Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Satmoko Budi Santoso

Bansos

Bansos - Cerpen Satmoko Budi Santoso

Bansos ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(2)

Cerpen Satmoko Budi Santoso (Kedaulatan Rakyat, 23 Februari 2024)

KARMIN lagi-lagi cemberut. Dirinya kembali merasa sebagai orang yang paling sial sekampung. Penyebabnya sederhana, tiap kali ada bagi-bagi jatah Bantuan Sosial atau Bansos, dirinya selalu kelewatan.

Padahal, dirinya juga berkategori miskin. Buktinya, misalnya, rumahnya yang biasa saja. Belum dikeramik, listrik juga masih golongan paling rendah. Pekerjaannya juga masih serabutan.

Jika malam tiba dirinya juga hanya bisa merutuki nasib. Terlihat istrinya juga cemberut setiap kali kelewatan tidak menerima Bansos. Anak kecil mereka juga tampak tak terurus.

Karmin memang warga biasa saja. Bergaul juga biasa saja. Saat kelewatan tak menerima Bansos juga tak mampu protes.

Sebenarnya banyak warga lain mendorong dirinya untuk protes. Setidaknya menyampaikan pada Ketua RT dan Kepala Dusun. Tapi, hal itu pun tak mau dilakukannya.

Pak RT dan Kepala Dusun juga sepertinya pura-pura tak mau tahu. Biasalah, begitulah kehidupan warga desa. Begitulah rupa-rupa dinamikanya.

Jika ada warga kampung lewat di depan rumah Karmin membawa seplastik Bansos, maka Karmin hanya bisa memandang sambil ngiler.

Jika ada warga kampung lewat di depan rumah Karmin menenteng lebih dari satu plastik Bansos, Karmin hanya melihat sambil melongo.

Jika ada warga kampung lewat di depan rumah Karmin tertawa ngakak, riang gembira mendapat Bansos, Karmin hanya menitikkan air mata. Hanya ada satu orang saja bernama Karmin yang pikiran dan perasaannya tercabik-cabik setiap kali musim Bansos tiba.

Warga sekampung juga seperti tak peduli jika setiap hari keluarga Karmin bisa makan atau tidak. Memang makin elok kehidupan warga zaman sekarang di era ponsel. Banyak orang seperti makin tak peduli antara satu dengan yang lain.

Baca juga  Cap Go Meh di Keluarga Akiong

Saat Karmin sakit saja orang kampung peduli, tapi soal Bansos Karmin harus berjuang setengah mati agar diakui sebagai orang miskin. Karena merasa dikucilkan warga kampung, Karmin pernah mau transmigrasi. Tapi, rencana itu gagal total. Istrinya tak setuju. Alasannya lebih senang di kampung halaman meskipun miskin bukan kepalang.

Hari-hari Karmin dan keluarganya adalah hari-hari pasrah. Karmin sudah malas mengurus segala hal terkait pengakuan sebagai orang miskin. Ia merasa harusnya pejabat kampunglah yang lebih peduli. Tidak usah menyodorkan diri juga sudah tahu bahwa dirinya jelas orang miskin.

Kadang-kadang Karmin berpikir, memang aneh karakter orang Jawa. Bisa saja pura-pura tidak tahu. Tapi, begitulah yang harus ia jalani. Bertemu dengan banyak orang yang halus, lugu, dan santai, namun bisa juga diam-diam buas.

Kadang-kadang Karmin juga berpikir, tak layak menyesali nasib, maka lebih baik ia menerima saja dengan lapang hati. Sembari terus bekerja dan tidak mengharap lagi Bansos tiba di tangannya.

Sampai suatu hari, karena rajin bekerja keras, Karmin justru mampu menyantuni banyak warga kampung, termasuk Pak RT dan Kepala Dusun. Keduanya masih saja mau menerima hibah harta Karmin yang sudah melimpah ruah.

“Terima kasih, Mas Karmin. Masih ingat sama saya,” kata Pak RT.

“Terima kasih juga, Mas Karmin. Masih mau peduli dan memberi saya,” ujar Pak Kepala Dusun.

“Ya, Pak. Orang Jawa memang harus saling tolong-menolong,” tukas Karmin kepada keduanya. ***

.

.

Yogyakarta, Februari 2024

*) Satmoko Budi Santoso, tinggal di Yogyakarta.

.

.

Loading

Leave a Reply

error: Content is protected !!