Cerpen, Guntur Alam, Kompas

Kasus Ketiga J Van: Matinya Seorang Anak Sapi

0
()

Seperti kau pertama kali melihatnya, J Van den Brand pun hanya sanggup memandang sosok yang tergantung di jendela barak itu tak lebih dari dua puluh detik. Dia gegas melengos, mengalihkan pandangan ke arah dipan yang berantakan dan hiasan dalam kamar yang terlihat berbeda dari kebanyakan tempat tinggal para jongos di perkebunan tembakau ini.

Bedanya lagi, kau langsung merasa tubuhmu kebas dan beberapa detik kemudian kau menangis sejadi-jadinya. Kau bahkan berteriak, meraungkan namanya. Sementara wajah Van den Brand terlihat membatu.

Ada beberapa helai kain tenun yang dipasang di dinding kamar, sebuah vas bunga dengan tangkai-tangkai kembang yang telah mengering di atas meja kecil dekat lemari kayu. Selain ranjang yang seperti telah melewati pertempuran paling dahsyat di Malaka, lalu ceceran pakaian di lantai dekat tempat tidur yang morat-marit, selebihnya kamar ini terlihat begitu rapi. Sangat rapi untuk ukuran kamar seorang bocah laki-laki berumur sekitar sembilan belas tahun dan bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan tembakau ini.

”Siapa namanya?”

Kau sedikit terkesiap saat Van den Brand bertanya di tengah lamunanmu yang panjang dan berkelok. Kau teringat awal pertemuan dengannya. Anak laki-laki berumur empat belas tahun itu tengah berpeluh di kebun tembakau, saat kau melewatinya, dia mengelus kuda yang kau tunggangi dan menatapmu tanpa kedip. Bola matanya sehitam pualam. Kau merasa tersedot oleh mata itu. Sebuah perjumpaan yang manis.

Seumur hidupmu, itu kali pertamanya dadamu berdebar dan kau tak henti-hentinya tersenyum sepanjang hari, bahkan saat kau mengempaskan tubuh penatmu di atas tempat tidur pun, bayangan wajahnya masih bergentayangan di pelupuk matamu, sampai-sampai jongosmu yang menemanimu berkeliling, memeriksa perkebunan memberanikan diri untuk bertanya.

”Kenapa Tuan terus-menerus tersenyum?” tanyanya, ”Tuan seperti tengah jatuh cinta.”

Senyummu seketika lenyap, mulutmu bergerak-gerak, tapi tak sepotong kata pun yang meluncur dari sana. Sementara jongos itu menunggumu dengan pandangan yang menuntut jawaban. Kau merasa lidahmu kesat, bahkan bisa jadi sekarang daging tak bertulang itu sudah melekat dalam langit-langit mulutmu.

”Tuan,” panggilnya yang membuatmu mengerjap dan tergesa mengedikkan bahu, lalu kau menarik tali kekang kuda, menuntut hewan itu untuk berjalan lebih cepat. Kau berharap, kau dapat segera melupakan wajah dan bola mata bocah laki-laki itu. Mata yang hitam seperti pualam, rambut yang tebal dan berminyak. Namun kau salah, kau tak bisa menepisnya. Berhari-hari. Bermalam-malam. Kau terus membayangkannya.

”Aku ingin seorang jongos yang mengurus kudaku,” ucapmu setelah tak mampu lagi melawan perasaanmu sendiri. ”Dia harus seorang yang telaten.”

”Apa saya harus membuat iklannya, Tuan?”

Kau tergesa menggeleng, ”Tidak, tidak,” tanganmu menepis. ”Aku butuh anak itu. Anak laki-laki di barak. Yang mengelus kudamu saat kita mengawasi mereka bekerja. Kau cari tahu namanya dan bawa dia padaku.”

Baca juga  Benalu

”Baik, Tuan.”

Tak ada yang dapat menolak keinginan seorang mandor perkebunan sepertimu. Terlebih para jongos yang bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan ini.

”Soera,” kau mendesis dengan tatapan kosong, sementara bola mata biru Van den Brand menghujam tepat ke pupil matamu, ”Soera. Namanya Soera,” ucapmu.

”Seorang anak sapi bunuh diri.”

Desas-desus itu merebak demikian cepat, seperti gumpalan bola salju yang menggelinding menuruni sebuah lereng yang terjal, dia menghantam dan melumat apa pun yang dilewatinya, membuat gumpalan bola salju itu semakin besar, bertambah besar dan terus membesar, sehingga nyaris mustahil untuk menghentikannya, sampai ia berhenti sendiri.

Kau terkejut sendiri saat mendengar langsung berita yang berjalan dari bibir ke bibir itu, mungkin karena selama ini kau menduga, tidak akan ada yang tahu hubungan antara kau dan dia. Dalam benakmu, orang-orang, terutama para kuli di perkebunan, hanya akan memandang hubunganmu dan dia hanyalah antara seorang majikan dan jongosnya. Namun, ketika mendengar mereka mengatakan, seorang anak sapi bunuh diri, lalu bisik-bisik itu terhenti saat mata hitam mereka dapat melihat jelas sosokmu. Cupingmu masih dapat mendengarkan suara-suara lirih mereka, mungkin saja mereka tengah mengatakan, ”Lihatlah Tuan Henri tengah bersedih karena anak sapi kesayangannya mati bunuh diri.”

”Bukankah dia jongos terbaikmu,” perkataan Van den Brand mengisapmu kembali dari kubangan kata-kata yang menderas di dalam gendang telingamu sendiri. ”Lalu kenapa dia kembali tinggal di barak? Tidakkah seharusnya dia tinggal bersamamu? Jika saja dia berada dalam pengawasanmu, dia tidak akan mengakhiri hidupnya dengan tragis.”

Kau mendongak. Susah payah kau menyembunyikan riak-riak basah di mata kelabumu. Di dadamu, sebuah tali tambang yang menjerat lehernya, telah terikat begitu kuat dari sisi kiri dan kanan, lalu dua orang yang berada di masing-masing sisi menarik sekuat mungkin tambang itu, membuat kau merasa dadamu menyempit dan kau kesulitan untuk bernapas.

”Sudah dua bulan dia kembali ke barak,” suaramu nyaris terbawa angin sore yang bertiup, begitu lirih. ”Sejak aku menikah. Istriku tak ingin ia tinggal di rumah ini. Dia cemburu. Sepertinya dia tahu bila Soera anak sapi-ku.”

Van den Brand menghela napas, ”Apa kau mencintainya?”

”Aku menyayanginya,” mata kelabu itu memerah, dia mengerjap.

”Dia bunuh diri karena merasa terbuang,” Van den Brand membuat kesimpulan.

”Tidak, tidak,” kau tergesa menyanggah. ”Aku mengenal dia dengan sangat baik. Aku mengambilnya menjadi anak sapi sejak ia berumur empat belas tahun. Sudah lima tahun lamanya. Aku mengenal seluruh jengkal kulit tubuhnya sampai ke tulang belulangnya. Dia tidak akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Seseorang sudah membunuhnya. Aku juga tidak meninggalkannya, setiap hari aku menemuinya.”

Van den Brand mengusap dagunya. Kasus ketiga sejak ia bekerja sebagai detektif ini cukup pelik. Tidak ada petunjuk apa pun. Letak barak anak laki-laki itu juga terpencil dan jauh dari yang lain. Sepertinya Tuan Henri memang sengaja melakukannya. Dia mendirikan rumah kayu yang terpencil untuk anak sapinya sehingga tak ada siapa pun yang melihatnya jika dia mendatangi anak sapinya itu.

Baca juga  Kota Orang-orang Bisu

Saat dia ditemukan tergantung di jendela kamar tidurnya, barak itu terkunci dari dalam. Tuan Henri memerintahkan jongosnya untuk mendobrak pintu itu. Dan dia yang pertama kali melihat anak laki-laki itu tergantung di sana. Lehernya terjerat tali tambang berwarna coklat, lidahnya terjulur, dia hanya mengenakan baju tipis, tanpa celana. Ada tetesan air kencing dan mani di bawah kakinya, meninggalkan jejak di lantai kayu barak. Sedikit kotoran bercampur darah juga ditemukan di bokongnya. Semua kondisi fisik yang mengarah pada bunuh diri. Namun, Tuan Henri bersikeras bahwa anak sapinya dibunuh seseorang, tetapi pelaku membuatnya seolah ini bunuh diri.

”Seseorang sudah membunuhnya,” tanganmu terkepal. ”Aku membayarmu mahal untuk mencari tahu pelakunya.”

Van den Brand mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Apa ada yang kau curigai, Tuan?”

Mata kelabumu berkilat, ”Mungkin istriku. Dia tak pernah menyukai Soera.”

Setelah menangani kasus keduanya, pembunuhan seorang nyai jelita di tangsi serdadu, Van den Brand mencari seorang jongos yang rela dibayar murah untuk membantunya dalam investigasi. Bukan perkara sulit mencari seorang pribumi yang mau bekerja padanya, jangankan ditugaskan memeriksa mayat, diminta menukarkan jiwa dan kepala ke mandor perkebunan tembakau saja, banyak yang rela melakukannya. Namun, Van den Brand tidak hanya butuh seseorang yang memiliki keberanian serupa itu. Dia setidaknya memiliki sedikit kecerdasan.

Dan Van den Brand menemukan harapan itu dalam diri Paitje—begitulah dia mengenalkan namanya kepada Van den Brand, dia sendiri lupa namanya siapa, orang-orang telanjur memanggilnya Paitje—terlebih Paitje rela dibayar hanya dengan delapan puluh lima sen dalam sepekan. Upah yang jauh lebih murah daripada kuli kontrak perkebunan.

”Berbaurlah dengan para jongos di perkebunan,” perintah Van den Brand. ”Cari tahu siapa yang terakhir kali bertemu anak sapi itu.”

”Baik, Tuan,” hanya itu jawaban yang diberikan Paitje. Dan setelah lima hari menyaru kuli kontrak Tuan Henri, dia kembali dengan membawa kabar yang Van den Brand saja tidak tahu apakah ini penting atau tidak.

”Seorang jongos di perkebunan mengatakan kepadaku, anak sapi itu terakhir kali terlihat menyelinap dan pergi bersama Tuan Henri.”

”Apa kau yakin?”

”Saya yakin, Tuan,” suaranya terdengar mantap, tanpa keraguan. ”Jongos itu sangat yakin, karena dia tak sengaja mendengar pertengkaran mereka.”

”Apa yang mereka ributkan?”

Jakun Paitje terlihat naik dan turun. Dia menjilat bibir hitamnya, sekali. ”Tuan Henri marah besar karena anak sapi itu mengizinkan seorang jongos tidur di baraknya. Katanya ini bukan pertama kalinya. Tuan Henri sering memukul anak sapinya sejak anak itu kembali tinggal di barak. Tuan Henri tak ingin anak itu memiliki teman.”

Baca juga  Memburu Sekutu Iblis

”Siapa jongos yang menginap di barak anak sapi?”

Paitje menautkan kedua alisnya. ”Seingat saya namanya Boeman, Tuan.”

”Cepat kau cari dia,” Van den Brand merasa dadanya meletup-letup.

”Tapi, Tuan….”

”Kenapa?” dia mendelik.

”Boeman tiba-tiba menghilang sehari sebelum anak sapi bunuh diri.”

Seketika Van den Brand merasa tungkai kakinya lemas. Saat bersamaan dia teringat pada posisi anak sapi itu tergantung di jendela. Tak ada kursi yang membantunya untuk berpijak sebelum menjerat leher sendiri. Kakinya melayang di atas geladak papan, hanya berjarak sehasta.

Dipan yang seperti usai menjadi saksi sebuah pergumulan yang panjang, celana yang tercecer di lantai samping tempat tidur, darah dan kotoran yang ada di bokong. Barak yang terkunci, tetapi tak jelas di mana kuncinya berada. Seorang saksi kunci yang menghilang tiba-tiba, sehari sebelum anak sapi mengakhiri hidupnya yang malang. Semuanya terasa sangat jelas bagi Van den Brand, tetapi keraguan menyelinapi hatinya.

”Tak ada bukti, tak ada saksi,” desisnya. ”Bagaimana aku bisa menjeratnya?”

”Aku yakin seseorang sudah membunuhnya,” ucapmu itu mendengung di lubang cuping Van den Brand dan dia setuju denganmu, karena dia percaya sudah menemukan pelakunya, tetapi dia belum tahu bagaimana cara membuktikannya.

”Ini muslihat di depan cermin,” ucap Van den Brand. Paitje hanya melongo, tak mengerti sama sekali ucapan tuannya. ***

Pali, 2020.

Catatan:

Sebelum 1900-an, saat buruh kontrak perempuan belum direkrut sebagai pekerja di perkebunan dan pergundikan (nyai) belum marak, banyak pekerja Eropa ataupun pribumi yang menjalin hubungan pederasty atau hubungan seksual/percintaan antara laki-laki yang lebih tua dan laki-laki yang lebih muda di barak-barak perkebunan. Anak-anak lelaki itu sering disebut sebagai anak sapi atau anak jawi. Jongos muda ini berusia 14-20 tahun. ***

Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Buku terbarunya yang ditulis duet dengan temannya akan terbit Maret 2020 di Elex Media Komputindo, dua novel horor untuk remaja: Ritual dan Teman. Beberapa cerpennya pernah terpilih dalam buku kumpulan cerpen pilihan Kompas.

Sandy Rismantojo, lulusan DKV ITB angkatan 1993, melanjutkan studi S-2 di Pratt Institute New York dan lulus tahun 2001. Pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha dengan konsentrasi Fashion Graphic di Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV). Saat ini sedang menjabat sebagai Wakil Dekan 1.

 139 total views,  1 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!