Bagus Dwi Hananto, Cerpen, Jawa Pos

Kaiju di Tokyo

Kaiju di Tokyo - Cerpen Bagus Dwi Hananto

Kaiju di Tokyo ilustrasi Budiono/Jawa Pos

5
(5)

Cerpen Bagus Dwi Hananto (Jawa Pos, 08 Juni 2024)

“A-chan! Bangun, A-chan!”

Kudapati ibu mengguncang-guncang bahuku.

“Ada apa, Bu? Aku harus tidur, kebagian jaga malam di minimarket nanti!”

Ibuku menampilkan wajah kaget bukan main, keringat membasahi pelipisnya. Meski sudah bangun, ibu masih mengguncang-guncang bahuku. Mungkin menunggu sampai aku bangkit dari futon.

“Lihat! Kaiju!”

Ibu menunjuk ruang tengah, di situ ada teve bobrok kami menampilkan sebuah berita ganjil.

Aku mengucek mata beberapa kali, menguap sebentar.

“Itu, lihat!” seru ibu, sekarang dia beringsut ke ruang tengah. Aku mengikutinya.

Aku berusaha secepat mungkin menghimpun kesadaran. Butuh waktu agak lama lantaran kemarin malam aku minum-minum dulu sehabis kerja.

Begitu klop lagi dengan realitas dunia dan pandanganku kembali tertata, kudapati teve menghadirkan berita yang sungguh di luar nalar. Sedemikian heboh sampai-sampai aku kembali mengucek mata sambil menggeleng. Aneh betul. Kamera merekam penampakan monster raksasa menjulang melampaui gedung-gedung pencakar langit.

“Kaiju muncul di sekitar taman raya Shinjuku. Pengamat memperkirakan tingginya lebih dari tiga ratus meter. Fenomena yang tak bisa dijabarkan dengan akal sehat. Pasukan Bela Diri Jepang sedang mengamankan lokasi. Sampai saat ini Kaiju masih belum bergerak. Orang-orang dalam radius tertentu tidak diperbolehkan mendekat.”

Kuamati dengan saksama memang ini sebuah berita, bukan tayangan film atau yang semacamnya. Di bawah berita ada rentetan informasi tambahan bergulir. Kaiju muncul di Tokyo diperkirakan pada pagi hari ini. Bentuk Kaiju seperti kadal dengan kulit bersisik kasar. Entah bagaimana ia muncul, tetapi sedari kemunculannya ia tidak bergerak sama sekali.

Berita menampilkan wawancara dengan warga setempat. Mereka heboh; ada yang panik, ada yang bersemangat ingin mendekat, tetapi terhalang pagar dan tentara yang menyuruh mereka menjauh.

“Kan, tak jadi soal kan aku membangunkanmu. Mungkin kau akan dapat libur hari ini karena ada Kaiju,” cetus ibu sembari melanjutkan kegiatan melipat baju. Dia mengutarakannya tanpa menengok ke arahku, pandangannya tetap lurus-lurus ke layar teve.

“Entahlah. Barangkali aku harus tetap masuk. Ada Kaiju atau tidak, kerja ya kerja, Bu,” sahutku. Aku lantas ke balkon, duduk memandangi kompleks dan memantik sebatang rokok.

Di sini sepertinya tidak seheboh di Shinjuku. Yah, bukan pusat keramaian, sih. Orang paling menonton kemunculan Kaiju dari teve seperti kami.

Namun bila dipikir lebih jauh, apa sebab mendadak Kaiju muncul pagi-pagi? Di Tokyo tidak pernah ada Kaiju. Atau di seantero Jepang tak ada yang namanya Kaiju. Ia sekadar makhluk rekaan. Mana bisa makhluk rekaan mendadak datang dan memberi salam tak langsung kepada manusia.

Kita yang menonton dari teve dibikin bingung, apalagi yang menyaksikan langsung. Mungkin antara senang bagi mereka yang menyaksikan Kaiju dalam cerita-cerita populer kini secara aktual muncul di depan mata, atau ngeri bagi mereka yang tersela rutinitas hidupnya mendapati kenyataan kalau ada monster hadir tiba-tiba.

Baca juga  Maling (3)

Ujung-ujungnya kita tak tahu musabab Kaiju muncul di Tokyo. Huh, kalau dipikir lebih dalam bisa-bisa makin runyam. Persoalan hidup saja sudah rumit. Antara Kaiju yang muncul tanpa aba-aba dan kehidupan yang kujalani, tidak ada kaitan.

Setelah rokokku habis, aku kembali masuk rumah.

“Hari ini makan apa, Bu?”

Ibu tertawa. “Masih berpikir mau makan? Ini ada Kaiju di depan mata.”

Aku sekadar tertawa remeh. “Bu, Kaijunya di Shinjuku. Sedangkan kita puluhan kilometer dari sana. Kenapa pula harus dipikir.” Selang mengatakan demikian, aku hendak meralat omonganku. Toh, aku juga memikirkan persoalan Kaiju begitu mendapati beritanya di teve. Tapi aku urung. Kugaruk pinggulku dan menguap sejenak.

“Ibu memasak sup miso. Kalau ingin yang lain ada kari sisa kemarin di kulkas.”

“Aku makan kari saja.”

“Silakan.” Ibu berdiam sebentar, lalu kembali bicara. “Bagaimana kalau kita lihat Kaiju?”

Aku terkejut. “Ibu sudah tidak waras?”

“Lancang kau! Ibumu masih waras. Hanya penasaran. Kalau dipikir, melihat dari berita di teve rasanya kurang mantap. Lebih seru lagi kalau melihat langsung.”

Aku mendesah. “Ibu ada-ada saja. Nanti malam aku harus kerja. Jangan aneh-aneh, Bu. Kita lihat dari berita di teve saja. Lebih aman. Nanti kalau Kaiju bergerak bagaimana?”

Ibu tertawa lepas.

“Kaijunya bergeming. Ini sudah sore. Sudah enam jam lebih ia tidak bergerak selangkah pun,” bantahnya.

“Ibu, belum tentu Kaijunya mati,” balasku.

Ibu berkilah, “Kata siapa Kaiju itu mati? Aku bilang ia tidak bergerak.”

Aku tidak bisa mendebatnya setelah dia berucap demikian. Kuperiksa jam dinding. Masih tersisa waktu sedikit.

“Ibu sungguh-sungguh ingin melihat Kaiju? Tidak berbahaya?” tanyaku.

Ibu selesai melipat, lantas memasukkan baju-baju tadi ke lemari. Ibu beranjak ke kulkas dan segera memanaskan kari yang hendak kumakan. Selama itu aku mengamati pergerakan ibu sambil menunggu jawaban darinya.

“Kau tenang saja. Bukan cuma kita yang ke sana melihat Kaiju. Aku jamin ada banyak orang penasaran ingin menyaksikan Kaiju. Aku jamin pula pasti ada orang dari tempat pelosok memesan tiket kereta cepat walau harganya mahal demi bisa melihat Kaiju di Tokyo. Kau bisa yakin pada ibu soal ini.”

“Tidak perlu diyakinkan, aku juga yakin. Toh, sudah jadi berita menggemparkan. Setiap orang yang tertarik pasti akan mendekat ke tempat munculnya Kaiju.”

Ibu tersenyum lebar. “Nah, kau sudah paham. Ayolah, sekali seumur hidup.”

“Kok ibu bisa yakin ini kesempatan sekali seumur hidup?”

“Ibu yakin. Kemunculan Kaiju yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah Jepang pasti kesempatan yang hanya terjadi sekali. Kalau kita tidak lihat langsung, lihat dari dekat, aku merasa kita bakal merugi. Tentu aku juga takut. Tapi tak bisa dimungkiri aku juga penasaran. Penasaran sampai tak sanggup kutahan-tahan.”

Baca juga  Senja Buram, Daging di Mulutnya

Aku menelan napas. Aku menggeleng berkali-kali.

“Ah, mau bagaimana lagi! Aku tak mau urus ya kalau ada apa-apa dengan kita!”

Ibu menepuk-nepuk pundakku.

“Tenang saja, A-chan. Tidak akan ada masalah, tenang. Ada tentara.”

***

Sehabis makan aku salin pakaian. Tahu-tahu ibu sudah menunggu di genkan. Tampak betul ibu semangat mau melihat Kaiju.

“Ibu sudah tidak sabar,” ujar ibu.

Aku lantas terpikir sesuatu. “Tunggu sebentar, Bu.”

“Kali ini apa lagi?”

“Tunggu dulu. Sebentar.”

Ibu mengikuti langkahku dengan pandangannya. Aku masuk ke ruang dalam sejenak.

“Mau apa kau, A-chan?” tanyanya.

Sembari duduk dalam posisi khidmat, kuhidupkan dua batang dupa.

“Aku berdoa dulu di altar ayah,” jawabku.

“Memang harus, ya?” tanya ibu.

“Kalau-kalau kita terinjak Kaiju.”

Mendengar jawabanku ibu tertawa.

“Kau ini, tidak mungkin lah. Kaijunya tidak bergerak.”

“Tapi bukan berarti mati, kan, sebagaimana ibu omong tadi?”

“Iya, iya. Bukan berarti mati, kata siapa ia mati.”

“Nah, aku jaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada kita. Paling tidak aku sudah berdoa di altar ayah. Ibu tidak mau ikut berdoa?”

Kudengar langkah ibu mendekat.

“Duh, sampai berdoa segala untuk mau lihat Kaiju!” serunya. Namun ibu menurut, dia menyalakan dupa dan ikut berdoa bersamaku.

Sehabis berdoa kami lantas beranjak keluar rumah. Kebetulan sekali tetangga kami pasangan muda Sasaki bersama anak-anaknya juga memutuskan mau melihat Kaiju secara langsung. Maka bersama-sama kami naik kereta.

Di dalam kereta, nyaris kursi penumpang penuh. Biasanya sore hari sudah sedikit penumpang. Tujuan para penumpang sore hari ini sudah bisa ditebak tentu.

“Sasaki-san, mau lihat Kaiju bersama anak-anak?” cetusku membuka percakapan.

Sasaki suami mengangguk sambil tersenyum ramah. “Anak-anak ingin melihat Kaiju dari dekat. Bahaya bukan, Akira-san?”

“Ibuku juga sudah kubilangi. Tapi tetap ngotot.”

“Saya kira Akira-san sengaja mengajak ibu untuk melihat. Tahunya ibu Anda yang ingin lihat Kaiju,” ucap Sasaki suami.

Aku tertawa. “Mana mau aku melihat Kaiju, Sasaki-san. Ibu yang mengajakku. Aku sudah ingatkan bahaya. Walau dari berita Kaiju tidak bergerak. Tapi tetap saja itu Kaiju, makhluk raksasa yang sewaktu-waktu bisa mengancam.”

Sasaki menimpali omonganku sambil tertawa. “Tapi kenyataan Kaiju mampir di Tokyo benar-benar menghebohkan. Di luar akal sehat, ya. Bisa-bisanya ada Kaiju, makhluk dalam cerita-cerita, muncul di sini, dalam bentuk kasat. Orang waras mana pun takkan sanggup menerima kenyataan yang terpampang utuh begini sekalipun kenyataan senyata-nyatanya.”

“Aku juga tidak habis pikir. Ah, kita akan pastikan setelah melihatnya. Apa betul ia Kaiju, sesuatu yang biasa kita baca serta bayangkan sewaktu masih bocah ingusan,” jawabku.

“Benar.”

Ibu tahu-tahu sudah mendekat. Dia mendengar obrolan kami.

“Nah, pada akhirnya A-chan juga penasaran, kan? Tak bisa tidak penasaran, bukan?”

Baca juga  Beri Aku Kesempatan Sekali Saja

Aku mengangguk. “Ibu yang menang. Ya, aku juga ikut terseret dalam kehebohan ini.”

Ibu tertawa.

***

Kami sampai tujuan. Ternyata di muka stasiun sudah ada orang-orang memadati. Kami melangkah pelan-pelan, dari jauh kepala Kaiju sudah tampak.

Sasaki bocah pertama menunjuk langit sembari menggarit pipa celana ayahnya. Pandangan kami lantas mengikuti telunjuknya. “Kepalanya terlihat ngeri!” jeritnya.

Sasaki bocah kedua ikut menjerit seperti kakaknya. Gadis kecil itu lantas bersembunyi di balik Sasaki istri.

“Wah, besar sekali!” seloroh ibu.

Aku sampai ikut takjub. Benar ada Kaiju di Tokyo.

Susah payah beranjak sedikit demi sedikit bagai semut dalam barisan, kami akhirnya mencapai titik terdekat tak jauh dari pagar pembatas, memandangi Kaiju secara langsung.

Wujudnya luar biasa. Memang raksasa, menjulang sampai tak bisa dikenali ujungnya. Banyak orang berseru kagum, tak habis-habis memotret wujud makhluk tersebut.

Saking luar biasanya, tahu-tahu aku ikut tertawa gembira bagaikan bocah-bocah Sasaki yang tak bisa ditenangkan orang tuanya.

Satu jam berlalu dan orang makin banyak berdatangan. Semakin ramai.

Kutepuk tangan ibu.

“Ibu sudah puas?”

Ibu menampilkan air muka gembira. Ibu memotret Kaiju menggunakan telepon genggam berkali-kali. “Ah, sudah. Sudah cukup. Kita bisa pulang,” katanya.

***

Pada akhirnya kami selamat tidak kurang suatu apa sehabis menonton Kaiju. Malam sudah tiba dan tidak ada pemberitahuan dari manajer minimarket. Artinya tidak ada hari libur. Dipikir juga konyol, mana ada kerja diliburkan gara-gara Kaiju muncul.

Hingga hari kedelapan, Kaiju tetap bergeming. Berita masih menampilkan keadaan Kaiju seperti sediakala waktu ia muncul kali pertama. Lama-lama membosankan juga melihat Kaiju yang tidak bergerak, pikirku kemudian. Ibu juga sudah tidak begitu bergairah menonton berita soal Kaiju.

Sewaktu aku hendak berangkat kerja, aku berseloroh di hadapan ibu.

“Mungkin Kaijunya mati, ya, Bu.”

Kali ini ibu setuju denganku. Aku sampai dibikin kaget.

“Barangkali dari awal ia muncul, ia sudah mati. Mati berdiri dengan gaya. Keren, sih, tapi sudah mati,” ujar ibu.

Kali ini aku yang menepuk pundak ibu.

“Kapan-kapan kita cari Kaiju, Bu,” cetusku asal.

Ibu mendongak, dia menatapku lekat-lekat. Tanpa persiapan sama sekali, tiba-tiba mendaratkan jitakan ke kepalaku. Rasanya sakit.

“Kenapa memukulku, Bu?”

Ibu tertawa. “Karena kau sudah lancang pada ibu. Mana mungkin mencari Kaiju. Ia cuma ada seekor di Tokyo dan sudah mati. Cukup!”

Kami lantas tertawa bersama. ***

.

.

Bagus Dwi Hananto. Lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Buku cerpennya berjudul Kakek dalam Kucing-Kucing Takamoto (Indonesia Tera, 2023).

.

.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!