Beri Hanna, Cerpen, Koran Tempo

Autobiografi Babi

4.4
(7)

Pada sore Jumat di bulan Maret, aku berperahu ke hilir Sungai Batang Hari untuk sampai ke hutan, tempat biasa aku menembak burung. Dalam perjalanan ketika aku memasuki hutan, kutemui seorang lelaki tua yang lemah tak berdaya di bawah pohon kapuk tua. Ia menghentikan aku sambil berseru, “Aku tidak salah, kaulah orangnya!” Sambil mendekatinya, aku bertanya apa maksudnya. Lelaki tua itu tersenyum sambil menjelaskan, ia penunggu hutan keturunan siluman babi putih yang telah memilih aku sebagai ahli waris harta karun yang tertanam dalam hutan ini selama beradab-abad.

Satu-satunya yang membuat aku yakin dan percaya dengan apa yang dikatakannya, tentu selain akan jadi kaya-raya, pantat lelaki itu memiliki ekor yang telah kubuktikan sendiri dengan menyentuhnya.

“Menembak burung tidak akan membuat kau kaya, kan?” tanyanya dengan wajah aneh. Setelah aku mengangguk, ia memberi tahuku untuk memanjat pohon nangka di hulu sungai dengan telanjang bulat. Lalu aku disuruh bertahan di pucuk pohon untuk melanjutkan ritual menggeleng sebanyak tujuh kali sambil membaca Al-fatihah. Ia juga memesankan padaku untuk tidak terburu-buru, sebab harta warisan itu sesungguhnya tidak akan diambil oleh siapa pun.

Dengan sedikit tekanan, aku menyanggah mengapa harus telanjang dan memanjat pohon. Lelaki itu dengan pelan menjelaskan, itulah satu-satunya cara agar aku bisa sampai ke desa babi untuk mengambil apa yang telah menjadi milikku. Sambil kami berjalan menyusuri hutan, mencari pohon nangka di hulu sungai yang dimaksud, ia terus bercakap tentang syarat-syarat yang perlu kujalankan dengan betul.

“Kelak, pada gelengan keempat dan lima, kau akan merasa seperti api telah menyala dan membakar tulang-tulang bahkan kau merasa tidak lagi memiliki tulang, mungkin telah lebur menjadi cairan. Namun kau harus tetap bertahan sampai gelengan ketujuh,” katanya setelah kami sampai.

Ketika aku telah berdiri di bawah pohon nangka itu sambil bertelanjang bulat, kuingat katanya, setelah gelengan keempat dan lima, semua akan kembali seperti normal, bahkan aku bisa saja berpikir aku orang gila yang telanjang di pucuk pohon nangka demi percaya pada hal gaib, lalu memutuskan untuk menyudahi semuanya, dengan alasan tidak masuk akal.

Aku juga ingat, begitu ia meneruskan jika sesungguhnya ketika semua sudah kulewati dengan tetap fokus pada tujuan pertama, lalu menengadah ke langit sambil memasrahkan segalanya, menarik dan buang napas tujuh kali, maka semua akan berubah menjadi tidak normal. Aku akan bisa melepaskan cengkeraman pada pohon nangka itu, lalu menginjakkan kaki di selembar daun. Aku harus percaya kalau aku akan bisa berjalan walau terdengar mustahil, tetapi begitulah yang dikatakannya. Dan pada langkah ketujuh nanti, aku harus melompat ke sembarang tempat, karena semuanya bertujuan mengantarkan aku ke desa babi. Dan setelah ada di sana, temuilah orang yang bernama Bigau atau orang pendek penggembala babi, dan katakan padanya, aku harus mengambil apa yang telah dititipkan siluman babi putih.

Baca juga  Kebun Binatang

Sambil meyakinkan semuanya itu, maka aku membuktikannya. Aku tidak peduli ketika menoleh ke belakang ia telah hilang begitu aku hendak mulai memanjat pohon, dan kupikir sudah semestinya ia hilang untuk membuat aku yakin bahwa ia memang keturunan babi. Aku memanjat dan menjalankan apa saja yang sudah dipesankan olehnya. Sampai pada gelengan kelima, semua tepat dengan apa yang dikatakan, aku hampir jatuh, karena tubuhku terasa seperti tumpukan cairan. Namun aku tetap bertahan sampai gelengan ketujuh.

Begitu aku menggerakkan kaki dengan tangan masih merangkul pohon nangka, aku tidak bisa merasakan kakiku telah menapak di selembar daun, namun kuingat untuk seutuhnya yakin. Dan dengan memejamkan mata, kuulangi untuk pelan-pelan melepaskan rangkulan pada pohon, bagai semua ini mimpi namun terbukti aku dapat berjalan tujuh langkah di atas selembar daun lalu melompat ke sembarang arah. Aku bahkan tidak merasa jatuh untuk sampai di desa babi itu.

Tak banyak yang berbeda pada desa-desa di kehidupan nyata, di sini juga ada beberapa orang yang lalu-lalang, menyaksikan tayangan sepak bola, minum kopi, berangkat ke ladang, hanya saja semua mereka berkepala babi.

Salah seorang babi—ia pantas kusebut seorang bukan seekor sebab memang seperti seorang—menjabat tanganku lalu menguik-nguik. Ia menggiring aku kepada kerabatnya yang juga menguik-nguik. Semula kami bertiga, menjadi lima dan tujuh hingga aku tak dapat menghitung serta mengerti apa yang sedang terjadi, sebab mereka semua menguik-nguik. Merasa bising dan sesak sebab mereka semakin bertambah, aku melihat sisi-sisi yang lengang, pada saat itu secara tidak sengaja aku melihat seorang babi yang diam tidak menguik, hanya sibuk memandang dari kejauhan.

Baca juga  Darah dan Cinta di Kroesen Park

Kukira, itulah Bigau, yang dikatakan lelaki tua siluman babi putih, orang yang harus kutemui. Aku yakin begitu babi yang di jauh itu mengangguk seperti ia paham bila aku sedang mencarinya. Maka aku berjalan, menyelip melewati babi-babi yang bau dan sibuk menguik-nguik ini. Ketika lepas dari kerumunan, aku melihat seorang babi menggesek-gesekkan tubuhnya ke dinding rumah, lalu ia berlari kegirangan, dan seorang babi lain melakukan hal serupa, sampai si pemilik rumah keluar, berlari mengejar lalu menggesekkan tubuhnya di rumah babi yang pertama menggesek rumahnya.

Aku terus berjalan meski bingung dan ingin terus memperhatikan tindakan konyol itu. Begitu sampai ke babi yang kulihat tadi, benar ia Bigau, dan untunglah ia dapat bicara seperti aku, tidak menguik seperti babi lain. Sebelum aku tanya mengapa semua babi di sini, Bigau sudah lebih dulu mengatakan babi-babi itu sedang ngepet, mencuri uang dari satu rumah ke rumah lain. Dan setelah mencuri, mereka pun dicuri, dan hal itu takkan ada ujung.

Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi Bigau telah lebih dulu mengerti. Maka ia berbicara panjang lebar, agak sulit untuk lari dari sini. Sebelum kukatakan apa pun kesulitannya aku akan sanggup, Bigau pun lebih dulu paham bahwa aku akan tetap keras kepala untuk mencoba.

“Jadi, katakanlah bagaimana caranya,” kataku.

Bigau menjawab ia tinggal meniupku, maka aku akan hilang dari sini, hanya saja aku takkan menjadi manusia, melainkan babi utuh sebelum ada seseorang yang menyembelihku.

“Babi!” marahku.

“Aku tahu, kau, aku, dan kita semua adalah babi,” ucap Bigau.

Aku pun tahu, hanya saja Bigau tak tahu, babi yang barusan kuucapkan sebagai ungkapan marah.

Bigau tersenyum sambil menenangkan aku, lalu kembali menjelaskan hanya itu satu-satunya cara agar aku kembali ke kehidupan di luar desa babi. Sebelum aku protes tentang harta warisan yang dititipkan siluman babi putih, Bigau menjelaskan bahwa setelah aku digorok, sesungguhnya hanya tubuh babi-lah yang mati, sedangkan rohku akan terbang ke dalam jasadku seperti semula. Ketika itu, aku akan terbangun dan mendapati apa yang telah dijanjikan siluman babi putih.

Baca juga  Salib Tn. Sardino Luwung

Setelah mengangguk setuju, Bigau meniupku. Seperti ketika aku melompat dan sama sekali tidak merasa jatuh, ditiup pun aku tidak merasa melayang atau merasakan sesuatu hal aneh. Semua sudah berbeda dan aku ada di sebuah desa dengan keadaan seperti babi. Seperti semua sudah diatur oleh sesuatu yang tidak kumengerti, aku langsung ditangkap dan diangkut untuk dibawa ke suatu tempat.

Kudengar mereka bertelepon, menyepakati soal harga. Lalu dengan dimasukkan ke dalam karung dan diajak berkendara ke arah yang entah, aku dilepas di tengah malam di samping rumah seseorang. Tidak lama kemudian, beberapa orang yang telanjang dada menangkap dan mengandangkan aku. Singkat cerita ketika siang harinya kerumunan orang rela membayar uang dua ribu rupiah untuk menyaksikan aku sebagai babi ngepet yang meresahkan desa, seorang ustadz memutuskan atas nama kesepakatan warga untuk mematikan aku hari itu juga. Dengan cara digorok lalu ditanam dalam peti yang terpisah antara badan dan kepala.

Kalau kalian pernah membaca cerita Otobiografi Gloria, tentang seorang cucu pertama yang ditunggu-tunggu kelahirannya tetapi justru mendatangkan teror mental dari gunjingan tetangga, akhirnya bayi itu digorok oleh kakeknya sendiri pada tengah malam atas rasa perihnya omongan tetangga sebab ibunya hamil tanpa suami. Cerita itu ditulis oleh Gloria, arwah si bayi, yang merasuki tubuh A.S. Laksana. Semula aku pikir tentu ini kasar meniru cara Gloria untuk menyampaikan kebiadaban kakeknya, tetapi Gloria sendiri yang merestui bahwa aku harus melakukan hal serupa untuk menyampaikan yang pantas kalian ketahui. Sebab itulah aku berani turun ke bumi, mencari tubuh A.S. Laksana yang tak kutemui, akhirnya kuputuskan untuk memasuki tubuh Beri Hanna ketika ia tertidur untuk menuliskan cerita ini sebagai kesaksian yang belakangan baru kuketahui; ustadz itu adalah siluman babi putih yang telah merencanakan semua ini. ***

Beri Hanna lahir di Bangko. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya yang akan terbit, Menukam Tambo.

Loading

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!