Beri Hanna, Cerpen, Media Indonesia

Lamaran

5
(4)

“BUJANG Garogaro, apa kamu betul yakin pada Lasi Manih?” tanya Upik Palun menghadang Bujang Garogaro yang hendak membelah sungai dengan biduk pagi itu.

“Yakin dan tidak, juga benar dan tidaknya, itu bukan urusanmu. Lebih baik kamu jangan halangi aku!” Hendak berderai air mata Upik Palun mendengar Bujang Garogaro, tetapi cepat ia sadar kalau itu tak berarti apa-apa.

“Kita lihat saja,” ucap Upik Palun memaksa tetap tampak tegar, “semoga kamu tidak keliru dengan apa yang sudah kamu lihat. Bukan sekali-dua kali kejadian bujang dusun salah pandang dan berakhir seperti kepala babi! Aku rasa kamu juga akan berakhir seperti itu,” lanjut Upik Palun.

“Justru selama ini aku salah pandang menjadi peliharaanmu,” datar suara Bujang Garogaro, “menghabiskan waktuku untuk tunduk pada apa yang kamu suguhkan, tidaklah lain suguhan sakitmu. Kamu sakit, Upik Palun!” lanjutnya.

“Berani-beraninya kamu katakan aku sakit.” Gigi Upik Palun mulai bergemeretak, matanya membesar.

“Ingat saat kamu meminta aku mencuri buah di dalam hutan sembari tanganmu mengelus gunduk perutmu? Aku langsung berangkat tanpa berpikir ulang mengenai hukum adat! Di tengah rasa takut melangkah, aku jadi tahu bahwa upik di luar sana membuang kotoran mereka di bawah pohon kapuk, bukan di wajah bujang seperti yang kamu lakukan padaku!”

“Jangan kelewatan bicara, Bujang Garogaro!” sentak Upik Palun.

“Kamu yang jangan kelewatan! Apalagi atas nama ritual dan penyakitmu!”

“Bujang laknat!” Upik Palun tak dapat menahan marah, dua butir api meletus dalam hitam matanya menjadi bara. “Tarik ucapanmu. Jangan sampai Bahelo mengutukmu!”

Diam dan tak hirau pada Upik Palun, Bujang Garogaro menginjakkan kaki ke atas biduk.

“Bujang Garogaro! Baiknya urung niatmu, atau kamu akan lebih menyesal!”

Melihat Bujang Garogaro tidak peduli, Upik Palun meloncat ke biduk—hendak memeluk sekaligus menahannya—Bujang Garogaro terkejut atas gerakan itu langsung melepas pukulan ke perut Upik Palun. Upik Palun terduduk lalu dicampakkan ke darat. Bujang Garogaro mulai mendayung laju biduk, hilang di balik kabut embun pagi itu. Ia terbayang akan kebodohannya yang selalu tunduk dan percaya pada apa-apa yang dikatakan Upik Palun.

***

Seekor anjing tengah keracunan sebab berganti-ganti membersihkan pantat manusia. Mata anjing itu hijau kates mengkal dengan garis lingkar memutih di tengahnya, perutnya membesar seperti jantung pisang yang berkerut dan mengeras. Dari kejauhan, tubuh anjing itu menguarkan bau tak sedap bagai setumpuk bangkai berliang tahi basah. Tak ada satu orang yang mau berdekat-dekat pada anjing itu, semua meludah dari jarak bertombak-tombak dan tak luput ada juga yang muntah sebab bau terbawa angin berembus.

Baca juga  Hujan setelah Pelangi

Hanya Palun yang melihat sesuatu pada sosok anjing malang itu, bagai buah nangka yang manis berselimut kulit runcing bebercak hitam, ia tergerak untuk membawa anjing itu pulang, menyelamatkannya dari kesengsaraan. Walau orang yang melihatnya melemparkan kutukan-kutukan pahit, ia tak peduli.

Malam petang Palun hilir mudik mengadu tangis pada bahelo di Bukit Penggiling, ia sungguh-sungguh ingin punya pasangan serta keturunan. Kesungguhannya siap menanggung apa pun akibat atas permintaannya—tentu setelah berkali-kali menangis dan berjampi-jampi dengan sajen yang diserahkan pada bahelo—akhirnya mendatangkan langit mendung yang menggulung warna ungu, hujan keperak-perakan berjatuhan setelahnya.

Palun tersenyum dan langsung menduga, itu sebuah pertanda. Ia berlari ke tengah hujan, menampungnya dalam tempurung. Tanpa banyak mantra yang mengudara ketika ia minumkan pada anjing keracunan itu, bagai sepucuk api ditiup topan, anjing itu dapat berdiri dan duduk bersila. Mata Palun terbelalak tak menyangka. Lama-lama sang anjing dapat berjalan seperti manusia, bulu-bulu di tubuhnya rontok dan meninggalkan kulit bagai manusia pula, pada moncongnya yang berlendir, pelan-pelan ditelan waktu mengering dan tumbuh pula kumis macam jantan perkasa. Saat ia berbicara, kata-kata pertama yang didengar Palun anjing itu bertanya siapa namanya. Palun menjawab, namamu Garogaro.

***

Ketika seorang bujang jatuh hati pada upik, ia perlu datang ke Moyang Dukun dengan membawa kepala babi sebagai antaran melamar. Sebelum dapat diadakan pesta pernikahan mereka, upik harus tidur di rumah gantung—yang melayang dua kaki dari muka sungai—selama tiga hari. Tidak diberi makan dan minum tujuannya untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala nafsu. Selanjutnya bisa dilihat, bila upik selamat dalam tiga hari, artinya leluhur telah memberi restu. Upik akan turun dengan muka berseri-seri tanpa sedikit lelah atau segaris pucat.

Tapi, bila upik tak selamat dalam tiga hari di rumah gantung, berarti bujang si pelamar bukanlah jodoh sesungguhnya, dan upik dipercaya telah tertulis berjodoh dengan roh leluhur yang telah mati. Tak jarang hal ini terjadi. Untuk menghukum bujang yang telah salah dalam memandang seorang upik yang bukan garis takdirnya, bujang akan dijerat bernasib sama seperti antaran kepala babi saat melamar.

Waktu itu sore mulai gelap, Bujang Garogaro yang berjalan di sekitar hutan tak sengaja melihat seorang upik milik paras rupawan dengan tahi lalat di atas bibir sedang buang kotoran di bawah pohon kapuk. Terasa tubuhnya bergetar-getar. Upik yang tertangkap mata Bujang Garogaro itu pun terkejut, tetapi hanya bisa diam. Tak bisa ia lari ke salah satu arah karena kakinya seperti terpacak dalam tanah.

Baca juga  Luka

Belum sempat sepatah kata keluar dari salah satu mulut mereka, suara teriak dari kejauhan terdengar jelas memanggil upik itu dengan nama Lasi Manih. Setelah kira-kira lima langkah Upik Lasi Manih bergerak ke arah suara, Bujang Garogaro menyebut namanya, berharap Lasi Manih sekadar menoleh, beruntungnya Bujang Garogaro mendapat tambah berupa senyuman paling teduh serta sorot binar yang mengena hatinya.

Bujang Garogaro tak segera pulang mengantar buah permintaan Upik Palun, ia malah pergi menjerat babi, diikatnya kuat-kuat satu kaki yang terjebak hingga nyaring babi itu menguik. Dilihatnya di sekitar ada batu besar. Bujang Garogaro menghantam kepala babi itu hingga remuk dan nyaris tak berbentuk. Dengan bambu kuning yang telah dipatahkan dari rimbun tempat tumbuhnya, Bujang Garogaro meruncing pucuk bambu lalu digunakan untuk memutus kepala babi dari badannya. Dan kepala itu jadi antaran hendak melamar Lasi Manih.

“Apa yang telah kamu pikirkan, Bujang Garogaro?” tanya Upik Palun saat diberi tahu keinginan besar yang mendadak tumbuh dalam diri bujang peliharaannya itu.

“Aku rasa, aku telah jatuh cinta padanya.”

“Lantas kamu anggap apa aku ini?”

Upik Palun kecewa. Bujang Garogaro tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya. Palun mengambil parang dan melangkah keluar, pergi meninggalkan Bujang Garogaro dalam gelap malam itu. Bujang Garogaro terbayang sesuatu yang buruk akan terjadi, ia pandang keluar, tetapi tak tahu ke mana Upik Palun telah pergi. Ia menenangkan diri dengan berdoa agar hari cepat berganti dan ia segera bisa berangkat mengantar kepala babi pada Moyang Dukun.

***

Para bujang dan upik yang melihat Bujang Garogaro menenteng kepala babi menanyakan mana wali yang bersamanya. Bujang Garogaro menjawab, satu-satunya orang yang ia kenal telah melarikan diri semalam dan ia tidak kembali. Para bujang dan upik sedikit menampakkan sikap tidak suka padanya, tetapi dengan berat hati, mereka mengizinkan juga Bujang Garogaro masuk, menemui Moyang Dukun.

“Nak Garogaro jatuh cinta pada Nak Lasi Manih? Kenapa? Apa karena melihatnya sedang buang kotoran?”

“Betul aku jatuh cinta pada Lasi Manih, Moyang Dukun. Tapi tidak betul kalau jatuh cintaku karena melihatnya membuang kotoran.”

“Ini tidak wajar. Karena para bujang lain bisa saja menuduh Nak Garogaro sudah mengintip Nak Lasi Manih. Dan seperti Nak Garogaro tahu bahwa hal itu…”

“Betul, Moyang Dukun. Tetapi sungguh, aku tidak berniat mengintip!”

“Lalu, apa bisa dijelaskan, kenapa waktu itu Nak Garogaro ada saat Nak Lasi Manih sedang buang kotoran?”

“Begini, Moyang Dukun,” ditariknya napas dalam-dalam kemudian diceritakannya tentang apa yang dirasakannya dalam tubuh, seperti ada yang bergerak meninju, tetapi tak terasa sakit, justru hanya bekas dentuman yang berulang membuatnya bergetar-getar, ia tak dapat memindahkan barang selayang arah mata memandang dari wajah Lasi Manih saat itu. Bahkan ia bersumpah atas nama tanah dan sungai untuk segala yang diceritakannya.

Baca juga  Senja itu Membunuh Kalian

“Kalau memang seperti itu, tak ada yang bisa aku lakukan selain meminta Nak Garogaro menaikkan kepala babi ke pohon saat pertama melihat Nak Lasi Manih,” ucap tegas Moyang Dukun lalu menutup pembicaraan dengan harapan tidak ada kesalahan dalam memandang seorang jodoh.

***

Hari di mana seharusnya pernikahan berjalan lancar justru menjadi kisah lain. Di rumah gantung, para upik, bujang, juga Moyang Dukun tampak tak siap berpesta.

“Perlukah kita mengejar Garogaro untuk mempertanggungjawabkan ini, Moyang Dukun?” tanya seorang bujang membuat suasana semakin terdesak panas api. Sebelum ada jawaban, dari luar rumah gantung, dalam pandang kabut Moyang Dukun, sambil berkomat-kamit ia geram melihat Bujang Garogaro tampak tengah mendayung biduk di atas sungai, seolah tak tahu apa yang telah terjadi atau justru benar-benar ingin menantang.

“Punya nyali api anak itu!” ucap salah seorang bujang yang terkejut melihat kemunculan Bujang Garogaro.

Sebelum Bujang Garogaro sampai ke darat, dari atas rumah gantung, Moyang Dukun melempar sepenggal kepala, tepat ke atas biduk. “Kamu harus bayar semua ini!”

“Kepalamu harus dipenggal!” teriak bujang lain penuh amarah.

Bujang Garogaro terdiam. Matanya tertuju pada kepala yang telah ada di atas biduknya. Ia tak percaya dan berulang-ulang memperhatikan wajah milik potongan kepala itu. Dalam kabut embun tebal pagi itu, seolah nyawanya telah pergi ketika memastikan itu kepala Lasi Manih, orang yang akan dinikahinya. Matanya berdecak bara tertuju pada rumah gantung. Tangannya mengurat-urat tegang. Ia ciptakan neraka dalam dada lalu meloncat ke darat. Berbekal kekuatan api membara, Bujang Garogaro bersiap menyerang orang-orang di rumah gantung. “Aku bersumpah, kalianlah yang harus membayar perbuatan ini!” teriaknya sambil berlari penuh amarah yang terbakar. Begitu hendak memanjat rumah gantung, bau busuk kotoran Upik Palun menguar sangat dekat di hidung Bujang Garogaro. Segera langkahnya terhenti, matanya menoleh ke sekitar. ***

Beri Hanna lahir di Bangko. Bergiat di Kamar Kata Karanganyar dan Tilik Sarira. Bukunya akan terbit Menukam Tambo, memenangi sayembara Kelompok Renjana, 2021

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: