Cerpen, Putu Wijaya

Kadal

Kadal - Cerpen Putu Wijaya

Kadal ilustrasi Istimewa

5
(1)

Cerpen Putu Wijaya (1995)

SEKITAR jam sepuluh pagi. Seorang anak menatap batu-batu di sebuah gang. Di bawah pohon belimbing, dari sela-sela rumputan, muncul kepala seekor kadal. Hitam kebiruan dan berkilat. Ia naik ke atas batu, bermandi cahaya matahari. Dengan penuh kecurigaan serta awas ia melirik ke sekitarnya. Lidahnya sekali-sekali menjulur.

Anak itu terpesona, lalu mencoba menegur.

“Apakah kamu kadal yang kemarin itu?”

Kadal itu terkejut. Ia mengangkat kepalanya. Ketika melihat seorang anak sedang menatap kepadanya dari ujung gang dari dalam gerbang, ia siap untuk lari. Kemarin ia hampir saja mampus dihajar batu oleh sekitar 10 anak-anak yang sedang beringas seperti setan. Tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya ketika melihat anak itu hanya menatap dan bertanya.

“Jangan takut, aku tak ikut melempari kamu dengan tai kemarin. Yang dulu-dulu juga bukan aku. Itu anak-anak nakal yang lain. Tapi mereka itu semua sudah besar-besar sekarang. Mereka tidak akan peduli pada seekor kadal. Mereka sibuk mencari uang.”

Kadal itu mengendorkan ketegangannya. Ia mencoba hendak percaya. Anak yang menatap itu seperti dapat angin. Ia terus membujuk.

“Bapak dan kakekmu itu dibunuh oleh tetangga yang sedang kena eksim. Dokter bilang obatnya kadal.”

Kadal itu terkejut. Sinar matanya mulai liar lagi. Ia menatap anak itu dengan beringas. Ratusan kadal, nenek-moyangnya sudah hilang karena dipakai sebagai obat. Sungguh sial mengapa dokter-dokter itu menetapkan kadal sebagai obat eksim, bukan buaya atau ular, atau capung. Mengapa mesti kadal?

“Kamu siapa anak kecil?”

Anak itu tercengang ketika mendengar sapanya dijawab. Ia lantas duduk, agar bisa pasang omong lebih leluasa.

“Maksudmu namaku?”

“Ya.”

“Biasanya aku dipanggil Gembrot. Ibuku memanggilku Rakus, tapi orang-orang yang senang padaku memanggilku Agus, sebab namaku Bagus. Tapi tak ada yang memanggilku Gus lagi setelah Ali meninggal. Ali itu sahabatku.”

Kadal itu mengangguk.

“Jadi, kamu si Agus itu. Si Bagus Pribadi anaknya Pak Nalar?”

“Ya.”

“Pak Nalar yang kakinya kena eksim itu?”

“Betul.”

Kadal itu melotot. Ia hampir saja hendak meloncat menghilang. Tetapi anak itu cepat menjawab.

Baca juga  Adakalanya Malaikat Menangis

“Jangan takut, Bapak tidak sakit lagi.”

Kadal itu tak jadi kabur, tapi tetap saja bersembunyi ke balik batu.

“Bapak sudah meninggal. Jangan takut.”

Suara anak itu begitu sedih. Kadal itu jadi tak sanggup lagi bersembunyi. Ia seperti dapat kawan. Bapaknya juga meninggal. Sebenarnya hilang. Lenyap begitu saja. Mungkin digaet oleh pemburu-pemburu kadal untuk obat eksim. Tetapi itu tak penting. Sejak bapaknya tak kembali, rumah jadi begitu sunyi. Dan ia harus berkembang sendiri. Ia ingat, bagaimana ia menangis setiap malam sebelum tidur pada awal-awal kehilangan itu. Karena rasanya begitu sulit hidup tanpa seorang ayah, sementara orang lain punya. Apalagi kalau itu terjadi pada manusia.

Kadal itu menjulurkan kepalanya mendekati Agus. Ia lihat anak itu memainkan ranting-ranting kayu dan mencongkel-congkel tanah. Menggambar sebuah wajah.

“Itu gambar siapa?”

“O kamu, kamu masih di situ, Dal?”

Anak itu berhenti menggambar dan melihat pada kadal itu kembali. Tiba-tiba kadal itu merasa seperti punya seorang sahabat. “Aku juga tidak punya bapak lagi seperti kau, Gus.”

Anak itu mengangguk.

“Kamu sedih, ya?”

Agus menoleh ke kadal itu. Dilihatnya kedua mata binatang itu berkaca-kaca.

“Kamu menangis?”

“Apa?”

“Kamu sedih?”

“Ya memang, aku sedih. Tapi aku tidak menangis. Mataku memang selalu basah seperti orang menangis. Masak kadal menangis? Kamu kali yang sedih, Gus!”

Agus tampak tak acuh. Ia meneruskan menggambar wajah ayahnya. Kadal itu mendekat, seperti masuk ke dalam wajah gambar itu. Tiba-tiba ia bergidik, dirasanya gambar itu membisikkan sesuatu, tetapi ia tidak dapat menangkap artinya. Ia hanya merasa berdebar-debar.

“Kamu pasti merasa kesepian ya, Gus?”

Agus tak menjawab.

“Apa kamu merasa seperti tanpa perlindungan begitu, Gus. Seperti ada sesuatu yang kurang dalam dirimu. Karena orang lain masih punya bapak dan ibu dan kamu kehilangan salah satu. Ya? Aku bisa merasakan. Kita sama.”

Agus menggeleng.

“Apa maksudmu menggeleng?”

“Aku tidak kesepian.”

“O ya, kamu tidak sedih ayahmu meninggal?”

“Tidak.”

Kadal itu terkejut.

“Lho kenapa?”

“Sebab dia bukan ayahku.”

“Bukan ayahmu? Itu bukannya suami ibumu.”

“Memang.”

“Kenapa bukan ayahmu?”

Anak itu tersenyum. Kadal itu tiba-tiba merasa sangat aneh. Ia mulai menduga-duga jangan-jangan anak itu sakit karena menderita.

Baca juga  Secangkir Kopi Luwak

“Dia bukan ayahku. Kalau dia ayahku, dia tidak akan memukulku. Kalau dia ayahku dia akan membawaku jalan-jalan dan membelikan aku mobil.”

Kadal itu mengangguk-angguk. Ia mulai mengerti. “Kamu keliru. Kalau dia tidak bisa membelikan kamu mobil, tidak berarti dia bukan ayahmu. Mungkin dia tidak punya duit.”

“Memang.”

“Kalau tidak punya duit, bagaimana dia bisa membelikan kamu mobil. Pikir dikit dong. Kamu mau dia jadi pencuri?”

Anak itu tak menjawab.

“Kamu ini nakal, Gus. Kebanyakan nonton televisi kali. Masak baru tidak bisa membelikan mobil, kamu bilang bukan ayah kamu. Itu goblok.”

Anak itu kembali melukis. Sekarang ia menggambar kepala kadal. “Kalau tidak bisa belikan sepatu, jangan jadi bapakku dong?”

Kadal itu terkejut.

“Apa? Kalau tidak bisa belikan sepatu, jangan jadi bapakmu?”

“Ya.”

Kadal itu tiba-tiba tersinggung. Ia mulai yakin sedang menghadapi anak yang tidak sehat ruhaninya. Itu pasti akibat putus sekolah. Kalau tak makan pendidikan, anak itu bisa jadi setan kalau sudah besar. Kadal itu perlahan-lahan lebih mendekat, meninggalkan daerahnya, menghampiri Agus.

Ia terpesona ketika melihat gambar seekor kadal di depan kaki anak itu. Rupanya Agus memang memiliki bakat melukis. Kadal itu menikmati goresan anak itu, lalu merayap ke dekat jempol kakinya.

“Kamu tidak sekolah?”

“Ngapain sekolah.”

“Ya supaya pintar.”

“Pintar juga tidak bisa dimakan. Bapak itu sarjana, tapi dia tidak bisa cari uang. Akhirnya gantung diri.”

Kadál itu terkejut.

“Jadi, bapakmu mati gantung diri?”

“Ya.”

“Gantung diri atau digantung?”

Anak itu berhenti menggambar. Ia memandang serombongan anak-anak yang sedang berangkat ke sekolah. Kadal itu seperti membaca pikirannya.

“Kenapa kamu tidak sekolah, Gus?”

Agus tidak menjawab.

“Kenapa?”

“Kamu juga tidak sekolah.”

“Ya aku ini kadál. Mana ada kadal sekolah. Kalau aku manusia, aku akan ke sekolah. Enak kan bisa main-main sama teman-teman di sekolah. Bisa pakai pakaian seragam?”

“Siapa bilang sekolah enak?”

Kadal itu tercengang.

“Maksudmu sekolah itu tak enak?”

Agus mengangguk.

“Sama sekali tidak enak. Hari pertama memang enak. Setelah itu sekolah hanya penjara dan hukuman. Yang dipelajari juga tidak ada yang menyenangkan.”

Baca juga  Menak

“Tapi, sekolah itu akan membuat kamu pintar.”

“Tidak lagi. Sekolah sekarang sudah dagang.”

Giliran kadál itu mengangguk-angguk.

“Kalau begitu enakan jadi kadál dong daripada jadi manusia seperti kamu.”

Anak itu mengangguk.

“Ya.”

Kadál itu termenung. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya, enakan jadi kadal. Aku pikir memang masih enakan jadi kadál daripada jadi manusia. Jelek-jelek begini, bangsa kadal banyak gunanya untuk menghilangkan sakit eksim. Tapi, manusia apa gunanya? Kalian cuma merusak. Ya tidak?”

Anak itu tak menjawab. Ia mencongkel-congkel tanah, seperti membuat rumah buat kadál yang dilukisnya. Sementara kadal itu perlahan-lahan diamuk kebanggaan. Jati dirinya sebagai kadál semakin mantap.

Anak itu menggumam.

“Aku ingin jadi kadál.”

Kadál terkejut. Ia tampak berpikir. Lalu anak itu tertawa. Seekor kadál yang berpikir baginya amat lucu. Anak itu tertawa terus. Kadál itu makin heran.

“Kenapa kamu tertawa?”

“Sebab kamu kelihatannya mikir. Aku belum pernah lihat kadál mikir.”

“Memang aku sedang mikir.”

“Kenapa kamu berpikir?”

“Sebab kamu tadi bilang kamu ingin jadi kadál.”

“O itu. Habis, enak kan? Tidak usah sekolah!”

“Betul. Tapi….”

“Tapi apa?”

“Tapi kalau kamu jadi kadál, kamu tidak akan bisa mengatakan kamu tidak mau sekolah.”

“Maksudmu apa?”

“Maksudku, kalau kamu jadi kadál, kamu tidak akan bisa bilang tidak.”

“Kenapa?”

“Sebab kadál. Kamu tidak punya pilihan kalau kamu seekor kadál. Ya nggak?”

“Bener. Rupanya kamu kadál yang pintar.”

Kadál itu tertawa. Tapi tiba-tiba sesuatu yang berat jatuh. Takkkk! Sebuah cabang kayu, yang dari tadi disembunyikan Agus menimpa kepalanya. Binatang itu langsung tak berkutik. Agus cepat-cepat memungut dan memasukkan ke dalam kantung buruannya.

Di tanah terpercik darah kadal membasahi gambar yang nampak sedih sekali, melihat kebiadaban manusia makin marak. ***

.

.

Sunter Mas, 08 Juni 1995.

.

.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!