Kaltim Post, Mahardika Ramadhan Ahmar, Sajak

MENUNGGU PULANG

MENUNGGU PULANG - Sajak Mahardika Ramadhan Ahmar

Menunggu Pulang ilustrasi Jumed/Kaltim Post

0
(0)

Sajak Mahardika Ramadhan Ahmar (Kaltim Post, 28 April 2024)

MENUNGGU PULANG

.

Aku menempuh—kota jauh

Melanglang buana

Menuju dan lintas

Bisik-bisik bumi

Sekelebat cerita

Dan hibuk belantara.

.

Aku menyanyikan kesepian.

Dan memutar Radiohead, ilhamkan kebisingan-kebisingan.

.

Dari jendela, aku menyaksikan

Satu dua mimpi menjelma ketidaktegasan

Seperti antara kita—

seperti antara rindu yang pura-pura jatuh

lalu disapu dan telat mengotori jalan.

.

Dalam benam, kegelapan samar

Menyerupai mimpi dan tempat paling

yang kau bayangkan untuk tidur panjang—

menyembunyikan rahasia-rahasia

dan kesedihan lain.

.

Kau melebukkan suara kesepian.

Menghapus partitur-partitur Chopin, Jalan jauh bagai lamunan.

.

Kau menanti—Orion cerah

Langit berawan hujan

Muram dan tak berkesudahan

Karina melebarkan rasinya,

Penantianmu abadiat

Dan sunyi bumantara.

.

.

AYAT-AYAT KESEDIHAN UNTUK LELAKI YANG MELUPAKAN SATU HARI HIDUPNYA

Untuk Edgar Allan Poe—sembari mengetik puisi terakhirnya sebelum sempat menyelesaikan huru-hara isi kepalanya.

.

/i/

Perihal lelaki yang menyulam sunyi dengan tangannya, kata-kata dibelah mengisi celah setiap halaman buku ini—perhitungan waktu masa muda yang menjelang waktu senja.

Lengung panjang lautan, riuh badai, pijar matahari sore yang menyalak di kaki-kaki angkasa menghapus bab baru di buku sunyi ini, adalah kesedihan yang rampung sebagai pisau yang menghabisi saat-saat indah.

Aku mengisi buku ini—jelmaan kitab suci yang suaranya parau. Aku menuliskan masygul dan nelangsa, lalu kubiarkan talbis ini membakar habis cinta dari tubuhku.

/ii/

Lelaki itu menghabiskan putus asa. Setelah sempat mengucapkan cinta.

Menggerus api dan membiarkan punah kata-kata di setiap halaman buku ini.

/iii/

Lelaki itu berbincang-bincang asyik di hadapan cermin—menamai perihal-perihal sebagai memohon doa dan menyerahkan dosa. Lamat-lamat tenggelam di partitur-partitur deburan pantai, setidaknya itulah bunyi terindah ketika kau tahu bahwa hari itu, adalah hari kau akan dilupakan.

Baca juga  Sepotong Senja untuk Pacarku

Tidak ada yang benar-benar sunyi.

Hanya saja, aku menuliskan puisi-puisi ini untuk kesedihan seseorang yang melupakan satu hari hidupnya yang pernah menghapus dirinya—menghapus masa hidupnya.

.

.

APAKAH MUNGKIN AKU MELAKUKANNYA DENGANMU?

.

Apakah mungkin aku melakukannya denganmu?

Setelah kau tidak menemukan kata-kata dari semata tubuhku. Kau merayakan sepi, kidung-kidung Bartolomew, dan warna-warni sebelas galaksi. Kau menyaksikan angin ribut di kepalaku.

Kamu tidak benar-benar ada. Gumpalan sosokmu puisi yang tanggal dari langit. Kamu menyajikan mimpi yang hanya tinggal sebagai delusi belaka. Sebelum sempat membincangkan cinta, kamu menghapus diri dan terlambat menuliskannya.

.

Apakah mungkin aku melakukannya denganmu?

Bersama cuap-cuap basah oleh hujan di sore kecil, bersama cerita hari terbit dan bulan sabit, bersama dongeng malam menyenyakkan sunyi, bersama partitur-partitur lagu yang tidak mengimani bunyi.

Adalah aku antara jejak dan kesepian. Melintasi waktu dan ruang merindukanmu, sekejap meraba akan ujung petang dan tak pernah menemukan jalan pulang.

.

Oh, apakah mungkin aku melakukannya denganmu?

Sekujurku penuh peluh seluruh. Dunia hanya sekelebat takdir, lalu berpisah dan hanya sisa kita berdua.

Nanti, apakah mungkin aku melakukannya denganmu?

Sesaat aku mengira kita sepasang terompah, lalu aku pernah mematahkanmu berkeping-keping pilunya.

.

.

SYAIR-SYAIR MAJENUN UNTUK SEMESTA CINTANYA

.

Semerbak hutan, aku menerjang kudus batas lengang. Langit mendulang-dulang kristalnya dan kalimat sakti ucapan selamat tidur.

.

Aku mencintaimu, kataku berulang-ulang menggema di kewarasan.

Kopenhagen, berkilau cemerlang mengungkapkan yang tidak tertata—menuliskan hal majemuk yang paling bisa aku rasakan ketika aku melamunkanmu, di lamunan panjang akan nestapa pada kita berdua.

Hanya saja, aku adalah kendi yang kau isi samudera, lalu pecah berkeping-keping.

.

Patah hati ini bentuknya cermin—memantulkan khayalanmu untuk kau tatap rupa menyedihkanmu. Tabiat alam adalah sayup-sayup kemuraman, namun diperjelas oleh wajahmu adalah masygul, nelangsa, dan pahit.

Baca juga  Ramalan Nian Gao

Kamu membicarakan dirimu sendiri, karena kamu adalah aku: Adalah nada yang kau senandungkan, adalah pijar yang kau pantik, adalah sunyi yang kau kabung.

Selagi matahari bernyawa, gemintang masih cemerlang, udara masih meriuh, biarkan aku jatuh hati padamu—kususurkan diriku ke dalam kelebat bumimu dan tenggelam di dasar lautanmu—yang gamam dan membiarkanku kedinginan di ujung waktu.

.

Aku mencintaimu, kataku di lorong-lorong labirin. “Segeralah temui diriku, agar kamu tidak kesepian, dan aku bersamamu.”

.

.

MEMANTIK API

.

Memantik api, kala itu

Tengah-tengah gelap menyerupai sunyi

Lalu kita berdoa agar jalan pulang.

.

Pada akhirnya, memantik api lagi

Untuk cinta buta, katanya.

Rasa-rasanya seperti baru remaja

Saling merindukan bau tubuh

Yang pernah padamkan sepi, kala itu.

.

Lagi-lagi, memantik api.

Kebakaran. Aku hangus

Kamu hangus. Tidaklah mengapa.

Yang penting kita berdua.

.

.

Mahardika Ramadhan Ahmar. Berasal dari kota Balikpapan—kota di mana saya dibesarkan dengan kenangan yang meliput di setiap sudutnya. Saya dilahirkan tanggal 22 Desember 1999. Latar belakang pendidikan saya adalah Madrasah di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, Balikpapan. Sejak kecil saya suka membaca dan menulis. Dan juga saya menggemari puisi dan literasi-literasi seperti novel, cerpen, esai dan bentuk literatur lain sejak saya mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Saya sekarang aktif di komunitas puisi yang ada di Balikpapan. Dengan wadah yang ada dan cakap literasi yang memadai, saya sangat senang bisa berandil di kanal kepenulisan di Indonesia.

.
MENUNGGU PULANG. MENUNGGU PULANG. MENUNGGU PULANG.

Loading

Leave a Reply

error: Content is protected !!