Bre Redana, Cerpen, Kompas

Raja dan Batu Langit

Raja dan Batu Langit - Cerpen Bre Redana

Raja dan Batu Langit ilustrasi Supriyanto/Kompas

3.8
(4)

Cerpen Bre Redana (Kompas, 28 Januari 2024)

METEOR jatuh di lembah Sungai Naga.

Petani setempat menatahkan pada batu yang jatuh dari langit itu tulisan: Raja Akan Mati.

Sambar geledek.

Raja kaget melompat dari tahta mendengar laporan pembantunya.

Puluhan tahun berkuasa tidak ada penistaan terhadap Raja. Semua tunduk di bawah kemuliaannya: petinggi negeri, cerdik pandai, pendeta, pujangga, tentara, saudagar—kelewat panjang kalau semua kedudukan harus disebut satu persatu. Mereka semua setiap hari setiap waktu setiap saat memuja-muji keutamaannya, bahkan tatkala ia telanjang menterinya berkomentar: busana raja sangat indah.

Kini dengan tanpa ba-bi-bu seseorang membanderol nasib Raja.

Petani pula.

Sejauh ini hanya penguasa biasa menghina rakyat, bukan sebaliknya.

“Cari dia,” perintah Raja dengan tubuh gemetar.

Tanpa tertunda helaan napas menteri perang mengerahkan pasukan mencari petani yang entah dengan kekuatan apa mampu mengukir batu langit yang luar biasa keras dengan kata.

Getar amarah Raja membuat desa menggigil.

Tak ada petani mengaku melakukannya. Beberapa mengungsi.

Ini menambah murka pihak istana.

Desa dibumi-hanguskan.

Penduduk dibantai habis: lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak.

***

BETAPA pun dari sejak itu pikiran Raja terganggu. Ia meneliti keadaan diri sendiri: benarkah aku akan mati? Padahal aku belum tua-tua amat, dia menyanggah. Lagi pula aku masih ingin berkuasa, lanjut kata hatinya.

Takut sakit dan mati, ia mengundang tabib untuk memeriksa kesehatannya. Disebutnya semua yang dirasakannya belakangan, yang kalau tidak ditangani dengan segera jangan-jangan bikin mati: pandangan mulai kabur, sering kesemutan, dengkul tidak luwes seperti kurang pelumas, malam kencing-kencing melulu, dan sebagainya.

“Tidak apa,” kata tabib. “Raja cuma kurang istirahat. Kelewat sibuk. Kurangi minum tuak.”

Kurang puas dengan tabib pertama, Raja memanggil tabib berikutnya.

Tabib ini mengusulkan agar Raja mengirimkan putra-putri terbaik negeri mencari obat di Pulau Rasa Sayang (lengkapnya Rasa Sayang Ayu).

Dipilihlah puluhan pemuda-pemudi rupawan. Dengan kapal berbendera kerajaan, mereka diberangkatkan ke Pulau Rasa Sayang.

Keberangkatan disertai upacara meriah. Para pemuda-pemudi terpilih mengenakan busana serba putih dengan selendang kuning emas membuat yang pria kian tampak tampan dan yang wanita tambah ayu. Diiringi lagu Sayang Ayu (peneliti dari Barat berabad-abad setelahnya menterjemahkan judul lagu itu menjadi Love Pretty) mereka melambai-lambaikan tangan di geladak kapal, bangga mengemban misi Raja.

Baca juga  Lelaki di Bawah Lampu Jalan

Para pujangga sibuk mencatat agar peristiwa tak tercecer dari sejarah menyangkut peran anak muda dalam negara yang saat itu merupakan masa pergantian abad.

Itu pun masih belum membuat Raja tenang.

Ia panggil menteri kesayangan yang biasa ia beri tugas untuk mengurusi apa saja seolah di negerinya dengan jumlah manusia puluhan juta tidak ada yang lebih cakap daripada dia. Menteri ini jauh lebih tua dari Raja.

“Saya usulkan Raja ke Gunung Suci. Meminum embun murni tiap hari untuk memurnikan badan, agar bersih dari noda penyakit maupun dosa,” kata sang menteri.

Raja pun berangkat, menyepi ke Gunung Suci.

***

Pemberontakan meletus.

Kala itu musim semi.

Para petani angkat senjata. Mereka dipimpin oleh perampok dari Bukit Kaki Langit. Dengan pasukannya yang menguasai rahasia bukit dan gunung seakrab mengenali telapak tangan sendiri, Pangeran Bukit Kaki Langit—begitu ia menyebut diri—telah membuat kerajaan selama ini kesulitan menjangkau daerah utara baik untuk perdagangan maupun hubungan dengan kerajaan-kerajaan manca.

Kini, Pangeran Bukit Kaki Langit yang selain ahli pedang juga dikenal sebagai penyair memimpin para petani. Ia melatih mereka akan penyerangan dan pertahanan, masuk lingkungan musuh laksana angin, keluar menjebol sebagai air bah. Jangan hirau akan kemenangan, tapi yakin pada disiplin.

Dengan kecakapannya menggoreskan kuas dalam kaligrafi dia membakar semangat dengan merumuskan semboyan untuk gerakan musim semi melalui kata-kata sederhana, gampang diingat, mudah dipahami: Matilah Raja.

Gerakan musim semi meluas ke seluruh penjuru negeri disusul melebarnya spirit perlawanan. Mereka tidak sekadar ingin menggulingkan kekuasaan tapi juga melunaskan dendam atas kesewenang-wenangan dan ketidak-adilan yang selama ini mereka alami. Selain para penguasa, birokrat, siapa saja yang berafiliasi dengan penguasa, orang-orang kaya, menjadi target penyerangan.

Kota-kota dibumi-hanguskan. Rumah-rumah bagus dijarah.

Baca juga  Kangen Bapak

Asap mengepul di mana-mana.

Mayat-mayat bergelimpangan.

Malam hari kota-kota menjadi karang hantu.

Pertahanan negara menyusut dengan cepat. Tentara hanya menguasai ibu kota. Seluruh negeri hampir semuanya jatuh ke tangan pemberontak.

Para peneliti asing yang tertarik pada sejarah negeri ini, berabad-abad kemudian memperoleh temuan-temuan arkeologis dan kitab-kitab yang berhubungan dengan kejatuhan negeri tersebut.

Pada masa akhir kekuasaannya sebenarnya Raja telah memiliki banyak musuh dalam selimut. Beberapa elit negeri menganggap Raja banyak melenceng dalam mengemban kekuasaan yang merupakan mandat langit. Raja ditengarai mengidap megalomania, dengan menguasai segenap sumber daya negeri ia merasa amat sangat berkuasa, di bawah langit nomor satu adalah dia. Ibu Suri tidak lagi ia hormati.

Diam-diam sejumlah petinggi negeri bersekongkol untuk menggulingkan Raja. Para peneliti menemukan tulisan-tulisan di bilah-bilah bambu, bagaimana pihak-pihak di dalam istana secara rahasia mengirim pesan kepada pemberontak.

Termasuk dalam analisis para peneliti, menteri yang paling dipercaya Raja ikut menukangi kejatuhannya. Usul supaya Raja menyepi ke Gunung Suci didasari niat agar Raja terisolasi dan istana vacuum.

Begitu pun usulan agar mengirim muda-mudi rupawan ke Pulau Rasa Sayang. Usulan itu adalah isapan jempol. Tidak ada dalam peta apa pun dan pada abad mana pun pulau bernama Rasa Sayang.

Muda-mudi yang sebagian besar terpilih karena mereka anak penguasa atau setidaknya ada hubungan dengan penguasa hanya berpesta di kapal kerajaan, pelesir keliling-keliling, dalam dokumen yang ditemukan kemudian ada disebut nama Pulau Bali. Terserah pembaca sudi percaya atau tidak.

Masih dalam hasil temuan para peneliti, kondisi negeri kala itu juga tidak sedang baik-baik saja. Bencana alam terjadi dimana-mana, dari gempa bumi sampai banjir.

Panen gagal. Pertanian ambruk.

Selain kelaparan di sejumlah tempat, wabah penyakit menyebar.

Catatan pujangga seperti dikutip peneliti: itu pertanda Raja kehilangan mandat langit.

Bukan merupakan peristiwa kebetulan meteor jatuh di lembah Sungai Naga. Terhadap mereka yang setia pada jalannya alam, alam juga akan selalu setia. Kalau betul seorang petani dengan gampang menatahkan pesan “Raja Akan Mati” seperti dikutip di atas, batu langit tadi memang telah menyediakan diri untuk menyampaikan pesan tersebut. Saatnya telah tiba, kata orang bijak pada zamannya.

Baca juga  Nazar

***

Di Gunung Suci Raja banyak merenungi apa yang telah dia jalankan dan lakukan. Diakui oleh para peneliti, Raja telah banyak membawa perubahan negeri terutama pada masa-masa awal pemerintahannya.

Ekskavasi yang dilakukan di berbagai tempat pada tahun-tahun belakangan menemukan benda-benda arkeologis seperti pondasi-pondasi bangunan kota, tiang-tiang, anak tangga, monumen raksasa, dan lain sebagainya. Agaknya Raja membangun sebuah kota, meski para ahli tidak bisa memastikan, pembangunan kota itu terselesaikan atau tidak. Tak ada jejak arkeologis yang menunjukkan bahwa di situs tersebut pernah ada kehidupan.

Musim berganti.

Merenung seperti gunung, kosong dalam keheningan, Raja menemukan bahkan apa yang tidak ia cari. Bukan kesembuhan dari penyakit atau keterhindarkan dari kematian yang ia dapatkan, melainkan rasa menerima apa adanya segalanya termasuk penderitaan, lepas dari samsara.

Raja terlahir kembali menjadi manusia baru. Matanya sejernih kemurnian embun yang setiap hari diminumnya. Wajahnya terbebas dari pergantian musim, senantiasa cerah seperti musim semi.

“Andai aku tidak mengabaikan mandat langit, sanggup memelihara kepercayaan dan kecintaan terhadap rakyat….” Raja berkata.

Sayangnya terlambat. Dipimpin langsung Pangeran Bukit Kaki Langit pemberontak masuk ibu kota. Tentara melakukan perlawanan dengan sia-sia. Mereka dilibas pasukan pemberontak, kepalanya dipenggal dijadikan hiasan mata tombak dipajang di pinggir-pinggir jalan.

Ibu kota jatuh.

Pangeran Bukit Kaki Langit menguasai istana.

Ia mengirimkan pasukan ke Gunung Suci: tangkap Raja. ***

.

Catatan:

Diilhami kisah jatuhnya dinasti-dinasti kuno Tiongkok seperti Qin, Sui, dan Tang. L’Histoire se Repete.

.

.

Bre Redana, wartawan dan penulis.

Supriyanto, ilustrator harian Kompas.

.
Raja dan Batu Langit. Raja dan Batu Langit. Raja dan Batu Langit. Raja dan Batu Langit.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!