AK Basuki, Cerpen, Kompas

Rumah Telinga

Rumah Telinga - Cerpen AK Basuki

Rumah Telinga ilustrasi I Made Wahyu Friandana/Kompas

4.3
(7)

Cerpen AK Basuki (Kompas, 10 Maret 2024)

SEORANG lelaki yang sedang merasa jadi orang termalang sedunia membeli rumah terujung di suatu kompleks perumahan kuldesak. Kesepakatan terjadi tanpa berbelit bukan saja karena luka parah di hatinya tak kunjung sembuh setelah tersingkir dari rumah mantan istrinya, tetapi juga karena si pemilik bersedia menurunkan harga cukup jauh dari penawaran pertama.

Sah urusan di depan notaris, saat menyerahkan kunci, pemilik lama yang sebelumnya irit bicara ujug-ujug membisikinya dengan ekspresi wajah manusia tengil nan usil, “Jangan sampai ketagihan bermain-main dengan pentol keran di kamar mandi!”

Bisikan yang terdengar berkonotasi mesum dan dianggapnya sekadar candaan garing untuk seorang duda muda itu sudah nyaris terlupakan jika saja tidak terjadi keanehan yang berhubungan dengan pentol keran di kamar mandi setelah dia menempati rumah itu. Ada bunyi keresek-keresek mirip radio kehilangan frekuensi tiap dia memutar keran air untuk mengisi bak mandi. Mulanya dia pikir hanyalah efek suara derasnya air dan tekanan udara dari pipa yang terbenam dalam tembok rumah, tetapi ketika coba diputar-putarnya pentol keran serampangan, rasa keingintahuannya mau tidak mau semakin tergelitik karena volume suara keresek-keresek itu turut berubah merendah dan meninggi seperti dia benar-benar tengah memutar kenop radio transistor 2 band kuno.

Lama dia mengulik seperti ilmuwan menghadapi rumus-rumus pelik, sampai posisi putaran keran membuat air turun sekira setetes tiap lima detik, tiba-tiba terdengar suara orang bercakap-cakap. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup membuat bulu kuduknya meremang.

“Dia seharusnya bergaul, bukan cuma tidur dan berak saja di lingkungan baru,” terdengar suara seorang perempuan saat ditambahnya putaran keran sedikit lagi hingga air turun satu tetes tiap dua detik. Kini sangat jelas dan bisa dia kenali adalah suara perempuan yang tinggal di samping rumahnya. Perempuan itu pernah menyapa, mengajaknya mengobrol, menawarkan bantuan jika dibutuhkan yang lalu ditolaknya.

“Lalu apa ruginya buat kita?” balas suara lelaki.

“Orang yang tidak sudi bergaul pastilah sejenis orang aneh. Kau bisa tenang bertetangga sama orang model begitu?”

Begitu saja yang sempat didengarnya sebelum suara percakapan itu hilang berganti suara keresek-keresek lagi.

Sungguh menarik, pikirnya. Alih-alih merasa takut, malu atau bersalah telah menguping pembicaraan orang, apalagi dia yakini pembicaraan itu tentang dirinya, dia malah merasa sangat beruntung. Temuan itu segera dianggapnya sebagai sebuah cara untuk meluruskan kekeliruan dalam hidupnya. Bukankah omongan orang adalah alarm terbaik untuk berintrospeksi? Kegagalan yang dia alami bisa jadi karena selama ini dia terlalu cuek, tidak peduli orang lain hingga isi hati mantan istrinya saja terlambat dia pahami.

Baca juga  Kaki Sewarna Tanah

Semakin benaknya melantur ke mana-mana, makin terasa pula kesedihan dan kesendiriannya. Ditutupnya keran setelah menandai posisi putaran dengan menggores permukaan pentol keran menggunakan pisau. Usai mengganti baju dan celana, dia segera pergi menuju rumah pasutri yang tadi membicarakan dirinya.

“Astaga! Baru saja saya dan suami membicarakan Anda,” kata perempuan itu dengan ekspresi wajah kaget yang berlebihan setelah membukakan pintu. Setidaknya dia jujur.

“Betulkah?” lelaki itu pura-pura kaget.

“Saya dan suami ingin mengajak Anda sekeluarga, eh, Anda saja, mungkin, karena kami tidak melihat orang lain di rumah itu, untuk makan malam bersama atau sekadar mengobrol.”

“Saya juga berpikiran sama. Maaf, karena banyak yang harus dibereskan, baru sekarang saya bisa punya waktu.”

Suami perempuan itu bergabung beberapa saat kemudian dengan ekspresi awal yang sama dengan istrinya, tetapi terlihat sangat bersemangat. Lelaki penghuni rumah baru itu memesan banyak makanan dari aplikasi di gawainya yang lalu dinikmati bersama sambil mengobrol santai di teras rumah. Sebagai orang baru dia harus terbuka, pikirnya, maka tidak ada yang dia sembunyikan ketika pasutri itu mencoba mengorek cerita kehidupannya.

“Rumah tangga saya berantakan,” tuturnya malu-malu. Namun setelah dua botol minuman beralkohol disajikan, makin banyak cerita yang keluar tanpa malu-malu lagi seperti buah-buah rahasia yang berjatuhan begitu saja dari dalam kantong cerita di kepalanya.

Malam sudah sangat larut ketika lelaki itu minta diri. Kesadarannya pun sudah sangat larut sehingga dia tidak terlalu memikirkan kalimat terakhir dari perempuan tetangga barunya itu, “Senang sekali mempunyai tetangga baru yang sangat baik. Semua pemilik rumah itu sebelum kamu, bukanlah orang-orang yang menyenangkan.”

Dia hanya merasa kata “kamu” telah membuatnya sangat diterima.

Lelaki itu bangun di pagi hari dengan sisa-sisa mabuk yang mirip mabuk laut dan kepala yang terasa berat seperti dibebani jangkar kapal. Dia merebus satu panci besar air yang setelah mendidih langsung ditumpahkan ke dalam bak mandi, lalu berendam tanpa melepas pakaian. Tangannya segera memainkan pentol keran. Di posisi putaran yang telah ditandainya, hanya suara keresek-keresek yang terdengar. Mungkin pasutri itu masih tidur atau sedang keluar, pikirnya. Agak kecewa, iseng ditambahinya putaran keran sedikit-sedikit. Di posisi putaran yang membuat air turun sekira satu tetes tiap satu detik, lamat-lamat muncul suara percakapan. Belum terlalu jelas, maka ditambahnya putaran sedikit lagi. Air turun sekira dua tetes per detik.

Baca juga  Kamboja di Atas Nisan

“Memangnya tetangga cuma mereka berdua,” terdengar jelas suara seorang perempuan.

“Kau cemburu,” satu suara lelaki menanggapi.

“Bukan cemburu. Aku tidak peduli dia akan berteman dengan tetangga yang mana. Jika saja dia juga bertandang ke rumah kita, aku mau protes. Masa, dia tidak merasa decit roda pagarnya itu bisa terdengar seantero kompleks?”

“Kenapa tidak sekarang saja kau pergi ke rumahnya, bicara baik-baik, tidak hanya menggerutu di belakang?”

“Ogah!”

Bokong lelaki itu seketika bagaikan tersengat kalajengking. Buru-buru dia bangkit. Kuyup pakaiannya, pening kepalanya, namun memaksa bergegas mengambil jeriken berisi sisa oli mesin di mobilnya. Itu minggu pagi dan dia merasa tidak ada salahnya memulai hari dengan mengolesi roda pagar yang memang sudah karatan. Selesai hanya dalam waktu kurang dari seperempat jam, ketika tengah membereskan peralatan, satu sapaan menyambar telinganya.

“Selamat pagi, Pak. Aduh, padahal baru saja saya mau mengobrol soal suara berisik dari pagar ini.”

“Baru sekarang saya ada waktu untuk mengurusi beberapa hal yang masih luput dari perhatian. Maaf jika selama ini merasa terganggu.”

Lelaki itu segera paham bahwa orang inilah yang tadi berbicara dengan istrinya tentang pagar rumah. Mereka lalu berbincang sebentar, sekadar basa-basi tetangga.

“Menyenangkan punya tetangga baru yang baik dan penuh pengertian seperti Anda,” kata tetangganya itu saat mengakhiri obrolan dengan wajah berseri-seri. Sepertinya dia punya kesan yang baik padanya. Lelaki itu pun merasa puas, jika dia bisa mendengarkan lebih banyak lagi, mungkin dia bisa menjadi orang yang sangat menyenangkan di mata semua tetangga. Berpikir begitu, hatinya segera dipenuhi bunga-bunga rasa bahagia.

Sejak saat itu, hampir sepanjang waktunya di rumah, habis untuk mengulik keran. Ternyata putaran keran di posisi-posisi tertentu membuatnya bisa mendengar percakapan-percakapan dari tiap rumah di kompleks itu. Dalam beberapa hari saja sudah bisa dia hafali bahwa berapa banyak putaran keran, berapa banyak air yang mengucur, menentukan akan menguping tetangga yang mana. Sebenarnya dia sadar apa yang dilakukannya sangat tidak patut, tetapi dia merasa ada maksud baik dari seseorang yang telah menciptakan semacam alat penyadap dari pipa saluran air di rumahnya. Jika akan membuatnya lebih peduli pada orang lain, bukankah baik? Maka selama berminggu-minggu kemudian dia benar-benar disibukkan dengan rasan-rasan dan harapan tetangga tentang dirinya yang sebisa mungkin dia penuhi segera.

“Orang baru harusnya memberi sumbangan paling besar untuk perbaikan gerbang kompleks. Orang lama, ya, cukup lima puluh ribu saja,” didengarnya tetangga yang lain suatu waktu, membicarakan surat edaran tentang sumbangan sukarela untuk perbaikan sarana perumahan. Satu juta langsung keluar dari dompetnya.

Baca juga  Balada Matinya Tabib Tjhia

“Orangnya sangat baik, aku tidak heran jika tiba-tiba dia bertandang kemari sambil membawakan oleh-oleh,” kata yang lain. Keesokan harinya, sepulang bekerja, dibawakannya oleh-oleh untuk tetangga itu.

“Warna cat rumahnya sangat kusam.”

“Kira-kira dia mau tidak meminjamkan uang?”

Dia jadi terlalu sering bermain di kamar mandi. Keran sengaja selalu dibuka sampai-sampai air meluber terbuang, tetapi dia sama sekali tidak memikirkan tagihan rekening air. Dia lebih merasa ketagihan mendengar percakapan tetangga yang entah kenapa selalu tentang dirinya.

Sampai suatu hari, ketika lelaki itu tengah merunut jalur kumpulan semut yang tiba-tiba memenuhi tembok rumah, dia menemukan rekahan kecil di tembok kamar dari mana semut-semut itu muncul lalu melihat sebuah benda sebesar kancing kemeja dengan permukaan berkilat seperti mata kucing dalam kegelapan. Butuh berjam-jam untuknya memeriksa dan menemukan benda-benda yang sama di tiap ruangan. Dia bukan orang bodoh. Dia tahu benda-benda apa itu beserta fungsinya yang ternyata selama ini sudah terinstalasi di seluruh ruangan dalam rumahnya. Terangkai sempurna kini semua alasan-alasan yang tidak pernah dipedulikannya, mengapa rumah itu telah berganti pemilik beberapa kali, mengapa pemilik terakhir menjualnya dengan harga sangat rendah, mengapa semua pembicaraan yang dia curi dengar selalu tentang dirinya….

Isi dadanya serasa hampir meletup oleh rasa marah dan malu. Para tetangga pastilah telah bersekongkol memonitor isi rumah dan kegiatan sehari-harinya dari peralatan berteknologi lebih tinggi dibandingkan pipa saluran air penguping tetangga, sambil menyiapkan skenario percakapan untuk mendikte dan mengerjainya! ***

.

.

Cigugur, November 2023

AK Basuki, fisioterapis dan penulis cerpen. Tinggal di Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

I Made Wahyu Friandana, perupa, musisi (Virtual Doom & Akubandkamu), dan tattoo. Lahir di Denpasar, 17 April 1995. Aktif berpameran, antara lain Pameran Postcard “Philip von Zweck: Eternal 2014” @The Storefront 2606 N California; Pameran Seni Visual Young Artists Sanggar Dewata Indonesia (SDI) MOOI IN (DIE) BALI di Indiearthouse, tahun 2015; dan Pameran Bali Megarupa.

.
Rumah Telinga. Rumah Telinga. Rumah Telinga. Rumah Telinga. Rumah Telinga. Rumah Telinga. Rumah Telinga.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!