Cerpen, Rere Indika Putri Ardana, Suara Merdeka

Kematian adalah Kebahagiaan

Kematian adalah Kebahagiaan - Cerpen Rere Indika Putri Ardana

Kematian adalah Kebahagiaan ilustrasi Suara Merdeka

3.5
(4)

Cerpen Rere Indika Putri Ardana (Suara Merdeka, 15 Februari 2024)

GEDUNG berwarna putih pucat ditemani para bintang dan satu bulan yang bersinar pada malam. Terdiam membisu, menatap lurus ke depan di mana seseorang tengah berdiri meratapi yang sudah terjadi.

Panggil saja ia, Kenzo Geofernando. Lelaki yang berusia dua puluh lima tahun, memiliki wajah tampan rupawan dengan bola mata berwarna biru tajam. Meski begitu, ia belum memikirkan untuk memiliki seorang kekasih. Kenzo trauma dengan masa itu, hingga saat ini.

Lelaki itu merasakan getaran yang cukup kuat pada setiap langkahnya. Pikiran yang terus saja berputar, menjelaskan rasa sakit mendalam sampai menusuk jantung. Hingga seseorang menolong kehidupannya.

Entah tujuan apa Kenzo datang kembali ke tempat ini. Apa yang sedang lelaki ini lakukan? Membalas dendam atau ingin membuktikan sesuatu.

***

Lehernya dicekik sangat kencang oleh tangan yang mulus tapi digerakkan oleh hati seorang iblis. Sulit ia bernapas dengan lancar. Matanya—biru tajam, bertemu dengan bola mata pada paras yang cantik. Tapi kecantikannya tidak sesuai dengan kepribadiannya. Perempuan itu memakai dress hitam, sama seperti kehidupannya yang penuh dengan kegelapan. Kenzo mencoba melepaskan tangan wanita ini, namun gengaman tangannya cukup bertenaga. “Le-pas-kan,” ujar Kenzo tersendat. Perempuan itu tersenyum manis, “Tidak, sebelum saya melihat mayatmu di hadapan saya,” jawab perempuan itu. Jari-jemarinya semakin kuat.

***

“CLARA!” seru seseorang masuk dengan mendobrak pintu kayu. Wanita itu menoleh, lalu kembali menatap Kenzo.

“Cukup manis kamu, Baby,” Clara sudah tahu bila Kenzo—mantan kekasihnya itu akan membawa temannya. Wanita itu sudah menyiapkan sebuah rencana yang menarik.

Baca juga  Ada Marela, Ada Mama

“Diam di situ, atau dia akan mati di hadapanmu, Daniel,” ucap Clara memperingatkan lelaki yang bernama Daniel—teman Kenzo.

Clara merogoh saku celana belakangnya. Terdapat sebuah benda tajam di tangan kanannya. Perlahan pisau itu menuju dagu Kenzo. Lelaki itu menatap ujung pisau tersebut, takut bila perempuan di depan tiba-tiba menusukkan ke lehernya.

“Clara, apa kau ingin membunuh Kenzo?” tanya Daniel menatap serius dengan perasaan khawatir. Daniel berjalan cepat ke arah Clara dan dengan cepat pula lelaki itu membuang sembarangan pisau tersebut.

Clara menatap tajam dan eratan tangannya di leher Kenzo terlepas. Clara pun mengambil pistol di saku kiri celananya lalu mengarahkan ke kepala Daniel. Lelaki itu kaget, tubuhnya menegang. Tanpa berpikir panjang Clara meluncurkan peluru ke arah kepala Daniel kemudian lelaki itu terjatuh yang dipenuhi oleh darah segar yang mengalir dikeningnya.

Kenzo yang melihat langsung temannya dibunuh oleh mantan kekasihnya itu merasa takut. Lelaki itu menghampiri Daniel namun terhenti oleh perkataan Clara.

“Jangan bergerak atau kamu akan mengalami hal yang sama!” ujar Clara seperti manusia yang dirasuki oleh para iblis. Clara tersenyum lalu seketika menjadi tawa yang menggema di seluruh ruangan gelap ini.

“Ini belum seberapa, kau adalah penyebabnya.” Mata Clara menajam lalu berkata kembali, “Kau telah membunuh keluargaku, orang terdekatku. Aku akan membalasnya, yang lebih kejam.” Clara tertawa jahat.

Kenzo menyadari itu dan ia teringat masa tersebut.

Memang kejadian masa itu membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosi yang memuncak, hanya karena hubungannya dengan Clara tidak direstui oleh keluarga Clara. Lelaki itu kecewa dan marah besar lalu Kenzo membunuh seluruh anggota keluarga Clara. Pada saat seperti itu, Clara menjadi depresi dan selalu menyendiri. Lalu sekarang ia berubah menjadi wanita iblis.

Baca juga  Rumah Duka

Tempat inilah saksi di mana Kenzo membunuh seluruh keluarga Clara, tanpa memikirkan perasaan mantan kekasihnya.

“Sekarang kamu harus membayarnya dengan hal yang sama,” ucap Clara mencondongkan pistolnya ke arah Kenzo. Lelaki itu seperti sudah pasrah bila ia akan bertemu malaikat maut.

“Selamat tinggal, kekasihku,” pesan terakhir Clara yang siap untuk menembak mantan kekasihnya itu.

DORR!

Tubuh seseorang tergeletak di lantai yang dingin pada suasana yang mencekam. Ambruk sudah benteng yang disiapkan. Dendam yang terbayar hangus terbakar. Clara kalah cepat dengan Kenzo yang sudah menembak wanita itu hingga terjatuh lalu mengeluarkan darah segar dari dadanya.

Clara menahan rasa sakit, teramat sakit. Peluru yang menembus tubuhnya seolah racun dari segalanya. Perlahan kantung matanya tertutup dan samar-samar ia melihat lelaki di depannya tersenyum.

Di dalam hati, Clara merasa dendamnya belum tuntas. Dia rela mati terbunuh asal pelaku dari pembunuhan keluarganya bisa merasakan sakit yang mendalam.

Sekuat tenaga Clara membuka kantung matanya lalu perlahan tangan kanan yang sulit untuk bergerak mencoba melakukan hal yang ia capai. Ia condongkan pistol itu lalu menembak seseorang di hadapannya.

Bunyi suara pistol itu bergema dua kali. Benar, Clara menembak Kenzo sebanyak dua kali agar lelaki itu bisa menebus kesalahannya. Kenzo terjatuh dengan tubuh yang kaku dan darah yang mengalir deras berasal dari dadanya, tepat di jantungnya.

Clara bahagia, walau dirinya harus mati terbunuh oleh pelaku pembunuhan keluarganya yang sebenarnya mantan kekasihnya, ia rela. Sekarang wanita ini bisa beristirahat dengan tenang. Dan berharap agar keluarganya baik-baik saja di sana bersama-Nya.

Matanya tertutup dengan lengkungan senyum manisnya. ***

.

.

Rere Indika Putri Ardana. Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Semarang (USM) kelahiran Bekasi. Selain menulis, aktif juga pada bidang fotografi.

.
Kematian adalah Kebahagiaan. Kematian adalah Kebahagiaan. Kematian adalah Kebahagiaan.

Loading

Leave a Reply

error: Content is protected !!