Cerpen, Mufti Wibowo, Republika

Jarit Serayu

4.8
(6)

Serayu namanya. Yang cantik nan anggun. Dialah orang tua bagi semua anak. Juga suami atau istri bagi anak-anak itu kelak dewasa. Serayulah sahabat anak-anak yang selalu asyik diajak bermain, bernyanyi, dan menari bersama. Ditumpahkanlah segala macam persoalan hidup kepadanya.

Dengan cara yang sulit dijelaskan, Serayu memberikan jalan keluar bagi persoalan-persoalan itu. Atau, sekurang-kurangnya, tenang hati jika sudah dicurahkan segala keruwetan dan kesemerawutan yang menggelayuti pikiran dan perasaan mereka. Ah, sebagian orang bahkan cukup melihatnya saja, mengecillah persoalan bahkan hilang sama sekali bagai embun Subuh disapu matahari Dhuha.

Serayu adalah sekolah tanpa gedung sekaligus guru bagi anak-anak yang ingin mengenali diri dan dunianya. Serayu adalah simbol kesetiaan anak-anak dalam merawat para orang tua menjelang matinya. Pemberi kehidupan kepada semua yang mencin-tainya dengan segenap dirinya, air, ikan, arus dan riak, gelombang, pasir, hingga batunya. Kata seorang guru mengaji di bantaran Serayu, “Serayu adalah cinta bagi siapa saja yang mendapat manfaat darinya.”

Karena ikatan yang intim itu, leluhur di sebuah kampung, di tepi Serayu, mengabadikan lekuk-lekuk Serayu dari mata air hingga pertemuannya dengan Logawa, sebelum bermuara kepada Segara Kidul, pada sehelai kain yang hanya digunakan dalam acara adat seperti kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Karena peruntukannya itu, pada kain itu melekat kesakralan. Motif dan corak khas yang bersudut pandang puncak Slamet yang tegak di sisi utara itu kemudian menjadi identitas masyarakat kampung itu. Hanya sedikit orang yang dapat nyanting motif yang magis itu.

Nyanting itu mesti menggunakan kaidah baku yang tidak boleh dilangggar, seperti misalnya waktu dan peralatan yang dipakai,” kata setiap nenek atau kakek di kampung itu. Nyanting mesti dilakukan oleh keturunan orang kampung yang tidak pernah meninggalkan kampung itu lebih dari lima tahun, bila lebih dari itu, kemampuan nyanting-nya akan sirna tanpa bekas.

***

Kang Samad duduk termenung di bangku depan becaknya. Sejak pagi, hanya segelas air putih yang membasahi tenggorokan. Tidak seperti saat musim gadu, setiap pagi, dia bisa sarapan kopi kental sambil mengisap rokok setelah menjual ikan hasil tangkapan di malam hari. Memberi uang saku yang cukup kepada anaknya.

Baca juga  Angka Kematian

Kang Samad dan para penarik lain harus bersaing dengan angkudes yang hanya beroperasi jika jam masuk dan pulang sekolah atau dengan ojek yang mangkal mulai Maghrib hingga Subuh menanti penumpang keluar dari pintu-pintu Damri atau Sinar Jaya. Melupakan rasa lapar di perutnya, Kang Samad tertidur pulas.

Kang Samad terkejut, dia dibangunkan oleh seorang wanita berpakaian rapi. Wanita itu minta diantarkan ke kampung yang berjarak 20 menit dari tempat mangkal becaknya itu. Betapa girang hati Kang Samad, dia mendapat penumpang pertama hari itu tanpa tawar-menawar harga.

Tidak seperti kawan-kawannya yang memiliki penumpang langganan, dia hanya menarik becak saat di sawah tak ada pekerjaan, arus sungai sangat deras karena hujan di hulu, atau saat musim hujan ketika ikan-ikan tak lagi bertelur di malam hari. Atau ketika musim gadu, tapi bulan penuh sepanjang malam. Yang membuatnya lebih girang adalah calon penumpangnya itu memintanya untuk mengantar pergi-pulang. Itu berarti dia akan mendapat dua kali ongkos.

Ketika hampir sampai di tempat tujuan, Kang Samad bertanya, “Ke tempat siapa, Bu?”

“Ke tempat murid saya.”

***

Wanita itu masih menunjukkan sikap canggungnya. Seakan dia belum percaya sedang berada di rumah Endah yang ternyata anak dari penarik becak berkulit gelap dan berbadan kurus yang bersikap sangat ramah kepadanya sepanjang perjalanan. Setelah mempersilakan duduk wanita itu, Kang Samad memanggil Endah untuk mencium tangan gurunya sebelum kemudian kembali masuk untuk membawakan minum.

Tak lama berselang, Kang Samad ikut masuk ke ruang lain yang bersekat bilik kayu dan bambu.

“Gula habis.”

“Ke warung Marni, minta gula dan teh, juga sepiring mendoan untuk pantas-pantas!”

“Uang yang terakhir kamu berikan seminggu lalu sudah habis.”

Tak lama kemudian, Kang Samad—sudah berganti penampilan, bercelana bahan berwarna gelap dan baju batik cetak yang terlihat usang, juga istrinya yang terlalu kurus sebab TBC yang menggerogoti paru-parunya— sudah berada di hadapan Bu Guru yang tak bisa menyembunyikan kecanggungan di wajahnya. Wajah canggung itu tak cukup terlihat di ruangan yang cukup gelap dan pengap karena minim pencahayaan dan tanpa ventilasi. Semestinya, cahaya neon usang seukuran jari-jari kurus Kang Samad yang bergelantungan di atas kepala mereka bisa membantu menerangi ruangan itu jika saja dua bulan lalu aliran listrik rumah mereka tak diputus karena tunggakan tagihan.

Baca juga  Hingga Nabi Musa pun Cemburu

***

“Jangan membuat anakmu merasa bersalah dengan menunjukkan air mata kita di depannya.”

“Adakah yang bisa dilakukan wanita seperti aku dalam keadaan seperti ini, Kang?”

“Tentu. Ambil jarit kita!”

“Akan diapakan, Kang? Apa kamu lupa kejadian orang-orang kesurupan?”

“Siapa bilang aku akan menjualnya?”

“Lalu? Apa yang ada di pikiranmu, Kang?”

“Ayo, ikut, nanti kamu tahu sendiri.”

Kang Samad menjembreng kain yang terlipat rapi itu untuk memastikan keadaan kain itu masih dalam keadaan baik. Meski tatapannya terlihat mantap, telihat jari-jari tangannya gemetar. Tak ingin menunjukkan gelagat itu di depan istrinya, Kang Samad berdiri dari posisi duduknya.

Menurut tradisi, dalam upacara pernikahan masing-masing keluarga mempelai memberikan kain itu sebagai bekal menjalani kehidupan baru setelah menikah. Sudah sangat lama kain itu tak digunakan, sebagai kain pusaka keluarga Kang Samad, pertama dan terakhir kali digunakan adalah saat kenduri puputan, lepasnya tali pusar Endah.

Kali ini, kain itu dikeluarkan dari tempat keramatnya, sebuah lemari dari kayu nangka, tidak untuk keperluan upacara tradisi kampung Kang Samad. Sebab yang lain itulah yang memunculkan kehawatiran di benak istri Kang Samad. Kehawatiran istrinya itulah sesungguhnya juga menjadi kekhawatiran Kang Samad ketika akan mengambil sebuah keputusan penting berkaitan dengan kain keramat itu. Sebuah keputusan yang tidak bisa diambil dengan sembarangan.

Kang Samad diam-diam membayangkan tubuhnya, istri, dan anak perempuannya kejang-kejang dengan perilaku seperti ternak yang salah diberi makan, kesurupan. Tapi kekhawatiran itu segera berganti menjadi katakutan seorang ayah atau kakek melihat wajah bopeng anak perempuan dan cucu-cucunya yang akan akan bertarung menghadapi dunia di masa yang akan datang ketika dia dan istrinya sudah mati.

Kemudian, bergilir bayangan lain muncul di kepalanya, wajah kedua orang tua Kang Samad dan kedua mertuanya yang semasa hidup pernah berpesan pada Kang Samad untuk memberikan pendidikan yang baik untuk cucu-cucu mereka. Pendidikan itulah yang kelak akan memelihara kelestarian Serayu sebagai ekosistem sekaligus sumber nilai yang adiluhung (?) Kemudian bergelayut lagi anak-anak tetangganya yang sekolah tinggi di kota tak pernah mau lagi tinggal di piggiran kali.

Baca juga  Kenangan Perkawinan

“Wedhus!”

***

Kang Samad merasa tidak perlu lagi menjelaskan keadaan ekonomi keluarganya kepada siapa pun, termasuk guru itu. Meskipun demikian, Kang Samad merasa perlu menjelaskan sejarah jarit keramat keluarganya kepada guru itu. Tentang sepasang jaritnya yang ditawar lebih dari sepuluh juta oleh aparat desa, konon mereka akan menjualnya dengan untung sepuluh kali lipat kepada para kolektor barang antik.

Karena ketaatan kepada nilai-nilai adatlah, Kang Samad dan istrinya tidak tergoda untuk menjual jarit-jarit keramat itu sebagaimana tetangga di kanan dan kiri rumah mereka. Sejak fenomena itu, tetangga-tetangga Kang Samad menjadi orang kaya mendadak.

Sangat jarang, sejak itu, orang kampung mau datang di sungai untuk mencuci pakaian karena sudah memiliki mesin cuci. Angkudes terparkir sepanjang hari di halaman rumah, kehilangan penumpang. Para tukang becak, sepanjang hari di pangkalan karena dilupakan penumpang yang lebih lebih suka mengendarai sepeda motor atau mobil meski jalanan penuh lubang.

“Kain ini sebenarnya ada satu pasang. Satu saya simpan, sedangkan yang satu ini akan saya tinggalkan di sekolah sebagai jaminan bahwa saya akan membayar seluruh beban administrasi sekolah anak saya sebelum pengumuman kelulusan.”

***

Kang Samad merasa lega sekembali dari sekolah Endah guna menyampaikan maksud yang sudah dirancangnya masak-masak itu. Tapi, Kang Samad sepertinya melewatkan satu hal untuk diceritakan —atau memang disengaja— saat sehari sebelumnya. Dia mendatangi kantor pegadaian di kota kecamatan untuk menggadaikan kain keramat keluarganya. Kang Samad pulang dengan muka bersungut. Saat ditanya oleh istrinya pasal membawa pulang kain itu, Kang Samad menjawab, “Kain kita hanya dihargai 50 ribu perak.” ***

Fakuntsin, 15

Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga.

 264 total views,  2 views today

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: