhkan, mereka masih saja gagal mendengar nama mendiang. Nyaris semua warga harus mengonfirmasi ulang ke kanan-kiri tentang siapa yang meninggal hari itu.

***

Bagi Mujabat, semua kematian warga desa harus disiarkan melalui pelantang suara masjid. Semua orang tanpa menakar-nakar baik atau buruk kelakuan almarhum terdahulu. Pernah satu hari, selepas maghrib, terdengar pengumuman kematian dari pelantang masjid. Suara Mujabat terdengar nyaring sebelum isya kabar kematian itu harus sampai di telinga warga desa. Maghrib itu, Mujabat mengabarkan kematian Jayus, preman kampung yang saban hari menongkrong di pengkolan pasar. Kerja Jayus hanya memalak para pedagang, tukang becak, sampai sopir angkot. Orang-orang itu harus setor uang keamanan kepadanya.

Baca juga  Wajah Itu Membayang di Piring Bubur

Terang kabar kematian Jayus cukup mengejutkan warga desa. Tak disangka umur Jayus begitu pendek. Usianya belum juga menyentuh angka 40. Pesta miras oplosan menjadi sebab kematian preman bertubuh tambun itu. Setelah diselidiki, ada kandungan metanol di dalam ciu yang ditenggak Jayus. Kematian itu bukan saja menimpa Jayus, melainkan juga menelan 10 orang lainnya.

Kematian Jayus dan korban lain menggetarkan warga desa, bahkan media massa juga meliput. Tentu saja kabar kematian itu diliput setelah pengumuman Mujabat menggema, pembawa kabar utama tentang kematian untuk khalayak ramai berada di tangannya. Tak sekadar preman, Mujabat juga memutuskan mengumumkan kematian itu lintas agama. Bagi Mujabat, siapa saja yang meninggal berhak mendapat pelayanan pengumuman darinya meski orang itu tak seagama dengannya. Semua itu bermula tepat tiga bulan setelah kematian Jayus.

Mata Mujabat mengamati peti mati di depannya, kemudian dia membaca papan dukacita. Mendiang salah satu warga baru, belum ada setahun tinggal di desa. Orang-orang masih cukup asing dengan keluarga Theodore Rudi. Kedatangan peti mati milik Theodore Rudi tidak disambut banyak orang, bahkan Mujabat bisa menghitung pelayat menggunakan jari.

“Sepi sekali,” bisik Markum perlahan. Dia berdiri di samping Mujabat, mengamati peti mati mendiang Theodore Rudi.

“Kenapa sepi begini, ya?” tanya Mujabat hati-hati.

“Mungkin orang-orang belum tahu kalau Pak Theo meninggal.”

Mujabat tercenung mendengar jawaban Markum. Tanpa berkata apa-apa lagi dia berjalan ke masjid. Diambilnya mic, pelantang suara dinyalakan. Tak berselang lama suaranya terdengar lantang, semua warga desa dalam sekejap menghentikan kegiatan mereka. Begitu suara Mujabat terdengar, maka tandanya ada kabar kematian yang dibawa.

“Pengumuman! Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Theodore Rudi!” Mujabat memulai pengumuman kematian.

Sebagian besar warga memperlihatkan wajah heran, baru kali ini Mujabat mengumumkan kematian dengan cara agak berbeda. Dia tak mengucapkan salam seperti biasa. Melainkan berwujud pengumuman, betul-betul ada kata “pengumuman” di sana. Mujabat sendiri mengulang beberapa kali menyoal kematian Theodore Rudi. Dirinya juga menerangkan di sebelah mana rumah mendiang. Mujabat menerangkan siapa Theodore Rudi, ini berguna untuk warga desa yang belum sempat mengenal mendiang.

Hal baru pengumuman kematian lewat pelantang suara masjid itu sedikit menimbulkan pertanyaan. Seperti sebelumnya, Kaji Ali mendapat serangkaian pertanyaan menyoal itu, tapi dengan tegas beliau mengatakan bahwa hal semacam itu perlu. Pengumuman kematian warga desa harus mencakup semuanya, tidak terbatas untuk satu agama saja. Begitu pula yang dikatakan Mujabat saat dirinya ditanya mengenai pengumuman kematian Pak Theo, jawabannya lugas.

Baca juga  Orang yang Selalu Ketakutan

“Kematian tetaplah kematian, tugasku mengabarkan semua kematian warga desa tanpa melihat agama dan perilaku mereka saat hidup.”

***

Kaji Ali terkejut, Mujabat ia temukan terlentang di dekat tempat wudhu. Kepalanya berada di sisi barat, sedangkan kakinya di timur. Matanya terpejam rapat, seolah pembawa pengumuman kematian itu sedang tidur nyenyak. Tergesa Kaji Ali membawa Mujabat ke puskesmas desa dibantu beberapa orang. Maghrib itu, semua anggota jemaah masjid waswas, Mujabat tak kunjung membuka mata.

Isya lewat, perlahan Kaji Ali mengambil mic. Beberapa anggota jemaah shalat Isya, menunduk sedih. Sebagian dari mereka berkaca-kaca. Tangan Kaji Ali sedikit bergetar, begitu pula suaranya.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… telah meninggal dunia dengan tenang, Saudara kita Mujabat bakda maghrib ini….”

Semua warga desa terkejut mendengar suara Kaji Ali. Mereka tak percaya ketika nama Mujabat yang disebut. Mereka bahkan merasa mungkin Kaji Ali keliru. Tapi, tiga kali Kaji Ali mengulang pengumuman kematian itu dan nama Mujabat dengan sangat jelas mereka dengar. Ini kali pertama warga desa mendengar nama almarhum di pengumuman kematian lewat pelantang suara masjid sejernih itu. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. ***

.

.

Artie Ahmad, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Dia menulis cerita pendek dan novel. Beberapa naskahnya telah terbit, setidaknya ada 7 buku. Cerpen “Bukan Seorang Drupadi” masuk ke kumpulan cerpen pilihan Kompas 2022.

Hanafi Muhammad, belajar seni rupa secara formal di SSRI Yogyakarta dari 1976 hingga 1979. Ia adalah penerima anugerah Top 10 Phillip Morris pada 1997. Sejak 1992, ia telah mengadakan pameran tunggal ataupun kelompok di dalam dan luar negeri. Sejumlah pameran tunggalnya diadakan di acara- acara seni rupa terkemuka di Indonesia, seperti Jakarta Biennale dan Art Jog. Pameran internasionalnya dilakukan di Houston dan New York, Amerika Serikat, Spanyol, Hong Kong, dan Singapura. Kini, Hanafi berkarya dan tinggal di Depok, Jawa Barat.

.

.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!