Ariyo Rizky Valentino, Cerpen, Suara Merdeka

Perempuan Berkebaya Merah

Perempuan Berkebaya Merah - Cerpen Ariyo Rizky Valentino

Perempuan Berkebaya Merah ilustrasi Joko Susilo/Suara Merdeka

0
(0)

Cerpen Ariyo Rizky Valentino (Suara Merdeka, 17 Maret 2024)

L ALU, setelah semua acara usai dan gedung mulai sepi, semua orang berfoto dengan keluarganya masing-masing, kekasihnya masing-masing, dan teman terbaiknya masing-masing. Kegembiraan sekaligus kesedihan terlukis di wajah semua orang, kecuali kau. Kau hanya berdiri menyenderkan tubuhmu ke tembok tua samping gedung, berharap teman-temanmu segera menyelesaikan ritual kunonya dan segera kembali bersama-sama menuju kelas lalu pulang.

Tubuhmu masih sepi tak berpenghuni, kepalamu hanya ada kata pulang, dan matamu, hanya melihat kepalsuan yang tertata rapi oleh senyuman. Semua orang menggunakan make up yang tebal untuk menutupi jati dirinya.

Selain make up yang tebal, matamu tak sengaja menangkap sosok wanita yang selama ini namanya kau tulis di setiap sajak yang kau cipta. Dia begitu cantik dengan kebaya merah yang dikenakannya, sangat cocok untuk dijadikan model majalah Kartini. Begitu berani. Tapi juga lembut.

Ia berfoto dengan kedua temannya di bawah pohon mangga. Bersolek dengan mimik muka imut seperti bayi. Matamu terus terpaku di tubuhnya. Perempuan itu masih saja bergaya di depan kamera hingga pose keseratus.

Kau sebenarnya ingin sekali menemuinya dan memberi ucapan selamat untuknya, meskipun mungkin dia berharap tak hanya ucapan selamat, tapi juga buket bunga atau voucher spa & salon.

Kau hanya bisa terus memandangnya hingga lelaki berjas hitam legam menjemput dan menggandengnya pulang. Tunggu saja, mungkin lima menit lagi.

***

Sembari menunggu ibumu selesai, kau menyalakan sebatang rokok dan mengombinasikannya dengan kopi hitam dingin sisa semalam. Ibumu meramu wajahnya sedemikian rupa hingga kau tak mengenali berapa umurnya.

Apakah wanita memang hobi mengubah diri?

Perjalanan menuju tempat wisuda tak begitu jauh dari tempat tinggalmu. Hanya butuh lima atau enam menit untuk sampai.

Ibumu berjalan memasuki gedung. Kau menuju kelas untuk menunggu instruksi selanjutnya. Pukul delapan pas, penanggung jawab acara datang ke kelasmu untuk memberitahu agar rombongan segera menuju Gedung A. Segerombolan dari kami berbaris rapi menuju gedung, lengkap dengan pakaian hitam legam dan kebaya berwarna.

Kau dan segerombolmu disambut dengan tarian khas Jawa Timur, penari yang menyuguhkan dadanya untuk disantap setiap tamu yang datang. Untung aku mengajak ibuku.

Baca juga  Kenangan Memang Tidak Pernah Tahu Diri

Seperti adat pewisudaan pada umumnya, setiap nama dipanggil untuk dipersilakan maju ke depan, mengambil sebuah medali dan map besar berisi entah apa. Kau melihat semua orang maju dengan keyakinan dirinya masing-masing, seakan tak ada yang lebih meyakinkan dibandingkan dirinya sendiri.

Sedangkan kau? Mana mungkin bisa seyakin mereka, bahkan kau saja masih takut untuk berjalan di karpet merah yang digelar sepanjang jalan menuju panggung, kau masih berpikir bagaimana caranya berjalan dengan benar di antara puluhan ribu manusia yang memasang pandangannya ke arahmu, kau masih sibuk mengira-ngira ekspresi apa yang akan kau tampilkan di hadapan ribuan mata yang memandang wajahmu.

Apakah tersenyum tipis akan membuat semuanya selesai? Atau mungkin berjalan dengan kepala menunduk akan memberikan kesan rendah hati kepada semua mata yang memandang? Kau masih sibuk mempersiapkan itu.

Giliranmu sudah tiba, kau berjalan dengan gaya yang biasa-biasa saja. Tidak seperti tentara ataupun model majalah internasional. Hanya berjalan biasa-biasa saja. Ekspresi wajah yang kau pasang pun juga biasa-biasa saja, tidak memilih opsi pertama ataupun kedua. Kau memilih pilihan untuk berpura-pura sibuk menata lengan jasmu yang kedodoran. Itu sedikit membantumu, setidaknya sampai kau duduk kembali ke kursimu.

Nama-nama lain mulai dipanggil, mereka yang dipanggil namanya mulai berdiri dan berjalan dengan kepercayaan dirinya masing-masing, seakan tak ada yang sepercaya diri mereka selain kepercayaan diri mereka sendiri.

Sudah puluhan nama yang disebut, dan kau tak tertarik dengan nama-nama itu sedikit pun, apalagi wajah mereka. Kau hanya menunggu satu nama yang selama ini menjadi tokoh dalam setiap tulisan yang kau tulis. Dia adalah inspirasi terbesarmu untuk menulis. Bahkan, sudah dipastikan bahwa setiap kali kau berhadapan dengan laptopmu, namanyalah yang pertama kali akan kau tuliskan, dan sudah dipastikan juga bahwa isi dari setiap tulisan yang kau tulis adalah tentangnya, mau itu tulisan tentang kebahagiaan, kesedihan, perjalanan, cinta, penyesalan, khayalan, dan kebencian sekalipun. Kau selalu saja menuliskan namanya untuk sebuah ritual agar tulisanmu menjadi lancar dan puas.

“Dini Putri Isnaini, putri dari bapak blablabla dan ibu blablabla, prestasi yang diraih blablabla.”

Baca juga  Ziarah

Kepalamu mendongak, matamu mencari-cari sosok yang namanya disebut oleh pembawa acara itu.

Tek…tek…tek.

Telingamu mendengar deru heels sepatu. Matamu mencari sumber suara sepatu itu, dan kau menemukan sosoknya, perempuan yang kau cintai selama kurang lebih setahun. Secara diam-diam, meskipun sebagian temanmu dan temannya tahu bahwa kau pernah mencintainya. Tetapi belakangan kau mengaku bahwa dunia terlalu luas untuk terpaku pada satu perempuan. Dan hari ini, semuanya terbukti bahwa kau memang tak bisa berbohong kepada hatimu sendiri, kau masih mencintai dan ingin memilikinya, meskipun agaknya itu sangat mustahil untuk diwujudkan dengan effort melebihi Romeo sekalipun.

Kau tahu, perempuan itu mengenakan kebaya merah dengan gemerlip manik-manik yang mengkilap di sekujur kebayanya, ia mengenakan bawahan jarik cokelat hitam yang mempercantik atasannya, ia mengenakan sepatu (dengan heels) merah, pas dengan kombinasi pakaiannya, juga sebuah mahkota kecil yang tertancap sempurna di antara helai-helai rambutnya.

Ia mengoleskan bedak dengan pas dan sempurna, tak terlalu tebal juga tak terlalu tipis, pas dengan mukanya yang memang sedari awal sudah sangat menawan. Kau kira dia tak perlu memoles mukanya sedemikian rupa agar terlihat lebih cantik, dia sudah cantik sejak kau menancapkan hatimu ke tubuhnya, meskipun tak pernah jelas sampai sekarang apakah dia menyadarinya atau tidak.

Ia berjalan dengan anggun sebagaimana putri keraton Jogja atau Solo, bahkan Inggris, tak perlu dihiraukan lagi bahwa akan ada begitu banyak mata yang terpaku kepadanya. Dan itu membuat kau ingin mencongkel mata siapa pun yang memandang ke arahnya. Kau memang terlalu pelit untuk berbagi, meskipun kau sadar sepenuhnya bahwa dia belum menjadi milikmu sekarang.

Dia masih berjalan dengan sangat-sangat anggun dan dengan kepercayaan diri yang sebenar-benarnya kepercayaan diri. Jika saja ada satu fotografer yang mahir mengambil gambar dalam kondisi apa pun, kau kira dia akan sanggup mengisi slot foto majalah Kartini tahunan bulan depan.

Matamu tentu saja masih dan akan selalu mengikuti ke mana pun ia pergi. Kau selalu saja merasa jatuh cinta dengannya lagi dan lagi setiap memandang matanya. Waktu terlalu tak bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini, ia terasa lebih tergesa-gesa daripada biasanya.

Baca juga  Bulan Sabit dan Kekasih

Apakah mungkin waktu juga tak menyetujui perasaanmu kepadanya? Ah, biarkan waktu sendiri yang menjawabnya.

Hatimu berkata bahwa ia sangat berkilau di antara kilauan-kilauan lain yang berkilau. Kau merasa bahwa kelahiranmu di dunia yang sama sekali tak terencana ini agaknya tak terlalu buruk. Kau bisa memandang jelmaan bidadari yang anggun dan cantik, atau mungkin, dia sebenarnya memang bidadari.

Sampai pada suatu titik dimana matamu tak sengaja menangkap sosok lelaki berjas hitam legam yang menunggu di pintu keluar. Ia berdiri di tengah-tengah mulut pintu yang terhubung dengan karpet merah yang tergelar dengan rute yang telah ditentukan menuju ke arah panggung. Dan sialnya, perempuan yang kau cintai dengan menggebu-gebu itu juga berada tepat di tengah-tengah karpet, di mana posisi mereka berdua sudah seperti orang yang menunggu dan ditunggu, kita hanya tinggal menyaksikan adegan romantisnya saja. Berpelukan.

Seketika, semua perasaan indah yang baru saja lima detik kau rasakan tadi berubah menjadi hawa panas yang luar biasa. Kepalamu seakan mendidih, rambutmu menjadi botak terbakar kecemburuan. Kau hanya bisa memalingkan badanmu untuk menatap langit-langit gedung yang tak ada keindahan sama sekali. Di dalam kepalamu, terekam ekspresi yang memuakkan dari lelaki itu.

Apa istimewanya dirinya? Apakah barang yang dibawanya yang menjadikannya istimewa? Buket bunga itu? Voucher spa & salon? Aku bisa saja membelikanmu semua itu, tapi sabar, aku harus cari uangnya dulu. Apakah perempuan tak ada yang mau menunggu?

Pada detik ini, kau harus mengakui kekalahanmu. Terima bahwa segala sesuatu yang indah tak selalu akan menjadi milikmu. Dan yang lebih penting lagi adalah, kau harus lebih kaya dari hari ini. ***

.

.

Ariyo Rizky Valentino, penulis kelahiran Tuban, Jawa Timur menulis karya sastra dan artikel.

.
Perempuan Berkebaya Merah. Perempuan Berkebaya Merah. Perempuan Berkebaya Merah. Perempuan Berkebaya Merah. Perempuan Berkebaya Merah.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!