Cerpen, Moh Rofqil Bazikh, Suara Merdeka

Matinya Seorang Makelar

2.8
(6)

Seingatku sekitar lima tahun lalu aku ke sini, tepat saat kita dahulu begitu dekat. Kau yang mengajakku sembari mengatakan bahwa pantai ini begitu cocok untuk orang semacam aku. Kau benar-benar tahu kesukaanku, kesukaan orang yang lama tinggal di pegunungan.

Makanya, kali pertama kau mengajakku ke sini, aku merasa tidak punya alasan menolak. Sejak kecil aku memang begitu ingin dekat dengan laut, dengan bibir pantai, desir angin yang semilir. Kali itu, kali pertama aku melihat laut, asal kau tahu betapa hatiku bergemuruh. Aku tidak henti-henti memuji Tuhan dalam hati, menyebut-nyebut nama-Nya.

Lima tahun lalu, sampan-sampan masih banyak di tepi pantai, aku kira hari ini sudah tinggal separo. Yang kuingat dengan betul hanya satu, yaitu gudang yang katamu tempat penjualan ikan hasil tangkapan nelayan.

Waktu itu bulan tujuh, ombak sangat deras menghempas. Aku suka betul ombak dan gemuruhnya yang setara dengan kegembiraanku. Kau menceritakan banyak hal, bagaimana orang-orang dekat pantai bertahan hidup. Menurutmu, mereka benar-benar tergantung kepala alam, kepada laut secara khusus. Tangkapan-tangkapan ikan mereka, menurutmu, yang membuat mereka hidup sampai saat ini. Waktu itu harga ikan memang mahal-mahalnya, untuk makan seminggu sudah lebih dari sekadar cukup.

Tidak lupa kau mengenalkan orang tuamu dan pekerjaannya yang semula memang bergelut dengan ikan. Kau memberitahuku soal ayahmu yang tidak kembali sejak berangkat melaut pada tahun 2010, tahun tim nasional Spanyol juara Piala Dunia secara dramatis. Ayahmu dianggap telah meninggal setelah sebulan tidak pulang sejak keberangkatannya.

Aku tahu kau begitu berat menceritakan itu. Apalagi saat ayahmu pergi kau masih belum genap berusia lima belas tahun. Usia-usia seperti itu harusnya masih sangat dekat dengan pelukan dan kasih sayang seorang ayah, tetapi tidak bagimu. Sungguh, aku masih ingat betul, semenit sesudah kau bercerita, kurengkuh tubuhmu, kupeluk sangat erat. Aku tahu kau butuh ditenangkan. Dan sebagai orang yang paling dekat denganmu, itu adalah tugasku. Aku tidak ingin ada sisa-sisa kesedihan setelah kepergian ayahmu. Aku sempat berkata bahwa kau pasti kuat menghadapi seluruh cobaan yang Tuhan berikan dan Tuhan pun tahu kemampuan hambanya.

Aku (kau tahu sendiri kan?) memang banyak berbicara dengan membawa nama Tuhan. Seandainya lima tahun lalu kau tidak mengajakku, mungkin hari ini adalah hari pertama kunjunganku ke sini. Namun, itu telah terjadi dan hari ini adalah kunjunganku yang kedua.

Baca juga  Alusi

Pada hari kunjungan kedua ini, aku tidak lagi bersamamu. Kita tidak lagi berdekatan sebagaimana lima tahun lalu. Aku datang ke sini sendirian dan tidak memberitahumu. Aku memang ingin kamu tidak tahu kedatanganku. Aku malas membuat luka-luka yang sudah kembali menganga. Aku tidak ingin itu terjadi. Lebih baik aku datang sendiri dan pulang sendiri.

Masalah penginapan, kau tidak usah khawatir, aku menginap di rumah kepala desa. Kau pernah bilang bahwa orang-orang yang berkunjung ke sini banyak yang tinggal di rumah kepala desa. Di sana sudah tersedia tempat khusus pelancong sepertiku. Hanya aku tidak begitu kenal dengan kepala desa, sehingga merasa sangat asing di rumahnya. Itu tidak masalah, yang terpenting hari ini adalah bagaimana aku bisa sampai ke sini, menikmati debur ombak, desir angin kecil, meski beberapa sudah berubah hampir total. Sebagaimana yang kusebut tadi, yang kuingat cuma satu, gudang penjualan ikan itu.

***

“Berarti orang di sini sudah jarang yang melaut sebagaimana dahulu, Pak?” tanyaku pada Kepala Desa Abdul Asiz. Ia hanya mengangguk dan tidak melanjutkan lagi. Aku sekarang menjadi paham bagaimana pantai yang aku kunjungi itu berubah total. Bagaimana pasir yang semula putih, kini tinggal bebatuan lantaran dikeruk habis-habisan. Banyaknya orang yang merantau ke kota-kota besar telah menjadikan itu semua. Mereka mulai banyak uang sehingga pembangunan di mana-mana, dan pasir yang digunakan adalah pasir di bibir pantai itu.

Hatiku meringis, alangkah menakutkan banyak uang. Ini sungguh merusak lingkungan. Padahal, andai mereka tidak merantau ke kota-kota besar dan pulang membawa banyak uang, mereka tidak akan merusak begini. Mereka tidak akan membangun rumah-rumah mewah sebagaimana di kota-kota. Dengan begitu, kerusakan tidak akan terjadi.

“Kadang, rumah yang masih bagus dirobohkan dan dibangun lagi dengan corak lebih mentereng, demi gengsi,” kata Abdul Asiz memperjelas.

Hatiku makin nyeri, betapa membangun rumah bukan sekadar kebutuhan, melainkan ajang untuk mengangkat harga diri. Memang, saat perjalanan dari pantai ke rumah Kepala Desa, kulihat bangunan rumah-rumah mewah dan masih banyak dalam tahap penyelesaian. Mulanya aku menganggap hal itu biasa saja, ternyata di balik hal itu ada banyak hal yang harus dibicarakan.

Baca juga  LARON

“Apa Bapak tidak membuat peraturan soal ini?”

“Sudah, tetapi gagal.”

“Gagal?”

“Pesoalannya yang menambang tidak hanya satu-dua orang. Yang paling menjengkelkan, aparat desa juga ikut-ikutan. Keuntunganya juga banyak, sebab yang membeli adalah mereka yang sudah sukses dan banyak uangnya lalu pulang dari kota-kota besar untuk membangun rumah.”

“Jadi, hari ini profesi sebagai nelayan di sini sudah menjadi barang asing?”

“Kira-kira begitu. Sebanyak-banyaknya hasil dari menjadi nelayan masih kalah jauh dari profesi sebagai perantau.”

“Kalau boleh tahu, kira-kira berapa persen orang yang sudah merantau?”

“Tujuh puluh lima persen. Itulah mengapa desa ini seperti sepi.”

Aku percaya apa yang dikatakan Kepala Desa itu, penghasilan di kota memang jauh lebih besar daripada di sini. Setelah kupikir-pikir ternyata memang desa ini mulai sepi dan tidak seramai saat kunjungaku yang pertama. Saat kunjunganku yang pertama, aku bisa mendengar suara azan di mana-mana. Hari ini mendengar satu orang azan pun sudah bersyukur. Kata Kepala Desa pun, banyak anak-anak yang terpaksa dibawa juga oleh orang tuanya untuk ikut, akibatnya sekolah di sini tidak mempunyai siswa. Satu kelas hanya tiga sampai lima orang. Sementara yang menjadi pengajar adalah orang yang masih dengan keadaan hati sangat ikhlas. Mereka guru honorer. Meski separo dari guru honorer di sini juga lebih memilih merantau. Miris!

Semenjak tiba di rumah Kepala Desa, aku memang lebih banyak berbincang dengan beliau. Berusaha akrab, meski sesungguhnya canggung. Beliau sebagai orang tertinggi di sini tetap terbuka, itu membuat aku mulai betah di sini. Barang-barang kebutuhan juga masih banyak. Paling-paling kalau mau pulang sekitar lima hari lagi. Aku merasa tidak enak, kalau berlama-lama di sini. Namun, aku masih penasaran bagaimana proses pengerukan pasir-pasir di pantai itu hingga meninggalkan batu. Aku berencana untuk melihat sendiri ke lapangan bagaimana pengerukan dilakukan. Tetapi sebelumnya aku meminta izin kepada Kepala Desa untuk turun lapangan.

***

Aku melihat mesin yang tingginya setara dengan orang dewasa. Dengan jelas kulihat bagaimana mesin itu digunakan untuk mengeruk bagian-bagian pasir dan kemudian dimasukkan ke dalam kantong beras setengah besar. Mereka kemudian menaikkan satu per satu kantong yang sudah terisi pasir ke atas pikap. Setelah penuh, sopir pun mengemudikannya.

Baca juga  Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup

Aku masih bertahan di tempat yang agak berjauhan dan enggan mendekat. Sepuluh menit kemudian, aku berusaha mendekat dan melihat-lihat lebih jelas. Mereka menatap dengan tatapan yang sangat asing dan tak akrab. Aku yakin mereka sensitif dengan orang baru. Apalagi pekerjaan mereka sebenarnya bisa dimintai pertanggungjawaban secara hukum.

Meski tatapan mereka lain, aku tidak berbicara barang sepatah. Kurogoh ponsel dan kufoto apa yang mereka kerjakan. Tatapan mereka semakin lain dan semakin tajam.

Untunglah, sedetik kemudian seseorang dari utara berteriak meminta tolong. Aku tidak mendengar dengan jelas yang diteriakkan. Aku hanya mengikuti orang-orang yang berlarian ke utara. Sesudahnya aku baru tahu, seseorang meninggal mendadak di tengah-tengah mengeruk pasir.

Aku semakin lekas berlari. Sontak, aku benar-benar kaget dan mulutku kelu. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku. Nama Tuhan yang biasa kusebut juga seketika kulupa. Bagaimana bisa kusebut nama Tuhan, jika tubuhmu sudah tergolek tanpa nyawa di hadapanku. Seseorang melepas sarung dan menutupkannya di wajahmu. Aku membukanya dan memastikan bahwa itu benar-benar kau. Aku hanya melihat seorang perempuan yang berpakaian rapi di sampingmu. Aku juga melihat dengan jelas pakaianmu yang juga rapi. Kau tentu bukan penambang. Kau hanya makelar urusan pasir ini. Setelah kutanya pada orang di sekitar, ternyata kau juga aparat Kepala Desa Abdul Azis. Betapa bejat kau (sebejat penolakanmu dahulu). Susah-susah Kepala Desa membuat peraturan, malah kau yang merobohkan.

Aku tahu, perempuan yang menangis di sampingmu pastilah istrimu. Jadi, itu perempuan yang membuatmu melupakanku, setelah kita begitu dekat dan lekat. Aku masih ingat kata-kata terakhirmu yang saat menjawab ajakanku: “Kita kan sama, mana mungkin bisa menikah.” Lalu kau meludahiku, sambil mengumpat dengan kata bencong dan membenciku selamanya. Tetapi, aku masih mencintamu, bahkan setelah lima tahun berlalu. ***

Sumenep, 2021

Moh Rofqil Bazikh, mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online.

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Najong LGBT dimuat!

Leave a Reply

%d bloggers like this: