Cerpen, Jawa Pos, Tin Miswary

Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh

Kalau Kepalamu Dipegang Orang - Martabatmu Jatuh Cerpen Tin Miswary

Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh ilustrasi Budiono/Jawa Pos

0
(0)

Cerpen Tin Miswary (Jawa Pos, 01 Juni 2024)

HUJAN masih deras ketika Abdul Gani duduk termangu di teras rumahnya sore itu. Laki-laki sepuh itu duduk pada sofa tua dengan beludru yang sudah koyak dan busa yang menyembul.

Kedua bola matanya memandangi puluhan botol bekas yang berserak-serak di pekarangan, terbenam dalam batang rumput yang kian meninggi. Di sampingnya, di ranjang kayu yang tak lagi berkasur, istrinya sedang menyisir kutu di rambut panjangnya yang penuh uban.

Dipandanginya Abdul Gani dengan mata sayu. Rambut putih suaminya telah turun menutupi telinga, terlihat acak-acakan bagai benang kusut. Kadang-kadang matanya yang rabun melihat rambut itu bagai sarang tempua. Namun, tak seekor burung pun yang hinggap di sana.

“Kapan kamu rapikan rambutmu?” tanya perempuan itu, bersama rintik hujan yang terus turun.

Mendengar suara keras istrinya, Abdul Gani tetap bergeming, tak merespons sedikit jua.

“Baru kemarin telingamu kubersihkan,” teriak istrinya lagi.

Kali ini kata-katanya sedikit mengejek agar laki-laki itu marah dan lalu membuka mulutnya dengan lebar. Namun, Abdul Gani hanya menoleh, menatap sang istri yang mulutnya terus bergerak sembari tangannya sibuk memilih kutu dan lalu menjepit kutu-kutu malang itu dengan kedua kukunya sampai lumat. Tak ada suara yang keluar dari mulut Abdul Gani. Kumis panjangnya telah menutup mulut itu, menjuntai bagai akar beringin, saling memilin dengan janggutnya yang telah turun hingga ke dada. Dan, hujan semakin deras.

“Bulan depan cucumu pulang. Apa kamu ingin menakuti mereka dengan rupamu yang seperti itu?” Istrinya kembali bertanya. Kali ini mulutnya berada tepat di lubang telinga Abdul Gani.

Kan sudah kubilang berkali-kali kalau si Ali sudah mati!” Suara laki-laki bertubuh tinggi besar itu mulai berbunyi, sedikit parau.

“Apa hubungannya si Ali dengan rambut dan kumismu yang kusut begitu?” tanya istrinya dengan mata mendelik.

Kan sudah kubilang, tak boleh banyak tangan memegang kepala,” ketus Abdul Gani tanpa menoleh lagi pada istrinya. Tak sanggup lagi ia mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang selalu diulang saban hari, saban bulan, dan saban tahun, membuat telinganya gatal bukan kepalang.

Dan, kau tahu? Percakapan mereka selalu saja begitu. Istri mendesak, Abdul Gani bertahan. Demikian terjadi bertahun-tahun dan Abdul Gani tetap saja keras kepala.

Kejadian itu bermula sejak kematian Ali. Bagi Abdul Gani, hanya Ali satu-satunya tukang pangkas yang boleh memegang kepalanya. Mereka berteman sejak muda, ketika Belanda masih hilir mudik di Kota Medan. Ali juga yang menyelamatkan hidupnya pada saat ia terkepung pasukan sekutu di Medan Area. Saat itu keduanya masih menjadi tentara dan lalu pensiun muda, beberapa hari setelah Konferensi Meja Bundar digelar.

Usai pensiun, Ali membuka kedai pangkas di Kota Bireuen, tak jauh dari stasiun kereta api, sedangkan Abdul Gani memilih menjadi tukang foto keliling. Sebulan sekali Abdul Gani menyempatkan diri singgah di kedai “Ali Mahkota” untuk memangkas rambutnya yang panjang, merapikan janggut dan kumis. Ketika Ali sedang tidak berada di kedai, Abdul Gani akan menunda memangkas dan kembali lagi esok hari. Demikian bertahun-tahun.

Baca juga  Serpihan di Teras Rumah

Abdul Gani muda adalah sosok yang gagah, rapi, dan necis. Banyak gadis yang melirik ketika ia sedang mengayuh sepeda di jalanan kota. Dia sering muncul di pusat-pusat keramaian dan di pesta orang-orang besar. Dia adalah fotografer terbaik di kota itu. Foto-foto hasil jepretan Abdul Gani akan selalu dipuji, terutama oleh gadis-gadis. Salah seorang gadis itu kini telah menjadi istrinya, perempuan cerewet yang selalu menuntutnya untuk rapi, terlebih ketika usianya sudah semakin tua. Dua bulan lagi usia Abdul Gani genap 80 tahun. Dia terlihat semakin lusuh dengan rambut dan janggut yang tak terurus

Di tengah hujan yang semakin deras sore itu, dia kembali mengenang sahabatnya, Ali, si tukang pangkas yang meninggal lima tahun lalu. Penggusuran yang dilakukan pemerintah membuat sahabatnya itu kehilangan harapan. Saat itu Ali menemukan plang nama “Ali Mahkota” diinjak-injak pamong praja di antara puing-puing kedai yang berserakan.

“Dulu aku berjuang mengusir Belanda,” kata Ali kala itu, sambil menarik-narik plang nama kedainya yang terinjak sepatu lars pamong praja. Anak muda itu mengangkat kakinya dan mencoba menjauh dari Ali.

“Tak ada bedanya kalian dengan Belanda!” teriak Ali, mencoba sedikit angkuh. Sebagai mantan tentara, anak-anak itu bukanlah lawannya. Namun, harga dirinya merasa diinjak dan dia tak tahan lagi

“Penjajah!” Ali mengumpat petugas-petugas berseragam di depannya.

“Kami hanya melaksanakan tugas, Pak. Mohon Bapak mengerti. Tanah ini milik negara,” jawab anak muda itu dengan suara sedikit menantang.

“Negara mamakmu! Tanpa kami berjuang, mana ada negara ini! Tak ada otak!”

“Kalau Bapak keberatan, silakan Bapak menghadap bupati!”

“Katakan pada bupatimu untuk memakai otaknya. Tak perlu banyak, sedikit saja, agar dia tahu menghargai kami yang sudah berpuluh-puluh tahun mencari makan di sini.”

Pamong praja itu tidak merespons dan pergi meninggalkan Ali begitu saja. Ali memeluk plang nama itu dan menangis tersedu-sedu. Teringat dia pada Abdul Gani, temannya yang bertubuh tinggi besar. Ingin rasanya dia memanggil Abdul Gani agar ia meremas-remas tubuh orang-orang berseragam itu dan mematahkan tulang-tulang mereka. Namun, seketika dia sadar bahwa Abdul Gani dan dirinya tak lagi muda dan zaman sudah berganti.

Tiga minggu setelah peristiwa itu Ali menghadap Tuhan-nya, meninggalkan segala keperihan hidup, sebagai seorang veteran yang tak dihargai oleh anak bangsanya sendiri. Abdul Gani yang hadir di pemakaman hanya bisa tertunduk melepas kepergian sahabatnya dengan mata sembap. Dia juga menghabiskan beberapa hari untuk menangis di teras rumah, ketika petang menjelang. Terkadang istrinya—yang sejak muda mengidap penyakit cerewet—merepet sendiri ketika mendapati suaminya duduk termenung.

Baca juga  Bukan Kami

“Apa lagi yang kamu tangisi? Tiba waktunya kita juga akan mati,” kata istrinya kala itu, beberapa hari setelah kematian Ali. Tentu saja Abdul Gani tak menggubris suara istrinya, yang sudah dianggapnya sebagai radio rusak, mengeluarkan suara tak jelas yang membuat telinga semakin bising.

Sejak anaknya merantau ke Jakarta dua tahun lalu, Abdul Gani hanya tinggal berdua bersama istrinya di rumah itu, rumah yang pekarangannya dipenuhi botol-botol bekas yang ditinggalkan anak laki-lakinya begitu saja. Dulu anaknya seorang pemulung yang saban hari memungut botol-botol bekas di tempat-tempat hajatan. Setelah mendapat kabar dari tetangganya yang kini bermukim di Jakarta, dia pun berangkat ke sana, meninggalkan ayah ibu dan botol-botol berserakan di pekarangan. Menurut kabar yang didapat Abdul Gani, anaknya kini bekerja sebagai penjaga toko obat. Uangnya sudah banyak, dan bulan depan ia akan pulang bersama istri dan anaknya.

***

“Jadi, kapan rambutmu akan dipangkas?”

Istrinya kembali bertanya seraya bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk rok panjangnya agar kutu-kutu yang bergelantungan di sana terjatuh ke lantai dan lalu dia akan menekannya dengan ujung kuku hingga mengeluarkan suara “tip”. Suara yang membuat ia tersenyum puas beberapa menit.

“Tanpa Ali aku tidak akan memangkas rambutku. Berhentilah bertanya!”

Abdul Gani melemparkan pandangannya ke pekarangan yang dipenuhi botol-botol bekas, tempat bayi-bayi nyamuk menetas dan lalu mengerubungi rambutnya di malam hari. Dia semakin bosan dengan pertanyaan istrinya yang tak juga berubah. Pertanyaan yang diulang-ulang dari pagi hingga petang, membuat telinganya berdenging.

“Sudah kubilang berkali-kali….” Abdul Gani menarik napas dalam sembari kedua telapak tangannya menggenggam ujung tongkat yang sedari tadi berdiri tegak di sela-sela kedua pahanya. “Pantang kepala dipegang banyak orang. Hanya satu orang yang boleh memegang kepalaku. Dia adalah Ali. Dan, kamu tahu, dia sudah mati.”

Kali ini kata-katanya terdengar serius. Dia berharap istrinya mengerti. Sudah berkali-kali dia mengatakan pada istrinya bahwa kepala adalah kehormatan, adalah mahkota. Dulu, ketika Ali hendak membuka kedai pangkas, dia pula yang menyarankan pada Ali untuk menamai kedainya dengan “Mahkota”—untuk menghormati orang-orang yang akan ia pegang kepalanya.

“Kalau kepalamu dipegang orang, martabatmu jatuh,” katanya lagi. Namun, istrinya seperti tak peduli. Dia hanya ingin suaminya terlihat rapi dan gagah seperti dulu, seperti ketika kali pertama mereka bertemu di alun-alun kota. Dia tak pernah menuntut apa pun dari suaminya selain kerapian. Apalagi cucu dan menantunya segera pulang.

Abdul Gani sendiri sudah berhenti bekerja sejak lima tahun lalu. Sejak orang-orang memiliki ponsel pintar, jasanya sebagai tukang foto keliling sudah tidak dibutuhkan lagi. Ditambah lagi dengan usianya yang sudah semakin tua dan tangannya sering bergetar sehingga jepretannya menjadi buram, tak seindah dulu, saat gadis-gadis mengerumuninya di alun-alun kota.

Baca juga  Si Manis Tak Lagi Manis

Saat ini Abdul Gani bertahan hidup dengan gaji veteran yang tak pernah naik-naik. Namun, kondisi itu tidak membuat istrinya mengeluh. Perempuan tua itu tidak mengharapkan kemewahan dari suaminya. Dia hanya ingin Abdul Gani tampil rapi dan wangi seperti dulu.

“Tidak akan kutanya lagi. Tidak akan!” teriak istrinya tiba-tiba.

Dia sudah sangat kesal dengan pikiran suaminya yang aneh. Dia juga malu dengan tetangga yang selalu bergosip tentang suaminya, menuding kalau laki-laki itu sedang mengamalkan ilmu sihir. Ingin rasanya dia memanggil Ali dari kuburnya agar laki-laki itu segera memangkas rambut Abdul Gani. Kadang-kadang dia juga mengutuk pamong praja yang membuat Ali memendam kesedihan dan lalu mati sebelum waktunya. Dia juga mengutuk bupati yang tak menghargai pahlawan. Namun, dia sadar kalau Ali tidak mungkin hidup lagi, dan karena itu dia sendiri sangat yakin kalau Abdul Gani tidak akan pernah memangkas rambutnya.

Dengan wajah kecewa perempuan itu meninggalkan teras sembari tangan kanannya menggenggam serit kayu dua sisi berwarna cokelat. Serit itu terlihat berkilat kilat terkena minyak kelapa yang membasahi rambut putihnya.

Hujan telah reda dan gelap mulai merayap, membuat pandangan Abdul Gani semakin kabur. Dengan bertopang pada tongkat, Abdul Gani memasuki rumah dengan langkah pelan, memanggil-manggil istrinya dengan suara parau. Sesekali tangan kirinya menekan dinding agar tubuhnya tak rebah ke lantai. Rambutnya yang seperti sarang tempua menutupi pundak ringkihnya yang kian susut.

Namun, betapa terkejutnya Abdul Gani ketika menemukan istrinya jatuh tengkurap di lantai dapur. Laki-laki itu mendekat perlahan dan membalikkan tubuh istrinya. Tapi, perempuan itu hanya diam, tak lagi bergerak. Tak ada napas yang keluar. Maka buramlah mata Abdul Gani.

“Sekarang… sekarang aku pangkas rambutku,” seru Abdul Gani dengan suara terisak.

“Tak apa kepalaku dipegang-pegang. Bangunlah….”

Abdul Gani terus memanggil-manggil istrinya. Namun, mulut perempuan itu masih saja mengatup bersama tubuhnya yang semakin dingin.

Di luar, hujan kembali turun, membuat genting seketika bergemuruh. Deras sekali. ***

.

.

Bireuen, 20 Januari 2024

Tin Miswary. Menulis esai, cerpen, dan resensi buku. Berdomisili di Bireuen, Aceh.

.

.

Jawa Pos menerima kiriman cerpen dengan panjang naskah 1.700 kata. Juga resensi buku dengan jumlah kata maksimal 500. Pengirim cerpen dan resensi buku harap menyertakan biodata singkat, foto terbaru, foto kartu identitas, dan NPWP. Cerpen dan resensi buku dikirim ke [email protected]

.
Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh. Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh. Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh. Kalau Kepalamu Dipegang Orang, Martabatmu Jatuh.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!