Cerpen, Kompas, Rizqi Turama

Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman

Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman - Cerpen Rizqi Turama

Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman ilustrasi Joni Ramlan/Kompas

4.7
(6)

Cerpen Rizqi Turama (Kompas, 23 Juni 2024)

ABAS nyaris tersedak saat meminum teh hangat buatannya sendiri. Itu terjadi bukan tanpa alasan. Rasa teh hangat yang ia teguk barusan benar-benar hampir dilupakannya. Hampir. Ia terdiam beberapa detik, lalu menatap gelas kecil berisi teh hangat yang ia pegang. Tak ada yang istimewa dari teh itu. Warna merahnya, aroma khas dari teh celup, serta sedikit manis gula itu tidak istimewa sama sekali. Abas pun meneguk kembali teh hangat yang ia buat. Lelaki kurus berusia dua puluh dua tersebut semakin yakin bahwa rasa teh itu sama persis dengan rasa teh di warung Mang Aman yang ia minum semasa bocah dulu dan menjadi bagian dari memori masa kecilnya.

“Akhirnya,” Abas mendesis pada diri sendiri sembari tersenyum. Tanpa bisa dikendalikan, ia terempas pada kenangan betapa ia dulu terobsesi pada rasa teh hangat warung Mang Aman.

Sewaktu masih berseragam putih merah, ia sering diajak ayahnya untuk mampir di warung Mang Aman. Saat itu masih ada banyak warung rumahan di pinggir jalan, warung Mang Aman salah satunya. Pohon-pohon ketapang berjejer. Udara masih agak bersih, asap kendaraan belum terlalu banyak. Di dalam warung kecil itu, Abas kecil hampir selalu memesan teh manis hangat.

Mang Aman mengira Abas sekadar meniru pesanan ayahnya. Mulanya memang iya. Namun, Abas kecil kemudian menyadari bahwa ada yang berbeda dari teh hangat buatan Mang Aman. Ia mafhum akan hal itu saat ibunya membuat teh hangat untuk tamu yang datang ke rumah. Rasa teh buatan ibu tak sama dengan buatan Mang Aman. Meskipun tak yakin apa bedanya dan tak tahu cara mendeskripsikannya, Abas tahu bahwa rasa teh itu berbeda dari teh buatan ibu ataupun teh buatan orang lain di rumah teman-temannya.

Di kunjungan berikutnya ke warung Mang Aman, Abas memusatkan perhatian pada merek teh celup yang dipakai Mang Aman. Ia pun mendesak ibunya untuk membeli teh celup dengan merek yang sama. Anehnya, rasa teh yang dibuat ibu tetap berbeda. Kali selanjutnya lagi, Abas memperhatikan gula yang dipakai Mang Aman: gula pasir biasa. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang berbeda.

Baca juga  Edelweiss Melayat ke Ciputat

Karena jadi semakin penasaran dan tak bisa membendung diri, akhirnya Abas bertanya langsung kepada Mang Aman, “Apa rahasianya?”

Mang Aman terkekeh. Begitu juga ayah yang mendengar pertanyaan itu.

“Tidak ada rahasia, Bas.”

“Tapi kenapa bisa beda?”

Ketika itulah Abas mengenal istilah “Lain tangan, lain rasa”.

“Mungkin karena tanganku telah ribuan kali membuat teh semacam itu, jadi ia terlatih. Dan sering kali, bahan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda karena diolah oleh tangan yang berbeda,” pungkas Mang Aman.

Sejujurnya Abas tak begitu puas dengan jawaban semacam itu. Baginya, kalau itu berkaitan dengan masakan yang lebih rumit, seperti nasi goreng, alasan semacam itu bisa diterima. Namun, teh hangat bukankah “hanya” teh hangat? Itu bukan jenis minuman yang rumit dan membutuhkan keterampilan tangan yang sedemikian rupa. Sayangnya, di waktu itu ia tak punya pilihan lain selain mengangguk dan bungkam dan menikmati teh hangat yang disajikan Mang Aman di warungnya di setiap kunjungan.

Rutinitas dan kewajiban lalu menggulung semua tanda tanya terkait teh hangat buatan Mang Aman, mengendapkannya ke bawah kenyataan-kenyataan lain yang lebih mendesak untuk dilihat. Waktu melesat seperti menggunting mimpi dan Abas mendapati dirinya telah menjadi pekerja di dapur sebuah hotel terkenal di kota itu. Lokasi tempatnya bekerja tak begitu jauh dari warung Mang Aman, yang berarti tak jauh dari hotel-hotel berbintang lainnya. Sesekali, di waktu istirahat atau sepulang kerja, Abas akan menyempatkan diri berkunjung dan memesan teh hangat. Namun, rasanya telah berubah.

Ia pernah menyampaikan soal itu ke Mang Aman yang telah kian renta dan mendapatkan jawaban, “Apa yang belum berubah di kota ini, Bas?”

Abas mengangguk. Jalan di depan warung Mang Aman telah diperlebar hingga tiga kali lipat, tetapi kemacetan selalu lebih parah ketimbang tahun-tahun lampau. Pohon-pohon ketapang yang dulu berjejer telah ditebang digantikan tiang-tiang listrik dan lampu jalanan lengkap dengan silang sengkarut kabel-kabelnya, juga dihiasi iklan-iklan peninggi badan, obat kuat, atau jasa sumur bor. Mobil-motor berlalu lalang meninggalkan asap dan debu di musim kemarau dan mencipratkan air coklat di musim hujan. Tidak hanya itu, bangunan-bangunan tinggi bermunculan seperti memangsa bangunan kecil yang lebih dulu ada. Warung Mang Aman hanyalah segelintir bangunan yang belum dilahap hotel-hotel dan apartemen-apartemen dan kantor-kantor.

Baca juga  Rumah Telinga

Sekitar sebulan lalu Mang Aman berujar murung, “Bukan cuma teh, masakanku telah berubah semua rasanya. Pasti kau juga sudah lama sadar. Mungkin usia tua membuat tanganku tak seterampil dulu. Pelanggan sepi, padahal biaya produksi naik terus karena aku harus beli air galon. Kau tahu sendiri air PAM tak bisa diandalkan dan sumur telah lama kering.”

Abas ingin mengucapkan kata-kata penghibur, tapi lidahnya kelu sehingga ia hanya mengangguk dan bungkam dan menikmati teh hangat yang disajikan Mang Aman yang rasanya telah berubah jauh sekali meskipun teh celup, gula, bahkan tangan yang membuatnya pun masih sama. Di momen itu Abas mencoba mengikhlaskan kemungkinan rahasia teh hangat Mang Aman akan menjadi rahasia selamanya. Abas menggaruk-garuk kepala dan melihat kalender, mencoba mengingat hari itu sebagai salah satu hari yang membuatnya bersedih. Seminggu kemudian, Abas menemukan kesedihan lain saat mengetahui rumah-warung Mang Aman dijual. Ia tidak sempat melakukan perpisahan dan tak pernah bertemu dengan Mang Aman lagi sejak itu.

Sialnya, waktu tidak memberikan keistimewaan pada orang yang bersedih. Ia terus berjalan. Abas tetap harus menjalankan rutinitasnya di bagian dapur hotel mewah dengan mencuci piring, mengangkat galon-galon air minum, memindahkan bahan-bahan masakan, dan hal-hal kecil lainnya. Di antara kesibukan itu Abas mendapati bahwa hotel tempat ia bekerja mengganti merek teh celup khusus untuk karyawan ke merek yang sama dengan yang dipakai Mang Aman: sebuah langkah penghematan. Ia pun menyeduh air dan mencelupkan kantong teh untuk menghibur diri, tetapi justru rasa teh yang berbeda dari harapan membuat perasaannya makin tak karuan. Abas pun memutuskan bahwa semua usaha mengungkap rahasia teh hangat Mang Aman harus dihentikan sepenuhnya.

Akan tetapi, kini, di dalam dapur hotel berbintang tempat ia bekerja, setelah sama sekali tak mengharapkan apa pun, ia justru menemukan cara membuat teh hangat yang rasanya sama persis dengan buatan Mang Aman. “Resep” itu pun ditemukan secara tidak sengaja. Jika saja air galon untuk minum pegawai hotel didistribusikan tepat waktu, tentu ia tidak akan terpaksa menghidupkan keran dan memasak air secukupnya. Jika saja merek teh yang digunakan hotel itu berbeda, mungkin ia juga tidak akan iseng-iseng mengambil teh celup di rak khusus karyawan. Jika saja Abas tidak tahu bahwa air keran di dapur berasal dari sumur bor dan bukan air PDAM, mungkin otaknya tidak bisa menyangkutpautkan hal tersebut dengan sendirinya.

Baca juga  Raksasa dan Sebatang Pohon dalam Kepalaku

Rasanya Abas ingin berlari ke warung Mang Aman dan memberi tahu lelaki sepuh itu bahwa rahasia teh hangat itu ada di airnya. Mang Aman sama sekali tidak kehilangan keterampilannya. Mang Aman hanya kehilangan air sumurnya yang menjadi sumber penghidupan sejak hotel-hotel berdiri, sejak apartemen-apartemen membubung tinggi, sejak Mang Aman dan warga sekitar terpaksa memasak air dari PDAM yang kuat sekali bau kaporitnya atau membeli air isi ulang dalam galon, sejak….

Namun, Abas tersadar bahwa Mang Aman telah pergi entah ke mana dan warungnya telah dijual. Abas menyesap lagi teh hangat di gelas. Ia hirup aromanya, pandangi warna merahnya, hidu bau gulanya, lengkap dengan segala kenangan yang menyertainya. Teman-teman Abas di dapur kebingungan karena lelaki itu menyesap teh hangat sambil menangis tanpa suara.

“Apakah aku sudah jadi bagian dari orang-orang yang membuat Mang Aman kehilangan kehidupannya?” ucap Abas setelah tehnya habis.

Teman-teman Abas semakin bingung. ***

.

.

Yogyakarta, 23 April 2024

Rizqi Turama, dosen Universitas Sriwijaya. Lahir di Palembang, 4 April 1990. Pernah mengikuti workshop cerpen Kompas tahun 2016. Ia pernah memenangi beberapa lomba penulisan cerpen. Ia dapat disapa di Instagram dengan akun @rizqiturama.

Joni Ramlan, lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 21 Juni 1970. Aktif berpameran sejak tahun 2001. Penghargaan yang pernah diraih, antara lain, finalis Indonesia Art Award 2008 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, serta tiga karyanya lolos dalam Beijing International Art Biennale 2017 dan 1 karya dikoleksi National Museum of China (NaMoc) Beijing.

.
Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman. Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman. Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman.

Loading

Average rating 4.7 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!