Cerpen, Iin Farliani, Jawa Pos

Presiden Dapur

Presiden Dapur - Cerpen Iin Farliani

Presiden Dapur ilustrasi Budiono/Jawa Pos

5
(3)

Cerpen Iin Farliani (Jawa Pos, 23 Maret 2024)

SATU-SATUNYA yang begitu menarik perhatianku ketika berhasil meloloskan diri dari kerumunan untuk masuk ke rumah Runn ialah tiga stoples kaca berisi kimci yang terletak dalam kulkas yang pintunya telah terbuka. Bukan berarti aku tak terkejut saat melihat mayat suami Runn yang tergeletak dalam posisi melintang di lorong tingkat dua rumah Runn ini. Tak berarti pula aku mengabaikan keadaan Runn yang terbaring lemas di sofa, tak jauh dari tempat mayat suaminya. Hanya, tiga stoples berisi kimci itu untuk sesaat yang kukira amat singkat menyadarkanku tentang satu hal bahwa Runn tak berubah.

Ia masih sama seperti Runn yang kukenal. Tiga stoples yang bersinar di bawah lampu kuning keemasan menerobos pandanganku ketika aku masuk ke tempat di mana Runn dan mayat suaminya berada. Tiga stoples yang menyatakan sendiri keberadaannya bahwa mereka akan tetap di situ meski sang pembuat kemungkinan besar tak akan menyantapnya. Itu persediaan kimci untuk satu bulan. Orang yang sedianya akan menyantap kimci itu juga keberadaannya sudah tak ada. Tak hanya untuk satu bulan ke depan, tetapi selama-lamanya.

Posisi mayat suami Runn membuat beberapa polisi kesulitan menyusuri lorong rumah demi mengumpulkan petunjuk-petunjuk yang ada. Lorong itu sempit. Mayat itu sulit dipindahkan. Bau busuk yang merebak menambah kesulitan pemindahan mayat itu. Kalau berlama-lama di sana, kuyakin baunya bisa membuat orang pingsan. Kondisi mayat itu juga sudah rusak.

Selama proses evakuasi, aku melihat Runn digotong beberapa petugas ke dalam ambulans. Runn masih sangat syok. Tubuhnya lemas dan kurus. Ia hanya mampu menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Ia bahkan tampaknya tak mengenaliku ketika aku mendekat padanya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Meski telah menyaksikan langsung keadaan Runn yang tak terpahamkan itu, aku masih meyakini bahwa Runn tak berubah. Setidaknya dalam bayanganku sendiri. Runn tetaplah seperti perempuan yang kukenal. Ia masih menyempatkan diri untuk memasak kimci, makanan kesukaan suaminya, bahkan dalam porsi banyak yang disimpan dalam tiga stoples besar. Itu artinya sebelum semua tragedi ini terjadi, keadaan rumah masih baik-baik saja. Tak ada rencana pembunuhan. Runn tak mungkin terlibat dalam kematian suaminya. Tiga stoples kimci itulah buktinya. Tiga stoples kimci itu juga menyiratkan bahwa Runn masih berhasrat menjadi “Presiden Dapur”.

Aku dan Runn punya pertaruhan bersama: siapa presiden yang terpilih pada pemilu mendatang akan menentukan siapa di antara kami yang akan menjadi “Presiden Dapur”. Kami selalu bertengkar. Kami selalu berbeda pendapat. Dua saudara perempuan yang jarang sepaham. Termasuk dalam menjalankan kembali restoran peninggalan orang tua kami. Apa yang akan tetap dipertahankan menjadi menu andalan, target konsumen, teknik promosi, sumber bahan baku, selalu tak menemui kesepakatan. Kemudian tercetuslah ide ini: “Presiden Dapur” untuk restoran peninggalan orang tua kami akan ditentukan hasil pemilihan presiden yang akan datang. Ide itu membuat aku dan Runn mencapai kesepakatan. Namun, dari sana timbullah lagi perdebatan-perdebatan baru.

Baca juga  Lima Menit Biola di Kelas Matematika

Runn memilih Brassica RP sebagai calon presiden unggulannya. Sementara aku mendukung calon presiden Solanum OG. Aku selalu mengingatkan Runn bahwa Brassica RP punya riwayat kejahatan militer di masa lalu. Kukatakan bila Brassica RP yang terpilih, bisa dipastikan negara ini akan diperintah dengan kekuasaan bertangan besi. Kediktatoran dan pertumpahan darah akan terjadi di mana-mana. Runn menepis itu semua. Ia berkata dengan segala kekacauan yang terjadi selama ini mestilah pemerintahan bertangan besi yang dibutuhkan untuk mengatur semuanya.

Waktu itu kami duduk di sofa, menatap layar televisi yang menyala. Di layar terpampang Brassica RP bersama pendukungnya berdiri di atas podium, meneriakkan kata-kata semangat dan janji-janji. Setiap kali kemunculannya, Brassica RP selalu tampak berapi-api dan percaya diri bahwa takkan ada lawan yang sanggup mengalahkannya. Ini sangat kontras dengan Solanum OG, yang ekspresi wajahnya selalu tampak teduh dengan pandangan sayu. Namun, yang membuat kesan lemahnya tersingkir–kesan yang mungkin ada ketika kali pertama melihat dirinya–ialah kata-kata yang dilontarkan Solanum OG. Ia kerap melontarkan komentar-komentar satire yang diakhiri dengan senyuman lembut. Isi komentarnya dan nada bicaranya kurasa sudah cukup membuat lawannya merasa bodoh tanpa harus menggertak dengan gaya berapi-api. Itulah yang membuatku menyukai Solanum OG. Bagiku ia tampak cerdas.

“Coba kaulihat. Betapa berbedanya Brassica RP bila dibandingkan dulu dan sekarang. Tampang seriusnya yang dulu sudah tak ada. Ia sekarang pandai melontarkan kata-kata yang jenaka. Ia mau mendengarkan aspirasi anak-anak muda. Orang bisa berubah, kan? Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah,” kata Runn setiap kali aku mengejek Brassica RP.

Kalimat serupa itu juga yang sering dilontarkan Runn sejak dulu setiap kali ia terbukti salah dalam memilih pasangan. Runn selalu terpikat dengan laki-laki berengsek. Masa mudanya dihabiskan untuk berpacaran dengan laki-laki yang selalu memanfaatkannya. Ia percaya setiap orang berhak diberi kesempatan kedua. Setiap orang bisa berubah lebih baik. Keyakinan itu membuat matanya tertutup dengan hal-hal merugikan yang menimpanya dalam jalinan relasi dengan laki-laki. Termasuk dengan suaminya.

Baca juga  Celurit di Atas Kuburan

Kalimat itulah yang menjadi jurus andalan Runn ketika aku sering mengingatkannya bahwa ia telah salah memilih suami. Runn melontarkan kalimat andalannya itu lagi sehabis ia dan suaminya terlibat kehebohan yang disaksikan para tetangga, di suatu Minggu pagi yang cerah.

Suami Runn memegang tangkai payung, Runn memegang tangkai sapu. Kedua tangkai saling diarahkan satu sama lain. Terdengarlah suara kedua tangkai saling beradu. Setiap kali tangkai payung itu mengenai bagian samping tubuh Runn, suaminya akan berteriak kegirangan. Sementara Runn, bila diperhatikan dari gerak-geriknya, bukan karena ia sama sekali tak bisa melawan balik serangan itu. Ia seperti membiarkan dirinya diserang. Tampak ingin membuat ancang-ancang untuk serangan balasan, namun di tengah jalan hal itu urung dilakukan, seakan mendadak memasrahkan diri.

Suara suami Runn yang berteriak kegirangan mengundang lebih banyak tetangga samping kanan dan kiri berdatangan, turut penasaran apa yang sedang terjadi di halaman rumah Runn. Apa yang kalian lakukan? Manakala suara yang bertanya semakin banyak, terlontarlah cerita dengan versi semacam ini: Itulah mereka pasangan yang sedang bermain anggar, meniru salah satu adegan dalam film Korea. Suami Runn pencinta film-film Korea. Ia juga menggemari masakan Korea. Sebab itulah, selain mengikuti kemauan suaminya untuk meniru adegan dalam film Korea yang menampilkan olahraga anggar, Runn juga belajar memasak kimci, makanan tradisional Korea yang sangat terkenal. Runn membuat kimci dengan stok banyak yang disimpan dalam tiga stoples besar agar suaminya bisa menikmati kimci itu sampai satu bulan ke depan.

Para tetangga menerima versi cerita itu. Tak ada yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, kecuali diriku, tentu saja. Tak ada yang tahu bahwa setiap kali suami Runn berhasil mendaratkan pukulan di tubuh Runn dengan tangkai payungnya lalu berteriak kegirangan–teriakan yang katanya meniru atlet anggar merayakan kemenangannya dengan membuka topeng mereka–itulah “kekerasan sungguhan” dalam pengertian yang kuamini sebagai seorang adik yang melihat kakak kandungnya dipukuli oleh suaminya. Kekerasan yang juga mendarat di punggung Runn ketika ia berada di dalam rumah. Tak ada peniruan adegan film. Tak ada dalam artian sebenarnya. Mereka berdua pun tak memakai topeng seperti atlet anggar. Ekspresi keduanya terlihat jelas. Ekspresi Runn yang sebenarnya tertekan. Hanya aku yang menangkap ekspresi tertekannya itu yang telah sekian lama kuhafal.

Kini aku melihat Runn jauh lebih tertekan dibandingkan saat berada di halaman rumah saat itu. Ia sudah dimandikan berkali-kali, tetapi menurut suster rumah sakit, bau busuk yang ada di tubuhnya belum juga hilang. Tentu tinggal serumah bersama mayat selama berhari-hari membuat bau busuk itu tak lantas cepat hilang. Kenyataan itu juga membuat gempar pemberitaan di televisi. Kasus Runn dan suaminya yang tewas masih dalam kabut misteri dan menjadi pemberitaan di mana-mana. Tetapi, seiring berlalunya hari, hal itu perlahan-lahan mereda karena gelombang pemberitaan hasil pemilu calon presiden mengambil alih. Orang-orang seakan lupa dengan kasus Runn dan suaminya yang belum terungkap.

Baca juga  Pulang tanpa Kampung Halaman

Sesudah mengoleskan tubuh Runn dengan minyak kayu putih dan melihatnya kembali tidur, aku keluar dari kamar rawat ke ruang tunggu rumah sakit. Di sana terpasang televisi yang sedang menyiarkan kemenangan Solanum OG sebagai presiden. Seharusnya aku senang dengan kabar terpilihnya Solanum OG sebab itu berarti aku pun terpilih sebagai “Presiden Dapur” yang akan berkuasa penuh atas restoran peninggalan orang tuaku. Tetapi, tragedi yang menimpa Runn menyerap habis seluruh tenagaku. Aku bahkan baru teringat tentang ide “Presiden Dapur” itu ketika menonton kemenangan Solanum OG.

Terduduk lesu di bangku ruang tunggu, kusimak pidato kemenangan Solanum OG. Aku merasa sudah menyimak baik-baik, kalimat per kalimat, kata per kata yang diucapkannya. Tetapi, mengapa ia tak menyinggung sama sekali apa yang telah terjadi pada kakakku Runn? Mengapa penderitaan kakakku Runn tak disebut oleh presiden yang berjanji akan mengayomi rakyatnya? Apa penderitaan satu rakyatnya tak memiliki nilai sama sekali di matanya?

Aku tahu aku takkan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini bila aku masih menjalani hari-hariku yang normal. Tetapi, aku dalam keadaan terguncang sekarang. Semua pertanyaan naif berhamburan dan tudingan ke segala arah kutujukan. Termasuk kepada presiden. Aku ingin mendengar keadilan.

Tentu apa yang menimpa kakakku Runn akan segera tersapu bersih oleh peristiwa menggemparkan lain. Dilupakan seolah-olah hal itu tak pernah terjadi. Cuma mampir lewat. Tak lebih. Sekadar bagian dari algoritma. Di hadapan kekuasaan, penderitaan kami hanya data. Hanya angka. ***

.

.
Iin Farliani, Lahir di Mataram, Lombok. Menerbitkan dua buku Taman Itu Menghadap ke Laut (2019/kumcer) dan Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi (2022/puisi). Sejak 2013 aktif berkegiatan sastra di Komunitas Akarpohon.

.
Presiden Dapur. Presiden Dapur.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!