Budi Darma, Cerpen, Horison

Dua Laki-Laki

Dua Laki-Laki - Cerpen Budi Darma

Dua Laki-Laki ilustrasi Agung Budi/Bentang

5
(1)

Cerpen Budi Darma (Majalah Sastra Horison, April 1974 Tahun ke IX)

DALAM suatu perjalanan panjang dengan kereta api dua orang laki-laki duduk di dua kupe yang berdampingan. Laki laki Berbaju Hitam duduk di kupe kiri dan Laki-laki Berbaju Putih duduk di kupe kanan. Hanya merekalah yang duduk di kupe-kupe itu. Kupe-kupe lain dalam gerbong itu dan gerbong-gerbong lain agak penuh. Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa penjual karcis di stasiun pemberangkatan memberi tempat istimewa kepada kedua laki-laki itu. Kedua laki-laki itu pun tidak tahu.

Menjelang waktu pemberangkatan seorang laki-laki kurus dekat kamar kerja kepala stasiun menekan tombol dan berdering-deringlah musik pemberangkatan. Seorang kondektur berwajah pucat berlari-lari mendekati kereta api dengan peluit di mulut dan tanda merah di tangan. Begitu musik pemberangkatan berhenti, kondektur berwajah pucat mengangkat tanda merah, lalu meniup peluitnya panjang-panjang. Kereta api bergerak perlahan-lahan. Hampir semua orang di dalam kereta api menyandarkan tubuhnya lebih dalam di sandaran kursi masing-masing. Karena menyadari perjalanan akan makan waktu lama dan melelahkan, semua orang, kecuali Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih bersiap-siap untuk tidur. Banyak di antara penumpang yang menutup gorden jendela supaya gerbong menjadi lebih gelap dan lebih gampanglah mereka tidur.

Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih duduk tenang-tenang memandang ke luar jendela. Mula-mula kereta api berjalan di tengah-tengah kota, lalu menyusur ke pinggir kota. Setelah meninggalkan kota kereta api menambah kecepatan. Begitulah kereta api berjalan terus.

Setelah melalui tanah-tanah kosong di sela desa-desa yang dipagari oleh tanaman-tanaman bambu, kereta api masuk ke sebuah hutan. Banyak benar binatang-binatang yang sempat dilihat oleh kedua laki-laki itu. Beberapa di antaranya adalah binatang-binatang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Lama benar perjalanan dalam hutan itu. Dan, begitu kereta api keluar dari hutan, semua penumpang sudah tertidur pulas, kecuali Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih. Meskipun kantuk datang merangkak, mereka tidak mau membuang kesempatan untuk melihat-lihat keadaan di luar. Akhirnya, kereta api memasuki tanah kosong.

Untuk melawan kantuk yang mengendap-endap Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih membuka mata lebar-lebar. Tidak sedikit pun mereka melenakan keadaan di luar. Goyangan-goyangan kereta api menambah perasaan senang mereka. Dan demikianlah, Laki-laki Berbaju Hitam tidak memperhatikan siapa yang duduk di kupe samping dan Laki-laki Berbaju Putih pun demikian.

Setelah melewati tanah kosong kereta api memasuki daerah yang lebih menyenangkan bagi kedua laki-laki itu. Jauh di sebelah kiri kereta api tampak jalan menjalur ke sebelah sana, dan jauh di sebelah kanan kereta api tampak gunung berwarna hijau. Makin lama jalan di kiri kelihatan makin dekat, demikian juga gunung di sebelah kanan. Laki-laki Berbaju Hitam mulai melihat sesuatu, dan Laki-laki Berbaju Putih pun mulai melihat sesuatu.

Di sebelah kiri tampak sebuah mobil besar melayap di jalan dengan kecepatan tinggi. Di langit sebelah kanan tampak sebuah pesawat terbang kecil. Laki-laki Berbaju Hitam merasa kecepatan mobil berlomba dengan kecepatan kereta api. Kadang-kadang mereka bersalip-salipan. Pada suatu saat dengan kecepatan yang tinggi mobil meliuk ke kiri karena jalan di sana membelok ke kiri. Pada saat itulah Laki-laki Berbaju Hitam melihat punggung mobil. Tahulah Laki-laki Berbaju Hitam bahwa mobil itu milik presiden. Pada saat yang bersamaan pesawat terbang di sebelah kanan merendah dengan kecepatan tinggi. Mata Laki-laki Berbaju Putih dapat menangkap tanda yang terpacak pada sisi kiri pesawat terbang. Tahulah Laki-laki Berbaju Putih bahwa pesawat terbang itu milik presiden. Laki-laki Berbaju Hitam berusaha keras untuk melihat penumpang mobil di sana, tetapi tidak berhasil. Demikian juga Laki-laki Berbaju Putih tidak berhasil melihat penumpang pesawat terbang di sebelah sana. Meskipun untuk beberapa saat pesawat terbang, terbang rendah dengan jarak yang tidak begitu jauh dari kereta api, Laki-laki Berbaju Putih tidak dapat melihat orang yang berada di dalam pesawat terbang. Akhirnya, mobil berkelok di sana dan hilang dari pemandangan. Pesawat terbang pun meninggi, lalu menjauh, lalu hilang di balik awan. Sementara itu, gunung hijau masih kelihatan berdiri tegar di sebelah kanan. Laki-laki Berbaju Hitam merasa kecewa. Begitu juga Laki-laki Berbaju Putih. Mereka melepas pandangan dari luar jendela, lalu melipat leher ke kupe lain. Mata Laki-laki Berbaju Hitam menabrak mata Laki-laki Berbaju Putih secara kebetulan. Mereka mengangguk dan tersenyum bersahabat.

“Pergi ke mana?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Ke K,” kata Laki-laki Berbaju Putih, “mau ke mana?”

“Ke K.”

Mereka terus berpandang-pandangan. Tubuh mereka terguncang-guncang kecil karena gerak kereta api. Kantuk yang pernah hilang datang merangkak lagi.

“Saya tadi melihat sesuatu yang hebat di sebelah sini,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Saya juga,” kata Laki-laki Berbaju Hitam, “di sebelah sini.”

Lalu, mereka pun menceritakan pengalaman masing masing.

“Siapakah yang naik pesawat terbang?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tentunya presiden,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Tidak mungkin,” kata Laki-laki Berbaju Hitam. “Saya yakin presiden naik mobil yang saya lihat tadi.”

“Tidak mungkin,” kata Laki-laki Berbaju Putih. “Saya yakin sayalah yang benar.”

“Tidak mungkin,” kata Laki-laki Berbaju Hitam. “Saya yakin sayalah yang benar.”

Dengan tidak disadari sinar mata dan raut muka mereka berubah. Laki-laki Berbaju Hitam merasa Laki-laki Berbaju Putih berubah sikapnya menjadi tidak bersahabat. Demikian juga pendapat Laki-laki Berbaju Putih mengenai Laki-laki Berbaju Hitam. Untuk beberapa saat mereka masih berpandang pandangan. Lama kelamaan mereka merasa jera karena itu mereka melihat langit-langit. Guncangan-guncangan kereta api terasa mengganggu. Kantuk makin mendekat dan mendekat. Dengan tidak sengaja tertidurlah mereka. Sementara itu, kereta api berjalan terus dengan kecepatan yang tetap tinggi. Semua penumpang tidur dengan tubuh terguncang-guncang.

Ketika Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih bangun kembali, semua penumpang masih tidur. Meskipun bunyi kereta api cukup keras, kedua laki-laki itu sanggup mendengar dengkuran penumpang-penumpang di kupe-kupe depan dan belakang. Ketika mereka menoleh ke jendela masing masing, tahulah mereka bahwa hari sudah hampir gelap. Kereta api memasuki beberapa tanah kosong di sela desa-desa. Beberapa kali kereta api melewati sawah-sawah kurus dan tegalan-tegalan kering. Langit di atas pun tampak kering. Rupanya hujan tidak akan turun dalam waktu yang cukup lama.

Setelah melampaui sawah kurus, masuklah kereta api ke tanah kosong. Debu melayap-layap di udara kosong. Di beberapa tempat debu berpunting-punting ke atas seolah-olah akan menyentuh langit kering. Tiba-tiba Laki-laki Berbaju Hitam merasa senang karena mobil yang tadi hilang dari pandangan sekarang tampak jauh di sana. Mobil yang tampak kecil itu menghamburkan debu lebat di belakangnya. Laki-laki Berbaju Putih pun tiba-tiba merasa senang. Pesawat terbang yang hilang di balik awan sekarang menampak lagi. Mobil di kiri makin mendekat, mendekat, dan mendekat, begitu juga pesawat terbang di sebelah kanan. Timbul niatan di otak Laki-laki Berbaju Hitam untuk memberi tahu Laki-laki Berbaju Putih mengenai mobil yang makin mendekat itu. Timbul juga niatan di otak Laki-laki Berbaju Putih untuk memberi tahu Laki-laki Berbaju Hitam perihal pesawat terbang yang makin mendekat dan merendah itu. Namun, niatan mereka hilang dengan sendirinya.

Jalan di sebelah kiri membelok ke arah sini. Sekarang mata Laki-laki Berbaju Hitam dapat menangkap bagian depan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu. Tanda di depan mobil pun sama dengan tanda di punggung. Laki-laki Berbaju Hitam meruncingkan pandangan matanya, dan tampaklah presiden duduk di dalam mobil. Sementara itu, jalan di sana membelok lagi, lalu menjadi lurus sejajar dengan jalan kereta api.

Tiba-tiba pesawat terbang di sebelah kanan membuat gerakan yang mendebarkan hati Laki-laki Berbaju Putih. Mula-mula pesawat terbang itu naik dengan kecepatan yang luar biasa, lalu hilang dari pandangan mata. Debu memekat di udara kosong. Tiba-tiba pesawat terbang kembali dengan arah yang berlawanan dengan kereta api. Sekejap mata Laki-laki Berbaju Putih dapat melihat tanda yang sama dengan tanda yang terpacak di tubuh pesawat terbang sebelah kiri. Tidak hanya itu, Laki-laki Berbaju Putih pun sempat melihat presiden duduk di sebelah pengemudi. Lalu, pesawat terbang hilang dan debu makin memekat. Dalam waktu yang singkat pesawat terbang tampak lagi melayap jauh di sebelah sana. Sementara itu, mobil di sebelah kiri pun melayap ke sana, masih tampak meskipun jauh. Kedua laki-laki itu tidak mau melepaskan mata mereka dari pemandangan di luar jendela masing-masing. Niat yang tadi pernah timbul untuk memberi tahu tetangga masing-masing tidak kunjung timbul lagi.

Baca juga  Sisa Badai di Sepasang Mata

Tiba-tiba Laki-laki Berbaju Hitam melihat pohon besar di sebelah sana. Laki-laki itu heran mengapa mobil presiden menuju arah pohon dengan kecepatan luar biasa. Laki-laki Berbaju Putih pun terheran-heran karena sekonyong-konyong melihat pesawat terbang yang terbang tinggi di sebelah sana menukikkan tubuh dengan kecepatan luar biasa. Kedua laki-laki itu menahan napas. Mobil tidak mengubah arah, pesawat terbang pun tidak. Tepat pada waktu mobil menggempur pohon, pesawat terbang pun menggempur tanah. Kedua laki-laki itu merasa kereta api yang mereka tumpangi tergoyang hebat sejenak. Dengan tidak sadar Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih berteriak, tetapi hanya lenguh halus yang keluar dari tenggorokan masing-masing. Lenguh itu tertelan oleh gemeretaknya kereta api. Untuk sementara masing-masing laki-laki itu tidak dapat melihat apa-apa karena kabut debu memagari mobil dan pesawat terbang.

Lalu, mereka melihat api bertarung melawan debu. Lalu mereka melihat asap meningkahi pertarungan itu. Laki laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih terkesiap. Mata kedua laki-laki itu tak mau lepas dari asap hitam yang bergulungan di udara. Dan, mereka tidak dapat berbuat apa apa, kecuali melihat dan melihat. Sementara itu, kereta api berjalan dengan kecepatan sama.

Rasa terkesiap hilang ketika pemandangan di masing masing sisi hilang. Laki-laki Berbaju Hitam berdiri, mengentakkan kaki dan melipat leher ke arah Laki-laki Berbaju Putih. Laki-laki Berbaju Hitam pun berbuat sama.

“Presiden mati,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Presiden mati,” Laki-laki Berbaju Putih.

Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih berteriak-teriak mengenai presiden mati. Begitu keras dan bersemangat teriakan masing-masing. Penumpang-penumpang di kupe-kupe lain terbangun. Mereka mengusap-usap mata sambil memasang kuping. Akhirnya, mereka mendengar jelas teriakan-teriakan mengenai presiden mati. Penumpang penumpang di kupe-kupe depan dan belakang berdiri, lalu melongok ke kupe kedua laki-laki itu. Penumpang-penumpang di kupe-kupe lain pun ikut berdiri. Kemudian, penumpang seluruh gerbong ikut berdiri.

Dalam waktu yang singkat penumpang seluruh gerbong mendengar teriakan mengenai presiden mati. Dan, dalam waktu yang tidak lama seluruh penumpang di seluruh kereta api mendengar berita itu. Dari mulut ke mulut dan dari kuping ke kuping mereka mengetahui bahwa presiden mati karena kecelakaan, tetapi mereka tidak tahu dengan jelas kecelakaan apa. Keterangan Laki-laki Berbaju Hitam bertentangan dengan keterangan Laki-laki Berbaju Putih. Masing-masing menganggap dirinya benar dan masing-masing menganggap pihak lain tolol. Kereta api yang mula-mula tenang menjadi ramai. Kupe yang mula-mula kosong menjadi sesak dipenuhi orang-orang yang ingin bertanya. Kondektur yang terlambat datang tidak mampu melerai.

Sementara itu, kereta api berjalan terus tanpa mengurangi kecepatan. Dan, matahari telah terbenam. Penumpang-penumpang baru sadar bahwa lampu-lampu kereta api sudah sejak tadi dinyalakan. Karena kedua laki-laki itu terus bertengkar, penumpang-penumpang lain mulai ragu-ragu. Satu per satu mereka duduk kembali ke tempat masing-masing.

“Saya yakin saya benar,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Saya yakin kau goblok,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Kau pun goblok,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

Kondektur berdiri di lorong yang memisahkan kupe-kupe mereka. Tubuh kondektur itu bergoyang-goyang mengikuti goyangan kereta api. Leher Kondektur melipat ke sana dan ke sini mengikuti pembicaraan kedua laki-laki itu.

“Kau turun di mana, baju putih?” kata Kondektur.

“K,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Saya juga K,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Masih jauh jalan ke K,” kata Kondektur. “Sekarang hentikanlah percakapan kalian.”

“Kota apakah yang terdekat dengan tempat ini?” kata Laki laki Berbaju Hitam.

“M,” kata Kondektur.

“Saya akan turun di M,” kata Laki-laki Berbaju Putih, “untuk membeli koran atau mendengarkan radio.”

“Saya pun turun di M,” kata Laki-laki Berbaju Hitam. “Saya tahu sayalah yang benar.”

Kereta api berjalan terus dengan kecepatan yang tetap sama. Sampai masuk ke pinggiran kota M pun kereta api tidak mengurangi kecepatan. Barulah setelah memasuki bagian tengah kota M kereta api mengurangi kecepatan. Dan, tepat di tengah-tengah stasiun M, kereta api berhenti. Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih bergegas berdiri dan lalu lari ke pintu. Laki-laki Berbaju Hitam melompat dari pintu kiri dan Laki-laki Berbaju Putih dari pintu kanan. Begitu bergegas mereka melompat sehingga untuk beberapa saat mereka hampir kehilangan keseimbangan. Laki-laki Berbaju Hitam terhuyung sekejap, lalu menendang pilar dengan tidak sengaja. Laki-laki Berbaju Putih terhuyung sejenak, lalu menendang trap dengan tidak sengaja. Setelah mencapai keseimbangan kembali, kedua laki-laki itu berdiri tegak kembali.

Sementara itu, bunyi kepala kereta api mendesah-desah memekakkan telinga kedua laki-laki itu. Lamat-lamat kedua laki-laki itu mendengar peluit panjang-panjang. Kereta api mulai bergerak. Barulah kedua laki-laki itu sadar bahwa di stasiun M, tidak ada penumpang lain yang naik dan juga tidak ada penumpang lain yang turun, kecuali mereka. Ketika kereta api menambah kecepatan sedikit, teringatlah kedua laki-laki itu bahwa tas mereka tertinggal di kereta api. Sejenak timbul niatan di dalam otak Laki-laki Berbaju Hitam untuk melompat ke kereta api kembali untuk mengambil tas. Niatan itu pun timbul sejenak di dalam otak Laki-laki Berbaju Putih. Dan, niatan kedua laki-laki itu hilang dengan sendirinya. Untuk beberapa saat kedua laki-laki itu terbingung-bingung.

Setelah kereta api meninggalkan stasiun, Laki-laki Berbaju Hitam melompat rel mendekati Laki-laki Berbaju Hitam. Mereka tidak bercakap apa pun. Laki-laki Berbaju Putih berjalan ke peron, lalu melompati rel lain. Laki-laki Berbaju Hitam mengikuti di belakang Laki-laki Berbaju Hitam. Lalu, mereka lari bersama-sama ke kios koran yang sudah tutup. Bersama-sama mereka mengetuk-ngetuk pintu kios. Dan, pintu kios yang sudah tutup itu tidak mau membuka lagi. Mereka lari ke penjaga pintu yang hampir tertidur.

“Jam berapa koran baru datang?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

Penjaga pintu menggeleng dengan mata setengah tertutup.

“Apa saya boleh meminjam radio stasiun?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Dengan mata setengah tertutup penjaga itu menggeleng lagi. Laki-laki Berbaju Hitam bergerak keluar. Seperti mesin tangan penjaga pintu mengacung untuk minta karcis. Laki laki Berbaju Hitam menyerahkan karcis disusul oleh Laki-laki Berbaju Putih. Lalu, mereka berjalan bersama-sama ke jalan besar. Sepi. Lampu-lampu jalan yang tidak begitu banyaknya bertarung dengan kegelapan malam. Angin mendesah perlahan-lahan. Bau aspal dan tahi kuda kering melayap ke udara, menerpa-nerpa hidung Laki-laki Berbaju Hitam dan hidung Laki-laki Berbaju Putih. Untuk beberapa saat kedua laki-laki itu berdiri sambil melipat leher ke sana dan ke sini.

“Tidak mungkin berita mengenai kematian presiden diumumkan sekarang,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Ya,” kata Laki-laki Berbaju Putih. “Kita harus menunggu beberapa saat lagi.”

Angin yang mendesah perlahan-lahan menyebabkan kedua laki-laki itu merasa segar. Kemudian, rasa lapar menyeruak ke perut mereka.

“Mari kita cari makan,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Mari,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Mereka melipat leher ke sana dan ke sini beberapa kali. Mata Laki-laki Berbaju Putih menangkap cahaya lampu kurang terang di sebelah sana. Laki-laki Berbaju Putih berjalan tanpa mengajak Laki-laki Berbaju Hitam, tetapi Laki-laki Berbaju Hitam ikut berjalan. Mula-mula kedua laki-laki itu berjalan beriring-iringan. Beberapa saat kemudian Laki-laki Berbaju Hitam menyusul, dan berjalan berjajaranlah mereka.

Akhirnya, mereka melihat warung sepi. Kedua laki-laki itu berjalan cepat-cepat ke arah warung. Pada waktu Laki-laki Berbaju Hitam akan masuk pintu warung, Laki-laki Berbaju Putih bergegas akan masuk lebih dahulu. Tubuh Laki-laki Berbaju Hitam menumbuk tubuh Laki-laki Berbaju Putih. Karena Laki-laki Berbaju Putih berdiri tegar di kaki pintu, terpaksa Laki-laki Berbaju Hitam berjalan ke arah pintu kanan. Begitu Laki-laki Berbaju Hitam melangkahkan kaki ke pintu kanan, Laki-laki Berbaju Putih masuk ke warung melalui pintu kiri. Laki-laki Berbaju Hitam duduk di ujung kiri kursi kayu panjang disusul oleh Laki-laki Berbaju Hitam di ujung sebelah kanan. Laki-laki Berbaju Putih memesan nasi rawon dan kopi. Laki-laki Berbaju Hitam juga memesan nasi rawon dan kopi.

“Ada radio?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Ada,” skata pemilik warung.

Pemilik warung membungkuk, lalu menyetel radio yang disimpan di bawah meja. Terdengar lagu untuk berbaris. Sementara itu, pembantu pemilik warung meracik nasi rawon dan kopi.

“Ada berita yang menarik?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tidak tahu,” kata pemilik warung.

“Tidak ada berita kematian misalnya?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Tidak tahu,” kata pemilik warung.

Pembantu pemilik warung mengulungkan nasi rawon ke Laki-laki Berbaju Putih, lalu ke Laki-laki Berbaju Hitam. Setelah kedua laki-laki itu makan, pembantu pemilik warung mengulungkan kopi. Kedua laki-laki itu makan tanpa berkata apa pun. Radio masih menyuarakan lagu untuk berbaris.

Baca juga  Persimpangan Tak Bertu(h)an

Sampai kedua laki-laki itu selesai makan, radio masih menyuarakan lagu untuk berbaris. Ketika mereka memesan minuman lagi, selesailah lagu untuk berbaris, lalu disusul oleh lagu pengantar warta berita. Pesanan minuman cepat dilayani. Kedua laki-laki itu meneguk minuman dengan tergesa. Lagu pengantar berhenti disusul oleh bunyi lonceng dari radio. Begitu bunyi lonceng berhenti, mulailah Laki-laki Berbaju Hitam menyandarkan tubuh di sandaran kursi dan melesatkan pandangan matanya ke langit-langit. Laki-laki Berbaju Putih mencondongkan tubuh ke depan, lalu melesatkan pandangan mata ke butiran sisa nasi di atas meja. Radio menyuarakan berita mengenai pertandingan sepak bola melawan B, penurunan harga beras, transmigrasi ke S, penurunan harga gula, kenaikan produksi minyak, pembangunan rumah murah untuk rakyat, perampokan bank besar-besaran di T, pelanggaran gencatan senjata di delta L, dan berita-berita lain yang tidak menarik perhatian kedua laki-laki itu.

Setelah menanyakan mengenai losmen yang paling murah, kedua laki-laki itu membayar makan dan minum masing-masing, lalu berdiri. Laki-laki Berbaju Putih keluar dari pintu kiri dan Laki-laki Berbaju Hitam keluar dari pintu kanan. Di depan pintu warung Laki-laki Berbaju Putih membelok ke kiri dan Laki-laki Berbaju Hitam membelok ke kanan. Mereka berhenti berhadap-hadapan tepat di tengah bagian depan warung. Sementara itu, radio pemilik warung menyuarakan iklan mengenai obat untuk memberantas jerawat yang sudah menahun.

Laki-laki Berbaju Hitam membalik tubuh, lalu berjalan. Laki-laki Berbaju Putih berjalan agak cepat. Dan akhirnya, mereka berjalan berjajar. Kedua mata laki-laki itu menangkap seorang gemuk duduk di jembatan got yang rendah. Cahaya lampu jalan tidak begitu terang menyoroti kepala laki-laki itu yang botak. Setelah kedua laki-laki itu mendekati laki-laki gemuk yang duduk di jembatan, tahulah kedua laki-laki itu bahwa laki-laki gemuk itu seorang polisi.

“Ada berita penting, Pak Polisi?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Dengan susah payah polisi gemuk berdiri. Setelah mengenduskan napas dengan susah, polisi itu memandang Laki laki Berbaju Putih dan Laki-laki Berbaju Hitam satu per satu.

“Seperti biasa,” kata polisi gemuk, “daerah saya selalu aman. Tidak ada perampokan, penodongan, pemerkosaan, penculikan, dan pencurian.”

“Tidak ada kabar mengenai presiden?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tak tahulah,” kata polisi gemuk.

Kedua laki-laki itu minta diri, lalu berjalan tergopoh gopoh. Tidak sulit bagi mereka untuk mencapai losmen yang tadi ditunjukkan oleh pemilik warung.

Losmen sepi dan tampak kotor. Lampu redup, cat tembok luntur, bau kencing berkeliaran. Penjaga kurus di belakang meja tampak mengantuk dan kurang bersemangat melayani kedua laki-laki itu.

“Ada berita penting?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

Penjaga losmen menggeleng.

“Di sini ada radio?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Penjaga kurus menunduk, lalu menyetel radio di bawah meja. Terdengar iklan bagaimana memberantas kecoak, kutu busuk, nyamuk, dan lalat. Laki-laki Berbaju Putih dan Laki laki Berbaju Hitam melipat leher ke arah jam kuno yang tertempel di tembok.

“Saya akan ke sini lagi untuk mendengar warta berita nanti,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Laki-laki Berbaju Hitam melangkah masuk lorong losmen diikuti Laki-laki Berbaju Putih. Laki-laki Berbaju Hitam membuka pintu, masuk kamar, lalu diikuti Laki-laki Berbaju Putih, tertegun juga kedua laki-laki itu melihat kekotoran kamar. Dua ranjang sempit berdempet-dempetan menyesakkan pemandangan dalam kamar yang sempit itu. Dengan tidak berkata apa pun Laki-laki Berbaju Hitam membaringkan tubuh di ranjang kiri dan Laki-laki Berbaju Putih membaringkan tubuh di ranjang kanan. Kasur ranjang yang berseprai kotor itu berbau kencing. Nyamuk berseliweran di udara dan mengeluarkan suara mendenging-denging. Kecoak berseliweran di sana sini, kadang-kadang naik ke ranjang dan terbang ke tembok. Beberapa tikus berlarian di atas meja kecil. Cecak-cecak memelototkan mata di langit-langit. Beberapa di antara mereka ada yang bergerak gesit untuk mencaplok nyamuk. Dan, sarang laba-laba tanpa penghuni bergelantungan di pojok pojok kamar.

Dari kamar sebelah terdengar perempuan tertawa-tawa kecil, lalu disusul suara batuk laki-laki. Jauh di luar sana terdengar beberapa kucing berkelahi. Lalu, terdengar gonggong anjing. Tidak lama kemudian sadarlah kedua laki-laki itu bahwa tubuh mereka digerayangi oleh kutu-kutu busuk. Dan, nyamuk-nyamuk pun memagut-magut kulit mereka. Mereka terpaksa menggaruk-garuk sebagian besar tubuh. Kantuk tidak mau juga pergi. Demikianlah, ketika radio menyiarkan warta berita, kedua laki-laki itu sudah tertidur gelisah. Hampir selamanya tubuh mereka bergeliatan.

Begitu mereka bangun mereka sadar bahwa malam sudah berganti dengan pagi. Laki-laki Berbaju Hitam melompat ke pinggir ranjang diikuti Laki-laki Berbaju Putih. Mereka bergegas ke kantor losmen. Penjaga malam losmen sudah diganti dengan penjaga yang lebih tua.

“Ada berita penting tadi di radio?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Saya bosan warta berita,” kata penjaga losmen. “Radio saya matikan ketika menyiarkan warta berita tadi.”

Setelah menanyakan mengenai kios koran terdekat, Laki laki Berbaju Putih bergegas ke luar diikuti Laki-laki Berbaju Hitam. Di pojok jalan ada kios, tapi masih tutup. Laki-laki Berbaju Hitam bergegas ke tempat lain diikuti Laki-laki Berbaju Putih. Angin mendesah perlahan-lahan. Dahan dahan pohon di pinggir jalan bergoyang-goyang kecil. Lampu lampu jalan padam dan cahaya matahari sudah menyusup ke kota. Setelah berjalan ke sana dan ke sini, kedua laki-laki itu melihat seorang penjual koran kurus menyeberang jalan di sebelah sana. Laki-laki Berbaju Hitam berlari kencang ke arah penjual koran diikuti Laki-laki Berbaju Putih. Begitu penjual koran menapakkan kaki di pinggir jalan, matanya menangkap kedua laki-laki yang berlari-lari ke arahnya. Untuk beberapa saat penjual koran tertegun. Dan, kedua laki-laki itu berlomba untuk mencapai penjual koran. Sungguh keras bunyi engah-engah napas mereka. Seperti mesin kedua laki-laki itu berhenti dekat penjual koran. Penjual koran tertegun.

“Ada berita penting?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Ada,” kata penjual koran. “Seorang perawan tua yang hampir ompong diperkosa laki-laki di bawah umur.”

Dengan serempak Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki laki Berbaju Putih merebut koran. Penjual koran yang sudah berpengalaman itu menjadi kewalahan. Beberapa koran di tangan kanan penjual koran menggelincir ke bawah, lalu terbaring di pinggir jalan. Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki laki Berbaju Putih berebut untuk memungut koran-koran itu. Bergegas-gegas kedua laki-laki itu membaca kepala-kepala berita, dan bergegas-gegas mereka membalik-balik halaman-halaman sekian banyak koran. Beberapa kali penjual koran menahan napas karena khawatir korannya sobek oleh kekasaran kedua laki-laki itu. Akhirnya, kedua laki-laki itu menghamburkan beberapa koran ke kepala penjual koran. Penjual koran meliukkan tubuh, lalu berjongkok mengambil beberapa koran yang terbaring di pinggir jalan.

“Tidak ada berita mengenai presiden mati?” kata Laki-laki Berbaju Putih. “Dia mati karena kecelakaan pesawat terbang.”

Sambil terus berjongkok penjual koran membuka mulut lebar-lebar.

“Bukan,” kata Laki-laki Berbaju Hitam. “Dia mati karena kecelakaan mobil.”

Wajah penjaga koran menjadi kosong.

“Saya menyaksikan presiden mati karena kecelakaan pesawat terbang,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Dia bohong,” kata Laki-laki Berbaju Hitam. “Presiden mati karena kecelakaan mobil. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri.”

Laki-laki Berbaju Hitam sadar bahwa di tangannya masih ada satu koran. Dan, penjual koran berdiri. Laki-laki Berbaju Putih pun sadar bahwa di tangannya masih ada satu koran. Serempak mereka melemparkan koran ke wajah penjual koran. Penjual koran meliukkan tubuhnya lagi, dan kedua koran itu melayang di dekat kepalanya, lalu terjun ke bawah dan menyentuh pinggir jalan. Penjual koran berjongkok lagi. Sementara itu, Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih sudah pergi bergegas menuju losmen.

Kedua laki-laki langsung minta penjaga losmen menyetel radio. Radio menyala, lalu menyuarakan lagu keroncong. Penjaga losmen mengangguk-angguk mengikuti anggukan-anggukan suara penyanyi keroncong. Lagu keroncong berhenti disusul oleh iklan sabun untuk memperhalus kulit. Lalu, lagu keroncong lagi. Penjaga losmen mengangguk-angguk lagi. Lalu, iklan obat batuk. Lalu, lagu India. Penjaga losmen mengentak-entakkan kaki di meja bagian bawah. Meja bergoyang-goyang dan mengeluarkan bunyi entakan-entakan kaki. Lalu, iklan obat mata cap Bajing dan Buaya.

Akhirnya, radio menyuarakan lagu pengantar warta berita. Penjaga losmen menyandarkan tubuh dalam-dalam, lalu menyalakan radio. Lagu berhenti disusul oleh bunyi lonceng.

“Bosan,” kata penjaga losmen.

Penjaga losmen berdiri, lalu pergi. Ketika penjaga losmen menikung ke lorong sana, radio memulai warta berita. Laki laki Berbaju Hitam menggigit-gigit bibirnya sendiri, dan Laki laki Berbaju Putih mengutil-ngutil kuku jari telunjuk kanan dengan kuku ibu jari tangan kirinya. Ada berita mengenai hasil padi menaik, hasil kopra menaik, hasil gaplek menaik, ekspor daun sirih ke Th. mulai dilaksanakan, kecelakaan kereta api barang, perlawatan regu pingpong ke P, dan berita-berita lain yang tidak menarik perhatian kedua laki-laki itu.

Baca juga  Rahasia Kue Lebaran Mina

Begitu warta berita berhenti, Laki-laki Berbaju Hitam bergegas keluar, menyeberang jalan, lalu berjalan ke kios terdekat. Laki-laki Berbaju Putih mengikuti dari belakang. Ternyata kios masih tutup. Beberapa kali kedua laki-laki itu menggedor-gedor kios. Ketika mereka akan meninggalkan kios, sebuah mobil tertutup rapat bercat hitam dan berkaca jendela hitam berhenti dekat mereka. Pintu mobil terbuka, tetapi tak seorang pun kelihatan menjengukkan kepala keluar.

“Kalau kalian ingin mendengar berita penting,” kata seseorang dari dalam mobil, “masuklah ke sini.”

Laki-laki Berbaju Hitam mendekat disusul oleh Laki-laki Berbaju Putih.

“Masuklah,” kata seseorang dari dalam mobil.

Laki-laki berbaju hitam masuk disusul Laki-laki Berbaju Putih. Pintu mobil tertutup dengan sendirinya. Laki-laki Berbaju Hitam terduduk di sebelah kanan dan Laki-laki Berbaju Putih di sebelah kiri. Mobil bergerak maju. Kedua laki-laki itu melihat dua laki-laki berbaju cokelat duduk di depan membelakangi mereka. Potongan tubuh mereka sama. Seolah-olah tidak ada perbedaan antara laki-laki yang memegang kemudi di kanan dan laki-laki yang duduk di kiri. Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih berusaha melihat ke luar melalui jendela berkaca hitam. Mereka tidak melihat apa pun di luar sana. Mereka dapat merasakan mobil berguncang-guncang halus.

“Siapakah yang melihat presiden mati karena kecelakaan mobil?” kata laki-laki yang memegang kemudi.

“Saya,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tapi, saya melihat presiden mati karena kecelakaan pesawat terbang,” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Akhir-akhir ini memang banyak orang mati karena kecelakaan,” kata laki-laki yang memegang kemudi, “khusus untuk daerah ini banyak orang yang mati karena bunuh diri.”

“Apakah berita mengenai kematian presiden sudah disiarkan secara resmi?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Belum,” kata laki-laki yang memegang kemudi, “dan inilah yang saya herankan. Yang sampai ke telinga saya hanyalah kecelakaan pesawat terbang dan mobil di dekat rel kereta api tidak jauh dari kota ini.”

“Mobil presiden?” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tidak mungkin,” kata Laki-laki Berbaju Putih, “saya yakin pesawat terbang itulah yang milik presiden.”

“Itulah yang tidak saya ketahui dengan jelas,” kata laki-laki yang memegang kemudi. “Semua dirahasiakan. Tapi, sebentar lagi kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri.”

“Ke jembatan sana, jembatan yang panjang dan tinggi,” kata laki-laki yang memegang kemudi, “menurut berita yang saya terima reruntuhan pesawat terbang dan bangkai mobil akan dibawa melalui daerah sana secara rahasia.”

Mobil berjalan terus. Mata Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih beberapa kali menyelidik keadaan di dalam mobil. Semua serba remang-remang di dalam mobil. Terasa udara kurang cukup. Dan, bau karet terbakar melayap di dalam mobil.

Akhirnya, mobil berhenti. Pintu di sebelah Laki-laki Berbaju Hitam dan pintu di sebelah Laki-laki Berbaju Putih membuka serempak. Mereka keluar melalui pintu masing masing. Begitu mereka berada di luar mobil, pintu-pintu mobil menutup sendiri. Angin melayap-layap dan udara terasa sejuk. Belum sempat kedua laki-laki itu melihat ke sekeliling, pintu depan membuka serempak. Laki-laki yang memegang kemudi keluar dari kanan dan laki-laki yang lain dari kiri. Begitu mereka keluar, pintu-pintu depan tertutup.

Kedua laki-laki berbaju cokelat berjalan ke arah mulut jembatan diikuti oleh Laki-laki Berbaju Putih dan Laki-laki Berbaju Hitam. Jembatan itu kecil dan tampak tidak kokoh. Angin melayap dan menimbulkan bunyi deru-deru panjang. Laki-laki Berbaju Hitam mencium bau daun cemara. Beberapa kali Laki-laki Berbaju Hitam melihat ke sana dan ke sini, tetapi matanya tidak menangkap pohon cemara sepucuk pun. Dan, Laki-laki Berbaju Putih mencium bau daun-daun kering. Beberapa kali Laki-laki Berbaju Putih melihat ke sana dan ke sini, tetapi matanya tidak menangkap daun kering satu lembar pun. Semua daun di pohon sana dan pohon sana segar dan bergerak-gerak diterjang angin yang mendesah. Tidak ada satu daun pun yang rontok meskipun angin mendesah agak keras. Lalu, Laki laki Berbaju Hitam teringat cerita neneknya entah berapa tahun yang lalu. “Kalau kau mencium bau cemara, sedangkan matamu tidak menangkap daun cemara,” kata neneknya, “maka akan ada sesuatu yang penting terjadi dalam hidupmu.” Dan, Laki-laki Berbaju Putih pun teringat cerita seorang tua yang tidak dikenal. Pada suatu hari ketika masih kecil, Laki-laki Berbaju Putih duduk-duduk di sebuah batu sungai yang dangkal. Lalu datanglah seorang laki-laki tua bertubuh kurus. “Kau mencium bau daun-daun kering, Anak Kecil?” Laki-laki Berbaju Putih menggeleng. “Aneh benar,” kata Laki-laki Tua, “saya mencium bau daun kering, sedangkan di sini tidak ada daun kering.”

Sebelum memasuki mulut jembatan, laki-laki yang tadi memegang kemudi berjalan lebih dahulu dan laki-laki lain mempersilakan Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih berjalan di belakang laki-laki yang tadi memegang kemudi. Setelah ketiga laki-laki itu memasuki jembatan, barulah laki-laki yang tadi memegang kemudi memasuki mulut jembatan. Jembatan terguncang-guncang oleh Langkah-langkah kaki mereka. Mereka harus berjalan berhati-hati di atas jembatan sempit itu. Beberapa menit kemudian barulah mereka sampai di tengah jembatan, lalu laki-laki yang tadi memegang kemudi berhenti. Laki-laki yang tadi memegang kemudi membalik tubuh ke kiri dan yang lain-lain ikut. Baru sekarang Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih sempat mempelajari wajah kedua laki-laki yang membawa mereka. Kedua laki-laki itu tampan dan wajahnya hampir sama. Laki-laki yang memegang kemudi tadi berjerawat dan laki-laki yang lain berkumis kecil.

“Lihatlah ke bawah,” kata Laki-laki Berjerawat.

Mereka melihat ke bawah. Tampak jurang dalam di bawah, diapit oleh tanah menurun yang ditumbuhi pepohonan hijau. Sungai yang sebetulnya tidak kecil itu tampak kecil. Angin mendepak-depak keras. Jembatan tergoyang-goyang. Laki-laki Berbaju Hitam mencium bau daun cemara, dan Laki-laki Berbaju Putih mencium bau daun kering.

“Sekarang lihatlah ke sana,” kata Laki-laki Berjerawat.

Mereka melihat ke satu arah jauh di sana. Karena jauh, jalan itu tampak kecil. Dan, beberapa bagian jalan itu tidak tampak karena tertutup beberapa gerombolan pepohonan.

“Reruntuhan pesawat terbang akan dibawa melalui jalan itu?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

“Bangkai mobillah yang akan dibawa melalui jalan itu,” kata Laki-laki Berbaju Hitam.

“Tunggu saja,” kata Laki-laki Berjerawat.

Mereka diam, sementara baju mereka bergelebatan karena angin. Wajah mereka terasa dingin karena angin. Dada mereka dingin karena angin. Jembatan pun bergoyang-goyang karena angin.

“Sekarang lihatlah ke bawah sana,” kata Laki-laki Berjerawat.

Mereka melihat ke bawah.

“Berita-berita penting memang tidak pernah disiarkan,” kata Laki-laki Berjerawat. “Dan, orang-orang di sini lebih tertarik pada berita-berita murahan.”

“Misalnya?” kata Laki-laki Berbaju Putih.

Laki-laki Berjerawat diam. Mereka terus melihat ke bawah. Angin terus menggoyang-goyangkan jembatan, menggelebatkan baju mereka, mendinginkan wajah mereka dan mendinginkan dada mereka. Laki-laki Berbaju Hitam mencium bau daun kering. Pohon cemara tidak tampak sepucuk pun dan daun kering tidak tampak selembar pun.

“Presiden mati tidak akan diberitakan,” kata Laki-laki Berjerawat. “Tapi, kalau kalian mati bunuh diri pasti diberitakan.”

Tiba-tiba Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih merasa ada sesuatu yang memberati bahu mereka. Tahulah Laki-laki Berbaju Hitam bahwa Laki-laki Berjerawat menekankan tangannya yang kokoh itu ke bahunya. Laki laki Berbaju Putih pun tahu bahwa laki-laki berkumis kecil menanamkan tangannya yang kokoh ke bahunya.

Tiba-tiba tubuh Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih melayap di udara. Dari jembatan jerit kedua laki-laki itu kedengaran makin menjauh. Bau daun cemara hilang dari hidung Laki-laki Berbaju Hitam. Dan, bau daun kering makin mengeras di hidung Laki-laki Berbaju Putih. Sampai saat itu Laki-laki Berbaju Hitam masih yakin bahwa presiden mati karena kecelakaan pesawat terbang. Sesaat sebelum tubuh mereka hancur pun, mereka masih teguh pada pendapat masing-masing. ***

.

.

(1973)

.
Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki, Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki. Dua Laki-Laki.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!