Cerpen, Kompas, Sasti Gotama

Bila Lelah

Bila Lelah - Cerpen Sasti Gotama

Bila Lelah ilustasi Nasirun/Kompas

4.2
(20)

Cerpen Sasti Gotama (Kompas, 21 April 2024)

TATKALA jaksa bertanya kepadanya, apakah ia menyesal, San, di balik bilik pesakitan, memejamkan mata sejenak, membuka kelopak, lantas tersenyum suam yang bisa melelehkan mentega mana pun yang terlalu lama disimpan di kulkas. “Tentu saja saya menyesal,” ucapnya lembut dan tertata. “Seharusnya saya tak langsung menikam pembuluh besar di lehernya, tetapi terlebih dahulu mengiris lidahnya yang kejam, lengannya yang kasar, dari tungkainya yang jahanam, atau mungkin lebih baik saya mengulitinya sedikit demi sedikit seperti melepas pelapis dinding dengan perlahan, teramat pelan, hingga ia melolong-lolong kesakitan. Jika ada keajaiban, dan ia bisa dihidupkan kembali, tentu saya akan melakukannya lagi, lagi, dan lagi.”

Ruang sidang disesaki gemuruh. Kilatan lampu terang, dari kamera ataupun ponsel, menyambar-nyambar wajah San, membuat ia menutup matanya erat-erat, hingga berjejak kerut-kerut di ujung kelopak, tapi setelah itu, ia membuka mata lebar-lebar, menghadap ke depan, dan, berbeda dari sebelumnya, kali ini ia tersenyum lebar. Sangat lebar. Membuat jaksa menyeringai puas, sambil diam-diam mengepalkan tangan tanda kemenangan di balik meja, sementara sang pengacara, melenguh kesal, melontarkan tatapan kecewa kepada San, dan diam-diam meremas kertas berisi catatan pembelaan dengan geram. Hakim mengetuk palu untuk menenangkan seisi ruang sidang, mengatakan sidang akan dijeda sebentar hingga hakim memutuskan vonis paling tepat untuk San.

Di baris paling belakang, duduk seorang perempuan, berwajah pucat, bermata lelah, dan bertubuh sekurus ranting pinus yang telah dikeringkan cuaca. Matanya yang tak berbinar, tidak juga tergenang cairan, memandang lurus, terpekur pada satu titik, tetapi bukan pada wajah San, melainkan menembus tubuh lelaki itu, menembus tembok ruang pengadilan, menembus pepohonan yang bersekutu dengan hujan, menembus waktu yang bergulung-gulung tanpa warna. Di matanya terputar kilasan-kilasan peristiwa yang samar dan temaram. Suara-suara terdengar sayup dari kejauhan: antara nyata dan tak nyata. Kapan itu? Di mana itu?

Bayangan samar, serupa asap yang mewujud dari kayu basah yang baru dinyalakan, memadat, membentuk sepasang yang duduk berdampingan. Di mana? Di sofa. Merah. Iya, sofa merah yang baru mereka beli di pameran pembangunan. Televisi. Ia mendengar suara televisi. Jagung letup. Iya, di pangkuannya ada semangkuk jagung letup. Putih mekar berbalut karamel. Sementara ia mengganti-ganti saluran, sosok di sebelahnya mengupas apel. Bunyi bising apa itu? Suara gim. Ya, dari kamar depan. Tiga anaknya di sana. Tiba-tiba salah seorang menangis. Yang dua menjerit-jerit. Berebut. Ribut.

Ia akan bangkit. Tapi ponselnya di meja berdering. Sosok di sebelahnya bertanya. Tapi ia tak ingat apa yang ditanya. Ia harus ke kamar, bukan? Anak-anaknya tengah bertengkar. Ia harus melerai sebelum salah seorang terluka. Tetapi sosok samar itu kembali membentak sambil mengacungkan ponsel. “Siapa dia?” tampaknya itu yang ia tanya. Tetapi, mengapa ia bertanya dengan suara tinggi?

Baca juga  Pertemuan di Gunung Tera Osaka

Tiba-tiba atap berputar. Tidak, tubuhnya yang terpilin jatuh ke atas ubin. Langit-langit tampak jauh dan cahaya lampu terlalu benderang. Karena itu, sosok di atasnya terlihat buram. Tapi, tangannya masih memegang mangkuk plastik. Isi jagung letup bukan? Iya, jagung. Ia masih mencium bau mentega dan karamel. Suara pertikaian di kamar semakin bingar. Ia harus melerai, bukan? Ia harus mengingatkan mereka untuk saling sayang, saling pengertian, dan tak berteriak-teriak seperti setan. Dulu, sewaktu ia kecil, ayahnya pun berpesan demikian.

Ia ingin teriak, tetapi suaranya tak bisa keluar. Napas pun susah. Oh, rupanya karena ada tangan yang mencengkeram lehernya. Kencang sekali. Sakit sekali. Kuku-kuku tajam menekan kulit. Perih. Tapi ia harus bangkit, harus melerai, harus menasihati putra-putrinya agar tak saling memaki atau menyakiti.

Lalu ia dengar suara ketukan dari pintu depan. Timbul tenggelam di antara suara anak-anaknya yang bertengkar. Suaminya membentak, “Diam!”. Tapi ada ketukan. Semakin lama terdengar semakin memaksa. Tapi ia susah bernapas. Kuku-kuku itu semakin terhunjam. Tapi anak-anaknya semakin ribut. Suara ketukan. Ketukan. Ketukan! Pintu terbuka dengan keras. Seseorang mendekat dengan gegas. Lalu, ia dengar suara benturan, bersamaan dengan mangkuk yang ia pegang terlepas dari gengaman. Napasnya kembali lega.

Namun, sedetik kemudian, jagung letup itu melayang di udara. Dalam gerak lambat, butiran-butiran putih mekar itu tak ubahnya bunga-bunga kol mungil bersayap. Lalu sesuatu yang merah menyembur ke atas, menyatu dengan butiran-butiran jagung letup. Suara lolongan. Kesakitan. Jagung-jagung letup yang terselimuti warna merah mulai jatuh satu demi satu seperti hujan gerimis di kala senja. Jatuh di tangannya, di dadanya, di perutnya, di tungkainya, di wajahnya. Semuanya merah. Merah dan lengket dan bau besi karatan.

Bau besi karatan? Sepertinya ia pernah mencium aroma itu jauh sebelum kejadian itu. Di mana? Ah, iya. Di rumah masa kecilnya. Seseorang menggosokkan amplas pada gagang pel yang telah digerogoti karat. “Udara bergaram ini memang kurang ajar. Dulu saat kita masih tinggal di kaki gunung, barang semacam ini awet-awet saja.” Seseorang mengomel, dan ia hanya diam saja.

“Mengapa pulang lagi, Nin?” seseorang yang tengah mengamplas itu bertanya kepadanya.

Ia mendongak. Haruskah ia menjawab? Bukankah perempuan yang baik adalah perempuan yang akan menggembok mulutnya rapat-rapat dan tak akan membocorkan masalah paling intim dalam keluarga kecilnya?

“Menikah itu memang tidak mudah. Karena itu, disebut ibadah terpanjang. Aku dan ibumu dulu pun sering bertengkar. Tapi dengan begitu kami saling menyesuaikan. Lelah? Tentu saja. Dan, jika lelah, kau boleh menyerah. Tapi jangan sekarang. Besok saja. Lalu ulangi mantra itu sekali lagi esok hari. Dengan begitu kau akan bertahan. Anak-anakmu membutuhkan keluarga yang utuh.”

Baca juga  Dua Tengkorak Kepala

Ia mendongak dan tatapannya hinggap pada mata suam yang bisa menghangatkan tubuh yang menggigil kala subuh. “Tak baik jika dikit-dikit bertengkar, kamu ngungsi ke sini. Pertikaian dalam pernikahan itu biasa. Tabahlah,” ucap sosok bermata suam itu. Nin menggigiti bibir. “Pulanglah,” ujar si mata suam sambil menepuk lengan kanannya dengan lembut, dan Nin sedikit berjingkat. Sedikit saja. Seharusnya ia bisa menahan rasa nyeri itu supaya ayahnya tak curiga. Di balik kaus lengan panjangnya tersimpan warna lembayung, tetapi ayahnya tak perlu tahu, bukan?

Dan ia memang pulang ketika malam itu dijemput Dom dan ketiga anaknya. Biasanya jika ia minggat ke rumah masa kecilnya, ia selalu membawa anak-anak, tetapi siang itu ia tak sempat. Dom sudah meraih pemukul kasti kepunyaan si sulung dengan mata membara. Nin berlari cepat tanpa melihat ke belakang. Tapi Dom yang menjemputnya ini bukan Dom yang meraih tongkat kasti. Wajahnya penuh kesabaran yang ia pinjam dari raut seorang guru taman kanak-kanak. Ia sampai bersimpuh di lantai, memeluk kaki Nin, mengatakan betapa bodoh dirinya, dan betapa ia dan anak-anak membutuhkan Nin. Maka, malam itu mereka pulang, mampir membeli jagung letup kemasan besar, bersenda gurau dalam kendaraan, dan menatap langit yang berwarna lembayung kelam, tak ubahnya warna di paha Nin, perut Nin, lengan Nin, dan sekujur tubuh Nin yang terbalut kain.

Hakim mengetuk palu. Benak Nin yang berkelana jauh menembus tempat dan waktu, tergulung kembali serupa tali pancing yang ditarik kembali setelah kehilangan umpan. Lagi-lagi ia berada di tengah suara dengung lebah. Hakim kembali mengetuk palu. Kali ini lebih keras. Suara-suara mereda. Nin menatap San di balik kursi pesakitan. Masih tersenyum suam. Nin membalas dengan mata bertanya-tanya: semua akan baik-baik saja, bukan? Bukankah setiap orang di depan hukum tak ubahnya pakaian di tali jemuran yang melintang, entah itu serban pak ustaz, gaun pesta, maupun kancut berjamur, memiliki kedudukan yang sama. Sama-sama tergantung, sama-sama diterjang angin, sama-sama dipanasi matahari.

Samar-samar Nin mengingat penggalan ucapan-ucapan tajam yang terlempar ke udara ruang sidang, saling silang, seperti tombak dan panah berapi yang dilontarkan kala perang, dari pihak penuntut umum dan pembela sejak sejam lalu.

“Terdakwa hanya ingin menyelamatkan anaknya dan membela diri. Saat terdakwa masuk, korban tengah mencekik saksi. Korban menoleh, melihat ke arah terdakwa, lantas langsung meraih pisau buah.”

“Korban adalah warga negara yang baik. Sebelum berhenti bekerja karena penglihatannya terganggu, ia adalah guru sekolah dasar yang terkenal santun dan sabar, tak pernah melakukan tindakan kriminal atau kejahatan. Dari kesaksian para tetangga, korban yang selalu mengasuh anak-anak ketika istri bekerja. Itu hanya pertengkaran suami istri biasa, tak seharusnya terdakwa bertindak berlebihan.”

Baca juga  Koneksi

“Saksi sudah beberapa kali mendapat kekerasan. Ayahnya menjadi saksi bagaimana ia berulang kali lari dari rumahnya.”

“Terdakwa bisa jadi mengarang-ngarang alasan itu. Tidak ada bukti visum kasus putrinya. Atau bisa jadi saksi hanya melebih-lebihkan kejadian. Anda tahu, kan?” si Jaksa berbalik badan ke arah pengunjung sidang, lantas berdecak, “… perempuan”.

Jaksa melanjutkan, “Lagi pula saat kejadian, terdakwa bisa lari dari ruangan dan berteriak minta tolong ke orang sekitar, bukannya merebut pisau dan menikam leher korban.”

Suara-suara bercampur baur, mendenging, mengabur, seperti radio yang berselisih sinyal. Lalu bunyi itu lamat-lamat menjauh.

Palu diketuk, lebih tegas dari sebelumnya. Ruangan menjelma hening.

“Karena tindakan yang dilakukan terdakwa sangat tidak berperikemanusiaan dan tanpa adanya penyesalan, maka terdakwa dijatuhi hukuman mati yang akan segera dilaksanakan menurut ketentuan perundang-undangan.”

Dari balik meja pesakitan, San tersenyum suam, sesuam yang ia bisa agar putrinya, yang duduk kaku di bangku paling belakang, bisa tertular suam. ‘Tak apa’, begitu pancaran pandangan yang ingin ia sampaikan: Ini jalan yang jauh lebih baik. Kematian bukanlah hal yang pelik baginya, sesuatu yang semestinya terjadi, seperti walet yang pulang ke sarang setiap petang. Ia sudah lelah dengan sel-sel asing yang kini telah mengambil alih kendali pankreasnya. Dokter bilang, tak lebih dari delapan pekan. Hukuman hanya membuatnya pergi dengan cara yang lain.

Ia tak menyesal. Sama sekali tak menyesal. Satu-satunya yang ia sesali hanya perkataannya waktu itu yang membuat putrinya pulang kembali ke kediaman keluarga kecilnya. Seharusnya ia cukup mengatakan kalimat pertama: “Bila lelah, kau boleh menyerah.” ***

.

.

Sasti Gotama. Buku terbarunya yang telah terbit berjudul Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu.

Nasirun, lahir Cilacap, 1 Oktober 1965, menamatkan pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta pada 1994. Meraih sejumlah penghargaan, antara lain Sketsa dan Seni Lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI Ke-10, dan Philip Morris Award 1997. Aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran karya seni sejak 2004.

.
Bila Lelah. Bila Lelah. Bila Lelah. Bila Lelah. Bila Lelah. Bila Lelah. 

Loading

Average rating 4.2 / 5. Vote count: 20

No votes so far! Be the first to rate this post.

3 Comments

  1. Ricardo

    Cerpen ini bagus sekali. Gaya bertuturnya asyik. Tidak terang benderang. Pembaca dibawa berkelana untuk memahami kejadian. Perlu ketrampilan untuk meramu supaya tulisan tidak menjadi monoton. Salah satu cerpen Kompas yg bagus sampai bulan April tahun 2024.

  2. Cerpennya keren sekali 😍 suka sekali dengan gaya penulisannya Mbak Sasti Gotama. Hanya saja, pembunuhan seperti itu tidak bisa dijatuhi hukuman mati. Lebih tepat itu disebut pembunuhan tidak berencana karena membela diri. Dan kalau pun hukuman mati, biasanya perlu waktu lama untuk menunggu sampai eksekusi. Karena saya menulis novel sejenis dan sudah riset terkait hal ini 🙏

  3. Pa Lurah

    Cerita yang menawan, semenawan penulisnya🤗👏

Leave a Reply

error: Content is protected !!