Cerpen, Kompas, Teguh Satriyo

Kutukan Naga Jati

Kutukan Naga Jati - Cerpen Teguh Satriyo

Kutukan Naga Jati ilustrasi Deden Imanudin/Kompas

4.5
(6)

Cerpen Teguh Satriyo (Kompas, 16 Juni 2024)

SUBUH belum begitu habis. Kasbi tak turut jemaah di musala, sudah sekitar satu minggu ini tepatnya. Ia memilih untuk shalat sendiri di rumah, agar bisa lekas melesat ke hutan yang tak jauh dari rumahnya. Orang-orang masih banyak yang tertidur pulas. Sebagian lansia masih memetik-metik tasbih mereka di musala. Pagi ini, masih di pertengahan tahun 1998, Kasbi membelah kabut, sebagai upaya untuk menguliti masa lalunya yang kalut.

Sepeda kebo ia tunggangi. Pedal dikayuh pelan. Meski sesungguhnya ia ingin segera melesat. Namun, hujan semalam membuat jalan kampung yang masih berwarna kuning tanah itu sungguh licin. Sesekali, Kasbi hampir tergelincir. Lagi-lagi ia begitu lihai menaklukkan licinnya jalan. Ia tak mau jatuh. Apalagi sampai tersungkur seperti nasibnya.

Kasbi merasa tak seberuntung para lelaki lain di kampungnya. Yang sukses memiliki istri TKW di Arab sehingga di rumah hanya kongko-kongko, tidur, ngopi, nunggu kiriman bulanan dari istri, nongkrong di warung, tidur lagi, ngopi lagi, bermain perempuan sesekali, dan begitu mata rantai kehidupan tetangganya.

Pernah sekali Kasbi turut berupaya menyelundup kerja ke Malaysia. Ia tak memilih jalur resmi karena tak cukup modal biaya. Jalur keras dan konyol terpaksa harus ia tempuh demi impian mencapai kehidupan yang mapan.

Namun, nasib berkata lain. Ketika belum apa-apa, baru saja meloncat dari sampan kecil, setelah berjam-jam menyibak belantara, mengapung-apungkan nasibnya di sungai liar, ia harus tertangkap oleh petugas imigrasi Malaysia. Ia sempat ditahan, keadaan sangat menegangkan, terlebih ketika Kasbi melawan, mencoba kabur, dan ditemukan badik di dalam tas punggungnya. Kasbi dilucuti. Barang-barangnya disita. Sebelum akhirnya dipulangkan dengan badan kering kerontang.

Ah, agaknya tak habis-habis kalau harus menceritakan masa lalu riwayat hidup Kasbi. Getir, keras, teramat keras!

Setelah seminggu di rumah, ia melihat Nasirun sibuk keluar masuk hutan. Tepatnya, Nasirun melesat ke arah hutan sebelum jemaah turun subuhan. Lalu ia akan kembali pulang dengan dua tiga kayu jati gelondongan berbagai ukuran, jelang azan magrib berkumandang.

“Run, kayu jati dari mana?” tanya Kasbi.

“Hutan!” jawab Nasirun dengan wajah sengit. Nasirun membuang pandangan jauh ke langit. Diisapnya keretek yang hanya tinggal seruas jari. Lalu dikepulkan, angin berlawanan, dan asap tebal berbalik menyerang, menyergap mukanya sendiri.

“Hendak bangun rumah?”

Nasirun mengibas-ngibas telapak kirinya, sedang tangan kanan sibuk mematikan api kereteknya.

“Sudah, kalau mau ikut, ikut saja. Tak usah banyak bicara. Siapkan kapak, bendo, dan gergajimu!” tegas Nasirun.

“Kapak, bendo, gergaji?” tanya Kasbi yang tak mendapat jawaban melegakan dari Nasirun.

Satu dua kali ikut, Kasbi semakin paham betapa besar keuntungan atas kesibukannya mengikuti jejak Nasirun. Ia sungguh tergiur. Lelaki yang pernah menjadi bulan-bulanan polisi Malaysia itu seperti mendapat energi baru. Gelondongan kayu-kayu jati menumpuk di teras, ruang tamu, dapur, hingga samping rumah. Ketika tumpukan kayu itu sudah setinggi dadanya, truk Juragan Ali akan datang untuk mengangkutnya. Ternyata, Juragan Alilah yang menyeret Nasirun ke jalur pembelandongan hutan itu.

Baca juga  Celeng

Setelah Nasirun dan Kasbi, tumbuh menjamur pembelandong-pembelandong lain. Bahkan, banyak petani berhenti bertani, banyak pedagang berhenti berdagang, banyak pelajar berhenti sekolah, banyak perantau pulang dadakan, semua beralih profesi menjadi pembelandong sejati.

Sebulan menjadi pembelandong, Kasbi meraup hasil yang baginya teramat besar. Bunga-bunga sesal sesekali tumbuh dalam benaknya. Ia menyadari bahwa pernah memain-mainkan nasib dan nyawa di tengah belantara, hingga menyeberangi sungai liar yang mahabahaya. Terapung-apung nasibnya. Meraung-raung jiwanya.

“Kenapa tak sejak dulu saja. Mengapa juga aku harus mempertaruhkan nyawa di tengah belantara Kalimantan kalau ternyata di sini saja aku bisa menimbun harta?” gumam Kasbi penuh nafsu. “Ya, penyesalan selalu datang setelah apa saja yang membuatnya ada.”

***

Setengah tahun Kasbi dan kawan-kawannya sibuk di hutan. Tempat yang mulanya sejuk dan rindang kini sudah tampak begitu gersang, panas, dan sungguh memprihatinkan. Bahkan tak hanya batang-batang jati yang diperebutkan. Tanah dibedah, akar-akar jati yang kekar turut dibongkar, diangkut ke atas truk. Di sepanjang mata memandang, kini, hutan tampak kesakitan.

Tak peduli dengan keadaan dan tanda pesakitan alam. Kasbi dan pembelandong lainnya makin berlomba-lomba. Seolah mereka sedang ingin memenangi sebuah sayembara, menjadi orang paling kaya di desa, meski harus dengan cara paling berdosa.

Tolok ukur kekayaan di desa Kasbi ialah siapa saja yang memiliki tanah di mana-mana. Ialah siapa saja yang memiliki banyak kandang dan penuh sesak hewan ternaknya. Nasirun sudah memiliki sedikitnya dua belas petak sawah dari hasil pembelandongan. Lima kandang kerbaunya penuh. Masing-masing berisi tujuh kerbau betina. Satu kandang berukuran sedang, ia isi empat kerbau jantan sebagai mesin kawin bagi para kerbau betinanya.

Lain halnya dengan Kasbi. Ia memilih untuk menimbun uang. Sepetak sawah pun belum dibeli. Meski seandainya dibelikan sawah, sudah cukup untuk memborong sembilan petak. Usut punya usut, Kasbi tertarik untuk mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di desanya.

Memang, sudah menjadi rahasia umum, mencalonkan diri sebagai kades butuh biaya yang besar. Jangankan kades, menjadi carik dan perangkat desa lainnya pun nilai transaksinya sudah bikin geleng kepala. Bahkan, yang belum lama terjadi, transaksi untuk menerima tongkat estafet modin atau perawat jenazah itu sudah mencapai angka dua puluh lima juta.

Setengah tahun mendekati calonan, Kasbi ingin berhenti menyembelih hutan. Ia sungguh ingin berhenti menguliti pohon-pohon jati. Bukan karena tersadar atas kerusakan hutan. Bukan pula karena takut atas ancaman bencana alam yang ditimbulkan. Tapi, ah entahlah. Kasbi memiliki jalan pikirannya sendiri.

“Kalau kamu yakin ingin maju dan pasti ingin menang, dari berkarung uang yang kamu kumpulkan, tambah lagi. Kujamin, pasti menang. Ingat lawanmu, anak kades yang sekarang masih menjabat.”

Boleh dikatakan, lawan Kasbi bakal cukup berat, karena ia adalah anak kades yang sekarang. Memang, rakyat sudah muak dan sangat kecewa selama kepemimpinannya. Tapi siapa menyangkal kalau suara warga akan begitu mudah untuk dibeli. Konon, demi memenangkan anaknya, kades beristri dua itu akan melakukan segala cara.

Baca juga  Belajar Menanam Sayur dan Buah

“Putus dinasti kades yang sekarang!” pesan guru spiritual Kasbi. “Tapi, doa saja tak cukup. Manusia-manusia sekarang hanya akan tunduk dan takluk pada uang!”

Dalam hati, Kasbi membenarkan apa yang baru saja ia dengar. Kasbi memutar otak. Ia berupaya keras agar dalam waktu dekat dapat uang tambahan untuk kemenangannya. Seperti biasa, ia mendatangi Nasirun. Bagi Kasbi, Nasirun adalah gerbang jalan keluar bagi kesulitan-kesulitan.

“Aku tak berani. Itu pohon jati keramat, sakral!” tolak Nasirun saat diajak kerja sama Kasbi untuk menumbangkan jati raksasa yang berdiri kokoh di lereng gunung kembar. Jati itu dikenal keramat. Konon, dijaga oleh naga raksasa. Usia jati itu sudah ratusan tahun. Di sela akarnya mengalir deras tuk yang menjadi sumber penghidupan warga desa.

Juragan Ali pernah menantang, bakal memberi uang seratus lima puluh juta kepada siapa saja yang mampu mengantarkan pohon jati itu ke rumahnya. Tak ada yang berani. Yang sekadar coba-coba pun pasti kalau tidak sakit mendadak, ujung-ujungnya akan menjemput mautnya sendiri.

Kasbi telanjur bernafsu untuk menang dalam pilkades. Hasrat dan nafsunya untuk menjadi kepala desa telah membutakan nalarnya. Ia meminta bantuan orang pintar agar rencananya berjalan lancar. Ia juga rela membayar tukang kayu dari luar daerah. Tentu orang yang tak tahu sejarah dan riwayat kesakralan pohon jati berusia ratusan tahun yang dijaga naga itu.

Tak menunggu subuh. Kasbi bersiap. Ia menyelipkan sebuah kain rajah di dompetnya. Kain rajah yang didapat dari orang pintar. Lalu, bersama sembilan tukang kayu dari luar daerah, mereka melompat ke atas truk menuju lereng gunung kembar. Jalanan licin, sejak usai magrib hingga pukul 23.17 ini langit masih muram, gerimis merintik, kilat menjilat-jilat, dan guruh menggema di jagat raya.

Truk telah jauh masuk ke hutan. Kepulan asap hitam dari knalpot, telah habis dimakan gerimis. Kilat masih menjilat-jilat. Guruh makin riuh. Udara dingin. Orang-orang kampung begitu lekat dalam lelap. Seperti terhipnotis rintik gerimis beraroma mistis.

Fajar menyingsing. Kasbi dan sembilan tukang kayu telah berhasil menumbangkan jati raksasa. Ia dan keenam tukang kayu sungguh tak merasakan secuil kesulitan dalam merobohkan jati keramat yang konon dijaga naga raksasa itu. Sungguh, Kasbi merasa bahagia. Uang seratus lima puluh juta sebagai tambahan modal telah terlentang di depan mata. Diciumnya kain rajah yang ia rasa telah memuluskan semua rencana, matanya terpejam, sejuk udara pagi dihirup dalam-dalam. Lalu, dilemparnya kain rajah itu ke tengah gemericik air berbatu hitam.

***

Uang seratus lima puluh juta telah di tangan. Kasbi menyebar uang itu di atas dipan.

“Dengan tambahan uang ini, semua bisa kubeli, termasuk suara orang-orang kampung juga akan mudah kubeli. He-ha-haa-haaa-haaa….” Kasbi tertawa lepas, puas. Aroma keangkuhan menggelayuti wajahnya. Perlahan ia tidur dalam lelahnya.

Baca juga  BANGSAL 05

Di tengah lelap tidurnya, Kasbi bermimpi. Ia seperti didatangi ular besar. Ular itu persis menyerupai naga raksasa yang diceritakan Nasirun.

“Kembalikan…, kembalikan…, kembalikan!” desak naga raksasa itu kepada Kasbi. Mulut Kasbi hendak berteriak meminta pertolongan. Tapi, seolah Kasbi mendadak bisu. Ia tak bisa bicara. Ia tak bisa berlari.

Naga raksasa mendekati Kasbi. Matanya menyorot merah. Lidah apinya menjulur-julur. Seperti ingin menjilat tubuh Kasbi, lalu menelannya, dan merebus tubuh manusia rakus itu dalam perutnya.

Kasbi tampak pucat, ia begitu ketakutan.

“Arrrggg…, hhrrrggg…. Kembalikan! Cepat kembalikan! Atau itu akan tetap menjadi bingkisan bagi anak cucumu di suatu waktu?!” naga raksasa semakin marah. Ekornya yang kekar mengibas, tepat mengarah ke tubuh Kasbi, tubuh yang mendadak kerdil di hadapan naga itu terpental.

Kasbi terpelanting. Lalu tersungkur. Ia muntah darah. Isi perutnya tumpah, perlahan matanya meremang. Tubuhnya mengambang di tengah kolam darah muntahannya. Di sana, ia melihat bayi-bayi terapung, menangis, wajahnya biru, hanyut terbawa banjir berlumpur. Orang-orang menangis sepanjang jalan dengan raut wajah bergelayut penyesalan. Rumah-rumah mereka terendam. Tak ada kenikmatan, tak ada kebahagiaan, tak ada ketenteraman, yang tersaji hanya pemandangan kesengsaraan.

Paginya, Kasbi terbangun. Ia merasakan tubuhnya berat dan kaku. Jari-jarinya sulit digerakkan. Matanya masih remang-remang. Setelah beberapa saat, ia baru sadar bahwa sudah tidak berada di atas dipan beralas uang. Kasbi tergeletak di atas akar jati raksasa yang belum lama ini ia tebang.

Mata Kasbi terbelalak. Ia dapati jari-jarinya, ujung hidungnya, tepi bibirnya, lekuk telinganya, hampir di sekujur tubuhnya kaku, pecah, mengelopak, tumbuh kutil-kutil besar dan keras seperti kayu. ***

.

.

Semarang, Februari 2024

Teguh Satriyo, penulis, aktif di Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang. Buku antologi puisi tunggal terbarunya berjudul Laut dan Kapal yang Pernah Karam terbit Januari 2024. Selain itu, karya-karyanya terbukukan pada banyak buku antologi bersama dan terbit di berbagai media, baik cetak maupun daring. Aktif menulis puisi, cerpen, dan naskah teater. Beberapa kali menjuarai lomba cipta dan baca puisi baik tingkat regional ataupun nasional.

Deden Imanudin, lahir April 1967, lulus dari Studio Seni grafis, FSRD ITB, tahun 1995. Beberapa pamerannya antara lain Project No 13: Militeria Platform3, Bandung, tahun 2012, serta Self Potrait Art Group Exhibition di Gallery Sanggar Olah Seni, Bandung, tahun 2022. Kemudian pada 18 Juni sampai 25 September 2022 bersama JAF (Jatiwangi Art Factory) mengikuti perhelatan Documenta15 di Kassel, Jerman.

.
Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati. Kutukan Naga Jati.

Loading

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!