Cerpen, Kompas, Ratna Ayu Budhiarti

Ronda

Ronda - Cerpen Ratna Ayu Budhiarti

Ronda ilustrasi I Made Djirna/Kompas

1.7
(25)

Cerpen Ratna Ayu Budhiarti (Kompas, 12 Mei 2024)

JIKA kalian tinggal di sebuah kompleks modern yang menyediakan gerbang satu pintu dengan CCTV di area kompleksnya, mungkin kalian tidak mengenal ronda. Kalian tinggal membayar iuran pemeliharaan lingkungan (IPL) setiap bulan dan merasa tenteram karena urusan pengangkutan sampah dan pengawasan keamanan sepenuhnya diurus oleh pihak pengelola perumahan. Dengan membayar sejumlah rupiah untuk IPL, kalian sudah 90 persen yakin kenyamanan terjamin, sedangkan yang sepuluh persen disisakan untuk hal-hal tak terduga.

Lain soal jika kalian tinggal di kota kecil seperti kampungku dan Marni. Ya, aku harus menyebut nama Marni karena ia sedang jadi buah bibir di kampungku. Dan urusan keamanan kampung tentu tidak sama dengan sistem kelola IPL di kompleks perumahan. Kontrol keamanan dilakukan bergiliran antarwarga melalui ronda. Dan ronda di kampung kami sudah lama tidak pernah dilakukan. Selain karena tidak banyak penduduk yang bermewah-mewahan hidupnya, lima tahun terakhir iuran RT tidak lagi teratur dipungut. Barangkali ketua RT yang lama mulai jenuh. Namun, ketua RT baru berusia lebih muda baru saja menjabat sebulan lalu.

Marni sering jadi pembicaraan di kampung kami. Perawakannya yang montok dan senyumnya yang menawan bikin para lelaki tak tahan untuk tidak bermain imajinasi tentang Marni. Bahkan sekelas Wak Dullah, yang terkenal paling saleh di antara semua tetangga, tak bisa menyembunyikan sorot mata yang berkilat setiap Marni lewat atau menyapanya. Gambaran semacam ini terkesan karikatural dan klise sekali, ya? Tapi begitulah kenyataannya. Aku sendiri tidak bisa melarang suamiku bersikap manis terhadap Marni jika Marni meminta bantuan. Aku sebagai istri lebih tahu, suamiku itu tidak akan bertingkah macam-macam terhadap Marni karena aku pun tahu Marni bukan perempuan yang mudah digoda lelaki. Lagi pula, aku sengaja menjadikan diriku dekat dengan Marni agar dia tak sungkan meminta bantuan keluarga kami jika dibutuhkan. Hidupnya sudah cukup sulit, dan aku tak ingin menambahi lagi beban pikiran Marni yang membesarkan dua anak tanpa suami yang seharusnya bertanggung jawab akan kehidupannya.

Suami pertama Marni pergi merantau dan kecantol perempuan lain di perantauan. Cerita klasik itu terjadi saat perut Marni sedang menyimpan janin berusia 7 bulan yang kini jadi gadis kecil supel dan ringan tangan. Setelah anak pertamanya itu berusia 2 tahun, Marni menikah lagi dengan Agus, mandor proyek jembatan yang menyambungkan kampung kami dengan kampung sebelah. Mereka dikaruniai anak perempuan. Proyek selesai, Agus pun meninggalkan utang yang bikin Marni pusing karena Agus diberhentikan oleh kantor pemborong sebab ketahuan menggelapkan dana operasional. Tak lama, Agus tak pernah terlihat lagi di kampung kami. Sementara Marni, terus bertahan mengerjakan apa saja untuk menghidupi kedua anak perempuannya. Agus tidak meninggalkan apa pun selain beban.

Baca juga  Piatu

Persoalan ronda kembali mencuat ketika dua rumah di lingkungan RT kami kehilangan motor, televisi, dan sejumlah barang berharga. Berdasar hasil rembukan, diputuskan kegiatan ronda diaktifkan lagi. Tentu saja hal itu disambut beragam oleh warga. Lega karena ada solusi untuk keresahan yang terjadi. Namun, beberapa orang mengeluh karena itu artinya akan memengaruhi keseluruhan aktivitas mereka. Silang pendapat mengenai ronda ramai di grup Whatsapp RT 05.

“Ibu-ibu, bapak-bapak, setelah kumpul dan rapat bersama para tokoh masyarakat dan para ketua RT di lingkungan RW 01 tadi siang, maka keputusannya adalah ronda diadakan bergiliran setiap malam. Giliran RT 05, RT kita, kebagian hari Kamis malam. Ronda bersama seluruh ketua RT atau perwakilannya dilakukan setiap Sabtu malam, dan pak RW akan memantau semua kegiatan ini,” Doni, ketua RT kami, mengirim pesan di grup Whatsapp.

Tentu saja hal tersebut memancing komentar dan aneka respons dari warga. Ada yang bersemangat menyatakan siap ronda kapan saja, ada yang kebingungan karena istrinya baru melahirkan dan tiada yang menunggui, ada pula yang mengelak dengan alasan bekerja secara sistem sif di pabrik yang jaraknya nyaris 40 km dari kampung kami, dan beberapa alasan lainnya.

Bagiku sendiri hal itu cukup menggembirakan karena aku ingin bernostalgia dengan suara kentongan. Irama ritmis dari kentongan yang dipukul pada tengah malam itu memberikan sensasi tersendiri pada ingatan masa kanak-kanakku. Apalagi jika persis tengah malam, para peronda itu memukul tiang listrik yang mengantarkan bunyi nyaring dan nyaris magis. Suara kentongan dan tiang listrik itu sekaligus pengingat bagi warga untuk tetap waspada jika keasyikan tenggelam di alam mimpi. Dan alasan yang lebih religius lagi, bunyi-bunyian itu bisa dijadikan alarm pengingat untuk beribadah dalam keheningan malam, mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan lebih khusyuk. Percakapan selanjutnya dalam grup Whatsapp itu tidak lagi kuperhatikan hingga dua hari kemudian.

Marni tak pandai berbohong. Aku bisa menyimpulkan dari wajahnya, saat ini ia sedang bergumul dengan kebimbangan. Kami bertemu di warung sayur sepulang mengantar anak sekolah. Aku mengajak Marni mampir ke rumah dengan alasan mencicipi kue baruku. Marni tidak menolak. Rupanya ia memang perlu teman bicara.

Sambil menyodorkan kukis pisang gandum, hati-hati kutanya penyebab mendung yang bergayut di wajahnya. Marni tidak langsung menjawab, ia hanya mengomentari rasa kue baruku itu, dan aku tidak memaksanya segera bercerita. Setelah potongan kue kedua, Marni akhirnya bersuara.

“Saya sebetulnya bingung dengan urusan ronda ini, Bu. Tahu sendiri, kerja saya serabutan sekarang, kadang-kadang ada yang manggil saya kerja harian, kadang tidak ada sama sekali. Sekarang malah ibu-ibu itu mulai ikut menggunjing.”

Aku sudah tahu Marni seminggu tiga kali rutin membantu beres-beres pekerjaan di rumah Bu Sanusi yang kerepotan dengan anak banyak, sementara suaminya hanya pulang sebulan sekali dari ibu kota. Kadang-kadang aku juga minta bantuan Marni jika pesanan kueku membeludak. Tapi pekerjaan tidak tetap begitu tidak bisa selalu menjamin kehidupan Marni. Sebetulnya aku ingin sekali mempekerjakan Marni dengan rutin, tapi apa daya kemampuan kami belum mencukupi.

Baca juga  Sambal Terasi

“Ibu sudah baca pesan-pesan yang ramai di grup Whatsapp itu?” Tatapan Marni kurasa terlalu tajam hari ini.

“Sudah, tapi hanya sampai dua hari lalu. Saya belum sempat baca lagi, kadang-kadang isinya cuma stiker dan meme-meme lucu, kan, Mar. Saya malas.” Kujawab jujur sambil meraba ke mana arah pembicaraan Marni. “Eh…, loh HP saya di mana, ya?” Baru kusadari sedari tadi aku tak mengantongi ponselku.

“Ibu baca dari HP saya aja,” Marni mengangsurkan ponselnya.

“Oh, ini ya… bapak-bapak itu akhirnya setuju untuk bergiliran ronda. Sekalian silaturahmi, lebih mengeratkan sesama tetangga, ya. Eh, tapi Bu Rita dan Bu Aini, selain sudah tua, mereka tinggal sendiri tanpa suami dan anak lelaki. Siapa yang menggantikan kalau Pak RT bilang jadwal giliran ronda ini sangat diwajibkan?” Aku merepet sendiri sambil terus menggulir percakapan di grup Whatsapp di ponsel Marni. “Oooh… ternyata Pak Tedi minta diganti aja dengan bayar ya. Yang lain gimana? Ini, Pak Anton, Pak Suyono, juga Rido, sama-sama gak bisa ikut giliran ronda, setuju bayar juga ya?”

Dua hari tidak mengecek percakapan di grup Whatsapp RT, aku sudah ketinggalan berita. Keputusan jadwal ronda ternyata tidak semulus yang kami kira. Benturan kepentingan dan alasan membuat warga tidak bisa kompak satu suara dalam dispensasi mengenai yang tidak bisa ikut bertugas ronda. Beberapa alternatif diusulkan. Dari mulai yang serius hingga gurauan. Aku terhenyak saat membaca gurauan yang kurasa bisa menyinggung Marni dan semua perempuan yang berstatus sama. Apalagi ditambah komentar ibu-ibu yang sentimen dengan adanya usulan Marni ikut ronda dari salah satu warga.

“Awas, Pak Dede nanti jangan belok yah kalau kena giliran. Jadinya malah ngaronda di imah randa, haneut atuh, nanti ada maling gak ketahuan. Ha-ha-ha.”

Salah satu chat respons Wak Dullah. Itu gurauan klasik, aku tahu. Tapi sebagai perempuan, aku tetap merasa tidak nyaman jika status perempuan lain jadi pergunjingan dan bahan gurauan. Aku sering mewanti-wanti suamiku agar tidak ikut-ikutan melakukan perbuatan yang merendahkan perempuan meskipun niatnya bercanda.

“Mar, ini… gak enak dibaca ya chat-nya. Pikasebeuleun pisan.”

“Ibu harus lihat terusannya.”

Di percakapan berikutnya, Marni mengajukan keberatan jika semua kepala keluarga diwajibkan ronda. Selain karena anaknya masih kecil-kecil, selama ini tidak pernah ada cerita bahwa perempuan diikutkan dalam rombongan peronda. Marni juga mengajukan dispensasi untuk alternatif iuran pengganti wajib ronda. Seperti yang diceritakannya kepadaku tadi, penghasilan Marni saat ini tak menentu. Jika harus membayar iuran pengganti ronda yang jumlahnya cukup besar itu, Marni khawatir tidak bisa memberi makanan layak bagi kedua anaknya. Kalian tidak perlu bilang mana mungkin Marni tidak mampu, buktinya ia punya ponsel. Asal kalian tahu, ponsel Marni itu keluaran lama yang badan ponselnya harus diikat dengan karet gelang agar baterainya tidak mencelat setiap kali dipegang. Marni mempertahankan ponsel butut itu sebab bisa jadi perantara panggilan pekerjaan baginya.

Baca juga  Rumah yang Selalu Berbau Busuk

“Ibu harus lihat chat Pak RT,” Marni mengambil ponselnya dari tanganku, kemudian mengangsurkannya kembali kepadaku setelah membuka percakapannya dengan Pak RT.

“Bagaimana ya Bu Marni, ini wajib dipenuhi, sudah kesepakatan bersama, semua kepala keluarga harus ikut ronda.”

Aku turut kesal, kalimat-kalimat Pak RT berikutnya sungguh tak terduga.

“Kalau Bu Marni tidak sanggup membayar iuran pengganti, Bu Marni tetap harus memenuhi kewajiban sebagai warga. Tidak ada yang bisa bolos dari kesepakatan bersama ini. Yaaah… Bu Marni harus mau ikut keliling ronda bersama kami, para bapak. Anggap saja bisa sama-sama menghangatkan udara malam yang dingin, Bu. He-he-he.”

“Hah? Gila!” Aku nyaris melemparkan ponsel Marni saking jijiknya. Tidak kusangka, Pak RT yang seharusnya mengayomi warganya sama sekali tidak berpihak kepada perempuan seperti Marni. Aku kehilangan minat membaca percakapan berikutnya. Ketua RT macam apa yang merendahkan perempuan dengan status seperti Marni? Aku geram, mengapa masih banyak lelaki berpikiran sempit dan menganggap status perempuan tak bersuami adalah makhluk kesepian dan mudah dipermainkan?

Marni berkata lirih, “Pak RT dulu pernah melamar saya, Bu, tapi saya tolak.” ***

.

.

Ratna Ayu Budhiarti. Menulis puisi, cerpen, artikel, resensi, fiksimini, beberapa naskah monolog dan drama musikal. Menulis 9 buku tunggal serta tergabung dalam lebih dari 60 antologi bersama. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Korea, dan Rusia. Beberapa karya bisa dilihat di laman http://ratnaayubudhiarti.wordpress.com

I Made Djirna. Lahir tahun 1957, adalah seniman kelahiran Bali yang kerap mengeksplorasi isu-isu kehidupan. Djirna menerima banyak penghargaan dan telah diundang untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran tunggal dan kelompok di berbagai galeri dan museum di Indonesia, Australia, Belanda, Guam, Singapura, dan Swiss. Karya-karyanya juga telah menjadi bagian dari berbagai pertunjukan besar, seperti ArtJog 2023: Motif–Lamaran, dan Asia Pacific Triennale Ke-10 (APT10) di Queen’s Art Gallery, Gallery of Modern Art, Australia.

.
.

Loading

Average rating 1.7 / 5. Vote count: 25

No votes so far! Be the first to rate this post.

9 Comments

  1. Maryono

    Saya tidak tahu, bagaimana esensi cerpen itu seharusnya. Apakah karena dia mahir bercerita atau karena namanya sudah besar. Cerpen ini pun tidak menggambarkan dia hanya sekadar laporan yang termuat dalam cerpen.

  2. Nama Tolong Diisi

    kalau penulis pemula ngirim cerpen dengan gaya bahasa dan cerita remeh temeh gini ya pasti engga bakalan dimuat, mana paragraf pembukanya mirip artikel, sebesar Kompas loh?

    • Loh, ini menurutku bagus banget loh? Twist-endingnya dan pembawaan ceritanya bagus, sama kayak cerpen-cerpen lain. Artikel dari mananya?

      • Nama Tolong Diisi

        Bagus dari mananya? Itu lihat dari 11 orang cuma rata2 ngasi bintang 1. Itu pembaca loh yang ngasih bintang. Nama besar akan kalah dengan objektifitas. Hasil karya akan dinilai tanpa subjektivitas.

        Sering2 baca cerpen lain di ruang sastra makanya Kak. Biar tahu genre yang lain. Aku sih kadang lihat dulu bintangnya, kalau banyak yang ngasih di atas bintang 4-5, kemungkinan bagus. Males beuuut kadang kalo lihat nama besar hasil karyanya di luar ekpektasi.

        Jadi mikir coba seandainya meja redaksi ada 2. Satu bagian nampung email, satu bagian baca isinya saja tanpa nama penulisnya. Jadi yg muncul di koran besar enggak orang2 itu terus. Males.

        Cerpen ini perasaan endingnya juga biasa aja, mudah ditebak.

    • Don

      Saya tak pernah lagi baca cerpen2 koran. Cerpen2 dulu lebih berkualitas.

      • Nama Tolong Diisi

        cerpen-cerpen era sekarang engga semuanya jelek juga kok… q sering mampir ke ruang sastra ini dan banyak kok cerpen2 yg bagus. Y mungkin kembali lagi kesukaannya jenis cerpen yg bagaimana. Tinggal nyari sj

  3. INI TUH BAGUS LOH, PLIS :’)

  4. Siapa yaa

    Iya ceritanya biasa aja. Sekarang aku lihat sih memang cerita di kompas banyak yang B aja

Leave a Reply

error: Content is protected !!