Beatrix Polen Aran, Cerpen, Kompas

Perihal Pulang

Perihal Pulang - Cerpen Beatrix Polen Aran

Perihal Pulang ilustrasi Isa Perkasa/Kompas

5
(2)

Cerpen Beatrix Polen Aran (Kompas, 07 April 2024)

AKU membayangkan sebuah pulang yang asing. Malam yang basah selepas rinai hujan. Saat bau tanah menguap ritmis, menimbulkan aroma kerinduan pada kehidupan yang telah lalu. Ketika mengangkat wajah, tak ada apa-apa yang nampak di bola mata. Gelap. Pekat.

Tak terasa sepoi angin mencumbu kulit. Entah itu, harum bau kemenyan yang masih tertangkap raga—menimbulkan gelisah yang teramat sangat. Dadaku seketika bergolak. Aku tergesa hendak berteriak memanggil, serupa surat yang dikirim angin. Berisi pesan tapi tak mengabari. Nyala lilin meliuk-liuk memenuhi permukaan tanah—yang kata mereka aku telah pulang kepada kehidupan yang lain. Aku telah beribu tanah—maksudku air susu tubuh itu telah mengering. Memang ganjil. Dan ternyata, tidak sederhana bagiku, meyakinkan mereka bahwa aku belum benar-benar pulang, serasa sepasang mata menyergapku dari bilik gelap sana. Laki-laki yang menusuk bola matanya menyusul gelak tawa yang mengerikan.

“Kaukah itu Lucifer?”

Hidup ini singkat, kata Thomas suatu hari ketika aku baru dibebaskan dari penjara gara-gara membunuh adik kandungku. Ya, hanya alasan hasil yang terberi di tanah warisan. Orang tua kami telah lama mati dan meninggalkan sebidang tanah untuk kami mengolahnya. Menanam apa yang harus kami tanam, dan memetik hasilnya dari setiap tetes keringat yang telah menumpah ruah.

Sebenarnya, tak susah jika sama-sama saling memahami. Hanya saja karena aku sering keras kepala dan menunda pekerjaan, alhasil tanah itu dikelola oleh adik kandungku sesuai kemaslahatan. Petrus namanya. Mau tidak mau, sebagai kakak, aku harus menerima dengan rela segala hasil yang diperoleh Petrus. Awal mula petaka terkutuk itu mengganyang relasi antara aku dan Petrus. Ia datang ke rumahku suatu siang mengabari tentang musim panen yang akan segera tiba. Seekor ayam jantan, dua botol arak dan beberapa bungkus rokok, dirayunya, agar aku sebagai kakak boleh hadir dan memakan hasil panen perdana atau istilahnya makan wuung [1] sesuai tradisi nenek moyang yang berlaku turun-temurun.

Kuajak Petrus masuk lalu duduk di teras rumah, sebabnya udara hari itu terasa membakar ubun-ubun. Gerah. Tak lama, istriku Martina menyuguhkan minuman dan sepiring jagung titi [2] hasil olahan tangannya di tungku api pada periuk tanah sedari kokok ayam pertama. Sama seperti kebanyakan orang bertamu, penerimaan adalah terutama, soal makan dan minum apa, itu urusan belakangan.

Baca juga  Ayah Menjadi Pohon

“Bagaimana kalau umpamanya hasil perdana dibagi dua saja. Harga beras saat ini juga sedang melonjak,” aku mulai mencari-cari akal.

Sambil duduk selonjor di kursi tamu, Petrus melinting rokok lalu melemparkan pandangan jauh ke depan melampaui celah pepohonan yang berbaris rapi di halaman. Dua tiga kali tarikan napas panjang pertanda tak setuju.

“Tapi…,” ia tak sanggup melanjutkan pembicaraan.

“Ah, aku tahu. Kau tak setuju hasilnya dibagi dua, kan?” aku berbicara seolah mempertegas.

Ia berusaha mengaparkan diri sesantai-santainya, agar aku yang memperhatikannya berpikir ia lebih rileks setelah lontaran kalimatku yang terakhir. Ingin aku memintanya untuk pulang lebih cepat, karena berhadapan dengan orang yang pelit tak ada argumen yang cocok. Seolah-olah saling diam. Saling bisu. Saling khianat. Deretan dendam mulai berdesak-desakan menghimpit lorong ingatanku. Setelah ia pulang, aku mulai menyusun strategi untuk menghancurkan kerja kerasnya.

“Sudahlah, Pak. Kan, hasil panen Petrus dikirim ke anaknya yang sedang menyelesaikan kuliah sarjana,” istriku mulai meredam amarahku yang sedari tadi bak air mendidih. Napasku berat dan mataku setengah terpejam. Istriku, orang yang selalu tampil menetralisir keadaan. Ketika ia katakan itu sambil menelungkupkan wajahnya di pundakku, ia berkata bahwa tak elok dengan perangai yang demikian. Hanya akan merusak hubungan daging darah. [3]

Aku berusaha datang dan mencoba bersikap biasa-biasa saja karena menurutku hasil yang didapat dari tanah warisan orang tua kami serentak menyembunyikan amarah yang bercokol dalam diriku.

Jujur, semua yang aku rencanakan sekembalinya dari sana, tak kusampaikan kepada istriku, terutama rencanaku untuk membunuh Petrus. Aku tahu istriku telah bersungguh-sungguh agar aku menjadi orang baik-baik. Apa artinya itu? Membunuh akan menciptakan ketenangan batin yang lain, dan itu membuatku teramat baik. Setidaknya untuk hari ini aku telah merencanakan yang terbaik. “Besok siap eksekusi,” gumamku.

Mulanya, aku ke rumah Petrus membawa serta golok. Melewati pintu belakang, kebetulan daun pintu sedikit terbuka sebabnya istrinya keluar buang air kecil. Aku masuk dengan segera, kudapati ia tidur dengan sepasang tangan mengatup erat ke dadanya. Aku tergesa mengayun golok mengenai tubuhnya lantas seperti orang yang sedang kesurupan ia meronta tak berdaya, sambil berulang kali meneriakkan namaku.

“Kakak… Kakak… kenapa tega membunuhku? Apa salahku? To..long,” suaranya putus-putus tak jelas terdengar.

Baca juga  Es Lilin Mbak Erna

Kusebut “merasa” karena pada saat yang sama, hati manusia masih membersamaiku. Dan semakin aku bertekad menghabisi nyawa sehabis-habisnya, wajah ibu merayuku untuk terus mengingatnya berbarengan dengan amarah yang melecutku. Pada lelaki yang bermandikan darah, aku tak menggubris! Beres itu, aku lompat melalui jendela kamar dan menerobos semak-semak.

Teriakan minta tolong mendayu-dayu, tertangkap di telinga istrinya. Istrinya dengan cepat menghampiri lalu terisak. Seperti hujan yang menggaris waktu, kematian Petrus menggaris kisah manis mereka. Petrus mati dengan potongan-potongan tubuh berserak memenuhi seisi kamar.

Diraihnya handphone lalu menelepon polisi dan beberapa menit berselang polisi mendatangi lokasi lalu melakukan olah tempat kejadian perkara. Usut punya usut, namaku disebut paling dahulu lantaran tertera barang bukti golok dan sidik jari.

“Sudahlah Thomas, tak usah berceramah,” pintaku. Dan, bila ia terus-terusan menambah bumbu pembicaraan, aku terpaksa menutup telinga.

Thomas menggeleng sambil merutuk dalam hati. Aku kembali ke rumah, perasaan yang menderaku selama bertahun-tahun tatkala kupandangi wajah istriku yang begitu binar menyambut kedatanganku. Aku memeluk dan dia terisak dalam dekapanku.

“Bertobatlah. Temuilah Tuhan dan memohon ampunlah,” istriku mengarahkan pelan.

Delapan belas tahun sudah kami menikah, aku tahu ia tidak ingin kelak aku mati membawa juga dosa-dosa asal. Ia ingin aku bertobat sebelum semuanya terlambat. Mengingat itu, aku sungguh bersedih hati. Tak menyangka, aku terkena serangan jantung saat bermain bola kaki bersama teman-teman dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun Proklamasi. Sungguh kematian yang mendadak. Istriku tidak siap ditinggalkan olehku, dan memang takdir tak terelakkan. Ya, siapa yang mengira, kematian datang bagai pencuri di malam hari sedang tuan rumah masih meredupkan nyala pelita? Keesokan harinya jadwal Pastor memberikan pengampunan. Dengan tersaruk, istriku membopong jenazahku keluar kamar. Perihal pulang serupa teka-teki. Apalagi menurut Pastor, aku masih bisa diselamatkan jika diberi sakramen minyak suci—artinya masih ada tanda-tanda kehidupan. Bila harus mati, ya hanya untuk mati raga, jiwa tetap kokoh menuju nirwana.

Bukan tidak mungkin. Begitu naifnya, memang sedikit tersirat pikiranku itu, mati lebih cepat. Lebih cepat masuk surga!

“Masuk surga? Eittss, tunggu dulu!” Lucifer menjulurkan lidahnya bagai akar pohon mencengkeram tubuh dedaunan layu. Gersang. Ulat-ulat gemuk berwarna hitam menjilat-jilati tubuhnya. Mungkin karena aroma tubuhnya bagai daging busuk. Nyam, nyam…nyam!

Baca juga  Pohon Api

Aku tidak percaya, orang-orang selama hidup semata-mata hanya merindukan surga. Pasti juga merindukan neraka, bukan? Lucifer mempersilakan aku masuk ke sebuah liang. Ia menunjukkan, betapa ia jauh lebih hebat dari sosok yang disebut sebagai “Tuhan”. Tak sampai semenit, lalu lalang orang yang berpesta pora, pelaku judi online, pelacuran, pemerkosa anak, dan terakhir ia menyeretku masuk di barisan orang-orang tak dikenal itu. Mereka menggandeng tanganku lalu menyoraki.

”Apakah aku sudah benar-benar mati? Inikah nikmatnya neraka? Beberapa orang tua mengurutkan beberapa wujud yang tak putus, membenamkan lutut kakinya di hadapan patung orang kudus, merapalkan nyanyian disusul melodi indah. Bila dalam permohonan belum ada jawaban, orang-orang kerap bertengkar dengan dirinya sendiri, orang-orang akan memperkarakan Tuhan. Tuhan tak setia. Nyatanya, Tuhan menyediakan segalanya. Lagi, lagi, dan lagi. Ia berkehendak perihal pulang tak ada ratap dan kertak gigi.

Perihal pulang, aku menutup mata erat-erat. Aku benar-benar telah pulang, hanya belum benar-benar didoakan! ***

.

Keterangan:

[1] Makan wuung: Tradisi makan padi perdana di Lamaholot Flores Timur-NTT

[2] Jagung titi: makanan khas Lamaholot Flores Timur-NTT

[3] Hubungan daging darah adalah istilah lain yang melekat di hati masyarakat Lamaholot sebagai hubungan daging darah.

.

.

Beatrix Polen Aran, guru di SMP Negeri 3 Tanjung Bunga. Bergiat di Komunitas Nara Teater. Aktif menulis puisi dan cerpen di media lokal dan nasional.

Isa Perkasa, lahir di Majalengka, 21 Juni 1964. Pada 1997 mengikuti residensi seniman di Tsuna, Jepang, lalu pada 1999 di Pacific Bridge Gallery, Oakland, California, AS. Sejak 1992 rajin ikut pameran, baik tunggal maupun gabungan. Isa dikenal rajin membentuk kelompok performance art. Mulai tahun 2019 menduduki jabatan Ketua Institut Drawing Bandung serta kurator di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung. Tahun 1989, karyanya masuk lima besar Philip Morris Indonesia Art Award di Jakarta. Lalu masuk lima besar dan Juror’s Choice Philip Morris Asia Art Award di Hanoi, Vietnam. Menerima Anugrah Budaya Kota Bandung (2022).

.
Perihal Pulang. Perihal Pulang. Perihal Pulang. Perihal Pulang.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!