Cerpen, Republika, Risda Nur Widia

Pesan Batu Ibu

4.8
(8)

Ada satu hal aneh yang dilakukan ibu ketika dirinya diserang rindu. Wanita itu akan mengambil sebuah batu di sungai yang berada tidak jauh dari rumah kami. Lalu, dari tepi sungai itu ibu akan memilih sebuah batu yang menyerupai telur. Namun, bila tidak ada batu yang demikian, ibu hanya memilih batu biasa tanpa mempermasalahkan bentuknya.

Batu yang sudah dipilih ibu—tak terlalu kecil atau besar—itu akan didekapnya sembari memejamkan mata, lantas menggumamkan sesuatu. Selesai dengan ritualnya, ibu segera melempar batu itu jauh ke tengah sungai—lalu tenggelam.

Aku tidak tahu apa maksud semua itu dahulu. Waktu itu, umurku masih sembilan tahun dan hanya menemani ibu ketika menjalankan ritual anehnya itu. Yang selalu terngiang dalam ingatanku waktu itu, ibu selalu menitikkan air mata saat mendekap batu itu. Hingga, saat umurku sudah 23 tahun, ibu masih melakukan hal yang sama ketika sedang dirundung sedih atau rindu yang bermula dari ayah.

Pria itu memang selalu menjadi awal kesedihan ibu. Padahal, pria itu sudah lama meninggal. Aku sendiri belum pernah melihat wajah ayah secara langsung. Ia telah pergi ketika aku dalam kandungan ibu. Aku pun mengenal sosok itu hanya dari dongeng ibu dan nenek, sewaktu kecil.

“Ayahmu seorang pelaut yang hebat,” cerita ibu setiap aku akan berangkat tidur. “Ia seorang nakhoda kapal yang berani, Tarno.”

Cuma itu saja yang aku kenal tentang ayahku karena ibu secara mendadak terserang rasa sedih yang tak jelas. Matanya pun acap berkaca-kaca menahan tangis, hingga akhirnya ibu hanya mendekapku.

Aku bisa sedikit tahu lebih banyak tentang ayah dari kumpulan foto dan cerita nenek. Saat umurku sudah 19 tahun, nenek secara gamblang memberitahukan kalau ayah meninggal karena kapal yang dikemudikannya karam. Mendengar seluruh kisah itu, seketika aku tahu mengapa ibu selalu memotong kisahnya pada bagian itu-itu saja dan setelah itu ibu akan mengajakku ke sungai mencari batu.

Demikianlah, waktu mengajarkanku secara perlahan untuk memahami pengertian-pengertian yang sangat sulit dijelaskan oleh ibu, hingga akhirnya selalu bertindak aneh. Bahkan, tidak ada teori yang dapat menjelaskan kenyataan paling pahit dalam kehidupan ibu mengenai batu-batu yang sudah dianggapnya sebagai surat batu [1].

Aku sempat bertanya kepada ibu mengenai kebiasaannya mengirim surat batu itu dengan hati-hati. “Apakah Ibu tidak lelah mencari batu kemudian membuangnya? Bukankah itu hal sia-sia?”

Baca juga  Mbah Dul Karim

Ibu segera menatapku. Sepasang matanya yang redup di usia senja menelisik diriku dalam dan membuat tubuhku bergetar. Di mata itu, aku masih menemukan kekuatan serta gairah untuk bertahan terhadap siksaan rindu yang terasa sangat nyeri serta sulit untuk dikatakan. Ibu seketika tersenyum pahit di depanku.

“Jika kau bersedih atau merindukan seseorang, ambillah batu dan bisikkan rindumu pada batu itu. Batu-batu itu akan mengantarkan pesanmu kepada orang yang kaurindukan,” jawab ibu tidak sesuai dengan pertanyaanku sebelumnya.

“Bukankah lebih jelas kalau kita menulis surat? Karena ada tukang pos yang mengirimnya,” balasku masih hati-hati agar tidak menyinggungnya.

“Ini soal perasaan. Kau tidak akan pernah mengerti, Tarno.”[2] Ibu membalas santai.

Aku tidak membantah lagi. Aku hanya berpikir lain. Surat batu itu mungkin sangat sakral bagi ibu. Saking sakralnya, ibu sampai memercayakan batu-batu itu untuk menyimpan pesan-pesannya.

***

Setelah lulus kuliah, aku pun menikah, kemudian mendapat panggilan kerja di kota. Sebenarnya, aku sedikit berat menerima panggilan kerja tersebut. Aku tidak bisa meninggalkan ibu seorang diri di desa. Apalagi, usia ibu sudah tua. Memang dahulu, ketika kuliah, aku masih bisa meninggalkannya karena ibu hidup bersama nenek di rumah. Namun, sudah beberapa tahun lalu nenek meninggal. Akhirnya, ibu harus tinggal sendiri dengan segala kesedihan dan hal-hal aneh yang sering dilakukannya jika aku tinggal di kota.

Karena keluarga kecilku harus kuhidupi, ditambah restu dan dorongan dari ibu yang menyuruhku untuk meninggalkan kampung, aku akhirnya pergi juga. Sebelum pergi, mungkin pertama kali dalam hidupku, aku menerima ajakan ibu untuk mengirim surat batu. Awalnya, aku kurang berminat. Hanya karena aku tidak ingin mengecewakan ibu, maka aku menuruti keinginan itu. Dengan berjalan kaki, aku dan ibu pergi ke sungai. Sesampainya di sungai, aku segera mencari sebongkah batu.

“Carilah batu paling bagus,” kata ibu. “Sebuah pesan harus memiliki kemasan yang menarik. Kalau kemasannya buruk, surat itu tidak akan dibaca.”

Ibu menyeringai dan aku kurang peduli karena tidak ada relevansi antara batu dan surat. Batu selamanya tidak berarti sedangkan surat cukup berarti karena terbuat dari bahan khusus yang lembut dan jauh berharga dari batu. Karena tidak ingin membuat ibu kecewa, aku menurutinya. Sepasang mataku dengan teliti mencari batu bulat yang diinginkan ibu, sampai aku menemukan batu yang menyerupai telur.

Baca juga  Kali Pertama Aku Menangis

Ibu pun menemukan batu yang menurutnya cocok. Bentuknya tidak sempurna seperti milikku. Tetapi, batu ibu yang berbentuk aneh akan mudah dibedakan di antara batu-batu lain.

“Batu ibu jelek,” kataku seraya tertawa kecil.

“Tetapi, aku yakin, dari segala batu yang pernah aku gunakan, batu inilah yang akan sampai pada orang yang aku kirimi nanti.”

Akhirnya, kami saling mengirim surat dengan batu. Aku membisikkan seluruh kata rindu kepada ibu. Sedangan ibu, aku tidak tahu menitipkan pesan apa di batunya. Kami pun melemparnya bersamaan ke sungai.

***

Kehidupan kota akhirnya menenggelamkanku pada segala hal yang sulit ditebak. Aku nyaris tidak punya waktu untuk melakukan apa pun—juga melepas rindu menemui ibu di kampung. Ingin mengirim surat rasanya sangat sulit. Di desa, jarak antara kantor pos dan rumah begitu jauh. Aku tidak ingin merepotkan ibu menempuh perjalanan jauh untuk membalas surat-suratku. Untuk mengirim pesan elektronik sepertinya tidak ada gunanya karena ibu belum menggunakan telepon genggam. Sesekali, aku hanya menitip salam pada seorang office boy di kantor. Kebetulan, ia satu daerah denganku, walaupun rumahnya jauh dan aku yakin ia tidak pernah menyapaikan pesanku kepada ibu.

Menitipkan salam rindu tidak membuat hatiku puas. Terlebih, ketika pandemi Covid19 melanda dan aku sudah dua tahun tidak lagi berkabar apa pun kepada ibu. Seluruh rindu akhirnya aku eram seorang diri. Hingga akhirnya, aku pergi ke parit—karena di kota sulit mencari sungai—dan aku melakukan kebisaan ibu mengirim surat batu. Dengan sebuah batu sekepal tangan, aku mengirimkan pesan kepada ibu. Di batu itu, aku membisikkan segala rinduku kepadanya.

Demikianlah kebisasan itu terus aku lakukan hampir setiap pulang kerja. Istriku syahdan menghardik perangai anehku ini.

“Jika kau rindu ibu, ambillah libur,” tukasnya. “Kita pulang sejenak.”

“Tahun depan aku baru berani pulang. Apalagi, ini sedang terjadi pandemi korona.”

Aku terus mengirimkan surat batu kepada ibu. Hingga keajaiban seketika datang. Pagi itu seusai banjir besar yang melahap kota, terdapat sebuah batu di depan pintu rumahku. Batu itu seolah aku kenal dengan baik. Aku membawa masuk batu tersebut. Menatapnya berjam-jam. Sampai aku dapat mengingat itu adalah batu yang dikirimkan ibu sebelum aku pergi dulu. Cepat aku mendekapnya. Aku tempelkan batu itu ke wajahku—seperti sedang bersandar di bahu ibu. Keajaiban pun tiba-tiba terjadi. Di batu itu aku mendengar sebuah bisikan suara ibu. “Lekaslah pulang. Jangan terlalu lama kau pergi dariku.”

Baca juga  Jalan Ini dan Jalan-Jalan Itu, Sepanjang Pantura

Deras aku menitikkan air mata setelah mendengar suara ibu di dalam batu itu.

***

Tanpa menunda lagi, aku mengambil libur panjang. Aku bergegas pulang bersama istriku. Sepanjang jalan pemandangan yang berbeda kutemukan. Semuanya terlihat gersang dan kering. Namun, hatiku ketika itu lebih mengkhawatirkan ibu. Sesampainya di rumah, pemadangan yang sama suramnya aku dapat. Rumah tua tempatku kecil sudah tidak terurus lagi, lalu kabar buruk lain menyusul. Seorang tetangga mendatangiku.

“Pada awal terjadi pandemi korona kemarin ibumu sakit. Karena ibumu tidak mau dibawa ke rumah sakit takut tertular virus, penyakitnya malah semakin buruk. Enam bulan kemudian ia pun meninggal,” kata pria itu. “Tapi ada dua benda yang ditinggalkanya untukmu. Benda itu terus dibawanya sampai mati.”

Benda yang dimaksud pria itu tidak lain adalah sebuah batu. Aku mengambilnya dan membawanya ke tepi sungai. Ada dua batu dalam genggamanku. Satu batu saat aku pergi dahulu, dan yang lainnya adalah batu baru. Di tepi sungai kering itu aku mendengarkan sebuah pesan dari batu peninggalan ibu. “Aku rindu kamu anakku, tapi aku tidak bisa mengirim surat-surat batu kepadamu karena sungai yang kering.”

Mataku meremang mendengar suara ibu. Istriku —yang diam-diam memperhatikan—menatap bingung.

“Apakah kau bisa mendengar suara dari batu ini?” tanyaku kepada istriku.

Istriku mendekatkan batu itu di telinganya. Ia mencoba melakukan seperti apa yang aku lakukan. Ia menggeleng. Aku tersenyum berlinang air mata dan bangkit mendekati sungai. Aku termenung. Begitulah secara mendadak pada kesedihan itu aku mendengarkan riuh suara ibu di batu-batu di tepi sungai. Batu-batu itu seolah mengisahkan rindunya kepadaku dan ayah. Batu-batu itu berbicara dengan begitu jelas.

“Apakah kau bisa mendengar suara-suara itu?” tanyaku lagi kepada istriku. Istriku hanya menggeleng. ***

Catatan

[1] “Surat Batu” terispirasi dari puisi karya Joko Pinurbo: “Surat Batu”

[2] Dialog ini dikutip langsung dari cerpen “Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-Pohon” karya Eko Triono.

Risda Nur Widia. Alumni Pascasarjana PBSI UNY. Cerpennya sudah dimuat di media lokal dan nasional.

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 8

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: