Cerpen, Kaltim Post, Nadia Yasmin Dini

Berperang dengan Pikiran

Berperang dengan Pikiran - Cerpen Nadia Yasmin Dini

Berperang dengan Pikiran ilustrasi Jumed/Kaltim Post

5
(2)

Cerpen Nadia Yasmin Dini (Kaltim Post, 02 Juni 2024)

BERITA perceraiannya sudah menyebar luas hingga satu desa. Keretakan rumah tangga yang selama ini Zia sembunyikan di depan para tetangganya telah terbongkar. Itu sebabnya, selama berjam-jam Zia hanya duduk menatap dirinya sendiri di cermin. Padahal, sekitar satu jam lagi ia harus segera pergi ke Pengadilan Agama untuk menghadiri sidang perceraiannya.

Badannya masih dibalut dengan handuk. Rambutnya yang semula basah, tanpa sadar kini mulai mengering. Kedua matanya pun masih terlihat sembab, karena semalaman ia terus menangisi kegagalan rumah tangganya yang baru seumur jagung.

Zia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Tangannya kemudian meraih sebuah sisir lalu menyisir rambutnya secara perlahan. Meskipun perceraian ini terasa sulit sekaligus berat untuknya, ia pikir itu lebih baik dibandingkan ia harus bertahan dengan seorang laki-laki tukang selingkuh.

Zia kemudian bangkit dari duduknya untuk memilih baju di lemari. Pandangannya jatuh pada sebuah baju atasan berwarna hitam. Ia segera mengeluarkan baju hitam itu dari lemari dan menaruhnya di kasur. Namun, ketika ia hendak berganti baju, Zia tiba-tiba merasa ragu.

“Warna hitam adalah lambang kesedihan. Jika aku memakai baju ini, orang-orang pasti akan mengira jika aku terlalu bersedih. Meskipun kenyataannya demikian. Hanya saja, aku tidak mau terlihat terlalu sedih di hadapan mereka,” ucap Zia di dalam hatinya.

Zia kembali membuka lemari dan mencari baju lain. Padahal ia sangat ingin memakai baju hitam tersebut. Hanya ia takut dengan pandangan orang lain terhadap dirinya nanti.

Pandangannya kini jatuh pada sebuah baju berwarna kuning. Sama seperti baju hitam tadi, Zia juga mengeluarkan baju kuning itu dari lemari dan menaruhnya di kasur. Namun, lagi-lagi ia gagal ganti baju setelah ia mencari tahu makna warna kuning di Google yang ternyata melambangkan kebahagiaan atau keceriaan.

Baca juga  Asmara Nalu Yasaya

“Jika aku memakai ini, bagaimana jika nantinya orang-orang malah menilai bahwa aku merasa bahagia dengan perceraian ini,” ucapnya di dalam hati.

Merasa frustrasi dan putus asa soal baju, Zia kemudian duduk di kasur. Satu tangannya sibuk menopang dagu. Sementara kedua matanya sibuk menatap baju hitam dan kuning secara bergantian. Zia benar-benar merasa bingung harus memakai baju apa sekarang.

Sampai akhirnya, Zia mengambil keputusan. Mengingat, ia tidak memiliki banyak waktu lagi. Keputusannya kemudian jatuh pada pilihan pertamanya tadi, yakni baju berwarna hitam.

Setelah permasalahan mengenai baju selesai, ia kembali dihadapkan dengan sebuah permasalahan baru yakni, memilih alas kaki yang harus ia pakai. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Zia ingin memakai sandal jepit biasa. Karena ia tidak terlalu suka dengan yang ribet-ribet.

“Kalau aku memakai sandal jepit, ini hanya akan menambah kesan kesedihanku di hadapan orang-orang nantinya. Bagaimana jika nanti aku malah dikasihani?” ucapnya di dalam hati.

Zia membuang napas. Ia hanya memiliki dua macam alas kaki yakni, sandal jepit dan sebuah flat shoes berwarna merah terang. Sedangkan warna merah tidak cocok dengan warna bajunya yang hitam dan celananya yang berwarna putih.

“Merah sama sekali tidak cocok dengan warna baju dan celanaku. Bagaimana jika nanti orang-orang  malah akan menganggapku sebagai orang gila? Atau kehilangan akal karena perceraian ini?” kata Zia dalam hatinya lagi.

Setelah melewati rasa dilema yang cukup lama, Zia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya yang pertama yakni, sandal jepit tadi.

Zia menghembuskan nafasnya lega. Permasalahan memilih baju dan alas kaki ternyata cukup menguras pikirannya. Dan sekarang, ia harus menghadapi yang paling buruk. Ia kembali berperang dengan pikirannya sendiri.

Baca juga  Juru Tangis dalam Tiga Babak

“Setelah aku keluar dari rumah, bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadapku nantinya ya? Apakah mereka akan mengejek perceraianku ini?”

Zia takut dijadikan bahan ejekan oleh para tetangganya nanti. Mengingat selama ini Zia selalu bersandiwara bak sepasang suami istri yang harmonis di depan mereka semua. Zia juga takut diejek karena telah diselingkuhi oleh suaminya sendiri.

Cukup lama Zia berdiri mematung di kamarnya. Sampai akhirnya, Zia memberanikan diri untuk keluar.

Anehnya, segala macam dugaan yang sedari tadi terus menghantui pikirannya tidak terjadi. Alih-alih mengejek, para tetangganya justru mendukung dan memberikan semangat untuknya. Mereka juga mengatakan bahwa mereka berada di pihak Zia. Menurut mereka, perselingkuhan adalah kesalahan fatal dalam rumah tangga.

Zia tersenyum lega karena ternyata tidak ada yang mengejek dirinya. Para tetangganya juga bahkan tidak peduli dengan baju ataupun alas kaki yang Zia pakai.

Zia menertawakan dirinya sendiri. Beginilah manusia. Kebiasaan mereka adalah berperang dengan isi pikiran mereka sendiri. Mereka gemar sekali menduga-duga, padahal apa yang mereka duga atau pikirkan belum tentu akan menjadi kenyataan. ***

.
Berperang dengan Pikiran. Berperang dengan Pikiran. Berperang dengan Pikiran.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!