Benny Arnas, Ruangsastra.Com, Spasi

Neknang, Menulis, Mekkah, dan Jalan-jalan Itu

3.4
(10)

Sore itu, Mei 1991, Neknang mengajak saya berjalan-jalan dengan motor kopling L2 Super-nya. Di Lapangan Merdeka yang masih berupa hamparan rumput (sekarang sudah menjadi halaman Masjid Agung Assalam Lubuklinggau), kami menepi. Laki-laki bernama lengkap Amja bin H. Kudir itu mengambil sepatunya yang baru disol di emperan Museum Subkoss Garud. Saya dimintanya membawa sepatu dalam kresek, sebelum kemudian kami berjalan mengambil segepok koran Sumatra Ekspres di sebuah lapak. “Mengapa koran terbit tiap hari? Apa benar orang-orang membaca semua tulisannya? Bukankah banyak sekali hurufnya?” tanya saya yang saat itu baru duduk di kelas tiga SD dan baru bisa membaca.

Lalu mantan sekretaris pesirah Desa Binjai itu bercerita tentang teman-teman sesama pejuang kemerdekaan yang tidak bisa membaca tapi mengerti bahasa Belanda dan Jepang sehingga mereka bisa memilih medan gerilya di luar radar penjajah; tentang para penjual sayur di pasar tradisional yang tidak kenal huruf tapi tak pernah salah menghitung belanjaan; tentang penjual kacamata di pasar atas yang bisa membedakan bingkai kacamata yang bagus dan tidak berdasarkan mereknya meskipun ia tak bisa membaca; tentang guru mengaji di Binjai yang tidak bisa membaca tapi ia yakin masuk surga saking baiknya.

Saya tak mengerti dengan semua ceritanya. Sama dengan tidak mengertinya saya kenapa ia tak pernah mau mengajari saya membaca hingga usia 8 tahun. Padahal, Neknang dan Papa yang membuka usaha sablon dan pembuatan papan merek di rumah membuat saya sangat akrab dengan huruf-huruf. “Main sajalah,” katanya atau “Ke sungailah, tapi jangan ke tengah kalau tidak dalam rombongan,” seakan-akan tak mau membuat masa kecil saya berurusan dengan hal-hal yang serius—termasuk belajar membaca.

Tidak hanya huruf-huruf, dari Neknang, saya pun mengakrabi andai-andai, sastra tutur daerah, sejak kecil. Sambil mencubit daging keriput antara alis berulang-ulang (dan baru berhenti ketika daging tersebut memerah), ia menceritakan Batu Belah Batu Betangkup dan Ular Tiung Terbang ke Bulan berulang-ulang. Saya tak pernah protes sebab cerita-cerita itu selalu ia kisahkan dengan menarik dalam logat Musi. Mungkin melihat keberhasilan Neknang menjadikan andai-andai sebagai pendekatan agar cucu-cucunya mau menghilangkan penat, putra kedua Neknang yang tak lain adalah Papa, ayah saya, jadi suka berandai-andai sehingga anak-anak lelakinya bersemangat menginjak-injak punggungnya hampir setiap malam. Setiap saya mencubit kening Neknang atau menginjak punggung Papa, dialog-dialog yang mendekatkan kami hingga hari itu pun lahir dan meriap: keseruan bermain, hal menjengkelkan atau menggembirakan, atau sekadar permintaan berulang-ulang kalau besok kami ingin sarapan nasi dengan telur mata sapi yang menggoda seperti iklan di TV hitam-putihnya tetangga, bukan telur dadar campur sagu, tahu, air, atau irisan daun bawang, yang dibagi banyak sehingga kami pernah bisa makan sepuasnya. Tapi, permintaan itu lebih banyak diiyakan sekaligus tak pernah direalisasikan. Per orang makan telur mata sapi terlalu mewah untuk keluarga yang hidup dari gaji honorer Papa dan Neknang yang menjadi agen kecil Sumatra Ekspres saat itu.

Baca juga  Benarkah Anda Berkarya?

Di bangku SMP, keadaan ekonomi kami mulai membaik. Papa lulus tes pegawai pajak (sekarang namanya KPP Pratama). Kami pun membangun rumah dua kamar yang sederhana. Tapi, saya malah tidak ingin angkat kaki dari tempat tinggal Neknang. Saya satu-satunya (dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki) yang merengek minta tetap tinggal bersama Neknang dan Nekno. Bahkan, sebenarnya hal itu sudah berlangsung sejak kelas 4 SD ketika Papa dan Mak memutuskan ngontrak. Syukurnya, mereka tidak mempermasalahkannya, malah menganggap saya sekalian menjaga Neknang dan Nekno yang uzur.

Maka, andai-andai itu pun makin puas saya reguk sendirian. Tanpa saingan adik-adik yang kerap menginterupsi cerita dengan pertanyaan ini-itu. Saya juga mulai berkenalan dengan buku-buku koleksi Neknang yang sebagian besar tentang Agama, kesuksesan Orde Baru, rajah-rajah pengobatan, atau buku-buku teks nonpelajaran yang banyak sekali menampilkan cerita seputar kehidupan desa yang tenang dan keterampilan rumahan seperti membuat bangku, menganyam, bersulam, atau bercocok tanam. Saya biasanya main ke rumah orangtua hanya untuk minta uang jajan atau memboyong majalah Bobo yang sengaja Papa beli tiap bulan, dan berjilid-jilid cerita silat karangan Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo dan Bastian Tito (Wiro Sableng) koleksi Papa untuk saya baca di rumah Neknang. “Cita-citamu ini jadi penulis, Benn?” tanya Neknang suatu hari ketika saya sedang membaca Kho Ping Hoo. Saya tidak menjawab. Saya tidak tahu. Saya belum punya cita-cita. Saya suka membaca saja. “Kalau Neknang?” tanya saya balik. Dan dengan tegas ia jawab, “Ke Mekkah!” Saya tentu saja heran.

Masa itu juga saya berkenalan dengan tempat penyewaan buku di Ulaksurung. Selain serial Wiro Sableng, cerita silat Bong Mini dan Pendekar Kipas Beracun adalah serial yang saya gemari. Neknang sering memegang-megang buku-buku itu tapi tak pernah membacanya. Saat itu Neknang sudah menjadi pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Musirawas sebagai sekretaris. Mesin tik dan kertas karbon hampir menjadi temannya setiap hari. Usai rehat makan siang atau makan malam, biasanya ia meminta saya kembali memijit keningnya, tapi ia tak lagi berandai-andai. Ia lebih banyak meminta saya bercerita tentang buku-buku yang saya baca. Ia mempersilakan saya menggunakan mesin tiknya kalau saya mau mengetik kalau saya mau, tapi saya lebih suka menulis di buku. Ia selalu bilang kalau saya mau menulis sampai selesai cerita-cerita yang saya tulis semaunya itu pasti jadinya bagus-bagus, tapi saya tak pernah mengindahkannya.

Baca juga  Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian

Ketika SMA, saya menulisi 36 halaman buku Sidu dengan cerita tentang masa kecil yang indah, termasuk tentang gerhana matahari yang pernah terjadi bersamaan dengan lampu mati di permukiman kami sehingga untuk sekian lama saya berasumsi bahwa gerhana matahari menyebabkan listrik juga mati. Saya baru ingat ia memberi saya semacam buku cerita—yang sudah tak ada sampulnya lagi—tentang gerhana matahari. Buku yang baru saya baca ketika SMA itu membuat saya menertawai diri sendiri. Saya menceritakan tentang ketololan itu dan ia ikutan terkekeh. Tapi saya ingat, dengan mata berbinar ia berkata dalam logat Musi, “Jadi kamu membaca buku 60 halaman itu bertahun-tahun?” Saya mengangguk, meskipun sebenarnya saya membacanya hanya satu malam setelah saya abaikan sekitar sepuluh tahun lamanya. “Ikak beno tulisan nga, Benn?” katanya dengan buku Sidu yang sudah saya sampuli dengan karton warna putih dan diberi judul Desaku dengan pena di salah satu tangannya. Tentu saja itu tulisan saya, Nang, jawab saya cepat. Saat itu saya malu, meskipun saya penasaran dengan pendapatnya. Tapi, dia tidak bicara apa-apa selain mengajukan sebuah pertanyaan, “Telur mata sapi itu tidak kamu tuliskan, Cung?”

Bertahun-tahun kemudian, tiap kali libur kuliah, Neknang selalu bertanya buku baru apa yang—saya bawa dari Padang dan—sekiranya juga bisa dia baca. Saat itu saya sedang menggilai buku-buku Gde Prama, Khalil Khavari, dan Parlindungan Marpaung. Saya memberinya buku-buku itu dan ketika saya pulang ke Lubuklinggau di liburan tahun depannya, buku-buku itu sudah ada di rumah dalam keadaan baik. Dia bilang kalau buku-buku itu bagus, tapi tidak semua cocok untuk seorang yang berusia hampir 80 sepertinya. “Nanti Benn cari buku tentang Mekkah, Nang,” janji saya.

Ketika saya menulis cerpen pada 2008, Neknang makin sering meminta buku meskipun usianya sudah 81. Dan komentarnya masih sama: tak semua cocok dengannya. Saya lupa tentang buku Mekkah itu dan ia juga tak pernah menanyakannya. Tahun 2009, ketika Lingkar Pena Publishing House dan Mizan mengadakan lomba menulis kisah inspiratif berhadiah umrah, saya langsung teringat Neknang. Ya, meski sudah sangat uzur, tapi fisik Nekang masih kuat. Ia masih berkebun dan berjalan kaki ke pasar kecamatan tanpa tongkat.

Qadarullah, saya menang. Saya ingat sekali, ketika mengabarkan kemenangan itu dan hadiah umroh untuknya, matanya berkaca-kaca. Saya refleks menciumnya bertubi-tubi. Ia tersenyum dan berkata sesuatu yang saya tak ingat sebab suaranya yang parau.

Apakah masih ada ingatan saya tentang Neknang? Masih banyak. Tapi satu yang paling menohok saya hingga cerita ini dituliskan adalah, sepulang dari perjalanan menulis saya di Pakistan pada Oktober 2019, laki-laki yang sudah bergelar haji itu ke rumah dengan menumpangi ojek. Ia meminta saya mengajaknya jalan-jalan dengan mobil. Tapi, saya sudah punya jadwal wawancara skype (saat itu Zoom belum populer) dengan sebuah instansi di luar negeri sehingga tak bisa memenuhi permintaanya. Ketika saya bolak-balik Lubuklinggau-Jakarta dari Desember 2019-Februari 2020 tiap akhir pekan untuk sebuah agenda menulis kreatif, istri kerap bercerita kalau Neknang sering datang dan menanyai saya. “Ia minta Ayah mengantarnya jalan-jalan,” kata istri.  Harus saya, tegasnya lagi. Sayang sekali, saya belum juga bisa memenuhinya sampai malam tadi.

Baca juga  “Oppa”, Cukup Sekali Jumpa

Ya, malam tadi saya gembira sekali sebab akhirnya saya bisa mengajaknya jalan-jalan ke Binjai, kampung halamannya, sampai ia puas. Ia bercerita tentang keveteranannya, tentang Nekno yang setia, tentang Tanah Suci yang mendamaikan, dan jalan-jalan dengan mobil yang tak pernah bisa saya kabulkan. “Lho bukannya sekarang kita jalan-jalan, Nang?” protes saya. Pukul 2 malam saya terjaga. Saya bangkit dan memukul dinding kamar berulang-ulang.

Senin, 14 Juni pagi, ketika Mak menelepon kalau Neknang berpulang di usia 93, saya tidak menangis. Ketika membuka kain penutup wajahnya di rumah duka, saya juga tidak menangis. Ketika memandikannya, membersihkan sela-sela jemari kakinya, masa lalu itu datang pelan-pelan. Ketika tiba di gerbang masa kecil, pemandian itu selesai. Di dalam liang, saya hampir berhenti pada “Tiada Tuhan selain Allah” ketika mengumandangkan azan di telinga kanannya. Kerongkongan saya tercekat, tapi saya berhasil melewatinya. Sampai yasinan malam kedua, saya masih tegar. Tapi malam tadi, begitu memasuki kamar yang gelap, adegan kebersamaan kami diputar ulang dalam tidur saya.

Saya memeluk istri untuk mengalihkan kegelisahan, tapi gagal. Saya berkeringat meskipun suhu pendingin ruangan menunjukkan angka 16. Saya ke kamar mandi, mengambil wudu. Kerongkongan saya sakit karena menahan air bah kesedihan. Semuanya datang dan menawarkan nostalgia.

“Kamu ingin jadi penulis, Benn?” pertanyaan itu mengawang-awang dalam kepala. “Tapi, Nang, saya belum mengajak Neknang jalan-jalan sebagaimana Neknang mengajak cucumu ini berkeliling pasar tahun 1991 pada pertengahan Mei—bulan kelahiran kita berdua—itu …” sesal saya. ***

Lubuklinggau, 16 Juni 2021

BENNY ARNAS menulis 26 buku. Novel terbarunya Ethile! Ethile! (Diva Press, 2021). Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas. Baru saja meluncurkan kelas menulis novel secara daring.

Average rating 3.4 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: