Cerpen, Darko Manguntoro, Suara Merdeka

Jaran Kepang Thole

Jaran Kepang Thole - Cerpen Darko Manguntoro

Jaran Kepang Thole ilustrasi Suara Merdeka

1
(1)

Cerpen Darko Manguntoro (Suara Merdeka, 18 Februari 2024)

Jaranan-jaranan jarane jaran teji/Jaranan-jaranan jarane jaran teji/Sing numpak ndara bei/Sing ngiring para mantri/Cek cek nong… cek cek gung/Jarane mlebu ning lurung/Gedebug krincing… gedebug krincing/Prok prok gedebug jedher

LIRIK lagu “Jaranan” itu terdengar nyaring di telingaku. Diiringi suara gamelan yang bertalu-talu dengan penonton yang berdesak-desakan, tampak pasukan penari dengan rias wajah coreng-moreng berjingkrak-jingkrak ke kanan ke kiri mengikuti irama gamelan. Setiap pemain membawa properti berupa “kuda” yang terbuat dari anyaman bambu (bahasa Jawa: kepang). Karenanya kesenian ini disebut Jarang Kepang atau Kuda Lumping. Mataku asyik menyaksikannya, kepalaku manggut-manggut, dan sesekali tanganku secara refleks ikut menari. Tak kuhiraukan pundak bapak yang sedari tadi memanggulku.

“Le, sudah sore. Ayo pulang!” ajak Bapak.

“Nanti dulu, Pak, lagi seru-serunya nih,” jawabku.

“Yo wis, tapi nanti kalau sudah selesai kita langsung pulang ya. Kasihan emak di rumah sendirian,” rayu Bapak dengan kepala penuh keringat menghadap ke arahku yang masih asyik duduk di pundaknya.

“Nggih, Pak,” sahutku cepat, meski mataku masih setia menatap gerak-gerik para penari jaran kepang itu.

***

“Hai… hai… ya. Hai… hai… ya…!” seruku sambil menunggang guling lusuh kesayanganku. Tubuh kecilku berjingkrak-jingkrak menari di atas kasur. Ya, aku memang tidak punya kuda lumping, atau lebih tepatnya belum punya. Padahal aku kepengin sekali memiliki kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu itu. Diam-diam aku menyisihkan sisa uang sakuku yang tak seberapa itu. Suatu saat nanti aku akan membeli kuda lumping dengan uang tabunganku. Aku tak mau menyusahkan bapak dan emak.

“Ayo thole, sinau. Dari tadi kok njoged saja. Besok kan ada ulangan Matematika. Katanya mau hadiah sepatu baru,” kata Emak sambil mendekatiku. Nada suaranya meninggi dengan volume yang agak keras.

Begitulah emak. Walaupun orangnya lembut dan penyayang, tetapi untuk soal shalat, ngaji, dan belajar, beliau selalu keras. Tak menjadi soal kalau aku tidak membantunya membuat bubur dan masakan lain untuk dijual emak setiap pagi. Tak soal pula jika aku tidak membantunya membersihkan rumah. Yang penting aku tidak telat shalat, mengaji pada waktunya, dan sekolahku tidak keteteran. Itu sudah cukup, kata Emak.

Namaku Slamet Widodo, kelas VSD. Aku terlahir dari keluarga sederhana, kalau tak bisa disebut miskin. Ayahku bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Kliwon Temanggung, dengan upah hanya Rp 40.000‚ Rp 50.000 per hari. Upah itu harus dibagi untuk keperluan makan kami berlima, dan disisihkan untuk uang saku aku, mbak Sumi, dan mbak Ratri. O ya, mbak Sumi adalah adik bapakku yang berasal dari Ngaliyan. Sedang mbak Ratri adalah adiknya emak yang asalnya dari Gemawang. Keduanya yang berasal dari daerah terpencil itu ingin meraih kemajuan dengan bersekolah di kota sehingga untuk sementara numpang tinggal bersama kami. Jadi sebenarnya, Sumi dan Ratri itu tante atau bibiku, tetapi aku sudah terbiasa memanggilnya mbak.

Baca juga  Abang Tentara

“Le, ayo belajar!” suara Emak kali ini makin keras, hingga mengagetkanku yang masih asyik jogedan. Aku harus segera menaatinya kalau tidak ingin kena lemparan piring seng yang ada di samping emak. Lagian iming-iming berupa sepatu baru itu membuatku bersemangat. Emak dan bapak menjanjikan hadiah sepatu baru kalau aku dapat mencapai nilai 100 untuk mapel Matematika.

“Nggih, Mak,” aku langsung bergegas ke ruang tamu.

Rumah kami terdiri dari ruang tamu dengan 4 kursi dan sebuah meja kayu kuno yang umurnya lebih tua dari usia bapak; ruang tengah yang berisi dipan dan sebuah pesawat televisi 14 inchi; dua kamar tidur, satu untuk bapak, emak, dan aku; dan yang satu untuk mbak Sumi dan mbak Ratri; ruang dapur berlantaikan tanah bersebelahan dengan kamar mandi sekaligus WC. Aku tak pernah mengeluh, walaupun sesekali jika ada tamu malam-malam aku harus pindah ke ruang tengah, karena hanya dua ruang itu yang penerangannya cukup.

Di ruang tamu itu ternyata sudah ada mbak Sumi dan mbak Ratri yang sedang membaca buku. Mbak Sumi sekarang duduk di kelas III SMK di Kota Temanggung, sedangkan mbak Ratri kelas II SMP yang dulu dikenal sebagai sekolah RSBI. Aku sering minta diajari mengerjakan PR atau menyelesaikan tugas yang aku belum mudheng. Kebetulan kedua bulikku itu termasuk pintar, sehingga aku tidak perlu mengikuti les privat seperti teman-teman. Dan yang jelas, tanpa biaya alias gratis sehingga bisa meringankan beban ekonomi bapak dan emak. Malam itu, seperti kebanyakan malam-malam sebelumnya, kami belajar sampai jam 9 malam.

***

“Hayo, ngelamun!” suara Sugeng seraya menepuk pundakku.

“Aku tidak melamun kok…,” jawabku kaget.

“Ah, gak usah bohong! Apa yang kamu pikirkan?” cecar Sugeng.

Antara aku dan Sugeng sudah saling tahu tabiat masing-masing. Mungkin karena kami berteman sejak kanak-kanak, bahkan sejak bayi karena kami lahir sepantaran. Rumahku dan rumahnya juga berseberangan, hanya terpisah oleh jalan setapak dan sebidang tanah pekarangan milik mbah Yasir.

“Apa kamu masih memikirkan ulangan Matematika tadi pagi? Atau tugas mengarang cerpen dari bu Haryati? Atau ulangan semester yang tinggal 3 minggu lagi?” Sugeng memberondongku dengan serentetan pertanyaan, bagaikan tembakan peluru mortir.

“Aku lagi galau, Geng!” jawabku singkat.

“Alaaaah, apa lagi yang membuatmu galau? Ulangan Matematika tadi tidak jadi masalah untuk juara kelas seperti kamu. Tugas membuat cerpen juga tidak masalah untuk anak yang punya hobi mengarang. Ulangan Semester? Toh seandainya Ulangan Semester itu diajukan besok pagi, kamu pasti siap!” kata pemilik pipi tembem itu sambil melirik ke arahku.

“Bukan itu, Geng. Aku pengin latihan jaran kepang!”

“Kalau itu masalahnya, ayo sekarang kita ke rumah kang Tamsir. Sekarang lagi ada latihan di sana!” ucap Sugeng tertawa sambil menarik tanganku. Kami pun berlarian menuju ke rumah kang Tamsir yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari kediaman kami.

Baca juga  Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata

***

Bapak menyambutku dengan wajah tak sumringah. Aku menyadari kesalahanku: maghrib begini baru pulang dengan tubuh masih berbalut seragam putih-merah, tanpa pamit pula.

“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!” bentak Bapak.

“Thole ke rumah kang Tamsir nonton latihan jaranan. Terus Thole diajak main sekalian, kata kang Tamsir Thole punya bakat menari,” jawabku tertunduk.

Dengan menjewer telingaku, bapak menyuruhku untuk segera mandi, shalat maghrib, mengaji, dan belajar sampai tiba waktu isya. Kali ini emak tak membelaku karena tahu, aku yang salah. Aku sedikit ngambek dan milih belajar di kamar dengan penerangan lampu 10 watt. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa bapak tidak mengizinkanku main jaranan? Padahal hari Minggu yang lalu bapak mengajakku nonton jaranan, bahkan memanggulku di pundaknya sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan sejak saat itu, aku makin jatuh cinta pada kesenian Jaran Kepang, yang di kampungku biasa disebut Jaranan. Gerak tariannya yang dinamis, iramanya yang rancak, dan liriknya yang lugas bagiku merupakan sesuatu yang luar biasa.

Rabu sore ini latihan Jaranan lagi di rumah kang Tamsir. Kali ini aku pulang lebih dulu karena takut kesorean dan kena marah bapak lagi. Terlebih sepulang sekolah tadi, aku sudah menyodorkan hasil ulangan Matematika ke emak. Nilaiku 100. Sambil berjalan pulang, aku membayangkan hadiah sepatu baru yang bakal kuterima sebagai hadiah dari bapak dan emak. Di luar dugaanku, bukan hadiah yang kuterima tetapi kemarahan bapak yang menyambutku di pintu rumah.

“Dari mana kamu? Kenapa pulang sore lagi?”

“Thole dan Sugeng dari rumah kang Tamsir, habis latihan Jaranan. Minggu depan kami pentas di kabupaten Pak,” jawabku berterus terang.

“Jaranan maneh, jaranan maneh!” seru Bapak, “Untuk apa kamu main jaranan? Cuma njoged gak jelas, nyurupi, makan kembang dan beling. Itu yang kamu mau? Thole, Thole… Bapak menyekolahkan kamu sampai jungkir balik agar kelak kamu menjadi orang sukses. Jadi guru, dokter, tentara, atau presiden kalau perlu! Tetapi kenapa kamu malah sukanya main-main?”

“Maaf, Pak, tetapi Thole tidak pernah main-main. Thole menari Jaran Kepang seperlunya, tidak pernah nyurupi dan semacamnya,” ujarku menyela, “Lagian, kata kang Tamsir ini untuk pentas di kabupetan, demi nama baik kampung kita juga,” jawabku membela diri.

“Bukan jaran kepangnya yang bapak benci, Le. Bapak cuma khawatir kamu kebablasen dan tak bisa mengatur waktu,” kata Bapakku mereda. Sekarang tahulah aku, apa jalan yang dikehendaki bapak dan emak. Aku boleh main jaran kepang asalkan bisa membagi waktu untuk shalat, mengaji, dan belajar.

***

Tidak seperti hari biasanya, pagi ini aku sangat bersemangat. Bukan saja lantaran hari ini pembagian raport, melainkan juga karena hari ini aku dan grup Jaranan kang Tamsir akan pentas di kabupaten. Aku tidak ikut bapak mengambil raport di sekolah, aku bilang kepada bapak akan menengok teman yang sakit dan dirawat di RSUD. Sejak kemarahan bapak yang terakhir itu, aku jadi lebih berhati-hati. Setiap latihan hari Senin dan Rabu sore di rumah kang Tamsir, aku bilang ada jam tambahan dan belajar kelompok. Demi kebaikan, terpaksa aku berbohong. Maafkan Thole, Pak.

Baca juga  Ada Ular di Atas Tubuh Ibu

Aku duduk di atas kepala truk dengan wajah sudah dipoles make-up lengkap dengan kostum warna-warni. Sampai di alun-alun truk berhenti. Perasaanku tidak menentu. Turun dari kendaraan aku mondar-mandir menghilangkan rasa deg-degan dan grogi. Aku juga membayangkan ekspresi bapak kalau tahu aku berbohong. Juga membayangkan raport bersampul biru bertuliskan namaku: Slamet Widodo. Bapak pernah bercerita, nama itu diberikan kepadaku agar aku menjadi anak yang selalu diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah SWT, meskipun akhirnya bapak dan emak memanggilku dengan Thole (artinya anak lelaki).

“Le, ayo giliran kita main,” suara Sugeng membuyarkan lamunanku.

Suara gamelan dan gemerincing krincingan kaki para penari disambut meriah oleh para penonton. Kembali aku memikirkan amarah bapak, melihat nilai-nilai di raportku yang mengecewakan. Maafkan Thole pak, emak. Sebab melalui seni Jaran Kepang inilah Thole bisa belajar tentang kedisiplinan dan kekeluargaan. Juga keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri, sehingga tercipta harmoni antara olah tubuh, olah pikir, dan olah rasa.

Pertunjukan selesai. Aku dan rombongan turun dari panggung. Di luar dugaaan, aku melihat bapak dengan tubuh kekarnya berada di kerumunan orang-orang. Rupanya sedari tadi beliau menonton pertunjukan kami. Tangan kanannya memegang buku raport bersampul biru yang sudah kukenal. Sedang tangan kirinya menenteng tas kresek besar berwarna hitam. Apa isinya? Aliran darahku serasa terhenti, napasku tertahan, hiruk-pikuk di sekitarku tak kudengar lagi. Tiba-tiba saja bapak mendekat dan memelukku erat sambil berkata, “Thole, bapak bangga padamu! Ternyata kekhawatiran bapak selama ini tak beralasan,” katanya.

Sontak rasa terkejutku menjadikan semua keadaan berjalan normal kembali. Bapak menyodorkan raport bersampul biru sambil berkata, “Kamu dapat peringkat satu, dengan nilai rata-rata 9,5. Nilai yang sempurna.” Tanpa pikir panjang segera kurebut bungkusan plastik warna hitam di tangan kiri bapak, ternyata isinya sepasang sepatu baru yang kuidam-idamkan.

“Terima kasih Pak. Thole janji tidak akan mengecewakan bapak dan emak lagi,” kata itu tak sempat terucap lewat bibirku. Aku hanya bisa membatinnya. Aku tak sanggup berkata apa-apa. Hanya tetes air bening di pipi yang menandai rasa bahagiaku saat itu. ***

.

.

Temanggung, medio Januari 2024

Darko Manguntoro, guru SMP6 Temanggung. Pemerhati masalah pendidikan, sosial, dan budaya.

.
Jaran Kepang Thole. Jaran Kepang Thole. Jaran Kepang Thole. Jaran Kepang Thole. Jaran Kepang Thole.

Loading

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!